Pagi itu Seungha berniat pergi ke rumah nenek Jae Hwa. Ia ingin tahu bagaimana keadaan Sean sekarang. Apakah gadis itu baik-baik saja? Kemarin Sean tiba-tiba berlari keluar rumah sambil berurai air mata, dan lagi setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Sean membuat Seungha semakin mengkhawatirkan gadis itu. Aneh memang, mereka baru mengenal selama dua minggu dan juga tidak terlalu akrab, tapi dia bisa khawatir seperti ini pada Sean.
Langkah kaki Seungha terhenti saat melihat mobil SUV putih milik orang tua Sean melaju menjauh dari rumah nenek Jae Hwa. Di depan pagar rumah itu berdiri nenek dan kakek Sean yang melambaikan tangan pada mobil milik orang tua Sean. Perasaan Seungha tiba-tiba saja tida enak. Pemuda itu lantas berlari menghampiri nenek dan kakek Sean.
Gadis itu tidak mungkin ikut kembali ke Seoul, kan?
“Oh, Seungha-ya. Kau ke sini, ada apa?” tanya Jae Hwa saat melihat Seungha datang setelah berlari.
“Hah.... Sean... dia tidak ikut kembali ke Seoul, bukan?” bukannya menjawab pertanyaan nenek Jae Hwa, Seungha justru bertanya tentang Sean dengan napas terengah-engah karena baru saja berlari. Tempatnya bediri tadi cukup jauh dari rumah nenek Sean ini.
Jae Hwa dan Bum Tae refleks mengulum senyum melihat Seungha yang tiba-tiba berlari ke sana hanya untuk menanyakan keberadaan Sean.
“Maaf, Sean tidak sempat berpamitan denganmu,” jawab Bum Tae dengan nada sedih. Pria itu lalu mengedipkan sebelah matanya pada Jae hwa yang sedang menatapnya terkejut.
“Jadi, Sean benar-benar ikut kembali ke Seoul?”
Terlihat sekali rasa kecewa di raut wajah Seungha setelah mendengar jawaban dari kakek Sean. Pemuda itu benar-benar percaya pada kata-kata Bum Tae.
“Kakek hanya bercanda,” kata Bum Tae kemudian. Kasihan juga melihat Seungha yang langsung sedih saat mendengar bahwa Sean ikut kembali ke Seoul.
“Ha?”
“Kakek hanya mengerjaimu,” timpal Jae Hwa sambil mengusap lengan Seungha. “Kau sesedih itu jika Sean benar-benar kembali ke Seoul?”
Seungha meringis. Terlalu terkejut mendengar Sean kembali ke Seoul membuatnya tidak sadar bereksprei seperti tadi. Sebenarnya jika Sean memang kembali ke Seoul, Seungha tentu merasa sedih. Dia ingin menjadi lebih dekat dengan gadis itu, tapi sampai sekarang rasanya sangat sulit untuk mendekati Sean. Bahkan sekedar membuat gadis itu merespons perkataannya terasa sangat sulit. Seungha harus membuat Sean merasa kesal agar gadis itu mau membalas ucapannya. Walaupun pada akhirnya balasan yang dia dapatkan adalah kata-k********r.
“Dia ada di dalam kamarnya.”
Seungha diam-diam menghela napas lega. Sean benar-benar masih ada di sana dan tidak kembali ke Seoul.
“Kau sudah makan?” tanya Jae Hwa yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Seungha. Pemuda itu memang belum sarapan pagi ini karena buru-buru ingin bertemu dengan Sean.
“Kalau begitu masuklah. Sekalian temani Sean makan, dia tidak mau keluar kamar sejak tadi. Bahkan dia tidak mau bertemu orang tuanya dan kedua adiknya yang mau berpamitan.”
***
Seungha mengedarkan pandanganya begitu masuk ke dalam rumah. Sering datang ke rumah ini, tapi Seungha belum tahu di mana letak kamar Sean. Tiba-tiba saja pemuda itu jadi penasaran bagaimana penampakan kamar Sean.
“Kamar Sean ada di ujung sana,” kata Bum Tae seperti bisa menebak isi pikiran Seungha. “Coba kau panggil dia barang kali Sean mau keluar dari kamar.”
Seungha menganggukkan kepalanya dengan canggung lalu berjalan ke arah kamar Sean. Pemuda itu terlihat ragu saat sampai di depan kamar Sean. Apa Sean mungkin akan keluar dari kamar jika dia yang memanggilnya? Bagaimana kalau Sean hanya diam saja seperti biasanya? Apalagi suasana hati Sean pasti sedang tidak bagus sekarang, mengingat pertengkaran gadis itu dengan orang tuanya kemarin.
Tok...tok...tok...
Setelah menarik napas, Seungha akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Sean dan memanggil nama gadis itu.
“Sean.”
“Yoo Sean.”
Seungha diam sejenak. Dengan gugup dia menanti apakah Sean akan tetap diam saja atau keluar dari dalam kamarnya. Namun, selajutnya hal yang benar-benar mengejutkan terjadi. Sean keluar dari kamarnya.
“Hai, kau keluar juga ternyata,” sapa Seungha dengan canggung karena kaget. Dia tidak menyangka jika Sean benar-benar keluar dari kamar.
Sean masih mengenakan piyama berwarna merah muda. Dari raut wajahnya gadis itu tampak terkejut melihat Seungha ada di depan kamarnya. Dia pikir yang mengetuk pintu tadi adalah sang kakek, makanya Sean keluar dari kamar.
Sean sempat mendengkus, sebelum bertanya dengan ketus. “Apa?”
“Nenek menyuruhmu untuk makan,” jawab Seungha lalu tersenyum canggung. Padahal tadi dia sangat ingin bertemu dengan gadis itu, tapi setelah Sean berdiri di depannya Seungha tiba-tiba saja jadi canggung dan gugup seperti ini.
Sean menghela napas, lalu beranjak menuju ruang makan. Seungha mengekor di belakangnya.
“Kenapa kau masih di sini?” Sean menatap tak suka pada Seungha yang ikut duduk di balik meja makan bersamanya.
“Nenek yang menyuruhnya menemanimu makan,” sahut Jae Hwa saat masuk ke ruang makan.
“Menemaniku? Untuk apa?”
“Nenek dan kakek harus pergi ke ladang, jadi meminta Seungha untuk menemanimu.”
“Bilang saja kalau sebenarnya mau menumpang makan,” cibir Sean pelan.
Sunggung, Sean tidak mngerti kenapa nenek dan kakaeknya suka sekali membuat dirinya dan Seun gha terus terlibat. Dia memang sering pergi dengan pemuda itu, tapi itu bukanlah kemauan Sean. Hanya saja situasi yang terjadi selalu membuatnya berakhir dengan pergi bersama Seungha, seperti yang terakhir kali terjadi. Jika bukan karena anak anjing kecil itu, mana mungkin dia mau dibonceng oleh si muka dua.
Sean dan Seungha makan bersama dalam keheningan setelah Jae Hwa dan Bum Tae pergi ke ladang. Sean hanya fokus pada makanan di depannya dan tidak tertarik mengobrol dengan Seungha. Sementara si pemuda sesekali terlihat mencuri pandang ke arah Sean yang duduk si seberangnya.
“Piyama pink itu sangat cocok untukmu,” kata Seungha memecah keheningan di antara mereka, tapi Sean hanya diam saja. Sama sekali tidak berniat membalas perkataan Seungha.
Bukan, Seungha namanya jika kembali diam hanya karena Sean mengabaikannya. Pemuda itu kembali bersuara, mungkin saja hari ini dia bernasib baik dan Sean mau membalas perkataannya.
“Hari ini kamu mau pergi ke mana?”
“Ke sungai belakang bukit atau ke gazebo?”
“Atau kau mau berjalan-jalan di sekitar desa saja?”
Seungha terus bertanya, tanpa peduli Sean yang hanya diam saja. Seperti pepatah yang mengatakan bahwa kerja keras tidak akan mengkhianati hasil, hal itu benar-benar terjadi pada Seungha. Sean akhirnya merespons ucapan pemuda itu selanjutnya.
“Kau mau pergi ke kota denganku?”
Sean mendongak menatap Seungha. Ajakan pemuda itu pergi ke kota agak menarik perhatiannya.
Akhirnya berhasil menarik atensi Sean, Seungha kembali berucap agar Sean membalas perkataannya.
“Kau mungkin bosan hanya melihat sawah dan gunung setiap hari. Kalau di kota kita bisa pergi ke warnet seperti waktu itu, jalan-jalan di taman, dan makan makanan enak di restoran. Jadi, bagaimana?”
“Kapan?”
Seungha tidak bisa menyembunyikan senyumnya saat Sean akhirnya bersuara.
“Kita bisa pergi setelah selesai makan dan kau selesai mandi tentunya. Kau tidak mungkin, kan pergi dengan penampilan seperti itu?”
Sean mendengkus lalu membuang muka. Seungha memang menyebalkan.
Sean lantas segera menghabiskan makanannya. Ia ingin cepat-cepat pergi ke kota. Bukan karena dia ingin pergi berduaan dengan Seungha, yang benar saja dia seperti itu. Sean hanya ingin bersenang-senang dan melupakan perdebatan dengan kedua orang tuanya kemarin. Pergi ke warnet, makan makanan enak di restoran-walau mungkin masakan neneknya jauh lebih enek, dan Sean ingin minum ice americano. Rasanya sudah lama sekali dia tidak minum minuman yang punya cita rasa pahit itu.