Sean meletakan lagi sendok makannya ke atas meja. Mengingat lagi saat ia dijebak sang ibu untuk tinggal di sini selama musim panas, membuat selera makannya hilang.
“Setelah menjebakku dan membuatku tinggal di sini selama musim panas, ibu masih bisa berkata seperti itu?” tanya Sean ketus.
Gadis itu masih sakit hati atas apa yang sang ibu lakukan padanya. Siapa yang tidak sakit hati jika tiba-tiba dijebak untuk tinggal di pedesaan?
“Tapi, yang ibu lakukan itu demi kebaikanmu-“
“Kebaikan apa? Memangnya ibu tahu apa soal diriku?” potong Sean.
“Kami begitu karena khawatir padamu.” Minhyuk ikut bersuara setelah melihat Sean mulai diselimuti kemarahan.
“Peduli apa?” tanya Sean sarkas. “Aku tahu, memgirimku ke sini adalah ide ayah. Ayah yang sibuk dengan pekerjaan tiba-tiba peduli padaku? Untuk apa?”
Sean menatap dingin kedua orang tuanya. Matanya mulai berair. Ah, sial. Padalah Sean berniat sarapan dengan tenang tadi, tapi malah jadi begini. Semua karena sang ibu.
“Ibu juga, kalau peduli kenapa selalu mengabaikan pesanku? Saat aku bilang aku hampir mati tenggelam, ibu pikir aku berbohong? Tidak! Aku benar-benar hampir mati waktu itu!”
“Ibu bukannya sengaja mengabaikamu. Ibu ingin kau beradaptasi dengan segala hal di sini dan menyelesaikan masalah sendiri.”
“Beradaptasi? Wah!”
Sean membuang muka, tak percaya dengan apa yang baru saja sang ibu katakan. Wanita itu menyuruhnya beradaptasi dan mengatasi masalahnya sendiri. Apa dia sedang menjalani pelatihan karakter di sini?
Ternyata benar, kedua orang tuanya memang tak peduli padanya. Mereka sibuk menyuruhnya untuk bangkit, tapi yang kedua orang tuanya lakukan hanya berucap hal-hal yang tak berguna.
“Sean-ah, dengarkan baik-baik.” Yeon Woo meraih kedua tangan Sean.
“Kami begini karena peduli padamu, kami ingin kau kembali seperti dulu-“
Sean dengan kasar menepis tangan ibunya. “Peduli? Ingin aku kembali seperti dulu? Seperti apa? Kalian hanya sibuk memaksaku untuk kembali seperti dulu, tapi kalian tidak pernah tahu bagaimana perasaanku? Sebesar apa penderitaan yang aku rasakan. Kalian hanya sibuk berucap memberiku semangat, tapi semuanya hanya ucapan tak berguna!”
Sean mengatur napasnya, tiba-tiba saja gadis itu menjadi emosional. Untuk pertama kalinya Sean mengatakan hal-hal yang selama ini yang dia pendam pada orang tuanya. Sean mulai muak melihat kedua orang tuanya yang terus memaksanya untuk bangkit, kembali seperti dulu dan melupakan soal balet. Mereka tidak pernah merasakan betapa sakitnya kehilangan hal berharga, jadi mereka bisa dengan mudah mengatakan untuk melupakan segalanya. Padahal, kenyataannya tak semudah yang mereka ucapkan.
Sean sudah mengenal balet sejak kecil. Gadis itu tak pernah tertarik pada hal-hal lainnya, selain balet. Bahkan saat anak kecil seusianya belajar untuk naik sepeda, Sean dengan tegas tidak mau belajar. Dia tahu kaki adalah hal yang penting bagi penari balet, dan dia tidak boleh terluka. Saat duduk di bangku SMA, Sean menjadi salah satu penari balet muda yang cukup terkenal. Sering memenangkan kompetisi, membuat namanya diperhitungkan sebagai penari balet berbakat.
Namun, ketika mimpinya untuk menjadi penari balet terkenal dunia semakin dekat, takdir tiba-tiba merenggut balet dari dunianya. Bagaimana Sean tidak hancur saat sesuatu yang berharga dalam hidupnya tiba-tiba saja direnggut? Berlatih dengan keras selama bertahun-tahun, hingga kakinya punya banyak bekas luka, kuku kakinya lepas berkali-kali agar dirinya bisa menjadi penari balet terkenal dunia seperti yang Sean impikan, tapi dalam sekejap latihan bertahun-tahun itu menjadi sia-sia. Karena kakinya yang terluka saat kecelakaan itu, Sean tidak bisa menari balet lagi. Selamanya.
“Terus saja kalian mengatakan hal-hal tidak berguna seperti itu. Menyuruhku untuk bangkit dan melupakan segalanya. Kalian tahu apa? Kalian sendiri tidak pernah tahu rasa sakit dari kehilangan! Karena kalian tidak pernah kehilangan hal berharga dari hidup kalian!”
Srakkk...
Sean mendorong kursi dengan keras, berdiri dari sana lalu pergi keluar.
Yeon Woo dan Minhyuk mengejar Sean sambil memanggil nama putrinya, tapi gadis itu terus berlalu tak memedulikan panggilan mereka.
Brakkk
Sean membuka pintu pagar dengan keras, membuat Seungha yang hendak membuka pintu pagar itu dari luar hampir saja jatuh terjungkal karena kaget. Namun pemuda itu lebih kaget lagi melihat Sean keluar dengan marah dan berurai air mata.
Dia menangis?
Seungha berniat mengejar Sea karena khawatir, tapi langkahnya terhenti saat ibu Sean memanggil namanya.
“Seungha-ya, bisa kita bicara sebentar?”
Seungha menoleh pada ayah dan ibu Sean. Melihat raut wajah kedua orang tua itu, dia bisa menebak jika Sean baru saja bertengkar dengan mereka. Meski khawatir dan ingin menyusul Sean, Seungha akhirnya berbalik dan masuk ke dalam rumah. Orang tua Sean sepertinya ingin membicarakan hal penting dengannya.
***
Seungha masuk ke dalam kamarnya dan langsung berbaring ke atas tempat tidur. Sebenarnya hari ini dia ingin mengajak Sean jalan-jalan lagi, berkeliling desa, dan menunjukkan tempat-tempat tersembunyi di desa itu yang mungkin saja di sukai Sean, tapi semua rencananya itu gagal. Sean tiba-tiba saja keluar rumah sambil menangis. Namun, setelah itu dia justru mendengar hal yang lebih mengejutkan dari kedua orang tua Sean.
“Jadi, Sean berhenti menari balet karena cedera di kakinya?”
Yeon Woo dan Min Hyuk mengangguk bersamaan dengan raut wajah sedih. Mengingat lagi kecelakaan yang menimpa Sean membuat hati mereka sakit.
“Sean sudah menyukai balet sejak kecil, dan dia punya impian ingin menjadi penari balet terkenal dunia.” Yeon Woo menutup mulutnya dengan sebelah tangan karena tak sanggup melanjutkan perkataannya.
“Dan karena cedera itu Sean harus kehilangan balet dan juga impiannya,” lanjut Minhyuk lalu menepuk pelan punggung sang istri.
Seungha menghembuskan napas perlahan. Menetahui alasan kenapa Sean berhenti menari balet membuatnya sangat terkejut. Dia memang sudah menebak, jika Sean berhenti menari balet karena cedera di kakinya, tapi Seungha tidak menyangka jika berhenti menari balet membuat Sean sangat menderita seperti sekarang. Pasti balet sangat berharga bagi gadis itu.
“Awalnya, kami mengirim Sean ke sini untuk menangkan diri, tapi sepertinya malah membuat Sean semakin menderita. Dia pikir kami sudah tidak peduli dan membuangnya.”
Seungha mengangguk mengerti, bagi Sean yang terluka pasti akan berpikir seperti itu saat tiba-tiba dipaksa tinggal di tempat seperti ini. Seungha bisa mengerti alasan kedua orang tua Sean mengirim gadis itu tinggal di sini, karena itu juga alasanya tinggal di sini. Untuk memenangkan diri—atau mungkin lebih cocok disebut dengan melarikan diri.
“Apa dia baik-baik saja?”
Seungha mengakat kepalanya menatap ibu Sean yang hampir menangis sekarang.
“Ya, dia baik-baik saja. Meski terkadang saya sering membuatnya kesal.”
Pemuda itu lalu tertawa, tapi tawanya terdengar sangat dipaksakan. Setidaknya Seungha mencoba untuk menghibut ibu Sean.
“Syukurlah.”
Seungha mengeluarkan sapu tangannya dari dalam saku kemeja lalu memberikannya pada Yeon Woo. Ibu Sean itu pasti sangat sedih melihat keadaan putrinya.
“Terima kasih, kau pemuda yang baik.”
“Paman berharap selama di sini kau bisa menemani Sean. Meski hanya sebentar, melihat Sean pulang bersamamu kemarin, paman bisa melihat dia sedikit berubah.”
Seungha mengangguk sambil mengulas senyum, tapi hanya sebentar. Setelahnya raut wajah pemuda itu menjadi khawatir, tentu saja Seungha mengkhawatirkan Sean.
Seungha mengela napas mengingat lagi semua percakapannya dengan kedua orang tua Sean tadi. Pemud itu tidak menyangka, di balik sosok Sean yang terlihat angkuh, tangguh, kuat ternyata sebenarnya Sean sangat terluka dalam hatinya.
Seungha sangat mengerti apa yang dirasakan Sean. Rasa sakit, kehilangan dan penderitaan itu, Seungha tahu bagaimana rasanya. Karena dia juga merasakannya.
Alasanya tinggal di sini untuk menenangkan diri? Itu hanya kebohongan yang dibuat Seungha. Pemuda itu sedang melarikan diri sebenarnya. Seungha sedang melarikan diri dari kenyataan setelah kehilangan seseorang yang berharga dalam hidupnya, dan dialah yang menyebabkan orang itu menghilang dari kehidupannya dan juga dunia.
Seungha memejamkan matanya lalu meletakan sebelah lengannya di atas matanya. Pemuda itu kembali menghela napas, mengetahui perasaan Sean yang sebenarnya membuat Seungha teringat lagi pada kenangan menyakitkan yang membuatnya tinggal di sini.
“Dae Won-ah, ternyata dia dan aku sama. Kami sama-sama kehilangan hal yang berharga. Dia kehilangan impiannya dan aku kehilangan seorang teman.”