Meski sempat terlibat perdebatan di dalam bus tadi, Sean tak ambil pusing dengan ucapan Seungha yang bilang bahwa dirinya menilai Hyunji tanpa dasar. Memang Sean sempat merasa kesal karena pemuda terus membela Hyunji dan mengatakan bahwa pendapatnya tentang Hyunji adalah salah, tapi kali ini Sean akan menahan dirinya. Bukan karena gadis itu sabar atau mencoba mengalah, tapi karena hari ini Sean mungkin akan sangat membutuhkan Seungha. Jadi dia akan membiarkan pemuda itu kali ini.
Sejujurnya, Sean tidak yakin dengan keputusannya pergi menonton kompetisi Hyunji. Ini adalah pertama kalinya Sean berhubungan lagi dengan balet setelah kecelakaan setahun lalu dan Sean tidak tahu apa yang akan terjadi padanya selama menonton kompetisi nanti. Namun, yang Sean tahu pasti adalah hatinya akan kembali terluka. Padahal luka yang sebelumnya ada belum sembuh sepenuhnya, meski sudah setahun berlalu. Begitu berartinya balet untuk Sean, hingga kehilangan impiannya membuat gadis itu sangat terluka.
“Kita sudah sampai,” kata Seungha saat mereka tiba di depan sebuah gedung pertunjukkan. Pemuda itu lalu melirik jam tangannya, mereka sampai lebih awal dari waktu yang Hyunji beritahu. “Masih ada waktu satu jam sebelum kompetisinya dimulai. Kau sudah sarapan?”
Sean menggeleng. Dia memang belum sarapan. Tahu kalau jadwal bus yang hanya datang satu jam sekali, Sean sengaja mengajak Seungha berangkat lebih awal. Dia tidak mau menunggu terlalu lama di halte.
“Aku juga belum,” kata Seungha. Karena Sean hanya memberinya waktu 30 menit untuk bersiap-siap, pemuda itu juga melewatkan sarapannya. “Mau makan dulu?”
Sean menjawab ajakan Seungha itu dengan sebuah anggukkan.
Tak mau membuang waktu, karena mereka juga harus segera kembali ke gedung pertunjukkan, Seungha mengajak Sean menuju sebuah restoran cepat saji di dekat sana. Makan sandwich untuk sarapan, itu bukan ide yang buruk. Seungha yakin Sean juga sudah lama tidak makan roti isi dengan daging, sayur, keju, saos dan mayones itu.
“Tidak apa-apa kita hanya makan sandwich?” tanya Seungha setelah mereka duduk di salah satu kursi kosong di dalam restoran itu.
“Tidak,” jawab Sean singkat. Dia tidak masalah mereka makan apa, yang terpenting perutnya terisi. Melewatkan sarapan membuat gadis itu sangat lapar sekarang. Dan dia harus segera mengisi perutnya agar nanti punya tenaga yang cukup untuk menghadapi kenyataan pahit.
“Aku pilih sandwich karena kita harus makan dengan cepat. Kita juga harus segera kembali, terlambat sedikit kita tidak akan mendapatkan tempat duduk.”
Sean mengagguk mengerti. Memang mereka hanya punya waktu satu jam sebelum kompetisi balet itu dimulai. Jadi mereka harus segera kembali jika tidak mau tak bisa melihat Hyunji tampil karena tidak mendapatkan tempat duduk.
***
Mereka kembali ke gedung pertunjukkan tadi setelah sarapan. Masih tersisa waktu 30 menit sebelum kompetisinya di mulai, tapi tempat itu sudah mulai ramai dipenuhi orang-orang.
Sean mengekor di belakang Seungha saat mereka melewati pintu masuk lalu berjalan menuju lobi. Sambil mengepalkan kedua tangannya, Sean mencoba menenangkan dirinya saat melihat para peserta yang juga baru datang melewati lobi tempat mereka berdiri sekarang. Melihat mereka mengenakan leotard atau kostum balet itu, membuat Sean kembali pada masa lalunya.
Dulu semua orang memujinya yang terlihat sangat cantik mengenakan kostum itu. Rasanya selalu menyakitkan setiap kali Sean mengingat lagi kenangannya tentang balet. Gadis itu berharap hari ini dia bisa menahan perasaanya dengan baik. Setidaknya, Sean tidak mau Seungha melihat sisi terlemahnya hari ini.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Seungha.
“Ha?”
Sean menatap Seungha pura-pura tidak mengerti pertanyaan pemuda itu.
“Kalau kau mau kita bisa kembali sekarang.”
Sean menggeleng. Sudah terlanjur datang kemari, jadi Sean akan tetap menonton kompetisi ini. Kalau kembali sekarang, Hyunji pasti akan menganggapnya pengecut.
“Kau yakin?” tanya Seungha yang dijawab dengan anggukkan oleh Sean.
“Kapanpun kau mau keluar langsung tarik saja tanganku, oke?”
Sean mendesah. Seungha mulai menunjukkan sikap menyebalkannya. Sok peduli, sok baik hati. Sean paling benci diperlakukan seperti ini oleh orang lain.
“Seungha oppa!”
Sean dan Seungha refleks menoleh ke sumber suara yang terdengar tidak asing itu. Dan benar, Hyunji dengan kostum baletnya sedang berlari ke arah mereka.
Sean memalingkan wajahnya saat Hyunji sampai di depan mereka. Melihat gadis itu dengan kostum baletnya membuat Sean merasa tak nyaman, rasanya seperti begitu sesak dalam dirinya. Namun, tak lama Sean memalingkan wajahnya, gadis itu kembali menoleh menatap Seungha saat tangan pemuda itu tiba-tiba menggenggam tangannya.
Dia sudah gila ya?
Meski terkejut, Sean tak berusaha menarik kembali tangannya. Bukan karena Sean suka, tapi gadis itu tahu Seungha sedang berusaha menenangkannya. Dan harus Sean akui, walau tidak terucap, tindakkan Seungha itu cukup membuatnya tenang.
“Eonni, kau benar-benar datang?”
Pertanyaan Hyunji itu mengalihkan fokus Sean dari Seungha. Sean lalu menatap Hyunji. Gadis kelas 2 SMA itu mengenakan kostum balet berwarna putih. Dari hiasan bulu-bulu di bagian d**a dari kostum balet yang Hyunji kenakan, Sean menebak mungkin gadis itu akan menampilkan swan lake dalam kompetisi nanti.
“Tentu saja. Apa ada alasan untuk aku tidak datang?”
Hyunji menggeleng lalu tersenyum dengan ceria.
“Tidak, aku sangat senang kau datang. Soal ucapanku waktu itu lupakan saja. Hari ini aku hanya ingin tampil dengan nyaman dan menikmati penampilanku di atas panggung nanti.”
Sean bergeming. Dia agak terkejut melihat Hyunji yang bersikap begitu ramah padanya, padahal kemarin dengan sombongnya gadis itu menyuruhnya untuk menonton kompetisinya.
Dari Sean, Hyunji lalu beralih menatap Seungha. Gadis itu sempat melihat sebelah tangan Seungha yang sedang menggenggam tangan Sean, tapi Hyunji berusaha terlihat tenang.
“Oppa, apa aku terlihat cantik hari ini?”
Seungha mengangguk sambil tersenyum. “Kau cantik sekali hari ini.”
Sebelah tangan pemuda itu kemudian terulur untuk mengusap pelan puncak kepala Hyunji.
Sean yang melihatnya tiba-tiba bergidik ngeri. Bisa juga Seungha bersikap seperti itu. Sebelah tangan pemuda itu sedang menggenggam tangannya dan yang satu mengusap puncak kepala Hyunji. Ternyata selain bermuka dua dan menyebalkan, Seungha itu juga berbakat untuk menjadi seorang playboy.
“Oppa, eonni.” Hyunji menatap Sean dan Seungha bergantian. “Saat aku tampil nanti bertepuk tangan yang meriah ya?”
“Kami juga akan memanggil namamu dengan keras. Iya, kan?” Seungha kemudian menyenggol bahu Sean.
“Kau aja,” ucap Sean ketus. Tujuannya datang kemari hanya ingin melihat penampilan Hyunji dan ingin tahu sehebat apa gadis itu. Bukan untuk memberi Hyunji semangat.
Hyunji sama sekali tidak merasa kesal mendengar ucapan Sean. Gadis itu justru terkekeh pelan. Sean memang persis seperti yang Seungha katakan padanya, gadis itu dingin dan agak kasar, tapi bukan berarti Sean gadis yang jahat, kan? Sean hanya punya keperibadian yang agak buruk.
“Aku harus segera kembali ke dalam sekarang. Kita bertemu lagi setelah kompetisinya selesai, dah!” Hyunji beranjak pergi sambil melambaikan tangannya pada Sean dan Seungha.
Hanya Seungha yang membalas lambaian tangan Hyunji. Sementara Sean hanya menatap Hyunji yang sekarang berjalan menjauh dari mereka.
“Mau masuk ke dalam sekarang?” ajak Seungha setelah Hyunji masuk ke dalam sebuah ruangan.
Sean menatap ke sekitar mereka. Lobi itu mulai penuh dengan orang-orang dan rasanya mulai sesak. Sean tidak suka situasi seperti ini, saat dirinya dikelilingi oleh banyak orang.
“Iya,” sahut Sean singkat.
***
Sean dan Seungha masuk ke dalam aula pertunjukkan. Mereka memilih duduk di kursi bagian tengah. Tidak terlalu dekat dengan panggung dan juga tidak terlalu jauh juga.
Sean menarik tangannya yang sejak tadi digenggam Seungha setelah mereka duduk. Jika tadi dirinya merasanya agak tenang saat pemuda itu menggenggam tangannya, sekarang Sean merasa tidak nyaman. Rasanya aneh, tangannya bersentuhan dengan Seungha cukup lama.
“Tanganku berkeringat,” kata Sean sambil mengusap telapak tangannya. Rasanya sangat tidak nyaman dalam posisi tadi terlalu lama.
“Oh,” sahut Seungha lalu juga mengusap tangannya. Pemuda itu juga merasa tangannya agak berkeringat.
Apa aku menggenggamnya terlalu erat?
Dari Sean, Seungha mengalihkan pandangannya ke arah panggung. Tirai besar yang menutup panggung itu terbuka, lalu di susul seorang pembaca acara yang muncul dari arah belakang. Selagi si pembawa acara di depan sana menjelaskan soal kompetisi yang akan di mulai sebentar lagi, Seungha kembali beralih melirik Sean yang duduk di sampingnya. Gadis itu tampak sangat tenang menatap pembawa acara di depan sana.
Kompetisi balet yang Hyunji ikuti ini diadakan oleh Shine Ballet, sebuah yayasan tari balet terkenal di Korea Selatan. Kompetisi ini diikuti oleh berbagai sekolah balet dari seluruh Korea Selatan. Tujuannya adalah mencari penari-penari balet muda yang berbakat. Kompetisi balet ini terbagi dalam beberapa kategori yaitu, junior, pre senior, senior, contemporary solo dan contemporary group.
Dari banner yang Sean baca di depan aula tadi, selain mendapatkan hadiah utama berupa uang dan piala. Para pemenang juga mendaptakan kesempatan untuk bergabung dengan yayasan tari balet ini. Sean sebelumnya juga menjadi salah satu penari balet di bawah naungan Shine Ballet. Dan Sean tahu, bagi mereka yang bergabung dengan yayasan ini sudah pasti punya masa depan yang cerah. Karena semua penari balet yang bernaung di yayasan ini selalu menjadi penari balet yang sukses dan terkenal baik di Korea Selatan ataupun luar negeri.
Namun sayang, sebagai penari balet yang berada di bawah naungan Shine Ballet, Sean tidak seberuntung penari-penari lain. Dan itu karena kecelakaan yang terjadi satu tahun yang lalu. Andai saja kecelakaan itu tak pernah terjadi padanya, Sean pasti masih bisa berdiri di atas panggung itu seperti para peserta yang sedang tampil sekarang, tapi takdir memang sangat kejam padanya. Membuatnya kehilangan impiannya yang bernana kehancuran.