Bagian 19

1778 Kata
“Bagaimana?” Sean sama sekali tak mendengarkan pertanyaan Seungha. Bukan Sean mengabaikan Seungha seperti biasanya, hanya gadis itu sedang terpukau dengan tempat yang ada di depan mereka. Cukup lama Sean terpukau menatap tempat itu, hingga akhirnya gadis itu menoleh pada Seungha. “Tempat ini benar-benar ada di desa?” Seungha mengangguk. “Tentu saja, apa kau pikir karena letak desa ini yang cukup jauh dari perkotaan, tempat seperti ini tidak ada di sini?” “Wah...!” Sean berseru tanpa sadar. Dia tidak tahu jika di desa juga ada taman rumah kaca seperti ini. Desa ini dikelilingi gunung, sawah dan hutan. Bukankah itu membuat desa ini cukup asri dan hijau? Jadi, kenapa mereka membuat taman rumah kaca seperti ini? “Tempat ini mulai dibangun tahun lalu, dan sekarang tahap pembangunannya sudah sampai 70% sampai 80%.” Seungha maju selangkah lalu membuka sebuah pintu besar di depan mereka. “Ayo masuk.” Sean tampak ragu dengan ajakan Seungha. Pemuda itu bilang tempat ini masih dalam tahap pembangunan, bolehkah mereka masuk ke dalam tanpa izin seperti ini? “Tenang saja, berkat kakek aku punya akses untuk pergi ke semua tempat di desa ini dengan bebas,” kata Seungha seolah bisa membaca isi pikiran Sean. Pemuda itu lantas menarik tangan Sean dan mengajak gadis itu masuk ke dalam. Lagi-lagi Sean hanya pasrah saat Seungha menarik tangannya seperti kejadian di warnet tempo hari. “Meski pembagunannya belum selesai, tapi tempat ini sudah penuh dengan berbagai macam tanaman,” jelas Seungha saat mereka berjalan melewati pintu masuk. Sean menatap takjub pada tanaman-tanaman yang tertata rapi di dalam sana. Meski baru 80%, tapi tempat ini sudah terlihat cukup rapi. “Kau tahu nama tanaman-tanaman itu?” tanya Sean. Seungha tertawa lalu menjawab, “tentu saja tidak. Yang aku tahu mereka punya bentuk beragam, tinggi beragam dan terkadang juga punya warna yang berbeda.” Sean mendengkus. Tentu saja, apa yang bisa dia harapkan dari pemuda seperti Seungha. Kuliah di universitas yang bagus tidak menjamin jika dia tahu segalanya. “Mau melihat air mancur?” Dahi Sean berkerut. “Air mancur?” “Iya, ada di tengah tempat ini.” Lagi-lagi Seungha memegang tangan Sean, menarik gadis itu untuk mengikutinya, dan Sean diam saja. Entah, Sean mungkin lupa jika Seungha adalah pemuda yang harus gadis itu hindari karena terlalu terpukau pada rumah kaca ini. Jujur, ini adalah pertama kalinya dalam hidup Sean masuk ke dalam rumah kaca yang dipenuhi oleh tanaman-tanaman yang Sean tidak tahu namanya. Sean hanya pernah melihat tempat seperti ini di televisi. *** “Nanti di sekitar air mancur ini akan diletakkan beberapa bangku taman dan juga akan di pasangi lampu-lampu,” jelas Seungha saat mereka sampai di air mancur. Sean sama sekali tak mendengarkan penjelasan Seungha, lebih tepatnya tidak tertarik. Gadis itu sibuk mengagumi pemandangan di depan matanya. “Untuk apa membangun rumah kaca seperti ini di desa? Bukankah desa ini dekat dengan hutan dan gunung, jadi di sini masih asri.” “Menurutmu kenapa?” Sean mendengus kesal. Dia serius bertanya, tapi Seungha malah balik bertanya. Jika dia tahu alasannya, tak mungkin dia bertanya pada pemuda itu. “Wah, begitu saja kau sudah kesal?” seloroh Seungha saat melihat perubahan raut wajah Sean. Sean membuang muka sambil kembali mendengus. “Akan aku jawab sambil berkeliling.” Seungha kembali memegang tangan Sean, tapi kali ini gadis itu dengan cepat menepis tangan Seungha. “Jalan ya jalan saja! Jangan berusaha mencari kesempatan dalam kesempitan!” ucap Sean ketus lalu berjalan mendahului Seungha. Pemuda itu tertawa pelan lalu berjalan menyusul Sean. Yah, namanya juga berusaha. Bukankah segala cara patut untuk dicoba? Jika beruntung mungkin dia bisa mendapatkan hati gadis itu. “Seperti yang kau tahu, desa ini hanya dikelilingi oleh hutan, gunung dan sawah. Tidak ada tempat hiburan seperti taman, kafe yang mudah kita jumpai di kota. Memang untuk pergi ke kota hanya membutuhkan waktu selama 30 menit. Jika menggunakaan kendaraan pribadi, waktu tempuhnya juga menjadi lebih singkat. Lalu bagaimana dengan warga yang tak punya kendaraan pribadi? Satu-satunya pilihan adalah naik bus, tapi sayangnya tidak seperti di kota-kota besar di mana bus datang setiap menit. Di sini setidaknya harus menunggu selama satu jam sampai bus selanjutnya datang.” “Jadi, dibangunlah taman rumah kaca ini. Warga desa sekarang tidak perlu lagi pergi ke kota hanya untuk mencari tempat hiburan. Khususnya para orang tua. Kasihan melihat mereka berjalan cukup jauh ke halte bus dan harus menunggu satu jam sampai bus selanjutnya datang.” Sean diam, mendengarkan penjelasan Seungha dengan serius. Gadis itu dibuat agak takjub, karena cara bicara Seungha yang terdengar cerdas. Sean merasa mendengarkan penjelasan Seungha, membuatnya melihat sisi lain dari pemuda itu. Selain punya sisi menyebalkan yang dibenci Sean, ternyata Seungha adalah pemuda yang cukup cerdas. “Itu yang dijelaskan oleh kakekku.” Sean mendengus pelan. Dia pikir Seungha memang pemuda yang cerdas, tapi ternyata semua yang dikatakan olehnya di dengar dari kakek Seungha. “Mau pulang sekarang, sudah hampir jam 6,” ajak Seungha sambil melirik jam tangannya. Padahal rasanya mereka baru bersama sebentar, tapi ternyata waktu cepat berlalu. Sean tidak merespons ajakan Seungha, gadis itu langsung berbalik dan berjalan menuju pintu tempat mereka masuk tadi. “Wah, dia itu benar-benar....” Seungha menggelengkan kepalanya melihat Sean yang langsung berbalik dan meninggalkannya. Gadis itu selalu bisa membuatnya kehabisan kata-kata. **** Seperti saat berangkat tadi, Sean dibonceng di atas frame sepeda. Selama perjalanan mereka hanya diam saja. Seungha juga tak berusaha mengobrol dengan Sean. Mungkin karena sering diabaikan, jadi Seungha lebih memilih untuk diam saja. Dari kejauhan Sean melihat mobil SUV putih terparkir di samping rumah sang nenek. Semakin dekat Sean bisa melihat dengan jelas plat nomor mobil itu. Lalu ketika sepeda Seungha berhenti di depan rumah neneknya, Sean bergegas turun dari frame sepeda membuat Seungha kebingungan. Dari plat nomornya, Sean tahu betul itu mobil milik siapa. Jadi dia bergegas membuka pintu pagar untuk memastikan siapa yang datang ke sana. Brakk... Sean membuka pintu pagar kayu itu cukup keras, membuat Seungha dan orang di halaman depan rumah neneknya terjungkit kaget. Mungkin sudah kebiasaan gadis berusia 20 tahun itu membuka pintu dengan keras. “Sean.” “Sean.” “Eonni.” “Noona.” Sean hanya bergeming saat orang di halaman rumah sang nenek memanggilnya. Gadis itu tertegun karena terkejut. Sean tidak menyangka ayah, ibu dan kedua adik kembarnya datang ke sini. “Annyeonghaseyo.” Seungha memberi salam sambil agak membungkuk. Pemuda itu melirik Sean lalu berbisik, “siapa?” Bukannya menjawab pertanyaan Seungha, Sean justru berlari keluar rumah. Membuat Seungha dan orang-orang di sana kebingungan. “Yoo Sean!” teriak Yeon Woo sambil berniat mengejar putrinya, tapi dicegah oleh Minhyuk. “Biar aku saja yang mengejarnya.” Setelah itu Minhyuk pergi mengejar Sean. Pria berusa 45 tahun itu agak kaget saat putrinya tiba-tiba kabur setelah melihat kedatangan mereka. Minhyuk pikir Sean akan senang melihat ayah,ibu dan adik-adiknya datang mengunjunginya, tapi Sean justru malah kabur dengan raut wajah kesal. *** Sean terus berlari. Dia tidak tahu harus pergi ke mana, tapi yang jelas Sean ingin menjauh dari rumah neneknya. Hingga akhirnya Sean berhenti saat sampai di persimpangan jalan. Gadis itu menghentikan langkahnya. Tidak berniat pergi lebih jauh lagi karena takut tersesat. 2 minggu tinggal di desa ini, Sean masih belum terlalu hafal dengan jalanan di desa ini. “Sean-ah.” Sean berbalik melihat sang ayah berlari ke arahnya. Gadis itu diam di tempat, tidak berniat kabur lagi. “Kenapa kau kabur?” tanya Minhyuk saat sampai di depan Sean. “Kau tak senang kami datang ke sini?” Sean menggeleng sembari mengusap air matanya. Gadis itu menangis. “Tentu saja aku senang. Aku pikir kalian membuangku ke sini dan tidak akan pernah menemuiku lagi.” Minhyuk tertawa pelan. Bagaimana bisa Sean berpikir seperti. Tidak mungkin mereka akan membuang putri mereka sendiri. “Kenapa kau berpikir seperti Itu? Mana mungkin ayah dan ibu tega membuangmu.” “Buktinya ibu tidak pernah membalas pesanku. Itu artinya kalian sudah tidak peduli lagi padaku,” kata Sean sambil sesenggukan karena menangis. Dia memang berpikir seperti itu. Sejak meninggalkannya di sini, jangankan menelepon, ibunya bahkan tak pernah membalas pesan yang Sean kirim. Jadi, Sean pikir kedua orang tuanya sudah tidak peduli lagi padanya. Minhyuk mengusap pelan kepala Sean. Putrinya tentu merasa sedih karena semua pesannya diabaikan. Bahkan mereka juga tidak pernah menelepon Sean. Namun, Minhyuk dan Yeon Woo melakukannya bukan karena mereka tidak peduli pada Sean. Justru, karena sangat peduli mereka ingin putrinya berusaha beradaptasi dengan segala hal yang di desa dan menyelesaikan semua masalahnya sendiri. Dengan begitu, Sean bisa belajar bertanggung jawab. “Sebenarnya ibu juga sangat mengkhawatirkanmu, dan tidak tega mengabaikan pesan-pesan yang kau kirim, tapi ibu melakukan semua itu agar kau bisa mandiri, bertanggung jawab dan berusaha menerima keadaan.” Sean mendengkus pelan. Rasanya ia seperti dikirim ke sebuah tempat pelatihan karakter saat musim panas. Dia bukan anak SMP atau SMA lagi. Mandiri, bertanggung jawab, Sean sudah mengerti hal-hal itu. Jadi, apa lagi yang perlu dipelajari? Sean merasa ayahnya hanya membuat alasan dengan semua ucapannya tadi. Peduli? Tidak ada yang peduli padanya. Jika peduli mereka tak akan memaksanya untuk bangkit saat tahu bahwa Sean kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya. “Sudah jangan menangis.” Minhyuk mengusap kedua pipi Sean yang basah karena air mata. “Kenapa tadi kau harus kabur? Ayah jadi lelah kan harus mengejarmu sampai di sini.” Sean kembali mendengkus sambil membuang muka. “Karena aku tidak mau si muka dua itu melihatku menangis.” Dahi Minhyuk berkerut. “Si muka dua?” Sean diam saja. Tak berniat memberitahu siapa itu si muka dua pada ayahnya. Sejujurnya, Sean memang tidak berniat kabur tadi, tapi ingat lagi Seungha masih ada di sana, tanpa pikir panjang Sean segera berlari keluar. Alasannya, karena Sean tidak mau Seungha melihatnya menangis. Pasti pemuda itu akan meremehkannya nanti. Sean terlihat seperti gadis kuat yang tidak takut apa pun, kecuali anak anjing. Jika, Seungha melihatnya menangis mungkin pemuda itu akan menganggapnya lemah. *** “Oh, Sean-ah.” Yeon Woo menghampiri Sean yang baru saja kembali bersama ayahnya. “Kenapa kau kabur seperti itu?” “Dia begitu karena kaget,” sahut Minhyuk lalu mengajak Sean bergabung ke meja makan. “Oh ya, siapa yang memanggang dagingnya?” Sebenarnya tadi Minhyuk sedang memanggang daging, tapi karena Sean tiba-tiba kabur saat melihat mereka, Minhyuk terpaksa meninggalkan panggangan untuk mengejar Sean. “Ah, pemuda tampan yang datang bersama Sean tadi.” Sean mengerutkan dahi, lalu agak memiringkan tubuhnya untuk melihat siapa yang dimaksud oleh sang ibu. Raut wajah Sean berubah kesal saat melihat Seungha berdiri di depan alat pemanggang daging dan melambaikan tangan padanya. Sean pikir Seungha langsung pulang setelah mengantarnya, tapi ternyata tidak. Bukankah selain bermuka dua, pemuda itu juga bermuka tebal? Tidak malu selalu menumpang makan di tempatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN