Ini bukan momen yang menyenangkan. Setelah beberapa hari membiarkan sang mama mendekam di penjara. Kini Nadira harus bertemu kembali pada kenyataan, jika ia sangat membutuhkan ibunya ini. “Akhirnya kamu sadar, terima kasih ya, Nad!” Perempuan itu menggenggam kedua tangan anaknya. Mereka sedang duduk di sebuah bangku trotoar dan mengobrol. Sementara Nadira hanya diam dan tak menjawab ucapan ibu kandungnya tersebut. Dia menatap pada tangan yang sedang digenggam oleh sang ibu. “Apa ... Rangga tahu? Rangga yang menyuruhmu untuk membebaskan mama?” Mendengar nama Rangga disebut, hati Nadira malah merasa ngilu. Seandainya dulu ibunya ini tidak membuat kejahatan seperti itu, mungkin sekarang dia masih baik-baik saja dengan suaminya tersebut. “Nadira ... kenapa kau diam saja?” tanya san

