MAV(*^^*)

1257 Kata
Maheer melepaskan jas miliknya dan menuju ke kamar mandi, ia melepaskan semua baju yang melekat di tubuhnya sampai tak tersisa lalu menghidupkan keran air shower. Ia membilas seluruh tubuhnya sampai bersih menampakkan otot otot tubuhnya yang kekar. Hingga siapa saja yang melihat mungkin akan ke goda. Apalagi ada 8 kotak kotak di perutnya Maheer mengusap rambutnya kebelakang dimana air shower membasahi tubuhnya dari atas sampai bawah. Lalu ia teringat akan aroma milik Mona saat di mobil ia me gusap kaca di dekatnya saat kaca tersebut berembun. Tanpaknya lah pantulan dirinya di cermin sekilas bayangan bayangan Mona muncul terus di benaknya. "OH SHIIIT" decit Maheer menyudahi mandinya dan merahi handuk memakainya di pigang. Maheer turun dari kamarnya menuju meja makan dimana para pelayan sudah berdiri dan menyambut dirinya turun semua pada menundukkan takut. "d**a menunggu lama?" tanya Maheer duduk di dekat Dadanya. (d**a dalam bahasa india kakek, oppa, eyang dll.) "Baru saja d**a pun baru turun gimana proyek perusahaan? lancar? atau ada hambatan, tapi gak mungkin seorang Maheer cucu bikin hambatan," canda d**a kakek Maheer. "Gak ada hambatan Da semua aman sesuai seharusnya." Maheer mengkode playan agar menunangkan makan ke piringnya dan kakeknya. Maheer baru saja hendak menyuap sarapannya saat suasana di meja makan yang luas itu tiba-tiba berubah. d**a meletakkan cangkir tehnya perlahan, denting porselennya terdengar nyaring di tengah keheningan para pelayan yang menunduk. ​"Proyek memang aman, Maheer. Tapi bagaimana dengan pewaris proyek-proyek itu nanti?" tanya d**a, nadanya berubah dari bercanda menjadi sangat serius. ​Maheer menghentikan gerakan tangannya. Ia sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini. ​"d**a sudah tua," lanjut sang kakek sambil menatap cucu kesayangannya itu dengan mata yang mulai meredup dimakan usia. "d**a tidak butuh laporan laba rugi yang terus meningkat setiap bulan. Yang d**a butuhkan adalah suara tawa anak kecil yang berlarian di lorong rumah ini. d**a ingin menimang cicit sebelum mata ini tertutup rapat." ​Maheer menghela napas kasar, bahunya yang tegap tampak sedikit merosot. Ia meletakkan sendoknya, selera makannya menguap seketika. ​"Da, kita sudah bicara soal ini berkali-kali," ucap Maheer dengan suara rendah, berusaha tetap sopan meski rasa sesak mulai menghimpit dadanya. ​"Lalu sampai kapan? Kau sudah memiliki segalanya, Maheer. Kekuasaan, wajah, harta. Apa lagi yang kau tunggu?" ​Maheer menatap lurus ke arah sang kakek, mencoba memberikan pengertian yang paling jujur yang ia miliki. "Menikah bukan sekadar urusan memberikan pewaris, Da. Aku belum menemukan orang yang tepat. Seseorang yang bukan hanya melihatku sebagai 'Maheer sang pemilik perusahaan', tapi seseorang yang... yang membuatku merasa menjadi manusia." ​Ia terdiam sejenak,​"Aku tidak ingin menikah hanya karena kewajiban. Aku tidak ingin memberikan d**a cicit dari perempuan yang hanya kucintai di atas kertas kontrak. Tolong, beri aku waktu sedikit lagi untuk menemukannya." ​Dada hanya menghela napas panjang, ada kekecewaan namun juga pemahaman di matanya. "Waktu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa d**a beli, Maheer. Jangan sampai aku sudah tiada baru kau nikah Maher." Dada pun menyudahi makan malamnya."d**a mau istirahat kau habiskan lah makan malam mu" d**a menepuk pelan pundak Maheer" Perusahaan buruh seorang pewaris bukan itu saja fungsinya dirimu juga bakal butuh anak untuk masa tuamu." Maheer terdiam ia sudah menghela nafas berkali-kali."Masalahnya menikah tak semudah membeli jelebi di pinggir jalan d**a," desah Maheer memikat keningnya yang bekerut. Maheer pun lekas menghabiskan makannya dan kembali ke ruang kerja untuk mengecek laporan laporan keuangan. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Keesokan paginya Mora mengerjapkan matanya saat cahaya matahari yang cerah menerobos masuk lewat celah gorden. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju jendela besar di apartemennya dan menyibakkannya. Seketika, matanya membelalak. ​Di bawah sana, jalanan yang biasanya abu-abu dan kaku kini berubah menjadi lautan putih yang dinamis. Ratusan orang berlarian mengenakan pakaian serba putih, namun yang membuatnya takjub adalah awan-awan debu berwarna-warni yang beterbangan di udara. Merah, kuning, hijau, dan ungu berbaur menjadi satu, menciptakan pemandangan surealis yang sangat indah. Orang-orang saling melempar serbuk warna dan tertawa lepas, seolah beban dunia telah terangkat dari bahu mereka. ​Rasa penasaran mengalahkan rasa kantuknya. Tanpa pikir panjang, Mora segera turun ke bawah untuk melihat keajaiban itu dari dekat. ​ ​Baru saja Mora melangkah keluar dari lobi, sebuah tepukan di bahu mengejutkannya. Itu adalah Sinta, tetangga apartemennya yang ramah. Sinta tampak kontras; wajahnya sudah penuh noda warna biru, tapi bajunya masih tampak putih di beberapa bagian. Pakaian yang di pakai Sinta Dupatta dimana pakaian sinta gamis putih gantung dengan celana panjang putih dan ada selendang di lehernya. ​"Sinta? Kenapa semua orang pakai baju putih dan saling lempar warna begini?" tanya Mora heran, matanya masih sibuk memindai keramaian. ​Sinta tertawa renyah. "Mora, ini Hari Holi! Hari perayaan warna dan cinta. Kita saling memberi warna sebagai simbol kebahagiaan. Kenapa kau masih pakai baju rumah? Sini, ikutlah bermain! Aku ada baju putih bersih Dupatta untukmu, pakai ini!" seru Sinta sambil menyodorkan sebuah Dupatta putih polos yang ia bawa. ​Mora tampak ragu. Ia melihat tangannya yang bersih dan membayangkan betapa berantakannya ia nanti. "Tapi Sinta... aku tidak tahu. Apakah ini aman? Maksudku, warnanya... apa tidak merusak kulit atau berbahaya?" ​Sinta yang menyadari keraguan di wajah Mona segera tersenyum menenangkan. "Tenang saja, Mora. Ini sangat aman. Warnanya terbuat dari bahan alami, tidak akan menyakiti kulitmu. Ini murni tentang kegembiraan, tidak ada yang berbahaya di sini. Percayalah padaku, kau tidak akan menyesal. Mari ikut bermain!" ​ ​Melihat ketulusan di mata Sinta, keraguan Mora perlahan luruh. Ia mengambil baju itu, menggantinya dengan cepat di ruang ganti lobi, dan kembali keluar. ​"Selamat datang di dunia penuh warna!" seru Sinta sambil menaburkan serbuk kuning ke pipi Mora. ​Mora terpekik kaget, namun sedetik kemudian tawa lepas keluar dari bibirnya. Ia mengambil segenggam bubuk warna merah muda dan membalas lemparan Sinta. Dalam sekejap, Mora sudah larut dalam kegilaan yang menyenangkan itu. Ia berlari di antara kerumunan, membiarkan tubuhnya menjadi kanvas bagi ribuan warna. ​Rasa canggungnya hilang, berganti dengan energi yang meluap-luap. Di bawah langit yang cerah, Mora menyadari bahwa terkadang, untuk merasa benar-benar hidup, seseorang hanya perlu membiarkan dirinya sedikit "berantakan" dan merayakan warna bersama dunia. Maheer awalnya hanya berniat mengamati dari balik kaca mobil mewahnya yang gelap, namun magnet tak kasat mata dari tawa lepas Mora di tengah lautan warna itu menariknya keluar. Langkah kakinya yang kaku membawa sang iblis korporat itu membelah kerumunan, hingga ia berdiri tepat di hadapan Mora yang wajahnya sudah tak keruan oleh serbuk warna. ​Mora terbelalak, napasnya tertahan saat melihat bosnya yang selalu tampil rapi kini berdiri di tengah kekacauan Holi. "Loh Pak Maherr kok bisa disini?" tanya Mora menujuk ke depannya dimana ada Maheer. Sinta yang sedari sebulan ini mengamati kedua orang di depan menatap penuh curiga. "Kayaknya ada kapal mau layar nih tapi belum tahu kapan belayarnya," batin Sinta menatap kedua penuh cekikinkan. "Khem ...saya tak sengaja lewat saat mau ke kantor eh ada keramaian saya jadi penasaran," jawab Maher berdehem melepas rasa janggung. Sinta yang melihat ada acara perlombaan ia tersenyum jahil menatap keduanya Sinta menuju ke panitia dan membisiksn sesuatu ke telinga panitia. Panitia mengangkat jempol tanda Ok. "Kam____" "Ini dia mari kita sambut peserta berikutnya Mora dan Maheeer untuk kedepan menampilkan tarian mereka mari kita sambut!" Ucapan Maheer terhenti ia langsung menoleh ke belakang dan menatap heran kenapa namaku ada di panggil. Sedangkan Mora mendelik matanya melotot tak percaya. Lalu ia tatap temannya yang sudah tak ada di sebelanya. "Mana si Sinta ini kok tiba tiba hilang gitu aja?" Mona terus melihat sekeliling mencari keberadaan Sinta. Mata seseorang yang ternyata pelakunya. Namun, sebelum kata maaf sempat terucap oleh Sinta sekali lagi panitia menyebutkan nama mereka sebagai peserta lomba tari pasangan berkat ulah jahil Sinta. ​
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN