Sean tidak yakin kapan terakhir kali ia terbangun dalam keadaan seperti ini. Perasaannya sangat tidak nyaman, sampai membuat kepalanya sakit.
Sejujurnya, selama tinggal di sini Sean tidak pernah terbangun dalam keadaan seperti ini. Meski tidak bisa tidur dengan nyaman, tapi Sean tidak pernah merasa perasaannya seburuk ini. Mungkin ini karena segala hal yang terjadi kemarin. Sial, harusnya dia tidak usah pergi ke sana kemarin.
Sean menyentuh kepalanya yang terasa sakit. Sudah lama ia tak merasa kacau seperti ini. Harusnya kemarin dia tidak pergi menonton kompetisi Hyunji jika tahu akan jadi seperti ini. Dasar harga dirinya yang terlalu tinggi, dia malah mengorbankan perasaannya hanya untuk melihat sehebat apa kemampuan Hyunji.
Sean menyibak selimutnya lalu beranjak ke luar kamar. Gadis itu berjalan menuju dapur, agak sempoyongan karena kepalanya yang terasa sakit. Sampai di dapur, Sean membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral dingin dari dalam sana. Setelah menuangkan air dingin itu ke dalam gelas, Sean meneguknya hingga habis.
“Begini lebih baik,” gumam Sean, merasa dirinya lebih baik setelah minum air dingin.
“Baru bangun?”
Atensi Sean beralih pada neneknya yang masuk ke dapur. Gadis itu kemudian menganggukkan kepala.
“Kemarin, setelah pulang kau langsung tidur?”
Sean kembali menganggukkan kepalanya. Benar setelah pulang dari kota, dia memang langsung masuk kamar dan tidur.
“Tumben?”
“Karena terlalu lelah,” jawab Sean seadanya lalu duduk di kursi makan. “Kakek mana?”
Sejak keluar dari kamar Sean sama sekali tidak melihat kakeknya.
“Mungkin sedang mengobrol dengan teman-temannya di toko kelontong depan rumah Seungha.”
“Tidak ke ladang?”
Biasanya setiap hari kakeknya selalu pergi ke ladang.
“Tidak. Katanya bosan.”
“Oh,” sahut Sean singkat. Gadis itu kemudian menyentuh pelipisnya. Kepalanya memang sudah tidak sesakit tadi, tapi perasaannya masih terasa sangat buruk. Sean sungguh tidak menyangka kejadian kemarin akan membuatnya jadi sekacau ini.
“Bagaimana jalan-jalannya kemarin? Kalian bersenang-senang?" Jae Hwa bertanya antusias.
Sean menatap neneknya yang sekarang duduk di kursi makan di seberangnya. Benar, kemarin dia bilang pada sang nenek kalau dia dan Seungha pergi jalan-jalan ke kota, bukannya menonton kompetisi Hyunji. Jika dia bilang akan pergi menonton kompetisi Hyunji, pasti sang nenek akan melarangnya. Jadi, Sean terpaksa berbohong.
“Ya, begitulah,” jawab Sean kemudian.
“Kalian tidak bertengkar, kan?”
Sean menggeleng. Segala hal yang terjadi kemarin membuatnya tak punya tenaga untuk bertengkar dengan pemuda itu.
“Baguslah.”
Sean mengernyit, menatap sang nenek yang terlihat senang. Apa dia dia mengatakan sesuatu yang lucu sampai membuat neneknya berekspresi seperti itu?
“Kenapa tersenyum begitu?”
“Nenek hanya senang karena kau dan Seungha sekarang terlihat sangat akrab.”
“Kami tidak seakrab itu,” dengus Sean. Dia merasa sama sekali tidak akrab dengan Seungha.
“Kalau tidak akrab, mana mungkin kalian pergi jalan-jalan bersama?”
Sean kembali mendengus lalu membuang muka. Tidak berniat menanggapi lagi perkataan neneknya, karena Sean merasa percuma. Berkali-kali Sean bilang jika dirinya dan Seungha itu sama sekali tidak akrab, tapi neneknya selalu beranggapan berbeda. Jadi Sean memilih diam saja. Membiarkan sang nenek dengan segala prasangkanya sendiri.
***
Sean masuk lagi ke dalam kamarnya untuk mengambil pakaian ganti sebelum mandi, sekalian mengecek ponselnya. Sejak bangun tadi, dia belum memeriksa benda itu.
Sean mencari ponselnya di antara selimut dan bantalnya di atas kasur lantai. Begitu ponselnya ketemu Sean segera menyalakannya. Terlihat ada 2 notifikasi chat di layar saat benda itu menyala. Satu dari sang ibu dan satu lagi dari Seungha. Sean membuka pesan dari sang ibu lebih dulu. Ingin tahu apa yang ibunya katakan, karena tidak biasanya sang ibu mengirim pesan padanya. Sebelumnya sang ibu selalu mengabaikan pesan-pesannya.
Ibu :
Akhir pekan ini ibu, ayah, Seo Jun dan Soo Jin akan datang mengunjungimu lagi. Apa ada yang kau inginkan? Ibu akan membawakannya nanti.
Sean berdecak sinis setelah membaca pesan dari sang ibu. Jarinya kemudian bergerak di atas layar ponsel untuk membalas pesan itu.
Sean :
Tidak perlu datang.
Tidak usah pura-pura peduli padaku.
Setalah selalu mengabaikan pesan yang dia kirim, sekarang ibunya bersikap seolah peduli padanya. Sean sama sekali tidak mengerti, kenapa sang ibu selalu seperti ini.
Setelah membalas pesan sang ibu, Sean beralih membuka pesan dari Seungha.
Seungha :
Hari ini kau bermain sendiri, ya.
Aku harus pergi menemui temanku.
Sean mengernyit lalu meletakkan kembali ponselnya ke atas bantal. Dia tidak mengerti kenapa Seungha mengiriminya pesan seperti itu. Apa pemuda itu pikir Sean akan mencarinya?
“Dasar aneh,” gumam Sean lalu beranjak keluar dari kamarnya.
Sean pikir Seungha itu sangat aneh, juga keras kepala. Sean sengaja selalu bersikap dingin, kasar dan mengabaikan pemuda itu, karena tidak mau terlibat dengan Seungha atau siapa pun di desa ini. Sean hanya ingin melewati musim panas ini dengan tenang dan segera pulang ke Seoul, tapi dasar Seungha keras kepala. Bukannya menjauh, pemuda itu justru semakin mendekat.
Awalnya, keberadaan Seungha sangat mengganggu Sean, tapi kemarin, Sean merasa setidaknya kehadiran pemuda itu agak berguna. Berkat Seungha yang ada di sisinya, Sean bisa menahan perasaannya dengan baik selama kompetisi balet kemarin. Walaupun, sempat menangis saat penampilan Hyunji, tapi sisanya Sean bisa menonton dengan tenang.
Jika tidak ada Seungha, Sean tidak yakin apa yang terjadi padanya kemarin. Mungkin saja Sean bisa tiba-tiba berlari keluar dari aula pertunjukan, atau mungkin menangis seperti orang gila selama menonton kompetisi itu. Beruntung ada Seungha, jadi Sean punya alasan untuk tidak melakukan dua hal gila tadi.
Sean hanya tidak mau Seungha melihat sisi terlemahnya, karena takut diremehkan oleh pemuda itu.
***
Seungha berjalan memasuki area pemakaman sambil membawa buket bunga krisan putih berukuran sedang di tangannya. Pemakaman itu ada di daerah perbukitan, jadi Seungha harus naik ke atas bukit untuk menuju makam yang ia kunjungi.
Seungha berhenti di depan sebuah makam. Pemuda itu lalu melatakkan buket bunga krisan putih yang ia bawa ke atas makam itu. Tertulis nama Kang Dae Won di atas batu nisan makam tersebut.
Seungha menarik napas sambil menatap sendu ke arah makam. Dia kemudian duduk bersila di depan makam.
“Dae Won-ah, selamat ulang tahun,” kata Seungha dengan suara tercekat.
“Akhir musim dingin lalu, kau tahukan aku juga mengunjungimu?” Seungha bicara sendiri seolah Dae Won bisa mendengar ucapannya.
“Kali ini aku datang lagi untuk merayakan ulang tahunmu. Maaf aku hanya membawakanmu bunga sebagai hadiah.”
“Dae Won-ah, maaf....”
Pemuda itu menghela napas lalu mengusap wajahnya. Terlihat dari raut wajahnya, Seungha merasa sangat bersalah.
“Akhir-akhir ini sebenarnya aku melupakanmu.”
Seungha terdiam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
“Bukan berarti aku lupa kesalahanku yang membuatmu jadi seperti ini, hanya saja ada seorang gadis yang membuat fokusku terus teralihkan.”
Seungha mengingat lagi pertemuan pertamanya dengan Sean, bagaimana sorot mata gadis itu membuatnya terpana saat itu.
Lalu saat-saat dirinya bersama Sean akhir-akhir ini berputar di depan mata Seungha. Pemuda itu tersenyum. Meski Sean menyebalkan, waktu yang ia habiskan bersama Sean terasa berkesan.
“Sering mengamatinya, aku jadi sadar kalau dia dan aku sangat mirip. Kami berdua sama-sama kehilangan hal berharga. Dia kehilangan impiannya dan aku kehilangan dirimu.”
“Ah....” Seungha merentangkan kedua tangannya lalu berbaring di samping makam Dae Won.
“Dae Won-ah,” panggil Seungha seolah temannya itu bisa merespons panggilannya.
“Jika kau masih hidup, mungkin kau akan menyukai gadis itu. Dilihat-lihat dia itu seperti tipe idealmu,” kata Seungha lalu tertawa.
“Cantik dan punya mata yang indah.”
Pemuda itu kemudian memejamkan matanya. Jika orang lain mungkin takut berbaring seperti ini di area pemakaman, tapi sepertinya Seungha sama sekali tidak merasa takut. Rasa bersalah, atas kepergian Dae Won yang begitu besar telah mengikis rasa takut Seungha.
Makam yang Seungha kunjungi itu adalah makam Kang Dae Won, sahabat Seungha. Mereka bersahabat sejak kecil, jadi kepergian Dae Won bagaikan pukulan dalam kehidupan Seungha. Terlebih lagi dialah yang membuat Dae Won pergi selamanya, lalu juga membuatnya terdorong ke sebuah tempat bernama penyesalan.
Setahun lalu, di akhir musim dingin Dae Won menghembuskan napas terakhirnya setelah mengalami kecelakaan. Tragisnya bukan Dae Won sendiri yang mengalami kecelakaan, tapi Seungha juga.
Namun, takdir yang selalu kejam membuat hanya Seungha yang selamat hari itu dan Dae Won harus pergi selamanya dari dunia ini. Sejak hari itu, Seungha terus dihantui rasa bersalah. Merasa dirinya adalah penyebab Dae Won meninggal.
Karena rasa bersalah itu Seungha memutuskan mengambil cuti kuliah lalu pergi ke desa tempat kakek dan neneknya tinggal. Seungha ingin menenangkan diri sekaligus meratapi perbuatannya.
Namun, daripada disebut menangkan diri, yang Seungha lakukan lebih tepat disebut melarikan diri dari kenyataan. Itu karena selama tinggal di desa Seungha selalu penuh kepura-puraan. Memasang raut wajah bahagia, selalu tersenyum dan bersikap ramah pada semua orang di desa. Seolah dirinya baik-baik saja. Padahal, jauh di dalam dirinya Seungha masih merasa sangat bersalah atas meninggalnya Dae Won. Sangat merasa bersalah, sampai Seungha merasa dirinya tak pantas hidup bahagia, sedangkan Dae Won harus pergi selamanya.
Setahun berlalu, dan Seungha masih hidup dalam kepura-puraan. Hingga suatu hari dia bertemu dengan Sean untuk pertama kalinya.
Sejak pertemuan itu, perlahan lupa tentang Dae Won. Semua karena kehadiran Sean yang selalu menarik perhatian Seungha.
Namun, bukan berarti dengan kehadiran Sean membuat Seungha lupa pada rasa bersalahnya atas kematian Dae Won. Rasa bersalah itu masih ada dan masih sangat besar.
“Dae Won-ah....” Seungha kembali memanggil Dae Won dengan mata terpejam.
“Jika aku melupakan semuanya, apa kau membenciku?”
Hening....
Tentu saja Dae Won yang telah meninggal tak akan pernah bisa menjawab pertanyaan Seungha itu.
“Aku tahu, mungkin ini terdengar sangat tidak adil....”
“Tapi jika aku ingin hidup bahagia, apa itu salah?”