Bagian 24

1271 Kata
Seungha yang berdiri di dekat kedua perempuan itu mulai merasa khawatir. Sean dan Hyunji terlihat akan terlibat dalam sebuah perkelahian, jika dia tidak segera melerai mereka. Ia lupa memberitahu Hyunji soal Sean yang suka bicara seenaknya, kasar dan keterlaluan. Pemuda itu sudah mengenal Hyunji sejak kecil. Dia tahu Hyunji adalah gadis yang lemah lembut dan tidak bisa marah pada orang lain. Seungha tak pernah melihat Hyunji merasa kesal dan marah seperti ini sebelumnya. Pasti kata-kata Sean sangat melukai perasaan gadis itu. Harusnya tadi dia menutup mulut Sean dengan tangannya sebelum gadis itu mengucapkan sesuatu. Seungha penasaran, mungkin di ujung lidah Sean itu ada duri. Jadi, ucapan gadis itu selalu membuat orang lain yang mendengarnya jadi kesal. Sama seperti Sean, Hyunji itu juga seorang penari balet. Bisa dibilang gadis itu cukup berbakat. Tentu saja Hyunji merasa kesal diremehkan oleh Sean seperti tadi. Apalagi dia diremehkan oleh seseorang yang belum melihat kemampuan menarinya. “Hyunji-ya, jangan diambil hati kata-kata Sean. Dia memang seperti itu.” Seungha mencoba meredam emosi Hyunji. Mungkin saja gadis itu tak jadi marah dan mau mendengarkan kata-katanya. Biasanya memang seperti itu. Saat gadis itu merasa marah, Seungha selalu bisa dengan mudah meredam emosi Hyunji. “Eonni, mungkin kau tidak tahu, tapi aku ini cukup berbakat,” kata Hyunji dengan tenang. Jika bukan karena Seungha, dia mungkin sudah menjambak rambut Sean karena gadis itu meremehkannya seperti tadi. Setidaknya Hyunji ingin menjaga perilakunya di depan orang yang dia sukai. “Benarkah? Kalau begitu buktikan,” tantang Sean. Dia ingin tahu sehebat apa kemampuan Hyunji. “Tentu saja. Kau bisa datang dan melihat bagaimana kemampuanku besok saat kompetisi.” “Kau menyuruhku menonton kompetisimu?” “Iya. Apa kau takut?” Sean mengusap batang hidungnya lalu tertawa. “Aku takut?” Untuk apa dia merasa takut? “Mungkin setelah melihatku menari, kau sadar bahwa aku adalah penari yang lebih baik darimu.” “Wah....” Sean menyibakkan rambutnya ke belakang telinga. “Kau percaya diri sekali? Baiklah, kita lihat sebagus apa tarianmu besok.” “Tentu aku akan sangat menantikan kehadiranmu di kursi penonton.” Setelah itu Hyunji beralih menatap Seungha. “Oppa.” “Ya?” sahut Seungha gelagapan. Tadi dia sempat takut dua perempuan itu akan berkelahi di depannya. Beruntung hal itu tidak terjadi. Jika Sean dan Hyunji benar-benar berkelahi itu akan sangat merepotkannya. “Besok kau juga harus datang.” “Aku?” “Tentu saja. Bukannya kau sudah janji akan datang melihatku di kompetisi kali ini?” Seungha menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ah, benar. Aku sudah janji padamu.” “Kalau begitu aku akan pergi latihan sekarang.” Hyunji menatap Sean lalu tersenyum. “Berkat seseorang, aku jadi semakin ingin menang besok.” Sean berdecak pelan. Gadis itu sudah siap menarik rambut Hyunji dari belakang, tapi diurungkan lagi niatnya. Sean tidak mau membuang tenaganya percuma untuk gadis sombong bernama Hyunji itu. *** “Sombong sekali dia,” ucap Sean lalu meneguk minuman bersoda di depannya. “Siapa? Hyunji?” tanya Seungha sembari meletakkan sepotong pizza ke atas piring di depan Sean. “Siapa lagi kalau bukan dia?” Gadis itu menarik napas kasar, lalu meneguk lagi minuman bersoda miliknya. Sean benar-benar terlihat sangat kesal sekarang dan itu membuat Seungha harus berhati-hati dalam berucap. Salah-salah, gadis itu juga akan marah padanya. Tadi saja Sean sempat marah karena kalah dalam bermain game. “Hyunji bukannya sombong,” kata Seungha hati-hati. Dia ingin menjelaskan pada Sean bahwa Hyunji sebenarnya agalah gadis yang baik dan tadi mereka hanya terlibat kesalahpahaman. “Dia begitu karena merasa kau meremehkannya.” “Aku tidak meremehkannya. Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya,” kilah Sean. “Berbakat atau tidak, jika akan mengikuti kompetisi harusnya dia tidak punya waktu untuk bersenang-senang.” “Dia begitu agar bisa latihan dengan lebih baik lagi nanti.” Sean mendengkus lalu memalingkan wajahnya. Seungha mana tahu apa yang dia rasakan, pemuda itu bahkan bukan seorang penari balet. Sean sendiri bukan tanpa alasan merasa kesal pada Hyunji. Sean merasa Hyunji seperti meremehkan penari lain yang ikut pada kompetisi besok. Seolah merasa berbakat, Hyunji tak perlu latihan dengan tekun karena dia sudah tahu akan menang pada kompetisi besok. Bukankah itu meremehkan peserta yang lain? Rasanya sangat tidak adil bagi mereka yang berlatih dengan sungguh karena pada akhirnya harus kalah dengan mereka yang berbakat sejak lahir. Hukum alam sangat tidak adil memang. Sean sebenarnya tidak berbakat menari balet sejak awal. Awalnya dia hanya menyukai seni tari yang berasak dari Italia ini. Bahkan sampai kelas 1 SMP pun Sean masih benar-benar payah. Dia sering dilewatkan oleh pelatihnya saat akan mengadakan sebuah pertunjukkan. Dia selalu menjadi penari cadangan karena tidak berbakat. Namun, kalian tahu pepatah ‘usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil’? Mereka yang bekerja keras pasti akan berhasil pada akhirnya. Hal itu benar-benar terjadi pada Sean. Latihan keras yang Sean lakukan akhirnya membuat Sean dikenal sebagai penari balet muda berbakat-bukan berbakat harusnya, dia mendapatkan julukan itu karena latihan kerasnya. “Hyunji itu sebenarnya anak yang baik. Aku sudah mengenalnya sejak kecil, aku tahu dia tidak bisa marah pada orang lain. Mungkin kata-katamu tadi sangat keterlaluan sampai dia jadi seperti itu.” Sean mencebik kesal. Hyunji adalah gadis yang baik dan tidak pernah marah pada orang lain? Hei, gadis-gadis seperti itu hanya ada dalam tokoh-tokoh dongeng Disney. Sean yakin Hyunji itu sebenarnya tidak sebaik yang terlihat. “Benar, kau yang kenal dia sejak kecil tentu saja akan membelanya.” “Tidak. Aku tidak bermaksud membela Hyunji,” kata Seungha. Pemuda itu lalu menggaruk pelipisnya, sepertinya dia salah berucap sampai Sean berkata seperti itu. Dia sebenarnya tidak bermaksud membela Hyunji, tapi sepertinya Sean salah mengerti. Seungha menarik napas. Sean sudah terlanjur kesal sekarang, dan segala penjalasan tentang Hyunji tadi malah membuat gadis itu semakin kesal. Padahal, tadi niatnya mereka pergi ke kota untuk bersenang-senang, tapi sampai di sini malah banyak hal terjadi dan membuat suasananya jadi seperti ini. Jika begini, sampai hari ini berakhir pun mereka tidak akan bisa bersenang-senang. *** Sean duduk dengan tenang di samping Seungha selama perjalanan pulang. Jangan salah sangka gadis itu suka rela duduk bersebelahan dengan Seungha. Sean mau duduk bersama pemuda itu, karena bus yang mereka tumpangi sekarang sudah penuh dan tidak ada tempat duduk yang tersisa, kecuali yang mereka duduki sekarang. Jadi, mau tidak mau Sean duduk di samping Seungha. Setelah makan pizza tadi, mereka memang lanjut berkeliling kota. Mereka sempat pergi ke toko buku juga tadi. Sean membeli beberapa buku di sana. Meski sangat menyukai game, ternyata gadis itu juga suka membaca buku. Sisi lain dari Sean yang baru Seungha tahu. Seungha melirik Sean yang saat ini menatap ke luar jendela. Sean mungkin sangat suka duduk di samping jendela. Buktinya gadis itu selalu memilih duduk di sana. Mungkin karena Sean suka melihat pemandangan di luar sana, atau agar dia bisa menatap kosong ke luar sana. Seolah dia sedang menikmati pemandangan di sepanjang jalan. Padahal pikirannya sedang menjelajah entah ke mana. “Kau masih kesal?” Seungha mencoba bertanya. Sejak pembicaraan mereka soal Hyunji saat makan pizza tadi Sean mendiamkannya. Sungguh diamnya perempuan saat sedang marah dan kesal itu sangat menakutkan. Sean bergeming. Jangankan menjawab pertanyaannya, menoleh saja tidak. “Kau masih marah padaku?” Seungha kembali bertanya. Setidaknya dia harus mencoba mengajak Sean bicara. Barang kali nanti Sean akan luluh dan tak jadi marah padanya. Namun, Sean masih bergeming. Bahkan gadis itu sama sekali tidak bergerak. Sepertinya Sean memang masih marah padanya. Seungha kemudian mendesah pasrah. Mencoba mengajak Sean yang sedang merasa kesal bicara sangat susah ternyata, lebih susah daripada saat pertama kali ia mengenal gadis itu. Jika sudah begini, tidak ada pilihan lain bagi Seungha selain ikut diam. Dia harus menunggu sampai Sean tidak marah lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN