Seungha dan Sean bertepuk tangan bersama penonton lain yang juga datang menyaksikan kompetisi balet ini. Sudah hampir separuh dari banyaknya peserta yang tampil, dan sampai detik ini Sean baik-baik saja—tidak. Sean sebenarnya sedang mencoba terlihat baik-baik saja. Melihat penari-penari itu bergerak dengan sangat anggun di atas panggung membuat hati Sean sakit karena teringat masa lalu. Jika saja motor sialan itu tak menabrak dirinya setahun yang lalu, kakinya pasti masih baik-baik saja dan dia tetap bisa menari balet. Bisa mewujudkan mimpinya menjadi penari balet terkenal dunia.
“Setelah ini Hyunji yang akan tampil,” bisik Seungha memberitahu Sean.
Gadis itu kemudian membenarkan posisinya agar bisa duduk dengan nyaman. Sean ingin lihat sehebat apa kemampuan Hyunji yang akan segera tampil.
Musik mulai mengalun bersamaan dengan Hyunji yang naik ke atas panggung. Sean mengamati gadis dengan leotard berwarna putih itu dengan lamat. Hyunji mulai menari mengikuti irama musik yang mengalun. Baik Seungha maupun Sean tampak fokus menonton Hyunji yang sedang menari di atas panggung.
Setiap gerakan yang Hyunji lakukan terlihat sangat anggun dan indah, membuat siapa pun yang melihatnya akan terpukau dengan tarian gadis itu.
Sean tertegun menyaksikan Hyunji yang menampilkan The Dying Swan.
The Dying Swan menceritakan saat-saat terakhir dalam kehidupan seekor angsa.
Entah kebetulan atau tidak, Sean juga menarikan The Dying Swan di kompetisi yang sama tiga tahun lalu, dan saat itu Sean berhasil memenangkan peringkat pertama kategori contemporary solo. Dia juga berhasil menanda tangani kontrak dengan Shine Ballet. Walau sekarang kontrak itu harus berakhir, karena Sean yang tidak bisa lagi menari balet.
Bukankah terlihat sangat tragis? Dulu Sean yang berhasil menang dalam kompetisi dengan menampilkan The Dying Swan, dan sekarang dirinya harus melihat orang lain menarikan tarian yang sama dalam kompetisi yang sama.
Melihat Hyunji menari di atas panggung itu membawa Sean kembali ke kenangan 3 tahun lalu, saat dia mengikuti kompetisi yang sama dengan Hyunji. Setelah memenangkan kategori contemporary solo, Sean mendapatkan banyak pujian karena tariannya yang terlihat indah dan menakjubkan. Bahkan direktur dari yayasan Shine Ballet menemuinya secara pribadi untuk memberikan pujian dan memintanya bergabung dengan Shine Ballet.
Sean masih ingat dengan jelas kata-kata yang diucapkan oleh direktur Shine Ballet padannya.
‘Tarianmu sangat mengaggumkan, aku bahkan meneteskan air mata selama melihtamu menari. Aku yakin kau akan menjadi ballerina terkenal dunia.’
Mengingat kenangan masa lalu itu membuat Sean tidak sanggup lagi melihat penampilan Hyunji. Gadis itu lantas menundukkan kepala, mencoba menenangkan dirinya. Namun, bukannya tenang, hati Sean justru semakin sakit saat ia tak sengaja melihat bekas luka dari kecelakaan setahun lalu. Rasa sesak yang ia rasakan di d**a semakin menjadi dan tak mau pergi.
Bekas luka sialan itu.
Sean mengumpat dalam hatinya. Sekali lagi Sean mengutuk takdir dan orang yang telah membuatnya kehilangan balet dari dunianya.
Gadis itu mengepalkan tangannya erat sambil memejamkan mata. Mencoba menahan dirinya agar tidak menangis. Seungha duduk di sampingnya, jika dia menangis pemuda itu pasti akan melihatnya. Sean tidak mau Seungha melihatnya menangis. Gadis itu tidak mau Seungha melihat sisi terlemahnya. Sean takut Seungha akan menganggap sebagai gadis lemah yang sok kuat, tapi memang begitu adanya. Selama ini Sean memang terlihat sok kuat di depan orang lain, bahkan di depan anggota keluarganya. Padahal jauh di dalam dirinya, sebenarnya Sean sangat hancur. Hanya karena tidak mau dikasihani oleh orang lain, Sean berusaha terlihat tegar dan baik-baik saja.
Sekuat apa pun Sean berusaha menahan diri agar tidak menangis, akhirnya butiran bening itu lolos juga melewati pipinya. Sambil menunduk, Sean menggigit bibir bawahnya agar ia tak mengeluarkan suara saat menangis. Bahkan kedua tangan Sean tetap mengepal dengan kuat di atas paha gadis itu. Jika tangannya bergerak untuk mengusap air matanya, Seungha mungkin akan sadar jika sedang menangis. Jadi Sean memilih menangis dalam diam agar Seungah tidak tahu jika dia sedang menangis sekarang.
Suara tepuk tangan penonton menandakan bahwa penampilan Hyunji telah selesai. Sean bergegas mengusap air matanya lalu mengangkat kepalanya. Gadis itu kemudian bersikap seolah dirinya baik-baik saja. Sama sekali tak menunjukkan bahwa dirinya baru saja menangis meratapi takdirnya selama penampilan Hyunji.
***
Sekeras apa pun Seungha berusaha fokus melihat penampilan Hyunji di atas panggung, tapi kehadiran Sean di sampingnya terus mengalihkan fokusnya.
Apalagi saat gadis itu tiba-tiba menundukkan kepala di tengah-tengah penampilan Hyunji. Dari tangannya yang mengepal erat, Seungha tahu Sean sedang menyembunyikan sesuatu.
Hingga akhirnya Seungha sadar gadis itu menangis dalam diam. Awalnya Seungha berniat menyentuh tangan Sean yang mengepal erat dan bertanya apa yang terjadi, tapi segera ia tarik lagi tangannya saat hendak menyentuh gadis itu.
Mungkin alasan Sean menangis dalam posisi seperti itu, karena dia tidak mau orang lain melihatnya menangis. Seungha yang sedikit banyak memahami karakter gadis itu mengerti kenapa Sean melakukannya. Gadis itu punya harga dirinya tinggi, tentu dia tidak mau dikasihani dengan menunjukkan air matanya pada orang lain.
Seungha sama sekali tak bisa mengalihkan fokusnya dari Sean hingga penampilan Hyunji berakhir. Bersamaan dengan suara riuh tepuk tangan penonton, Sean mengangkat kepalanya, mengusap mata dan pipinya yang basah, lalu dengan cepat mengubah raut wajahnya menjadi datar.
Seungha tertegun melihat Sean yang tampak begitu tenang kembali menyaksikan penampilan peserta lain setelah Hyunji. Padahal satu menit yang lalu gadis itu masih tenggelam dalam tangisnya, tapi sekarang Sean bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Seolah gadis itu baik-baik saja.
Namun, meski Sean mencoba terlihat baik-baik saja, Seungha tahu, jauh di dalam dirinya mungkin Sean sangat rapuh dan hancur.
***
“Mau langsung pulang?” tanya Seungha setelah mereka keluar dari aula pertunjukkan bersama penonton yang lain.
“Kau tidak mau bertemu Hyunji dulu?” Sean balik bertanya. “Setidaknya ucapkan selamat padanya sebelum pergi.”
Penampilan Hyunji tapi memang sangat memukau, tapi sayangnya gadis itu hanya meraih juara dua dalam kategori contemporary solo.
Seungha menatap Sean bingung. Ia tidak menyangka jika Sean menyuruhnya menemui Hyunji dulu sebelum pergi. Seperti yang kalian tahu, Sean tidak menyukai Hyunji. Jadi, ucapannya itu cukup mengejutkan Seungha.
Seungha kemudian mengedarkan pandangannya. Menatap ke sekitar lobi tempat mereka berada sekarang.
“Tapi mungkin akan sangat sulit menemukannya di sini.”
Benar, lobi itu sekarang penuh dengan penonton yang kebanyakan adalah anggota keluarga atau mungkin teman dari peserta yang tampil tadi. Dan sekarang mereka sedang berkumpul untuk memberikan selamat dan juga penghiburan.
“Tidak akan sulit, dia pasti bisa menemukanmu dengan cepat,” kata Sean sambil menatap ke sekitar.
“Ha?” Seungha menatap Sean bingung, tapi sedetik kemudian dia mendengar suara Hyunji memanggil namanya.
“Seungha oppa!!!”
“Benar, kan?”
Seungha lantas menoleh ke sumber suara. Hyunji sedang berlari ke arahnya sambil memeluk buket bunga. Ah, benar dia lupa membelikan buket bunga untuk gadis itu.
Sean menatap Hyunji yang sekarang berdiri di depan Seungha sambil tersenyum lebar. Gadis itu mirip seperti anak anjing yang kegirangan saat melihat tuannya pulang ke rumah. Menggelikan.
“Maaf, aku lupa membelikanmu buket bunga,” kata Seungha merasa bersalah. Ia sudah berjanji akan datang sambil membawa buket bunga, tapi karena terlalu fokus pada Sean dia jadi melupakan janjinya.
“Tidak apa-apa. Oppa datang ke sini saja aku sudah senang.”
Sean yang ada di dekat mereka, bergidik ngeri melihat Seungha dan Hyunji saling bertatapan sambil tersenyum manis.
Mereka pikir sedang syuting drama?
“Eonni.”
“Ya?” Sean menyahut dengan terkejut karena Hyunji tiba-tiba memanggilnya.
“Bagaimana penampilanku tadi?”
Mata Sean tiba-tiba bergerak gugup. Sejujurnya dia tidak melihat penampilan Hyunji sepenuhnya. Sean sibuk menahan perasaannya, karena penampilan Hyunji tadi mengingatkannya pada masa lalu.
“Lumayan,” jawab Sean singkat lalu memalingkan wajahnya. Meski hanya sebentar, tapi Sean tahu penampilan Hyunji tadi lebih dari sekedar lumayan. Dasar Sean yang punya harga diri tinggi, gadis itu tidak mau mengakuinya.
“Kalau begitu....” Hyunji menarik tangan Sean membuat gadis itu kaget karena ulahnya. “Aku akan berlatih dengan keras sampai kau memuji tarianku.”
Setelah itu Hyunji tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi putihnya.
Sean buru-buru menarik tangannya kembali. Melihat sikap Hyunji itu membuatnya merasa aneh. Gadis itu terlalu ramah dan ceria, hingga menurut Sean sikap Hyunji itu lebih terlihat seperti kepura-puraan.
“Dia memang seperti itu?” Sean bertanya pada Seungha setelah Hyunji pergi untuk menyapa para peserta lain dan juga teman-temannya yang datang menonton penampilannya.
“Seperti apa?”
“Terlalu ramah dan ceria?”
Seungha tersenyum. Senang, akhirnya Sean sadar kalau Hyunji itu adalah gadis yang ramah, tidak seperti yang Sean katakan sebelumnya.
“Sudah aku bilang, Hyunji itu gadis yang baik. Sikapnya waktu itu mungkin karena terlalu kesal setelah mendengar kata-katamu.”
“Mengerikan,” kata Sean kemudian.
“Ha?” Seungha menatap tidak mengerti. Siapa yang Sean sebut mengerikan?
“Gadis itu. Terlalu ramah dan ceria, bukankah terlihat seperti sedang menunjukkan kepura-puraan?”
Seungha mendesah. Dia pikir Sean sudah mengubah pendapatnya tentang Hyunji, tapi ternyata tidak. Di mata Sean, Hyunji masih terlihat buruk.
Mengingat suasana hati Sean yang sedang tidak baik hari ini, Seungha akan diam saja. Dia tidak akan mengucapkan apa pun dan menyanggah pendapat Sean tentang Hyunji. Jika melakukannya, pasti akan berakhir percuma. Karena Sean tak akan mendengarkannya.
“Yoo Sean?”
Sean tersentak. Menatap dua orang perempuan sedang berjalan mendekat ke arahnya.
Apa dunia memang sesempit ini?