Sean langsung kembali ke kamarnya setelah makan malam. Buku esai yang di tulis oleh Baek Se Hee benar-benar menarik perhatiannya. Jadi setelah selesai makan, Sean buru-buru kembali ke kamar untuk melanjutkan membaca buku itu.
Dan ketika dirinya tengah hanyut dalam isi buku, Seungha mengiriminya pesan. Awalnya Sean berniat mengabaikannya seperti biasa, tapi tiba-tiba saja dia jadi penasaran. Hingga akhirnya Sean memutuskan untuk membalas pesan dari Seungha.
Seungha :
Karena orang yang sudah meninggal tidak akan bisa merespons ucapan kita.
Dahi Sean berkerut membaca pesan yang dikirim Seungha. Cukup lama Sean menatap pesan itu, sampai kemudian dia tahu maksud dari pesan Seungha.
“Jadi teman yang dia temui itu sudah meninggal,” kata Sean masih menatap pesan yang Seungha kirim.
“Apa teman yang dia maksud waktu itu?” Sean bertanya sendiri. Dia ingat Seungha pernah bilang jika pemuda itu cuti kuliah karena temannya meninggal. Mungkin yang Seungha maksud kali ini adalah orang yang sama?
Sean menatap ragu pesan dari Seungha. Seperti waktu itu, saat Seungha bicara soal temannya yang meninggal, Sean tidak tahu harus bagaimana membalas pesan pemuda itu. Jadi Sean memutuskan untuk mengabaikannya saja.
Siapa suruh pemuda itu terus membahas orang yang sudah meninggal. Seperti tidak ada bahan pembicaraan yang lain.
Sean meletakkan lagi ponselnya lalu kembali fokus pada buku yang ia baca. Sebelumnya Sean tidak tahu jika membaca buku akan sangat menyenangkan seperti ini. Bahkan karena terlalu asyik membaca, Sean tidak sadar jika waktu berlalu dengan cepat. Mungkin itu karena buku yang Sean baca menarik. Jika itu buku yang membosankan seperti buku pelajarannya saat sekolah, pasti Sean tak akan merasa seperti ini.
Kau bisa menemukan hal baru yang bisa kau lakukan di desa.
Sean tiba-tiba teringat perkataan ibunya. Gadis itu kemudian berdecak sinis.
Enggan untuk mengakui, tapi ucapan ibunya itu ternyata ada benarnya. Tinggal di desa membuatnya menemukan hal baru yang cukup menyenangkan, yaitu membaca buku. Untuk hal ini Sean berterima kasih pada sang ibu—walau tak akan pernah Sean katakan. Berkat ibunya dia punya hobi baru sekarang selain bermain game.
Sean menutup bukunya lalu meletakkannya di samping bantal. Gadis itu menatap lurus pada langit-langit kamarnya. Sean akui buku esai yang di tulis oleh Baek Se Hee itu sangat menarik. Banyak hal yang Sean sadari setelah membaca buku itu. Salah satunya adalah pentingnya berdamai dengan diri sendiri dan mencintai diri sendiri.
Sean tahu, sampai saat ini dirinya belum bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Meski terlihat seperti bisa menerima kenyataan bahwa dirinya bukanlah seorang balerina lagi, sebenarnya Sean tidak seperti itu. Jauh di dalam dirinya, Sean masih belum bisa menerima kenyataan bahwa ia tak bisa menari balet lagi. Karena itu setahun terakhir ia habiskan dengan mengurung diri di kamar.
Sean takut jika ia pergi keluar dan bertemu teman-temannya, mereka akan menatapnya iba atas apa yang terjadi padanya. Sean benci tatapan seperti itu. Tatapan seolah merasa kasihan pada hidupnya yang malang.
“Apa aku harus merelakannya?” Sean bergumam sambil menatap langit-langit kamarnya.
“Apa aku bisa melepaskannya?”
“Jika aku merelakannya, apa aku bisa bahagia?”
***
Pagi itu Seungha dan ibunya sarapan bersama dalam keheningan. Yang terdengar hanya suara dari sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
Suasana pagi itu benar-benar terasa sangat tidak nyaman. Ibu dan anak itu hanya berusaha fokus pada makanan masing-masing. Padahal, harusnya mereka bisa makan sambil mengobrol untuk melepas kerinduan karena lama tidak bertemu.
Hubungan Seungha dengan sang awalnya tidak seperti ini. Ia sangat dekat dengan ibunya dibandingkan dengan sang ayah. Kedua orang tua Seungha bercerai saat ia masih SMP, dan Seungha memilih tinggal bersama sang ibu. Karena itu ia lebih dekat dengan ibunya.
Namun, sejak kecelakaan yang ia alami bersama Dae Won dan membuat sahabatnya itu meninggal, hubungan Seungha dan sang ibu mulai renggang. Bukan sang ibu yang memulainya, tapi Seungha. Pemuda itu sengaja menjaga jarak dan membuat tembok pembatas yang tidak terlihat. Itu karena rasa bersalahnya pada Dae Won.
Sebagai orang yang telah membuat Dae Won meninggal, Seungha merasa dirinya tidak pantas melanjutkan hidup dengan bahagia. Sedangkan akibat perbuataannya ada orang tua Dae Won yang menderita karena kehilangan putranya.
“Ibu akan pergi ke toko setelah ini?” Seungha akhirnya bersuara saat sang ibu mulai membereskan sisa makanan di atas meja setelah mereka selesai sarapan.
“Hem,” sahut Jiah singkat. Wanita paruh baya itu kemudian membawa piring kotor ke wastafel untuk di cuci.
Karena ruang makan menyatu degan dapur, Seungha bisa melihat apa yang sang ibu lakukan di sana. Dengan tatapan mata yang sedih, pemuda itu menatap punggung sang ibu yang membelakanginya sekarang.
Sebenarnya Seungha juga merasa sangat sedih dengan hubungan mereka sekarang. Setelah bercerai dengan sang ayah, hanya dia yang dimiliki ang ibu, tapi hubungan mereka sekarang benar-benar buruk.
“Kau akan kembali ke desa?” Jiah bertanya tanpa menatap putranya. Wanita itu masih sibuk mencuci peralatan makan di wastafel.
“Ya,” jawab Seungha singkat.
“Sampai kapan?”
Hening. Tak ada jawaban dai Seungha. Ia sendiri juga tidak tahu sampai kapan ia akan tinggal di sana. Mungkin sampai Seungha bisa berdamai dengan dirinya sendiri dan menerima kenyataan.
Meski sang ibu membelakanginya Seungha bisa mendengar jika wanita itu sedang menghela napas sekarang. Helaan napas yang dalam.
“Apa kau tak mau melanjutkan kuliahmu?” Jiah berbalik dan menatap putranya. 6 bulan terakhir itu adalah pertanyaan yang sering dia tanyakan pada Seungha. Meski tahu jawaban Seungha akan tetap sama, Jiah tidak lelah terus mengulangi pertanyaan itu.
“Tentu saja aku mau.”
“Lalu kapan? Apa cuti selama setahun tidak cukup? Belum lagi kau yang harus pergi wajib militer sebelum lulus. Kau mau lulus kuliah di usia berapa?”
Seungha menundukkan kepalanya. Semua perkataan sang ibu itu seperti pukulan untuknya. Semuanya benar, apa yang dikatakan sang ibu itu benar.
Bukannya Seungha yang tak mau kembali melanjutkan kuliahnya, tapi pemuda itu merasa belum siap untuk kembali. Bayangan kematian Dae Won masih terus menghantuinya. Rasa bersalah yang sangat besar membuat Seungha belum berani kembali pada kehidupan normalnya.
“Seungha-ya ibu mohon, lupakan Dae Won.” Terdengar nada bicara Jiah sangat putus asa.
Seungha mendongak menatap sang ibu. Hatinya mencelos saat kata-kata itu keluar dari mulut ibunya. Bagaimana Seungha bisa melupakan Dae Won saat dirinyalah yang membuat pemuda itu meninggal?
“Bagaimana bisa ibu menyuruhku melupakan Dae Won?”
“Apa kau tidak lelah terus hidup seperti ini?” Jiah beratanya dengan nada tinggi. Terdengar sekali jika wanita itu merasa sangat frustrasi dengan keadaan Seungha.
“Aku juga lelah,” jawab Seungha keras hampir seperti berteriak. Dia juga lelah terus hidup dalam belenggu rasa bersalah. Lelah terus bertengkar dengan sang ibu setiap kali mereka bertemu.
“Kalau lelah seharusnya berhenti! Hidup ini terus berjalan meski Dae Won sudah mati!”
Seungha menatap dingin sang ibu. Sungguh hatinya sakit saat sang ibu mangatakan hal itu.
“Kenapa? Kau sakit hati dengan ucapan ibu? Mau bilang ibu tidak tahu rasanya kehilangan kehilangan orang yang berharga?”
Jiah menghela napas, lalu melanjutkan. “Mungkin kau lupa, tapi ibu juga pernah kehilangan. Ibu kehilangan orang yang ibu cintai.”
Seungha tersentak. Terlalu larut dalam rasa bersalahnya atas meninggalnya Dae Won, Seungha lupa sang ibu juga pernah kehilangan orang yang dicintai. Ayahnya. Perceraian yang terjadi pada kedua orang tuanya bukan karena mereka sudah tak saling mencintai. Sang ibu masih—sangat mencintai ayahnya, tapi perasaan ayahnya yang telah berubah. Jadi, mereka memutuskan untuk berpisah.
“Seungha-ya,” panggil Jiah. Suara wanita paruh baya itu terdengar melunak. “Ibu mohon, lupakan Dae Won. Awalnya memang terasa sangat sulit, tapi seiring berjalannya waktu semuanya akan baik-baik saja.”
Seungha masih terdiam. Diingatkan fakta bahwa sang ayah yang pergi meninggalkan ibunya, rasa bersalah Seungha jadi bertambah.
“Aku lelah. Aku akan istirahat di kamar sebelum pergi.” Seungha menodorong kursi kayu itu lalu beranjak pergi ke kamarnya di lantai dua.
Jiah menatap sedih pada punggung Seungha yang menghilang setelah naik tangga. Wanita paruh baya itu juga lelah. Setiap kali bicara dengan Seungha selalu berakhir dengan pertengkaran seperti ini. Jiah tidak sengaja selalu memancing pertengkaran, dia melakukannya hanya untuk menyadarkan Seungha. Yang Jiah inginkan agar Seungha kembali seperti dulu.
***
Sean menutup novel yang ia baca lalu diletakkan di samping novel itu di samping tubuhnya. Setengah hari berkutat membaca novel membuat Sean mulai bosan sekarang. Rasanya benar-benar berbeda dengan saat membaca buku esai kemarin. Bukan karena cerita dalam novel itu tidak menarik, tapi mungkin Sean yang tidak cocok membaca buku-buku seperti itu. Sepertinya buku esai lebih seru untuk di baca.
“Kau bosan?”
Sean yang sedang duduk di teras rumah itu terjungkit kaget saat mendengar suara sang kakek yang tiba-tiba muncul.
“Kakek mengagetkanku!” keluh Sean pada kakeknya. Pria tua sedang bersandar pada kusen pintu masuk.
“Kau tidak bermain dengan Seungha hari ini?” tanya Bum Tae ikut duduk di samping cucunya.
“Kami tidak akrab,” jawab Sean ketus. Gadis itu sama sekali tidak mengerti kenapa kakek dan neneknya beranggapan dia dan Seungha itu akrab. Padahal, kenyataannya tidak seperti itu. Seungha saja yang sok akrab dengannya.
“Benarkah?” Bum Tae tertawa lalu mengusap puncak kepala Sean, sementara gadis itu masih merengut karena merasa kesal.
“Seungha itu pemuda yang baik.”
Sean bergeming. Malas menanggapi perkataan sang kakek. Bukan sekali ini saja sang kakek mengatakan jika Seungha itu pemuda yang baik.
“Kakek harap kau bisa berteman dengannya.”
Lagi. Kakeknya menyuruh Sean untuk berteman dengan Seungha. Bahkan dalam pikirannya Sean tidak—belum punya rencana untuk berteman dengan pemuda itu atau siapa pun di desa ini.
“Lagi pula kalian juga sama-sama tinggal di Seoul. Siapa tahu pulang dari sini kalian bisa jadi teman dekat?” Bum Tae kembali mengusap puncak kepala Sean dengan lembut.
Sean masih bergeming. Dia sedang sangat bosan sekarang dan malas membalas soal Seungha. Segala hal tentang pemuda itu sangat menyebalkan menurut Sean.
“Sean-ah, kau pasti merasa sangat sedih, ya?”
Sean menoleh, menatap bingung pada kakeknya. “Sedih kenapa?”
“Karena tidak bisa menari balet lagi.”
Sean terdiam sambil menatap kakeknya. Ini pertama kalinya sang kakek bertanya seperti itu padanya. Sean pikir karena tak mau melukai perasaannya sang kakek tidak pernah bertanya soal balet padanya.
“Tidak apa-apa kalau kau merasa sedih,” ujar Bum Tae lalu tersenyum. “Tapi ingat, kalau kau juga harus merasa bahagia.”
Ucapan Bum Tae itu seolah menarik kembali Sean ke dunia nyata. Benar yang kakeknya katakan. Sean juga harus merasa bahagia, tapi Sean tidak tahu bagaimana caranya untuk merasa bahagia. Hal yang selalu membuatnya bahagia sudah direnggut dari hidupnya.