Sean dan Seungha benar-benar pergi ke kota setelah mereka selesai makan dan setelah Sean mandi tentunya. Entah sedang dirasuki hantu atau apa, gadis itu akhirnya mau pergi bersama Seungha. Sama seperti saat pertama kali mereka pergi bersama, kali ini Sean dan Seungha juga duduk terpisah. Awalnya Seungha ingin duduk di samping Sean, tapi gadis itu dengan ketus menyuruhnya untuk duduk di kursi yang lain.
Seungha sama sekali tidak mengerti kenapa Sean bersikap seperti ini. Dia pikir setelah mau ikut dengannya pergi ke kota, gadis itu setidaknya akan bersikap ramah. Namun, ternyata Sean masih sama. Dia dingin dan kasar.
Sean turun lebih dulu setelah bus yang mereka tumpangi berhenti di sebuah halte, baru kemudian Seungha menyusul di belakangnya.
Tidak seperti sebelumnya, kali Sean tidak akan mengikut rute berdasarkan aplikasi maps. Kepalanya sudah cukup pusing karena pertengkaran kemarin, jadi dia akan mengikuti Seungha saja. Untuk hari ini saja dia akan bekerja sama dengan pemuda itu. Seungha tentu tahu tempat-tempat menarik di sini. Dari yang Sean dengar, sudah setahun Seungha tinggal di Haenam bersama kakek dan neneknya.
“Kau mau ke mana?” tanya Seungha setelah bus yang tadi mereka tumpangi melaju meninggalkan halte.
“Aku ingin minum ice americano dulu,” jawab Sean yang membuat Seungha menatapnya takjup.
“Kenapa kau menatapku begitu?”
“Tidak apa-apa. Aku hanya terkejut kau menjawab pertanyaanku.”
Sean mendengkus. “Memangnya sebelum ini aku tidak menjawab pertanyaanmu?”
“Memang tidak,” kata Seungha jujur. Selama ini Sean memang jarang-bahkan sering mengabaikan perkataannya.
“Aku tidak ingin berdebat denganmu, jadi cepat tunjukkan jalannya.”
Seungha mengacak poni milik Sean, membuat gadis itu agak kaget karena ulahnya, tapi hanya sebentar. Karena setelahnya berteriak kesal pada pemuda itu.
“Yak!!!”
“Aku ingat di sekitar sini ada kafe yang cukup terkenal.”
Tak peduli pada Sean yang berteriak dengan kesal, Seungha menarik tangan gadis itu untuk mengikutinnya, tapi dengan cepat Sean menepis tangan pemuda itu. Sean tidak mengerti, kenapa Seungha selalu saja menyentuhnya sembarangan. Apa dia terlihat seperti gadis gampangan?
Tidak. Seungha mungkin tidak berpikir seperti itu. Ingat soal dia yang ingin menjadi lebih dekat dengan Sean? Pemuda itu sedang berusaha sekarang. Dia pikir dengan melakukan hal seperti tadi bisa mengikis tembok pembatas yang dibuat oleh Sean di antara mereka. Intinya Seungha sedang mencoba segala cara untuk dekat dengan Sean. Cara yang masih dalam batas wajar tentunya.
***
Setelah memesan minuman di meja pemesanan, Sean dan Seungha beranjak menuju meja kosong dalam kafe itu. Kali ini mereka tidak duduk terpisah seperti saat naik bus tadi. Tentu sakan terlihat aneh, mereka memesan minuman bersama, tapi duduk terpisah.
Seungha menarik sebuah kursi kayu di depannya lalu mempersilakan Sean duduk, tapi dasar Sean yang dingin dan juga kasar, gadis itu memilih duduk di kursi yang lain.
Seungha menghela napas pelan. Agak malu sebenarnya, karena Sean menolak duduk di kursinya. Apa lagi beberapa pengunjung di sana sekarang menatapnya karena ulah Sean tadi. Untung saja dia punya wajah yang tampan, jadi wajahnya bisa mengalihkan perhatian orang-orang dari kejadian tadi.
“Usiamu 20 tahun, kan? Harusnya kau adalah mahasiswa tahun kedua, benar?” tanya Seungha setelah menyesap ice americano miliknya.
“Aku tidak kuliah,” jawab Sean singkat.
“Kenapa?”
“Tidak berminat.”
“Tidak berminat? Kenapa?”
Sean mendesah kesal. Dia agak menyesal membalas perkataan Seungha. Ternyata pemuda itu jauh lebih cerewet dari yang dia bayangkan.
“Kau sendiri kenapa tidak kuliah?” Sean balik bertanya sambil melipat tangannya di depan d**a.
“Aku? Aku sedang cuti?”
“Kenapa?”
“Karena temanku mati.”
Suasananya tiba-tiba saja berubah canggung. Sean diam sambil menggigit bibir bawahnya. Gadis itu sedang berusaha mencerna arti perkataan Seungha tadi. Maksudnya pemuda itu cuti kuliah karena temannya meninggal? Atau bagaimana?
Sean lantas meraih gelas berisi ice americano di atas meja, lalu meminumnya. Dirinya memang tidak suka dengan kecerewetan Seungha, tapi dia lebih tidak suka terjebak dalam suasana yang canggung seperti ini. Rasanya sangat tidak nyaman.
“Tidak perlu canggung begitu,” kata Seungha tahu Sean tiba-tiba diam karena merasa canggung. Sebenarnya dia juga begitu. Ini adalah pertama kalinya pemuda itu membahas kematian Dae Won dengan orang lain.
“Aku juga sudah dengar tentang yang terjadi padamu.”
Sean mengerutkan dahinya. “Yang terjadi padaku?”
Seungha kembali meminum ice americano-nya. “Alasan kau berhenti menari balet.”
Raut wajah Sean kembali berubah dingin. Gadis itu tahu siapa yang memberitahu Seungha tentang alasannya berhenti menari balet. Siapa lagi jika bukan kedua orang tuanya. Sean tak habis pikir, kenapa mereka memberitahu Seungha mengenai hal itu.
“Aku tak akan membahasanya,” kata Seungha lagi. “Kita ke sini untuk bersenang-senang. Bukan untuk membuat kesal satu sama lain.”
Pemuda itu kembali meneguk ice americano miliknya, dan kembali berucap. “Tapi aku siap mendengarkan ceritamu tentang kau berhenti menari balet. Kapan pun.”
Sean memilih diam lalu meminum minuman miliknya. Dia sama sekali tidak berminat membalas perkataan Seungha. Seperti kata pemuda itu, mereka pergi ke kota untuk bersenang-senang. Jadi, kali ini dia akan membiarkan Seungha.
Melihat Sean yang diam, Seungha samar-samar tersenyum. Dia pikir tadi Sean akan marah, karena gadis itu selalu sensitif tentang balet, tapi ternyata Sean hanya diam saja. Agak melegakan bagi Seungha. Pemuda itu sempat takut Sean akan merajuk dan pergi begitu saja. Akan merepotkan jika hal itu terjadi. Susah-susah dia berusaha mendekati Sean, tapi karena kecerobohannya, Seungha malah membuat jarak yang semakin besar dengan gadis itu.
“Mau pergi ke warnet?” ajak Seungha yang sukses menarik perhatian Sean. Dia tahu gadis itu sangat menyukai game. Jadi tak mungkin Sean akan menolak ajakannya.
***
Sean dan Seungha duduk berdampingan di dalam sebuah warnet. Benar, kan Sean tak akan menolak jika diajak pergi ke warnet. Bisa dibilang Sean itu maniak game. Jadi, jika ada kesempatan seperti ini dia tidak akan menyia-nyiakannya. Apa lagi Seungha bilang akan mentraktirnya.
Awalnya Sean tidak sesuka ini bermain game. Saat masih menari dulu, game online seperti ini hanya jadi hiburannya ketika merasa penat dengan rutinitas latihannya. Namun, setelah kecelakaan itu, game lah yang mengalihkan Sean dari rasa sakit karena kehilangan mimpinya. Mungkin, bisa dibilang game juga yang membuatnya sejenak lupa pada penderitaan dan juga kehidupan di luar kamarnya.
Ah, Sean ingat. Ibunya sering memarahinya karena seharian hanya berada di dalam kamar memainkan berbagai macam game online.
“Yak!!!” pekik Sean karena karakter game online milik Seungha baru saja terbunuh dan mebuat tim mereka berakhir kalah. “Kau bodoh ya?”
“Aku hanya kaget karena musuh tiba-tiba muncul.”
“Apanya yang kaget?”
Sean menatap Seungha sebal. Memang ide yang buruk membiarkan Seungha ikut bermain tadi. Ternyata pemuda itu sangat payah.
“Bagaimana bisa kau diam saja saat diserang begitu? Kau bodoh?”
Sean mencebik kesal. Gara-gara Seungha dia harus turun peringkat.
“Aku sudah berusaha menyerang, tapi karakternya tidak mau bergerak,” kata Seungha berusaha membela dirinya. Memang begitu adanya, dia sudah berusaha menyerang, tapi hero miliknya sama sekali tidak mau bergerak.
“Alasan! Bilang saja kalau tidak bisa. Dasar payah!”
Seungha mengedipkap matanya beberapa kali. Sean baru saja menyebutnya payah?
“Kau bilang apa tadi?”
Sean mendesis sinis. “Kau tuli?”
“Kau sebut payah? Wah....”
Seungha memegang tengkuknya yang tiba-tiba menegang. Mendengar Sean menyebutnya payah, membuatnya kesal. Sean mungkin sering berkata kasar padanya, tapi Seungha tidak pernah sekesal ini karena ucapan gadis itu.
“Yak!!!” pekik Seungha membuat Sean terjungkit kaget. Ini pertama kalinya Sean mendengar Seungha berteriak padanya.
“Kau baru saja berteriak padaku?” tanya Sean tidak percaya. Punya nyali juga pemuda itu membentaknya.
“Iya,” jawab Seungha. “Kau pikir, hanya kau yang boleh berteriak?”
Sean mengusap poninya kebelakang. “Wah.... kau mengajakku berkelahi?”
“Kenapa? Hanya karena kau perempuan, kau pikir aku tidak berani padamu?”
Keduanya lalu saling bertatapan, siap-siap untuk menarik rambut satu sama lain. Mungkin terlihat kekanak-kanakan, tapi mereka sudah terlanjur sama-sama kesal.
“Hei! Jika ingin bertengkar, di luar sana! Kalian sangat berisik!” tegur salah satu pengunjung warnet, lalu membuat Sean dan Seungha menunduk malu.
Sean bergegas log out dari akunnya, menyambar tas miliknya lalu keluar dari warnet. Seungha mengekor dari belakang setelah log out dari akun game online tadi.
***
Sean berjalan ke luar warnet dengan bersungut-sungut. Gadis itu menoleh ke belakang, menatap Seungha dengan sebal. Apanya yang tidak mau membuat kesal satu sama lain? Pemuda itu baru saja membuatnya kesal. Setelah membuatnya kalah dalam permainan tadi, bukannya minta maaf Seungha justru berteriak padanya. Menyebalkan.
“Puas? Gara-gara dirimu kita ditegur.”
Sean menatap Seungha tak percaya. “Gara-gara siapa katamu?”
“Tentu saja dirimu.”
“Siapa suruh kau sangat payah dalam bermain game."
“Aku tidak payah. Aku hanya tidak beruntung tadi,” protes Seungha. Sebelumnya dia selalu menang saat memainkan permainan tadi, tapi hari ini memang sepertinya dia kurang beruntung.
“Apanya yang kurang beruntung? Payah, ya payah saja.”
Seungha menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan. Ingat, dia sedang berusaha agar menjadi lebih dekat dengan Sean. Itu artinya, dia juga harus bersabar dengan sikap dan perkataan gadis itu. Meladeni Sean seperti tadi, mungkin tidak akan membuat mereka menjadi teman. Tapi malah menjadi tom and jerry pada akhirnya. Jelas Seungha tidak mau hal itu terjadi.
“Oke, anggap saja begitu.”
***
“Kau masih kesal padaku?” tanya Seungha karena Sean hanya diam saja sejak mereka pergi meninggalkan warnet tadi.
“Hem.”
Bagaimana Sean tak kesal? Seungha mengajaknya ribut setelah membuatnya kalah dalm permainan dan turun peringkat.
“Kau tidak lapar? Mau makan?”
Seungha mencoba membujuk Sean. Biasanya para gadis yang sedang marah, akan mudah luluh saat di ajak makan.
“Tidak.”
“Mumpung di kota, apa kau tidak mau pergi belanja? Misalnya baju? Bukankah para gadis suka hal-hal seperti itu?” Seungha berucap sambil berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Sean. Gadis itu berjalan terlalu cepat.
Mungkin jika kebanyakan perempuan suka berbelanja, tapi Sean tidak. Dalam hidupnya Sean tidak pernah membeli pakaiannya sendiri. Sang ibu yang selalu melakukannya untuk Sean. Beruntung ibunya punya selera fashion yang bagus. Jadi, semua pakaian yang Sean kenakan terlihat cocok untuknya.
“Aku tidak suka hal-hal seperti itu,” balas Sean kemudian.
“Kenapa?”
“Tidak tahu juga. Aku hanya tidak pernah membeli pakaianku sendiri.”
Seungha mengangguk mengerti. Meski Sean menjawab pertanyaannya dengan dingin, setidaknya gadis itu masih merespons perkataannya. Bukan mengabaikannya. Jika begini, artinya. Sean sudah tak marah lagi padanya, bukan?
“Seungha oppa!”
Mendengar namanya dipanggil, Seungha mengedarkan padangannya mencari sumber suara. Di lihatnya Hyunji dengan seragam SMA-nya berdiri tak jauh di depan mereka.
Pemuda itu beralih melihat jam tangannya. Baru jam 11 siang, dan jelas waktu pulang sekolah masih lama. Kenapa Hyunji berkeliaran di luar?
Dia membolos?
“Oppa, senang sekali bisa bertemu denganmu di sini.”
Hyunji bergelayut di lengan Seungha begitu sampai di depan pemuda itu.
Sean yang melihat tingkah murid SMA itu memutar bola matanya sambil mendesis pelan. Sean penasaran. Seluas apa sebenarnya kota ini? Kenapa setiap kali mereka pergi ke kota, mereka selalu bertemu dengan Hyunji.
“Kau bolos?” tebak Seungha yang langsung dijawab dengan anggukkan oleh Hyunji.
“Besok aku ada kompetisi balet. Jadi hari ini aku membolos untuk bersenang-senang sebelum pergi latihan.”
Sean berdecak sinis. Dulu saat ia masih menjadi seorang penari balet, dia tak pernah meninggalkan ruang latihan saat akan mengikuti sebuah kompetisi.
“Eonni, kenapa menatapku seperti itu?”
“Kau yakin punya waktu untuk bersenang-senang? Dulu saat aku akan mengikuti sebuah kompetisi, aku bahkan tak meninggalkan ruang latihan sampai larut malam. Tapi kau bilang membolos untuk bersenang-senang? Apa kau bahkan yakin bisa menang besok?”
Mata dan mulut Hyunji terbuka lebar. Tidak percaya dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulut Sean.
“Oppa, minggir.” Hyunji mendorong tubuh Seungha menjauh, sehingga membuat gadis kelas 2 SMA itu berdiri di depan Sean sekarang. “Apa kau baru meremehkanku?”
Sean maju selangkah, lalu menatap tajam ke arah Hyunji.
“Iya.”