Bagian 33

1500 Kata
Mata Sean bergerak gugup ketika melihat wajah Seungha yang sangat dekat dengan wajahnya sekarang. Bahkan karena terlalu dekat, mereka hanya berjarak beberapa cm saja. Sean bahkan bisa mendengar suara embusan napas pemuda itu menerpa permukaan kulit wajahnya. “Coba kau lihat baik-baik. Dengan jarak sedekat ini, kau pasti bisa lihat kalau aku punya wajah yang tampan. Kau yakin tak akan tertarik padaku?” Seungha bertanya dengan suara rendah membuat Sean tiba-tiba merinding saat mendengar suara pemuda itu. Sean tidak tahu kalau Seungha punya suara serendah ini. Meski sangat gugup sekarang—karena Sean tak pernah berada dalam posisi sedekat ini dengan laki-laki, gadis itu mencoba agar tetap terlihat tenang. Dengan berani Sean menatap kedua mata Seungha, lalu mengamati wajah pemuda itu. Oke, Sean harus mengakui kalau Seungha itu punya wajah yang tampan. “Aku sama sekali tidak tertarik,” kata Sean dengan tenang. Padahal dalam hatinya gadis itu sangat gugup sekarang. Jantungnya berdebar cepat seperti sedang lari maraton. Gadis mana yang tidak akan berdebar-debar berada dalam posisi sedekat ini dengan seorang laki-laki. “Benarkah?” Sean bisa melihat kalau Seungha tengah menyeringai padanya sekarang. Ini raut wajah yang sempat Sean lihat dulu. Benarkan Seungha itu bermuka dua. Tampak manis di depan, tapi aslinya pemuda itu menyeramkan “Bagaimana kalau begini?” Seungha semakin mendekatkan wajahnya pada Sean, membuat gadis itu semakin terhuyung ke belakang. Jika Seungha mendekat lagi, Sean pasti sudah akan jatuh terjungkal. Merasa harus segera menyelamatkan dirinya, Sean bersiap menendang aset berharga Seungha agar pemuda itu segera menyingkir. Bukk!!! Tiba-tiba punggung Seungha dipukul oleh seseorang. Dari suaranya, Sean yakin itu pukulan yang sangat keras dan menyakitkan. Bahkan meski bukan dia yang pukul, punggung Sean ikut merasa nyeri mendengarnya. “Kakek!!! Kenapa memukulku?” protes Seungha sambil memegang punggungnya. Karena Seungha sudah menyingkir, Sean buru-buru berdiri. Dilihatnya seorang pria tua seusia kakeknya sedang menatap kesal pada Seungha. Sean tebak itu adalah kepala desa, kakeknya Seungha. Hampir sebulan tinggal di sini, baru kali ini Sean bertemu kakeknya Seungha. Dia hanya sering mendengar namanya, tapi belum pernah melihat wajah kakek Seungha itu secara langsung. “Sudah pulang bukannya masuk ke rumah, malah menggoda anak orang.” Pria tua itu mengomeli Seungha. “Aduhh!” Seungha mengaduh saat sang kakek menarik daun telinganya. Dari Seungha, Dong Hwan, kakek pemuda Seungha itu beralih menatap Sean. “Sean-ah, maaf ya. Kau bisa pulang sekarang. Bocah ini biar kakek yang mengurusnya.” Pria tua itu tersenyum ramah pada Sean sebelum menyeret Seungha masuk ke dalam rumah. “Nanti aku akan mengirimimu pesan. Kau harus membalasnya!” Dalam posisi telinganya yang sedang ditarik, Seungha masih bisa berteriak pada Sean. Setelah pintu pagar rumah kepala desa tertutup, Sean masih bisa mendengar suara teriakan Seungha dari sini. Sepertinya penyiksaan pemuda itu masih terus berlanjut di dalam sana. Yah, itu balasan yang setimpal atas apa yang pemuda itu lakukan padanya. Beruntung, kakeknya Seungha datang di saat yang tepat. Terlambat sedikit saja, aset berharga Seungha yang akan menjadi korban. *** Sean menenggelamkan kepala ke atas bantal begitu ia masuk ke dalam kamar. Cukup lama Sean berada dalam posisi seperti itu, sampai kemudian gadis itu mengubah posisinya jadi terlentang. Sean menatap kosong pada langit-langit kamarnya. Bayangan wajah Seungha yang sangat dekat tadi terlintas di pikiran Sean. Dalam 20 tahun hidupnya, tadi adalah posisi terdekat Sean dengan seorang laki-laki. Gadis itu kemudian menyentuh pipinya, terasa hangat. Dari pipi Sean beralih menyentuh dadanya, jantungnya masih berdebar-debar—dengan cepat seolah akan melompat keluar dari tempatnya. “Apa tadi dia bisa mendengarnya?” tanya Sean pelan lebih mirip dengan bergumam. Dia dan Seungha berada dalam jarak yang sangat tadi. Jika jantungnya berdebar secepat dan sekeras ini, tentu ada kemungkinan Seungha bisa mendengarnya. “Aku harap dia tidak mendengarnya,” gumam Sean lagi sambil menutup wajahnya dengan bantal. Dia memang sok berani tadi saat menatap Seungha, tapi sebenarnya dia sangat gugup. Dasar Seungha sialan. Dddrrrttt... Sean menyingkirkan bantal yang menutupi wajahnya. Tangannya bergerak ke samping, meraba-raba kasur lantai tempatnya berbaring untuk mencari ponselnya. Begitu ketemu, Sean melihat nama Seungha di layar. Sesuai ucapannya tadi, Seungha mengirim pesan padanya. Sean menatap balon chat di layar, mendesah pelan, lalu membuka pesan dari Seungha. Seungha : Jangan marah. Aku tidak berniat melakukan apa-apa tadi. Anggap saja tadi adalah salah satu tindakkan bodohku. Pokoknya jangan marah, ya. Dari isi pesannya Sean bisa dengan mudah menebak kalau pemuda itu sedang ketakutan sekarang. Jika akan ketakutan seperti ini, harusnya Seungha memakai otaknya sebelum bertindak. Ddrrtt... Pesan masuk lagi dari Seungha. Seungha : Sean? Kau tidak marah, kan? Sebelah sudut bibir Sean tertarik ke atas. Mungkin, Seungha memang tidak waras. Setelah apa yang dia lakukan tadi, sekarang pemuda itu bersikap seperti anak kecil yang minta ampun pada orang tuanya karena telah berbuat nakal. Sean meletakkan kembali ponselnya di samping tubuhnya. Gadis itu lalu menarik selimut dan memejamkan mata. Dia tidak akan membalas pesan dari Seungha. Biar saja pemuda itu ketakutan di sana. Siapa suruh bertindak tanpa memikirkan akibatnya. *** Seungha menatap ponselnya dengan cemas karena Sean tak kunjung membalas pesan yang dia kirim. Gadis itu pasti sangat marah padanya. “Aku pasti sudah gila tadi!” Seungha menarik rambutnya dengan frustrasi. Benar, tadi dirinya pasti kehilangan akal sehatnya. Jika tidak, mana mungkin akan bertindak seperti itu pada Sean. Niatnya, Seungha hanya ingin membuat Sean berdebar, dan jika ada kesempatan dia ingin mencium gadis itu. Gila memang, tapi dengan jarak sedekat tadi bibir mungil milik Sean terus menarik perhatiannya. Dan Seungha tidak bisa melepaskan pandangannya dari sana. Sialnya, sang kakek datang di saat yang tidak tepat. Jika saja tadi kakeknya tidak datang, pasti Seungha sudah berhasil mencicipi bibir Sean itu dan tentunya akan ada yang berubah dari hubungan mereka. Bukan sekedar menjadi teman, tapi mungkin saja mereka bisa berkencan. Namun, sekarang berteman atau berkencan dengan Sean sepertinya hanya akan menjadi harapan semu bagi Seungha. Melihat Sean yang tidak membalas pesannya, pasti gadis itu sedang marah karena ulahnya tadi. Sekarang dia harus mulai dari awal lagi untuk mendekati Sean. Sial. *** Pagi-pagi sekali Seungha sudah berada di rumah nenek Jae Hwa. Alasannya? Tentu karena ingin segera bertemu Sean dan minta maaf secara langsung. Seungha akan bilang kalau kemarin dia sedang tidak waras makanya berbuat begitu. “Kau mau bertemu Sean?” tanya nenek Jae Hwa. Seungha meringis lalu menjawab, “ya.” Pemuda itu sedang berada di dapur membantu nenek Jae Hwa menyiapkan sarapan. “Kau pergi pagi-pagi begini, nenekmu tidak marah?” “Tidak.” Seungha lantas mengambil alih mangkuk berisi sup yang dibawa Jae Hwa. “Biar aku saja yang bawa.” Seungha membawa sup tadi ke meja makan. Setelah itu dia kembali lagi ke dapur membawa piring-piring berisi lauk yang sudah matang ke meja makan tadi. “Kalian bertengkar lagi?” Pertanyaan Jae Hwa itu membuat Seungha menoleh. Pemuda itu kemudian tersenyum dengan canggung. “Kali ini aku yang salah.” Terdengar suara Jae Hwa menghela napas. “Padahal nenek berharap kalian bisa berteman, tapi kenyataannya kalian malah sering bertengkar.” “Aku juga berharap bisa berteman dengan Sean, tapi rasanya sulit sekali mendekati dia,” kata Seungha. “Apa yang kau lakukan di sini?” Seungha dan Jae Hwa berbalik. Mereka mendapati Sean tengah berdiri bersandar pada kusen pintu dapur. Gadis itu menatap dingin pada Seungha. Terlihat sekali jika Sean sedang marah pada pemuda itu. “Seungha sedang membantu nenek menyiapkan sarapan,” sahut Jae Hwa. Sean mendengus pelan kemudian berjalan melewati Seungha tanpa melirik pemuda itu. Seungha menelan ludah menatap punggung Sean yang sedang berdiri di depan kulkas. Melihat sikap Sean yang dingin, gadis itu pasti benar-benar marah padanya. Sekarang otak Seungha harus bekerja keras mencari cara agar Sean tidak marah lagi. *** Sean menatap kesal pada Seungha yang sekarang duduk bersamanya di teras rumah. Selesai sarapan tadi kakek dan neneknya langsung pergi ke ladang, dan sekarang di rumah itu hanya tinggal dirinya berdua bersama Seungha. “Soal yang kemarin, aku benar-benar minta maaf,” kata Seungha meminta maaf. Sean hanya bergeming. Tidak berniat menanggapi permintaan maaf Seungha. “Anggap saja kemarin aku sedang tidak waras.” Seungha kembali bersuara. Dari suaranya terdengar kalau pemuda itu benar-benar menyesali perbuatannya kemarin, tapi Sean masih bergeming. Sama sekali tidak tertarik. Sean sebenarnya sudah tidak marah, dia hanya sedikit kesal. Sean memutuskan untuk melupakan kejadian semalam. Lagi pula kejadian itu sama sekali bukan apa-apa baginya. “Banyak hal yang terjadi kemarin, makanya pikiranku jadi tidak waras. Jadi, tolong maafkan aku ya? Aku tidak akan mengulanginya lagi.” Kali ini Seungha memohon sambil menyatukan kedua tangannya di depan d**a. Sean menatap pemuda itu sambil mendengus malas. “Jika aku memaafkanmu, apa yang akan aku dapatkan?” Ini memang rencana Sean. Membuat pemuda itu memohon maaf dan akhirnya menuruti keinginannya. Sekalian Sean ingin memberi pelajaran Seungha, agar pemuda itu tidak bertindak sesuka hatinya. “Apa pun yang kau minta,” kata Seungha yakin. Sean melipat kedua tangannya di depan d**a, menggigit bibir bawahnya lalu berpikir. Kira-kira apa yang bisa dia minta pada Seungha. Kemudian sesuatu terlintas di kepala Sean. “Wifi.” Seungha mengerutkan dahinya. “Wifi?” Sean tersenyum licik sambil menganggukkan kepalanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN