Bagian 32

1800 Kata
Seungha menarik sebuah kursi kayu lalu duduk di atasnya. Sebelum pulang ke desa pemuda itu janji bertemu dengan salah satu teman kuliahnya, bernama Sihun. Karena sudah lama tidak bertemu, Seungha memutuskan untuk bertemu dengan Sihun dan mengobrol. Bisa dibilang mereka cukup dekat karena selalu bersama saat di kampus. Jangan salah paham. Baik Seungha maupun Sihun adalah pria normal. Mereka masih sangat menyukai wanita. “Kau apa kabar?” tanya pemuda berambut ikal itu setelah Seungha duduk di hadapannya. “Seperti yang kau lihat,” jawab Seungha lalu meminum ice americano yang sudah dipesankan oleh Sihun sebelum dia datang. “Sepertinya kau sedang kacau,” tebak Sihun yang dijawab dengan anggukan oleh Seungha. “Kau bertengkar lagi dengan ibumu?” Seungha menghela napas. Dia dan Sihun memang jarang bertemu setelah dirinya memutuskan untuk tinggal sementara di desa, tapi mereka sering bertukar kabar lewat pesan. Seungha juga sering bercerita jika dirinya dan sang ibu sering bertengkar. “Kali ini apa masalahnya?” Seungha kembali menghela napas lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. “Masih sama.” “Kau disuruh untuk segera kembali kuliah?” Seungha mengangguk lemah. Memang hal itu yang selalu jadi alasan dia bertengkar dengan ibunya. “Lalu jawabanmu masih sama?” “Entahlah.” Sihun meminum ice americano miliknya lalu menyadarkan punggungnya ke sandaran kursi. Pemuda berkulit putih itu menatap Seungha. Sebenarnya kasihan juga melihat temannya itu yang terus dihantui oleh rasa bersalah. Padahal kematian Dae Won, menurut Sihun bukan sepenuhnya kesalahan Seungha. Itu hanya sebuah kecelakaan dan memang sudah takdirnya Dae Won yang harus meninggal. Tapi dasar Seungha yang terlalu baik dan dia juga sangat dekat dengan Dae Won, pemuda itu terus merasa bersalah sampai Seungha lupa kalau dirinya juga harus melanjutkan hidup. “Kau mau dengar pendapatku?” Seungha beralih menatap Sihun. Pemuda itu terlihat sedang menatapnya dengan serius. “Menurutmu aku harus bagaimana?” “Bukannya aku tidak berempati atas apa yang terjadi padamu dan Dae Won, tapi menurutku perkataan ibumu benar. Kau memang harus segera kembali kuliah. Mungkin akan sulit karena rasa bersalahmu, tapi kau tahu hidup itu bukan hanya tentang Dae Won.” Seungha menundukkan kepalanya. Yang dikatakan Sihun memang benar, dan dia tidak menyangkalnya. “Menurutmu, apa Dae Won ingin melihatmu seperti ini? Aku memang tidak terlalu dekat denganya, tapi aku yakin dia juga tak akan suka melihatmu jadi seperti ini.” Seungha mengambil napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Hari ini banyak sekali perkataan yang menamparnya. Perkataan sang ibu dan juga Sihun. “Kembalilah kuliah musim gugur nanti. Kau tak kasihan pada ibumu yang kerja keras sendirian?” Lagi-lagi perkataan Sihun seperti tamparan keras untuk Seungha. Benar, setelah bercerai ibunya harus bekerja keras sendirian. Memang sang ibu sudah lama mengelola toko roti itu bahkan jauh sebelum menikah dengan ayah Seungha, tapi setelah bercerai ibunya harus bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhan mereka. Meski setiap bulan Seungha selalu mendapat uang dari ayahnya, ibunya bilang agar jangan terlalu bergantung pada sang ayah. Itu karena ayahnya sudah punya keluarga yang baru, Seungha tidak boleh terlalu membebani pria itu. Seungha meremas rambutnya frustrasi. Pikirannya sangat kacau sekarang. Rasa bersalahnya pada Dae Won, pada keluarga temannya itu dan juga pada ibunya sendiri. Semuanya berkecamuk. “Pikirkanlah baik-baik.” Sihun menepuk pelan bahu temannya. “Akan aku pikirkan.” “Baguslah, lagi pula apa kau tak merindukan gadis-gadis yang selalu mengikutimu di kampus?” canda Sihun. Di kampus Seungha lumayan terkenal di kalangan mahasiswi karena wajahnya yang tampan, badannya tinggi dan kulitnya putih. Belum lagi sikapnya yang ramah. Sungguh tipe ideal setiap perempuan. “Aku sedang tidak ingin bercanda.” “Setidaknya aku berusaha menghiburmu.” Setelah itu Sihun tertawa. Pemuda itu berharap Seungha akan benar-benar kembali kuliah semester depan. Seungha punya masa depan yang cerah, sayang jika terus terbelenggu oleh rasa bersalah. *** Seungha langsung keluar dan turun dari bus, saat bus yang ia naiki berhenti di halte. Sampai di luar Seungha meregangkan tangannya ke samping. Menempuh perjalanan selama 5 jam dari Seoul menuju Haenam membuat pemuda itu sangat lelah. Sekarang dia hanya ingin segera sampai di rumah sang kakek, lalu mandi dengan air dingin karena cuaca yang sangat panas seharian ini dan setelah itu Seungha ingin tidur. Pemuda itu sudah membayangkan betapa nyamannya berbaring di atas kasur di dalam kamarnya. Berjalan sendirian menyusuri jalanan desa di malam hari ini seperti ini mengingatkan Seungha saat ia dan Sean pulang dari kota. Mereka berjalan beriringan dalam keheningan di bawah nyala lampu yang temaram. Pemuda itu tiba-tiba saja teringat Sean. Dua hari tak bertemu dengan gadis itu membuat Seungha merindukannya. Rasanya ia ingin dengar Sean memakinya. Seungha mungkin sudah gila. Buktinya pemuda itu tiba-tiba tersenyum sekarang. Persis seperti orang gila di pinggir jalan. Hanya dengan mengingat wajah Sean perasaan kacau pemuda itu, jadi agak membaik sekarang. “Ah, aku jadi ingin melihat wajahnya sebelum pulang ke rumah,” gumam Seungha sambil menatap ke langit malam. Karena cuacanya cerah banyak bintang yang terlihat dengan jelas di atas sana. Pasti menyenangkan bisa melihat bintang-bintang itu bersama Sean, pikir Seungha. Sepertinya keberuntungan Seungha waktu itu masih tersisa. Secara ajaib Sean tiba-tiba muncul dari persimpangan di depannya. Bisa Seungha rasakan tiba-tiba dadanya berdebar. Padahal ia baru melihat Sean, belum sampai bicara dengan gadis itu. Tatapan mata mereka akhirnya bertemu saat Sean tak sengaja menoleh. Seungha refleks menyungging saat Sean menatapnya. Pemuda itu memamerkan senyumnya yang paling manis. Mereka beratapan cukup lama, sampai hal ajaib lainnya terjadi. Sean tersenyum pada Seungha. Apa aku bermimpi? batin Seungha dalam hati. Melihat Sean tersenyum padanya adalah hal langka, sangat langka. Sean tidak pernah tersenyum padanya, karena itu Seungha mengira dirinya sedang berimpi. “Arhg....” Seungha meringis merasakan sakit saat ia mencubit lengannya sendiri untuk membuktikan apakah yang terjadi padanya ini mimpi atau kenyataan. Dan ternyata Sean benar-benar tersenyum padanya. Ini bukan mimpi Cha Seungha. *** “Kau mau ke mana malam-malam begini?” tanya Seungha. Dia dan Sean sekarang berjalan beriringan ke arah rumahnya. “Ke toko kelontong, membeli minuman bersoda,” jawab Sean tanpa menoleh. “Kau sudah makan malam?” Sean mengangguk. “Kau sendiri?” “Aku makan di rest area tadi.” Seungha kemudian menggelengkan kepalanya pelan karena merasa ada hal yang aneh. Sean tidak seperti biasanya. Biasanya gadis itu tak pernah merespons perkataannya, tapi ini Sean membalas semua ucapannya. Seungha jadi ragu, apakah gadis yang sedang berjalan di sampingnya ini benar-benar Sean? “Aduhhhh!” teriak Sean saat Seungha tiba-tiba mencubit pipinya. Mendengar Sean mengaduh, sekarang Seungha benar-benar yakin jika gadis yang bersamanya adalah Sean. Bukan hantu yang sedang menyamar menjadi manusia. “Kenapa mencubitku?” protes Sean sambil mengusap pipinya. “Hanya untuk membuktikan sesuatu,” kata Seungha buru-buru menarik kembali tangannya. “Membuktikan apa?” “Bukan apa-apa.” Pemuda itu lalu tertawa, sedangkan Sean hanya menatap aneh padanya. “Dasar aneh.” “Hahaha.” Seungha kembali tertawa dengan canggung. Wajar Sean menganggapnya aneh. Tiba-tiba saja dia mencubit pipi gadis itu. Beruntung Sean tidak memukulnya karena perbuatannya tadi. “Kau mau minum apa?” Seungha masuk lebih dulu ke dalam toko kelontong di depan rumahnya, lalu membuka sebuah lemari pendingin. Di dalam lemari pendingin itu berjejer rapi berbagai macam minuman. Mulai dari s**u kotak, minuman bersoda, jus, bahkan alkohol juga ada. “Mau Coca Cola atau Pepsi?” tanya Seungha sambil menunjukkan dua botol minuman ringan berkarbonasi dari merek yang berbeda. “Coca Cola,” jawab Sean sambil menunjuk botol minuman yang dipegang Seungha. “Oke.” Seungha lalu membawa dua botol minuman ringan tadi ke meja kasir. Setelah membayar, Seungha menyusul Sean yang duduk di sebuah bangku di depan toko kelontong itu. “Terima kasih,” kata Sean saat menerima botol minuman ringan dari Seungha. “Kau demam?” Seungha langsung duduk di samping Sean lalu menyentuh dahi gadis itu dengan tangannya. “Kau ini kenapa sih?” Sean menepis tangan Seungha yang menyentuh dahinya. “Aneh saja, seperti bukan dirimu yang biasanya.” Sean mendengus lalu mengalihkan pandanganya dari Seungha. Yang aneh itu Seungha bukan dirinya. Setelah tadi seenaknya mencubit pipinya, sekarang tiba-tiba pemuda itu menyentuh dahinya. “Kau baru pulang?” Seungha menganggu. “Apa terjadi suatu hal padamu saat aku tidak ada?” Sean mengerutkan dahi, menatap Seungha yang sedang menatapnya aneh sekarang. “Maksudnya?” “Sepertinya kau agak berubah.” Sean beralih menatap botol minuman ringan di tangannya. “Apanya yang berubah?” “Kau jadi agak ramah?” Sean tertawa pelan lalu meneguk minuman ringan yang Seungha belikan. “Kakek yang menyuruhku bersikap ramah padamu.” “Oh...” Seungha mengangguk mengerti. Pantas saja sikap Sean tiba-tiba berubah. Gadis itu sebelumnya sangat dingin, kasar dan suka mengabaikan orang lain, tapi sekarang Sean bersikap cukup ramah padanya. Agak mengagetkan memang melihat sikap Sean yang tiba-tiba berubah setelah mereka tidak bertemu selama dua hari, tapi ini bukan perubahan yang buruk. Dengan wajah secantik itu, memang seharusnya Sean juga punya kepribadian yang baik juga. Benar, kan? “Kalau begitu kau punya rencana berteman denganku?” “Kakek juga menyuruhku untuk berteman denganmu.” “Lalu kau akan bagaimana?” Seungha menatap Sean penuh harap. “Entahlah, aku tidak punya rencana untuk berteman dengan siapa pun di sini.” “Kenapa?” “Karena aku hanya ingin melewati musim panas ini dengan tenang.” Seungha menatap lekat-lekat wajah Sean. Gadis itu sdang menatp lurus pada lampu jalan di depan mereka. Dilihat dari jarak sedekat ini Seungha semakin sadar kalau Sean itu benar-benar cantik. Matanya bulat, hidungnya mancung dan bibirnya mungil. Jangan lupakan warna bola mata Sean yang sangat cantik. Tiap kali melihatnya Seungha selalu terpesona. “Kenapa tidak mencoba berteman denganku selama kau di sini?” Sean menoleh, menatap Seungha. Meneliti penampilan pemuda itu dari atas hingga ke bawah. “Tidak berminat,” ucapnya kemudian yang sukses membuat Seungha merasa kesal. Baru sebentar pemuda itu merasa bersyukur karena Sean berubah menjadi cukup ramah, tapi Sean dengan cepat kembali menjadi si gadis kasar. “Kau bilang tidak berminat?” tanya Seungha tidak percaya. Sean mengangguk. Kalau pun ingin berteman, mungkin bukan Seungha yang jadi pilihannya. Pemuda itu terlalu cerewet, jauh berbeda dari Sean yang suka ketenangan. Dan lagi, Seungha sudah terlalu banyak tahu tentang dirinya. Itu membuat Sean merasa tidak nyaman. “Wah.” Seungha menyentuh tengkuknya yang terasa menegang. Baru beberapa menit yang lalu ia merasa senang karena bisa bertemu Sean, tapi setelah bertemu gadis itu justru membuatnya kesal. “Atau kau takut berteman denganku?” “Takut apa?” “Misalnya jadi suka padaku?” Seketika tawa Sean pecah setelah mendengarkan pertanyaan Seungha. “Apa otakmu tertinggal di bus? Kau itu sama sekali tidak mendekati tipe idealku.” Seungha mendengus kesal, tapi hanya sebentar. Karena sedetik setelahnya pemuda itu mendekatkan wajahnya pada Sean. Sean agak terhuyung ke belakang karena tiba-tiba Seungha mendekat padanya. Sean menelan ludah gugup melihat wajah Seungha yang sekarang berada sangat dekat dengannya. “Kalau begini, apa kau masih tak suka padaku?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN