Bagian 28

1402 Kata
Sean menatap dua perempuan yang sekarang sudah berdiri di depannya. Dadanya berdebar, lalu terasa sesak tiba-tiba. Sial, harusnya dia sudah menduga jika hal ini akan terjadi. Seharusnya Sean memikirkan kembali keputusannya untuk datang kemari. Kompetisi ini diadakan oleh Shine Ballet, tentu ada kemungkinan dirinya akan bertemu dengan direktur dari yayasan tari balet itu. Dan benar, di depannya sekarang berdiri Shin Young Ah, pendiri sekaligus direktur dari Shine Ballet bersama Choi Soo Young, ballerina yang juga bernaung di bawah yayasan itu. Melihat wajah dua perempuan itu membuat Sean merasa tak nyaman. “Sean-ah, apa kabar?” Young Ah menyapa Sean dengan ramah. Sudah setahun berlalu sejak terakhir kali ia bertemu Sean saat menjenguk gadis itu di rumah sakit. Sean menarik sudut bibirnya dengan canggung, memaksa diri untuk tersenyum. “Kabar saya baik.” Meski tak senang dengan pertemuan ini, setidaknya Sean harus menunjukkan sikap yang ramah. Direktur Shine Ballet itu selalu bersikap baik dan ramah padanya. “Syukurlah. Senang melihatmu lagi setelah sekian lama.” Direktur Shine Ballet itu kembali tersenyum ramah pada Sean. “Lama tidak bertemu, ya.” Kali ini Soo Young yang datang bersama Young Ah ikut bersuara. Gadis berambut panjang itu kemudian melirik ke arah kaki Sean, lalu bertanya, “kakimu sudah sembuh?” Hati Sean mencelos. Sakit sekali saat mendengar pertanyaan Soo Young. Mungkin gadis itu bertanya karena mengkhawatirkannya, tapi mengingat lagi hubungan mereka yang tidak terlalu akrab—karena sering dibandingkan. Ada kemungkinan pertanyaan Soo Young itu untuk mengejeknya. Setelah Sean berhenti menari balet, tak ada lagi yang akan membandingkan mereka. Juga Soo Young tak perlu lagi bersaing dengannya memperebutkan posisi central dalam setiap pertunjukkan. “Seperti yang kau lihat, kakiku baik-baik saja,” jawab Sean berusaha tenang. “Kau sendiri apa kabar?” “Kabarku baik, sangat baik.” Dari Sean, Soo Young beralih menatap Seungha. “Siapa? Pacarmu?” Sean ikut melirik Seungha yang berdiri di sampingnya. Terlalu terkejut karena bertemu direktur Shine Ballet dan Soo Young, dia lupa jika pemuda itu masih ada di sana. Sialnya, Seungha pasti juga lihat ekspresi terkejutnya tadi. “Bukan, hanya kenalan.” Seungha melirik Sean setelah mendengar jawaban gadis itu. Agak kecewa sebetulnya, Sean menyebutnya hanya kenalan. Seungha pikir mereka sudah cukup dekat untuk dikatakan sebagai teman, tapi ternyata cuma dia yang beranggapan seperti itu. Sedangkan Sean tidak. “Kau datang untuk melihat kompetisi ini?” Soo Young kembali bertanya, membuat Sean tidak nyaman karena ingat hubungan mereka yang tidak dekat. “Aku datang untuk menonton penampilan—” Sean menjeda kalimatnya. Jika dia biang menonton penampilan seorang teman, itu akan terdengar aneh. Faktanya dia dan Hyunji tidak berteman dan Sean juga tidak berniat berteman dengan gadis itu. “Sean datang menemaniku, menonton penampilan seorang teman,” sahut Seungha tiba-tiba membuat Sean menoleh pada pemuda itu. “Peserta? Siapa?” Soo Young lanjut bertanya. Ah, Sean lupa kalau Soo Young itu menyebalkan. “Hyunji,” jawab Seungha. Sean berharap Soo Young akan berhenti setelah mendengar jawaban Seungha, karena dia ingin segera keluar dari situasi ini. Rasanya sangat tidak nyaman terjebak di antara Seungha, direktur Shine Ballet dan juga Soo Young, tapi dasar Soo Young yang menyebalkan, gadis itu kembali berucap. “Hyunji? Yang membawakan The Dying Swan tadi?” Oh, Tuhan. Sungguh, Sean berharap Soo Young akan berhenti mengoceh. Gadis itu selalu seperti ini, meski sudah setahun tak bertemu. Berkata seolah peduli dan mengkhawatirkannya, tapi sebenarnya selalu menyudutkan dirinya. “Sayang sekali dia jadi juara 2, padahal penampilannya tadi sangat bagus. Dilihat lagi Hyunji itu mirip denganmu.” Oke, kesabaran Sean sudah hampir mencapai batas. Jika satu kata lagi keluar dari mulut Soo Young, Sean akan berpamitan dan pergi dari sana. “Sean-ah.” Direktur Shine Ballet itu memanggil nama Sean, membuat Soo Young yang hendak berkata lagi terpaksa menutup mulutnya. Untuk kali ini Sean beterimakasih pada Tuhan, karena mendengar doanya. “Aku merasa sangat sedih atas apa yang menimpamu. Padahal aku sangat yakin bahwa kau bisa menjadi balerina yang hebat, tapi—“ “Saya sudah tidak apa-apa sekarang. Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya,” potong Sean lalu tersenyum, seolah dirinya baik-baik saja. Memang selalu seperti ini. Sean tidak mau lama-lama membahas hal yang terjadi padanya, jadi dia memilih mengakhirinya dengan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja—walau sepenuhnya itu tidak benar. “Benarkah? Syukurlah jika memang begitu.” Sebelah tangan Young Ah kemudian terulur untuk mengusap kepala Sean. “Meski tidak bisa menari lagi, aku berharap kau akan bisa menemukan hal lain yang sama menyenangkannya dengan balet. Apa pun pilihanmu, ingat bahwa aku akan selalu mendukungmu.” Sean kembali memaksa dirinya untuk tersenyum. Dia tahu apa yang diucapakan Young Ah bukanlah sekedar kata-kata penghiburan yang ditujukan padanya, tapi wanita itu benar-benar tulus berharap bahwa dirinya bisa menemukan kebahagian selain balet. Namun sayangnya, bagi Sean satu-satunya kebahagian dalam hidupnya adalah balet. Dan hal itu telah direggut dari hidupnya. Jadi kebahagiaan apa lagi yang harus ia cari? *** Seungha mendesah menatap Sean yang lagi-lagi menatap kosong ke luar jendela. Selalu seperti ini, gadis itu selalu menatap kosong ke luar jendela selama perjalanan pulang. Padahal, dibandingkan melamun sambil menatap ke luar jendela seperti itu, bukankah lebih baik Sean mengobrol dengannya. Mungkin dengan begitu bisa mengurangi sedikit beban pikiran gadis itu. Namun, mungkin karena Sean yang selalu sok kuat dan tegar. Jadi, gadis itu lebih suka menyimpan semuanya sendirian dari pada berbagi luka yang dia rasakan dengan orang lain. “Mau mendengarkan lagu?” Seungha menyodorkan sebelah earphone miliknya pada Sean. Ide bagus meminta gadis itu mendengarkan lagu bersamanya. Setidaknya gadis itu tak akan sepenuhnya melamun karena alunan musik dari earphone itu. Tanpa mengatakan apa-apa Sean meraih earphone itu. Memasangnya di telinga, lalu kembali menatap ke luar jendela. Seungha kemudian memutar sebuah lagu secara acak dari ponselnya. Tanpa sengaja lagu berjudul ‘Breath’ milik Lee Hi terputar. Seketika Seungha merutuki kebodohannya. Harusnya tadi ia memilih judul lagu lain saja, bukannya memutar lagu secara acak. Ingin memutar lagu lain sekarang juga pasti akan membuat Sean merasa tidak nyaman. Jadi, Seungha membiarkan lagu itu tetap berputar. Lagi pula sepertinya Sean tak mempermasalahkannya. Lagu Breath sendiri menceritakan tentang seseorang yang berjuang untuk tetap hidup dalam kehidupan yang penuh tekanan hingga membuatnya sulit bernapas. Entah bagaimana, Seungha merasa lagu ini sangat mewakili keadaan Sean—dan juga dirinya sekarang. Seungha terlihat sangat memedulikan keadaan Sean, sampai Seungha lupa jika dirinya mengalami hal yang sama dengan gadis itu. Dia juga kehilangan hal yang berharga dalam hidupnya. Jika Sean kehilangan impiannya, Seungha kehilangan temannya yang berharga. Dan dialah yang membuat temannya itu pergi untuk selamanya. *** “Terima kasih.” Tidak seperti biasanya, kali ini Sean mengucapkan terima kasih pada Seungha sebelum masuk ke dalam rumah. “Oh? Iya sama-sama,” sahut Seungha bingung karena sikap Sean malam itu yang terbilang aneh. Memang hanya ucapan terima kasih, tapi itu sangat aneh menurut Seungha. Sean selalu langsung masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan apa pun setelah dia mengantar gadis itu. Jadi, saat Sean tiba-tiba mengucapkan terima kasih padanya, Seungha merasa itu adalah hal yang aneh. Setelah Sean masuk ke dalam rumah, barulah Seungha meninggalkan rumah nenek Jae Hwa. Pemuda itu melangkah dengan pelan, seolah langkah kakinya terasa sangat berat. Sepanjang jalan, entah berapa kali pemuda itu mengehela napas. Memikirkan dirinya, juga memikirkan Sean. Melihat bagaimana gadis itu hari ini, membuat Seungha sadar jika dia dan Sean sangat mirip. Berusaha terlihat baik-baik saja di luar, tapi sebenarnya sangat hancur di dalam. Ah, mungkin dirinya jauh lebih buruk dibandingkan dengan Sean. Setidaknya Sean masih menunjukkan sedikit keadaan gadis itu yang sebenarnya. Tidak seperti dirinya. Ucapan Sean tentang dirinya yang bermuka dua sepertinya memang benar. Kenyataannya dia memang menipu semua orang. Semua orang di desa ini mengira dirinya tinggal di sini untuk berlibur. Padahal alasan Seungha tinggal di sini adalah untuk melarikan diri dari kenyataan. Hingga kemudian dia bertemu dengan Sean, gadis angkuh dari Seoul yang suka bicara kasar. Pemuda itu tiba-tiba tersenyum saat mengingat lagi pertemuan pertamanya dengan Sean. Mungkin pertemuan mereka di sungai belakang bukit waktu itu bukan hanya sebuah kebetulan, tapi memang takdir. Jika memang takdir, genre apa yang tepat untuk kisah pertemuan mereka? Drama? Romantis? Tiba-tiba Seungha merasa penasaran. “Kalau begitu aku harap ini akan menjadi kisah komedi romantis,” ucap Seungha masih dengan senyum di wajahnya. Ddrrtt.... Senyum di wajah Seungha menghilang saat menatap reminder yang tertera pada layar ponselnya. Ulang tahun Dae Won. Seungha menghela napas lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. “Dae Won-ah kita akan bertemu lagi besok.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN