“Eonni! Sini!” Soo Jin, adik perempuan Sean menyuruh gadis itu untuk duduk di sampingnya.
“Kapan kalian sampai?”
“Tadi sore,” sahut Seo Jun, adik laki-laki Sean.
Sean mengangguk mengerti. Jika saja tadi dia tidak ikut bersepeda dengan Seungha, pasti dia tidak perlu kabur seperti tadi dan tentu saja pemuda itu tidak akan ikut menumpang makan lagi seperti sekarang. Lihatlah pemuda itu, sok akrab sekali dengan ayahnya. Dua laki-laki itu sedang memanggang daging.
Hanya karena Sean menurut saat Seungha mengajaknya pergi tadi, bukan berarti Sean sudah menerima kehadiran Seungha. Gadis itu masih tak menyukainya. Di mata Sean Seungha tetaplah orang yang bermuka dua.
“Eonni.”
Sean menoleh pada Soo Jin yang saat ini menatapnya dengan mata berbinar. “Apa?”
“Bagaimana rasanya berteman dengan pria setampan dia?”
Sean mengernyit. Berteman dengan siapa?
“Itu.” Soo Jin melirik Seungha yang sekarang sudah duduk di depan Sean.
Sean mendengus tak percaya, Soo Jin menyebut si muka dua itu tampan?
“Matamu bermasalah?” tanya Sean sarkas. “Bagaimana mahluk seperti ini kau sebut tampan? Dan dia bukan temanku.”
“Mataku baik-baik saja, masih sangat normal malah,” jawab Soo Jin polos. “Tapi dia memang tampan, murid laki-laki di sekolahku tidak ada yang setampan ini.”
“Mungkin kakakmu yang matanya bermasalah,” sahut Seungha yang langsung mendapat tatapan tajam dari Sean, tapi pemuda itu tidak peduli. Sudah biasa Sean menatapnya seperti itu. “Terima kasih ya, sudah menyebutku tampan.”
Mata Soo Jin berbinar saat Seungha memberinya sepotong daging yang sudah matang sambil tersenyum. “Tentu saja, oppa.”
Sean hampir saja muntah padahal belum makan apa pun saat mendengar Soo Jin memanggil Seungha, oppa. Adiknya itu mungkin sudah gila.
“Bagaimana bisa kau menyebutnya oppa?” protes Sean kesal.
“Kenapa? Bagiku semua pria tampan adalah oppa.”
Dan sekali lagi Sean kembali hampir muntah mendengar ucapan Soo Jin. Dia tidak tahu jika adik perempuannya itu sangat norak seperti ini.
“Ini.”
Sean menatap Seo Jun, kembaran Soo Jin itu meletakkan sepotong daging panggang ke dalam mangkuk nasinya. Gadis itu lalu dibuat terkejut dengan apa yang Seo Jun katakan selanjutnya.
“Meski sedih, setidaknya kau harus tetap makan untuk bertahan hidup.”
“Dari mana kau belajar kata-kata seperti itu?”
Seo Jun dan Soo Jin itu, bukan hanya wajah mereka yang mirip, tapi bisa dibilang kelakuan dan bahkan isi otaknya juga begitu. Jadi, Sean agak takjub mendengar Seo Jun bicara seperti tadi.
“Dari kakak kelas yang dia taksir,” sahut Soo Jin yang kemudian ditatap Seo Jun kesal karena Soo Jin membuatnya gagal terlihat keren.
Sean sebenarnya sudah menduga, kalau kalimat tadi pasti tidak berasal dari pikiran Seo Jun sendiri. Mengingat adiknya itu tidak terlalu pandai pandai berkata-kata. Meski begitu, Sean tetap merasa tersentuh dengan ucapan adiknya itu. Seo Jun mungkin terlihat seperti tidak peduli pada apa pun, tapi pemuda itu sebenarnya memiliki hati yang hangat.
“Terima kasih,” ucap Sean pelan lalu memakan daging pemberian Seo Jun.
***
Seungha berbaring di atas tempat tidurnya. Perutnya benar-benar kenyang sampai terasa ingin meledak. Makanan di rumah nenek Jae Hwa memang sangat enak, mungkin karena ada Sean di sana. Jadi, semua makanan yang masuk ke dalam mulutnya terasa enak.
Seungha kemudian teringat bagaimana Sean makan dalam diam saat semua anggota keluarganya makan sambil bersenda gurau.
Seungha merasa Sean seperti membangun tembok pembatas yang tidak terlihat. Seolah Sean sengaja membatasi dirinya dengan keluarganya. Gadis itu sama sekali tak terlihat dekat dengan mereka, padahal keluarga Sean terlihat sangat peduli pada gadis itu.
Seungha menarik napas. Entah kenapa segala hal tentang Sean sangat menarik perhatiannya. Membuat pemuda berusia 21 tahun itu menjadi penasaran dengan segala hal yang terjadi dalam hidup Sean.
Seungha ingat bagaimana raut wajah Sean setiap kali gadis itu duduk termenung di tepi sungai di belakang bukit. Sorot matanya yang kosong, menatap pada air sungai di depannya. Terkadang, Seungha ingin tahu apa yang dipikirkan gadis itu, tapi dia berusaha menahan diri. Ingat bahwa Sean yang tak ramah mungkin tak akan menjawab pertanyaannya.
Dering ponsel mengalihkan fokus Seungha. Pemuda kembali menarik napas melihat nama sang ibu tertera pada layar ponselnya. Sebenarnya, Seungha enggan menjawab panggilan itu, tapi mengingat sudah lama ia tak menghubungi ibunya, Seungha akhirnya menjawab panggilan itu. Dia hanya berharap sang ibu tak akan menyuruhnya segera kembali kuliah, karena Seungha tak berniat melakukannya dalam waktu dekat.
“Ada apa?” tanyanya setelah menggeser tombol hijau di layar dan menempelkan ponselnya ke telinga.
“Bagaimana kabarmu di sana? Kenapa tidak menghubungi ibu akhir-akhir ini?”
Seungha memijit pelipisnya sambil menghela napas. Dia agak merasa bersalah karena lupa menghubungi sang ibu. Setelah bertemu Sean, pemuda itu jadi lupa segalanya, bahkan lupa mengabari ibunya.
“Maaf, akhir-akhir ini aku sedang sangat sibuk,” jawab Seungha sedikit berbohong. Dia memang sibuk akhir-akhir ini—sibuk mengikuti Sean.
“Nenek bilang kau sedang demam? Apa masih sakit?” Terdengar jelas bahwa sang ibu sangat mengkhawatirkannya di seberang panggilan.
“Iya kemarin, tapi sekarang sudah sembuh.”
“Ah, syukurlah jika begitu. Ibu sangat mengkhawatirkanmu.”
Ibu dan anak itu lalu hening selama beberapa saat. Dari telepon itu hanya terdengar embusan napas masing-masing. Seungha tadi bilang dirinya merasa aneh pada Sean yang terlihat tidak dekat dengan keluarganya. Padahal pemuda itu sendiri juga sama. Dia tak dekat dengan sang ibu.
Awalnya, hubungan Seungha dan ibunya tidak seperti ini. Sebuah kejadian membuat Seungha menjauh dari keluarga dan semua temannya di Seoul. Hingga kemudian pemuda itu memilih tinggal di desa ini.
“Seungha-ya.”
“Ya?”
“Sudah kau pikirkan kapan akan kembali kuliah?”
Pemuda itu kembali menghela napas. Terbesit rasa sesal telah menjawab panggilan dari ibunya.
“Ibu kita sudah bahas hal ini berkali-kali, bukan?”
“Ibu hanya ingin kau segera kembali kuliah. Cuti selama setahun bukankah sudah cukup? Kembalilah kuliah musim gugur ini.”
Seungha kembali menghela napas, entah untuk yang keberapa kalinya. Ia hanya tidak mengerti kenapa sang ibu terus memaksanya untuk segera kembali kuliah. Dia sudah bilang, bahwa dirinya pasti akan kembali kuliah, tapi tidak sekarang.
“Sudah satu tahun berlalu, apa kau masih tidak bisa melupakannya? Kau masih merasa bersalah? Sadarlah Cha Seungha! Hidup bukan hanya tentang Dae Won saja! Kau juga harus tetap melanjutkan hidup—“
“Harusnya aku tidak mengangkat telepon dari ibu!” sela Seungha. Ia tahu pasti ibunya akan selalu berkata seperti itu.
Tanpa mendengarkan omongan ibunya, Seungha segera mengakhiri panggilan itu. Sepertinya mengangkat telepon dari sang ibu memang sebuah kesalahan. Dari semua obrolan mereka, pasti berakhir dengan sang ibu yang menyuruhnya untuk segera kembali kuliah dan menyuruhnya melupakan soal Dae Won.
Memang apa yang bisa Seungha harapkan dari ibunya. Wanita itu selalu egois, tak pernah sekalipun mengerti bagaimana perasaannya.
Seungha meletakkan kembali ponselnya ke atas kasur dengan kasar. Pemuda itu lalu kembali berbaring, memandang langit-langit kamarnya. Perkataan sang ibu kembali terngiang oleh Seungha.
Bagaimana dia bisa melanjutkan hidup saat seseorang yang berharga menghilang dari kehidupannya dan dia pula penyebab menghilangnya orang itu?
***
Sean yang baru selesai mandi segera menuju ke ruang makan setelah berganti pakaian. Sampai di sana gadis berambut pendek itu tak segera duduk di kursinya.
Sean merasa aneh, biasanya di sana hanya ada dia dan kakek neneknya, tapi pagi ini Sean melihat ayah dan ibunya ada di sana.
“Oh kau sudah mandi? Ayo duduk, kita sarapan bersama.” Yeon Woo memanggil Sean untuk bergabung ke meja makan.
“Kakek dan nenek?” Sean bertanya karena tak melihat mereka berdua di sana, dan si kembar juga. Rumah ini terasa tenang, padahal harusnya jika ada mereka berdua telinga Sean pasti sudah berdengung karena Soo Jin dan Seo Jun yang selalu berisik.
“Mereka pergi ke ladang bersama si kembar,” jawab Min Hyuk sembari memberikan semangkuk sup pada Sean.
“Si kembar ikut ke ladang?” tanya Sean tak percaya.
“Iya, katanya mau membantu kakek dan nenek,” sahut Yeon Woo.
Sean berdecak pelan. Ia merasa kasihan pada nenek dan kakeknya sekarang. Keikutsertaan si kembar ke ladang, sudah jelas adalah beban untuk kakek dan neneknya. Mereka tak akan membantu apa pun di sana. Yang ada mereka hanya akan merepotkan kakek dan neneknya karena ulah mereka.
“Bagaimana rasanya tinggal di sini selama dua minggu? Tak seburuk yang kau bayangkan, bukan?”
Sean yang hendak menyuapkan nasi ke dalam mulutnya itu berhenti, lalu beralih menatap sang ibu.
Sean ingat bagaimana sang ibu menjebaknya hingga ia harus berakhir tinggal di sini selama musim panas. Mengingat hari itu lagi, Sean masih sangat kesal sampai sekarang.