Karena Seungha bilang akan bertemu temannya, akhirnya ada masa di mana Sean bisa menikmati hari dengan tenang tanpa kehadiran pemuda itu. Biasanya Seungha selalu datang, mengikutinya ke mana pun dia pergi dan terkadang juga memaksanya untuk ikut pergi dengan pemuda itu. Bukan hanya kehadiran Seungha yang sangat mengganggu menurut Sean, tapi ocehan pemuda itu juga. Sean tidak mengerti bagaimana bisa ada pria yang secerewet itu. Padahal, Sean sudah sering mengabaikannya tiap kali Seungha bicara, tapi entah keras kepala atau memang cerewet, Seungha terus kembali bicara padanya.
“Ini baru yang namanya menikmati hari dengan tenang,” kata Sean sambil kembali berbaring ke atas kasur lantainya setelah selesai sarapan.
Kakek dan neneknya sudah pergi entah ke mana. Jadi, sekarang hanya tinggal dia sendiri di rumah itu. Rasanya sangat sepi dan tenang. Hanya terdengar suara gemeresik daun yang tertiup angin dan suara serangga di luar sana. Benar-benar suasana khas musim panas, tapi suasana seperti ini mungkin hanya bisa Sean temui di desa. Di kota? Kecuali di taman, akan sulit mendengarkan suara serangga-serangga seperti ini.
“Benar.”
Sean bangun lagi untuk mengambil sesuatu. Ia ingat membeli dua buku saat pergi ke kota dengan Seungha dan dia belum membacanya, membuka bungkusnya saja belum karena lupa.
Daripada menghabiskan waktu hanya dengan berbaring, Sean pikir lebih baik membaca buku. Lagi pula dia juga sudah lama tidak membaca buku. Sejak sering bermain game, Sean sendiri lupa judul buku apa yang terakhir dia baca. Mungkin juga itu buku pelajarannya saat masih duduk di bangku SMA.
“Ini dia.” Sean mengeluarkan dua buah buku yang masih terbungkus rapi dari dalam paper bag yang berada di dekat koper miliknya.
Sean kembali berbaring sambil membawa dua buku tadi. Buku yang Sean beli adalah novel romantis berjudul ‘I’ll Go To You When the Weather is Nice’ karya penulis Lee Do Woo, dan satunya sebuah buku non fiksi berjudul ‘I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki’ yang di tulis oleh Baek Se Hee.
Sean sendiri sebenarnya tidak suka membaca buku. Bahkan semasa sekolah Sean hanya membaca buku pelajaran. Tidak ada hal yang menarik dalam dunia Sean kecuali balet dan game, tapi mengingat dia tak bisa bermain game selama di desa, Sean akhirnya memutuskan membeli dua buku tadi untuk menghilangkan rasa bosannya.
Alasan kenapa Sean memilih dua buku tadi? Untuk novel, karena terletak di rak novel-novel bestseller, jadi Sean membelinya secara acak. Lalu untuk buku non fiksi, judul buku itu menarik perhatian Sean. Jika diartikan judulnya menjadi, ‘Aku Ingin Mati tapi Aku ingin Makan Tteokpokki’. Karena itu buku non fiksi, artinya buku tersebut ditulis berdasarkan fakta. Sean penasaran, dengan isi buku itu. Dia pernah merasa ingin mati, tapi belum punya keberanian untuk melakukannya.
Setelah kecelakaan setahun lalu dan tidak bisa menari balet lagi, Sean sempat berniat mengakhiri hidupnya. Alasannya, karena kehilangan impiannya yang berharga. Latihan keras yang bertahun-tahun ia lakukan, usaha keras untuk menjadi balerina berbakat, semua menjadi tak berarti dalam sekejap. Penderitaan karena kehilangan impiannya yang berharga, membuat Sean merasa hidupnya tak lagi berarti, hingga pikiran untuk mengakhiri hidupnya.
Namun, bukan hanya bertahan hidup yang sulit, mati pun juga begitu. Kau butuh keberanian yang besar untuk memutuskan mengakhiri hidupmu. Dan Sean belum punya keberanian itu untuk mengakhiri hidupnya meski punya keinginan untuk melakukannya.
Masih banyak hal mengganggu pikiran Sean yang membuat gadis itu belum punya keberanian untuk mati. Jika dia mati, apa yang akan terjadi pada kedua orang tuanya? Bagaimana dengan kedua adiknya? Sehancur apa keluarganya jika dia benar-benar bunuh diri?
Sean juga ingin tahu, akan diingat seperti apa dirinya nanti jika dia benar-benar mati. Apakah akan ada yang mengingatnya sebagai balerina berbakat?
***
Ceklek...
Mendengar suara pintu rumahnya dibuka, Jiah bergegas berlari ke ruang tamu dengan senyum mengembang di wajahnya. Beberapa saat yang lalu Seungha menelepon bilang akan datang dan karena itu Jiah merasa sangat senang. Sudah lama dia tidak melihat wajah putra semata wayangnya itu.
“Kau sudah makan malam?” tanya Jiah setelah melihat Seungha.
“Belum,” jawab Seungha singkat. Berbanding dengan ibunya yang terlihat senang melihat kedatangannya, raut wajah Seungha terlihat dingin dan datar.
Pemuda itu lantas berjalan masuk ke ruang tamu. Jiah mengekor di belakang Seungha.
“Kau duduk dulu di sini. Ibu akan siapkan makanan untukmu.”
“Hem.”
Seungha menjatuhkan dirinya ke atas sofa abu-abu di ruang tamu sementara sang ibu pergi ke dapur. Seungha menyadarkan punggungnya ke sofa sambil menatap ke sekitar ruangan itu. Terakhir kali ia pulang mengunjungi sang ibu itu saat akhir musim dingin lalu, setelah ia mengunjungi makam Dae Won di peringatan kematian sahabatnya itu.
Sebenarnya bisa saja Seungha mengunjungi sang ibu sebulan sekali atau dua minggu sekali. Namun, karena sikap sang ibu Seungha enggan sering bertemu dengan wanita yang telah melahirkannya itu. Sang ibu yang terus memintanya untuk melupakan Dae Won dan segera melanjutkan kuliahnya menjadi alasan Seungha untuk tidak sering pulang. Pertemuan mereka pasti selalu berakhir dengan pertengkaran dan itu membuat Seungah lelah.
“Seungha-ya makanannya sudah siap,” teriak Jiah dari ruang makan.
“Ya,” sahut Seungha yang kemudian bangun dan berjalan menuju ruang makan.
Seungha menarik sebuah kursi kayu lalu menjatuhkan pantatnya di sana. Ia lalu melirik sekilas pada sang ibu yang tersenyum duduk di seberangnya.
“Kau akan menginap?”
Seungha mengangguk. Sudah lama tak pulang, jadi Seungha memutuskan menginap malam ini dan kembali besok siang.
“Makanlah yang banyak,” kata sang ibu sambil memberi Seungha sepotong daging.
Pemuda itu tanpa banyak bicara menyantap makanan yang dibuat oleh sang ibu.
“Enak?” tanya Jiah yang dijawab dengan anggukan oleh Seungha.
Selagi Seungha makan, Jiah tak berhenti menatap putra itu. Sudah lama mereka tidak bertemu, tentu Jiah merindukannya.
“Tumben ibu sudah di rumah?”
Jiah mengelola sebuah toko roti, dan wanita paruh baya itu biasa menghabiskan sepanjang harinya di toko roti tersebut. Jadi Seungha merasa heran bisa bertemu ibunya di jam ini, biasanya sang ibu selalu pulang larut setelah menutup toko.
“Karena kau bilang akan datang, ibu menutup tokonya lebih cepat.”
Seungha mengangguk kecil sebagai respons.
“Kau datang setelah mengunjungi makam Dae Won?” tanya Jiah. Sudah hafal dengan karakter putranya, Jiah yakin Seungha tak akan pulang hanya untuk sekedar mengunjungnya.
Tanpa dijawab pun Jiah sudah tahu jawabannya. Seungha pulang setelah mengunjungi makam Dae Won.
“Jadi benar ya,” ujar wanita itu lalu menghela napas. “Waktu itu peringatan kematian Dae Won, lalu kali ini apa? Kau merindukannya?”
“Hari ini hari ulang tahun Dae Won.”
Jiah mendesah. “Apa kau tak lelah?”
Seungha yang hendak menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, meletakkan kembali sumpitnya ke atas meja lalu beralih menata sang ibu.
“Ibu...”
“Tidak, ibu tidak ingin berdebat,” potong Jiah. “Habiskan makananmu, lalu istirahat. Ibu akan membereskannya besok pagi.”
Setelah mengatakan itu Jiah berlalu pergi menuju kamarnya.
Seungha hanya bisa menatap sedih punggung sang ibu yang menghilang setelah keluar dari ruang makan. Pemuda itu menarik napas lalu menghembuskannya perlahan.
Sebenarnya Seungha juga merasa kasihan melihat keadaan sang ibu, tapi rasa bersalah yang masih menghantuinya membuat Seungha belum bisa kembali pada kehidupan normalnya. Pemuda itu masih membutuhkan waktu. Menenangkan dirinya dan juga menerima kenyataan bahwa Dae Won sekarang sudah tidak ada.
***
Seungha membaringkan tubuhnya ke atas kasur setelah mandi. Sudah lama ia tidak tidur di kamar ini. Meski lama tidak di tempati sang ibu tetap membersihkan ruangan ini secara rutin. Ibunya bilang, jika sewaktu-waktu dirinya memutuskan untuk kembali, kamar ini tetap bersih untuk ia tempati lagi.
Seungha mengambil ponselnya yang tadi ia letakkan di atas nakas samping tempat tidur. Setelah menyalakan ponselnya, Seungha segera membuka aplikasi Kakao Talk miliknya. Hanya ada pesan masuk dari Hyunji, yang memang sering mengiriminya pesan.
Pemuda itu mendesah saat melihat pesannya hanya di baca oleh Sean. Setelah apa yang mereka lalui saat menonton kompetisi balet Hyunji, Seungha pikir Sean akan sedikit berubah, tapi ternyata tidak. Gadis itu tetap mengabaikannya.
Namun, meski diabaikan lagi, Seungha tetap tidak menyerah. Pemuda itu kembali mengirim pesan pada Sean, mungkin saja dia beruntung malam ini dan Sean membalas pesannya.
Seungha :
Sudah tidur?
Setelah menekan tombol sent, Seungha terus menatap ponselnya. Berharap keajaiban benar-benar terjadi dan Sean membalas pesannya.
Lima menit berlalu, dan Seungha masih dalam posisi yang sama. Menatap ponselnya seolah dengan melakukan itu pesan balasan dari Sean akan datang.
Drrttt...
“Argh!” Seungha mengaduh saat ponselnya tiba-tiba jatuh menimpa hidungnya.
Pemuda itu segera bangun sambil mengusap batang hidungnya yang berdenyut. Hidungnya benar-benar sakit karena tertimpa ponsel. Notifikasi pesan masuk itu sangat mengejutkan Seungha sampai dia menjatuhkan ponselnya. Bukan notifikasinya, tapi nama si pengirimlah yang mengejutkan Seungha.
Sepertinya Seungha memang sedang beruntung. Dengan perbandingan 1:1000, Sean benar-benar membalas pesannya.
Setelah rasa sakitnya hilang, Seungha bergegas mengambil ponselnya lagi dan segera membuka pesan dari Sean.
Sean :
Belum.
Sungguh balasan yang singkat, padat dan jelas. Tak mau membuang kesempatan, Seungha kembali membalas pesan gadis itu. Sean itu sama sekali tidak bisa di tebak, bisa saja gadis itu kembali mengabaikannya.
Seungha :
Sedang apa?
Sean :
Membaca buku.
Seungha :
Yang kau beli waktu itu?
Sean :
Ya.
Seungha mendesah melihat isi chat-nya dengan Sean. Memang gadis itu membalas pesan-pesannya, tapi Sean hanya menjawab semua pertanyaannya. Gadis itu bahkan tidak bertanya apa yang sedang dia lakukan. Yah, mau bagaimana lagi. Apa yang bisa Seungha harapkan dari gadis dingin itu.
Namun, sepertinya malam ini Seungha memang sedang beruntung. Sean mengirim pesan lagi, dan kali ini gadis itu bertanya pada Seungha.
Sean :
Kau jadi bertemu temanmu hari ini?
Dengan senyum mengembang Seungha segera membalas pesan itu. Hanya dengan sebuah pesan, Sean bisa membuat pemuda itu seperti orang gila yang terus tersenyum sendiri.
Seungha :
Iya.
Hari ini dia ulang tahun, jadi aku datang menemuinya.
Sean :
Kalian bersenang-bersenang hari ini?
Seungha :
Iya.
Tapi aku hanya bicara sendirian selama bertemu dengannya.
Sean :
Kenapa?
Seungha :
Karena orang yang sudah meninggal tidak akan bisa merespons ucapan kita.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Tiga puluh menit berlalu. Tidak ada balasan lagi dari Sean, padahal pesannya sudah dibaca. Seungha sudah tahu Sean itu sama sekali tidak bisa ditebak. Jadi, dia sama sekali tak gelisah saat tiba-tiba gadis itu mengabaikan pesannya. Karena ini bukan pertama kalinya. Sean sudah sering mengabaikannya, jadi bisa dibilang pemuda itu sudah kebal dengan sikap dingin Sean.
Yakin Sean tak akan membalas pesannya, Seungha meletakkan lagi ponselnya ke atas nakas lalu bersiap-siap untuk tidur. Hari ini dia sangat lelah. Menempuh perjalanan selama 5 jam dari Haenam ke Seoul, lalu mengunjungi makam Dae Won, dan hari ini ia dan sang ibu hampir terlibat sebuah pertengkaran. Semua itu membuat Seungha sangat lelah. Belum lagi besok, dia harus menyiapkan tenaga untuk kembali berdebat dengan sang ibu. Seungha yakin ibunya akan kembali menyuruhnya segera pulang, melanjutkan kuliah dan melupakan Dae Won.
“Ayo tidur. Kau butuh tenaga ekstra untuk perdebatan besok pagi.”