bc

LUKA

book_age16+
0
IKUTI
1K
BACA
others
drama
like
intro-logo
Uraian

Menceritakan kisah seorang ibu rumah tangga yang di uji dengan saudara ipar dan keadaan ekonomi. Saudara ipar yang tidak pernah merasa senang dengan apa yang di miliki oleh andini hingga menjadi ratu drama yang akan selalu membuat masalah seolah olah dia yang jadi korban dan andini yang menjadi tersangka.

chap-preview
Pratinjau gratis
BAGIAN 1
"Sabar, sing kuat, jangan mengambil tindakan saat emosi pikirkan dengan bener bener matang dan kepala dingin" Teringat kembali nasihat sahabat ku, saat aku bercerita perihal rumah tanggaku. Aku tahu ini sebuah aib tapi aku perlu teman cerita untuk mengembalikan kewarasanku. Namaku andini, aku sudah menjalani rumah tangga selama 3tahun dengan mas rian, aku dan mas rian sudah di karuniai seorang anak berusia 1 tahun. Semua berawal semenjak mas rian memintaku untuk pindah ke rumah ibunya. Aku menolak karena apa dia meminta kami untuk pindah. Yaa memang, aku tinggal masih di rumah orang tuaku tetapi aku disana hanya tinggal seorang diri, karena ibu sudah lama meninggal dan ayah memutuskan menetap di tempatnya bekerja, sedangkan aku hanya anak satu satunya. "Aku hanya ingin berbakti pada ibuku disisa umurnya, itu saja" Ucapnya kala itu. "Apa harus dengan tinggal disana untuk berbakti pada ibumu mas? Kan kita bisa menjenguknya ke sana setiap hari tanpa harus pindah, lagian kan rumah ibu dekat dari sini" Responku kurang setuju. "Aku ingin dekat dengan ibu disaat ibu sudah berumur seperti sekarang ini dini, kita gak tau sampai kapan umur orang tua kita di dunia" Apa dia memikirkan orang tuaku juga? Lalu, bagaimana dengan ayahku? Apa dia sama memikirkanku yang juga ingin bersama ayahku di sisa hidupnya. Sedangkan suamiku orang tuanya masih lengkap ada juga adik dan kakaknya yang sudah menikah tinggal disana, sedangkan ayahku hanya seorang diri. Dulu saat ijab kabul teringat pesan harus patuh terhadap suami apapun kemauannya harus di ikuti selagi dia tidak salah. Kalo sudah seperti ini aku hanya bisa menghembuskan nafas kasar, karena percuma berdebat suamiku pun akan tetap pada pendiriannya. "Terus rumah ini gimana mas?" Tanya andini. "Kita kosongkan saja, kamu tetap bisa kesini kalo kamu mau" Jawabnya. "Lah jelas, wong ini rumahku" Batin dini. "Kapan kita pindah mas?" Akhirnya aku ikuti saja maunya, semoga saja di sana tidak seperti yang aku takutkan. Harapku!! Wajah mas rian berbinar kala mendengar ucapanku. "Kamu setuju kalo kita pindah?" Tanya nya meemastikan. "Kalaupun aku tidak setuju tetapi kamu tetap keukeuh ingin tinggal bersama ibu, aku bisa apa?" "Terima kasih, kamu memahami sekali posisiku din, besok kita pindah" Ucapnya, secepat itukah dia memutuskannya tanpa berbicara terlebih dahulu terhadapku? Apa dia tidak menghargaiku lagi sebagai istrinya? Kenapa dia tidak bisa melihatku kalo aku tidak mau tinggal bersama mertua? Aku hanya menganggukan kepala sebagai tanda setuju. "Apa mas sudah bilang sama ibu, kalo kita besok mau tinggal disana?" Tanyaku. "Mas akan membicarakannya malam ini" Akupun kembali menganggukan kepala dan pergi menuju kamar untuk mempersiapkan barang yang akan di bawa besok. ~~~ Aku dan mas rian sedang dalam perjalanan dengan menggunakan motor matic punya mas rian, kami hanya membawa baju dan barang yang di butuhkan di sana nanti. 10 menit kemudian, kami sampai di kediaman rumah mertua. Kemudian aku turun dari motor dengan menggendong anakku yang tertidur. Aku pergi mendahului suamiku, saat sampai di depan pintu aku terdiam dan bersembunyi kala tidak sengaja mendengar seseorang sedang membicarakan sesuatu. "Ibu kenapa mengizinkan mereka tinggal disini sih mas?" Ucap desi--kakak ipar ryan. "Gak papa, justru bagus kalo mereka tinggal disini. Kita bisa manfaat kan istrinya saat ryan tidak di rumah" Ucap anto--kakak ryan. "Manfaatkan gimana mas?" "Ya seperti merawat anak kita contohnya, mencuci baju beres beres rumah, masak dan yang lainnya. Kan kamu juga yang unttung punya pembantu gratis" Astagfirullohal'adzim ucapku sambil mengelus dada, ternyata mereka merencanakan sesuatu untukku. "Ahh benar juga, kamu pintar deh mas jadi kita disini bisa santay setiap hari" Senangnya. "Tentu dong sayang, saat di depan ryan kita harus pura pura baik sama istrinya" Ucap anto. "Kalo dia ngadu, gimana?" "Kamu tenang aja. Kan kamu sendiri tau istri ryan itu polos dan bodoh orangnya, kita ancam sedikit aja pasti ketakutan" Ucap anto yakin. "Iya bener, hahaha" Aku mendengarnya dengan sangat jelas rencana mereka, dari awal aku menikah dengan suamiku memang mereka dan adiknya mas ryan terlihat tidak menyukaiku, entah apa yang membuatnya seperti itu. "Ku ikuti cara main kalian, liat saja seorang yang polos dan bodoh seperti ku bagaimana kalo melawan" Ucapku dalam hati. "Untuk rencana awal aku memang barus pura pura bodoh dan nurut dengan mereka, nanti ku balas kalian dengan sangat manis" Ucapku tersenyum miring. Kemudian, aku melangkah masuk ke dalam rumah dan berdiri di belakang mereka. "Eheeem" Dehemanku. Mereka berdua berbalik menghadap belakang dan terkejut melihatku sudah berdiri di belakangnya. "Ehh dini. Sudah lama nyampe din?" Tanya desi basa basi, menyembunyikan kegugupannya. "Engga, baru aja" Ucapku tersenyum, pura pura tidak mendengar pembicaraan mereka. "Ohh, syukurlah" Ucap desi. Bernafas lega. Tidak lama setelah itu, mas ryan masuk dengan menenteng tas bawaannya. "Mas ko lama? Ngapain dulu" Tanyaku. "Tadi ngobrol dulu sebentar sama tetangga" Jawabnya. Aku hanya berOh ria menanggapinya. "Yaudah hayu duduk din, ngapain kamu berdiri terus di situ?" Aku hanya mengikutinya kemudian duduk di hadapan dua manusia tadi. "Ibu kemana mas?" Tanya mas ryan. "Tadi sih katanya ke warung, mau beli kebutuhan dapur katanya. Tunggu aja dulu bentar lagi juga balik" Jawab anto. Mas ryan hanya mengangguk nganggukan kepalanya. "Kalian jadi pindah kesini?" "Jadi mas, ini aku udah bawa baju" "Ko cuma baju aja, barang barang gak di bawa?" "Itu nanti aja belakangan" Tidak lama setelah itu ibu mertua datang dengan menenteng kantong kresek di tangan kanannya. "Assalamualaikum" Salam ibu. "Wa'alaikumsalam" Ucap kami bersamaan. "Loh, ryan andini udah di sini? Kirain ibu nanti sore makanya ibu belum masak" Ucap bu euis--ibu mertua. "Iya bu, mumpung belum panas takutnya kalo sore hujan" Ucapku sopan kemudian mencium punggung tangannya takzim bergantian dengan mas

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Taken: 96 Hours to Rescue Daughter

read
116.6K
bc

Cheers to Comeuppance

read
792.6K
bc

Dominating the Dominatrix

read
53.0K
bc

The Luna He Rejected (Extended version)

read
562.7K
bc

Secretly Rejected My Alpha Mate

read
26.0K
bc

The Slave Mated To The Pack's Angel

read
378.3K
bc

Claimed by my Brother’s Best Friends

read
790.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook