Bagian 25

1289 Kata
Seungha terbangun setelah mendengar alarm dari ponselnya berbunyi. Tidurnya sama sekali tidak nyenyak semalam. Dirinya masih memikirkan soal Sean yang marah padanya sampai tak bisa tidur dengan nyenyak. Padahal dipikir-pikir sebenarnya dia tidak berbuat salah pada gadis itu kemarin, kecuali membuat Sean kalah dalam permainan dan turun peringkat. Selebihnya itu tentang pertengkaran Sean dan Hyunji. Dia hanya berusaha menengahi mereka, tapi malah jadi sasaran kemarahan Sean. “Ah, hari ini.” Seungha buru-buru menyibak selimutnya lalu meraih ponselnya di atas nakas di samping tempat tidur. Dia baru ingat jika kompetisi Hyunji diadakan hari ini dan dia sudah janji untuk datang. “Oh....” Seungha terdiam selama beberapa detik melihat nama Sean tertera pada layar ponselnya. Gadis itu mengiriminya pesan. Sungguh hal yang luar biasa melihat Sean mengiriminya pesan lebih dulu. Biasanya selalu dia yang menghubungi Sean lebih dulu. Seungha lalu dengan cepat membuka pesan dari Sean itu. Sean : Kita pergi ke kompetisi Hyuji bersama. Jika tadi Seungha dikejutkan dengan Sean yang mengirim pesan, sekarang dia kejutkan dengan isi pesan gadis itu. pemuda itu tidak menyangka Sean mengajaknya pergi bersama ke kompetisi Hyunji. Seungha pikir Sean tidak akan datang, mengingat Sean selalu sensitif tentang hal-hal yang menyangkut soal balet. Namun, ini sungguh di luar dugaan. “Apa dia akan baik-baik saja?” Seungha bertanya pada dirinya sendiri. Sekarang pemuda itu malah mengkhawatirkan Sean. Seungha hanya tidak yakin apa Sean nantinya akan baik-baik saja saat menonton kompetisi Hyunji. Seungha takut menonton kompetisi Hyunji nanti justru akan membuat Sean semakin terluka. Seungha tahu Sean berhenti menari balet bukan karena kemauannya sendiri, tapi karena keadaan. Dan takdir merenggut impian gadis itu dengan paksa. Pasti akan sangat menyakitkan bagi Sean jika harus menonton kompetisi Hyunji nanti. Saat jemari Seungha hendak mengetik balasan untuk Sean, pesan baru dari Sean kembali masuk. Sean : Kau punya waktu 30 menit. Aku tunggu di depan rumahku. “30 menit? Tapi bahkan aku belum mandi.” Seungha segera beringsut dari tempat tidurnya, lalu bergegas menuju ke kamar mandi. Sean hanya memberinya waktu 30 menit, jadi dia harus mandi sekarang jika ingin datang ke tempat gadis itu tepat waktu. Telat satu menit saja mungkin Sean akan mendiamkannya seperti kemarin. Tentu Seungha tidak mau hal itu terjadi. Sean memang penuh kejutan dan salah satunya sangat merepotkan Seungha. Seperti sekarang, dalam waktu 30 menit pemuda itu harus bergegas mandi, dan bersiap pergi ke rumah nenek Jae Hwa untuk menjemput Sean. Apa semua perempuan memang seperti ini? *** Sean menatap pantulan dirinya di cermin. Hari ini gadis itu memilih mengenakan plain shirt berwarna putih yang dipadukan dengan denim skirt. Sean tidak lupa juga mengenakan jaket denim sebagai luaran plain shirt yang ia kenakan. Sean menghembuskan napas perlahan setelah merasa penampilannya hari itu terlihat cukup baik. “Semua akan baik-baik saja.” Gadis itu bergumam pelan. Berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia akan baik-baik saja nanti. Setelah bergelut dengan pikirannya semalaman, akhirnya Sean memutuskan untuk datang ke kompetisi Hyunji hari ini. Untuk pertama kalinya setelah kecelakaan itu, Sean kembali melihat seseorang menari balet. Dia tidak yakin apakah nanti akan merasa baik-baik saja selama menonton kompetisi Hyunji, tapi jika tidak datang, gadis SMA itu pasti akan menganggapnya pengecut. Tentu Sean yang punya harga diri tinggi tidak mau dianggap pengecut oleh Hyunji. Jadi, meski nanti hatinya akan kembali terluka, Sean tetap memutuskan untuk menonton kompetisi itu. Dia juga ingin tahu sehebat apa Hyunji sampai gadis bisa menjadi sangat sombong seperti itu. Ddrrtt... Sean meraih ponselnya yang tadi diletakkan di atas lemari kecil di dekat jendela. Ada satu pesan masuk dari Seungha. Seungha : Aku ada di depan rumahmu. Sean lantas melirik pada jam yang tertera di bagian atas layar ponselnya. Baru 25 menit berlalu setelah ia mengirim pesan pada Seungha tadi dan sekarang pemuda itu sudah ada di depan rumahnya. “Cepat juga dia,” kata Sean lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas selempang berwarna hitam yang ia kenakan. Gadis itu kemudian keluar dari dalam kamarnya. Memakai sepatunya sebelum keluar rumah dan juga tidak lupa berpamitan pada neneknya. Kebetulan kakeknya sudah pergi ke ladang sejak tadi. “Nek, aku pergi dulu bersama Seungha,” teriak Sean sambil memakai sepatunya. “Kalian mau ke mana?” tanya Jae Hwa yang kemudian muncul dari arah dapur. “Tidak sarapan dulu?” “Jalan-jalan ke kota, nanti aku sekalian sarapan di sana saja.” Selesai mengikat kedua tali sepatunya, Sean berdiri lalu bergegas pergi ke luar. “Aku pergi sekarang,” pamit Sean pada sang nenek. “Hati-hati di jalan dan jangan bertengkar.” “Ya.” *** Sepertinya hari ini banyak keajaiban yang terjadi pada diri Seungha. Selain Sean yang tiba-tiba mengiriminya pesan dan mengajaknya pergi bersama ke kompetisi Hyunji, sekarang gadis itu mau duduk di sampingnya saat naik bus. Padahal dalam bus itu masih banyak kursi kosong, tapi Sean malah duduk di sampingnya. “Kau yakin akan pergi menonton kompetisi Hyunji?” Lupakan soal keajaiban yang terjadi pada Seungha pagi ini. Yang terpenting adalah kondisi Sean. Apakah gadis itu benar-benar yakin akan menonton kompetisi Hyunji? Seungha sendiri merasa tidak yakin. Sean itu selalu sensitif soal balet. Ingat saat ia dan Hyunji diusir dari rumah nenek Jae Hwa? Waktu itu dia bertanya soal apakah Sean adalah penari balet dan karena pertanyaan singkat itu Sean marah lalu mengusir mereka. Seungha takut kalau nanti akan terjadi hal yang lebih buruk dari waktu itu. Bukan takut Sean marah atau bagaimana. Dia takut gadis itu akan semakin terluka setelah menonton kompetisi Hyunji nanti. Bagaimanapun juga balet pernah—mungkin sampai saat ini masih menjadi hal yang berharga dalam hidup Sean. “Kenapa?” Sean balik bertanya sambil menatap Seungha. Pemuda itu juga sedang menatapnya sekarang, tapi Sean tidak suka dengan cara Seungha menatapnya. Terlihat sekali pemuda itu merasa kasihan padanya. “Kau takut aku akan semakin terluka?” Mata Seungha berkedip tidak percaya. Sean bisa menebak isi pikirannya. Dia memang merasa seperti itu. Takut Sean semakin terluka. “Aku tidak tahu apa yang orang tuaku katakan padamu, tapi hanya karena takut merasa terluka setelah menonton kompetisi itu, aku tidak mau dianggap pengecut oleh gadis sombong itu.” “Hyunji bukan gadis seperti itu,” ucap Seungha. Mengenal Hyunji sejak gadis itu masih kecil, Seungha tahu Hyunji bukanlah gadis sombong seperti yang Sean katakan. Dan Seungha tidak suka Sean menyebut Hyunji seperti itu. “Terserah kau mau mengatakan dia itu baik, rajin menabung, tidak sombong dan lain sebagainya. Bukankah itu adalah hakku mau menilainya seperti apa?” “Benar, itu memang hakmu mau menilai Hyunji seperti apa, tapi bagaimana jika dia terluka karena penilaianmu yang tidak berdasar itu?” Sean berdecak pelan. “Tidak berdasar? Kau lucu sekali.” “Bukankah begitu? Kau memang menilai Hyunji tanpa dasar, kan? Kau sama sekali tidak mengenalnya dan kau bilang dia itu gadis yang sombong.” Sean menyadarkan punggungnya pada sandaran kursi sambil tertawa. Gadis itu lantas mengalihkan pandangannya dari Seungha ke jendela. “Aku memang tidak kenal dia sebaik dan sedekat kau mengenalnya,” kata Sean dengan sedikit penekanan pada setiap kata yang keluar dari mulutnya. “Tapi, beberapa kali bertemu gadis itu dan melihat cara bicaranya. Aku tahu dia itu tidak sebaik yang terlihat. Persis seperti dirimu. Ah, pantas saja kau membelanya, kalian ternyata punya kemiripan.” Setelah itu Sean kembali tertawa pelan sambil bertepuk tangan. Sementara Seungha hanya diam saja. Tidak berusaha mengelak atau membenarkan perkataan Sean. Seungha diam karena merasa membalas perkataan Sean adalah percuma. Dua minggu mengenal gadis itu, Seungha tahu kalau Sean selain punya harga diri yang tinggi gadis itu juga keras kepala. Jadi apa pun pembelaan yang akan dia katakan pasti akan sia-sia saja. Sean tak akan mendengarnya. Seungha yakin nanti, seiring berjalannya waktu setelah Sean mengenal Hyunji lebih dekat. Gadis itu akan sadar bahwa penilainya pada Hyunji selama ini adalah salah. Hyunji bukanlah gadis seperti yang Sean katakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN