Nadira kembali ke apartemen dengan perasaan yang luar biasa kacau. Orang-orang membicarakan dia, lalu Lusi yang membelanya tapi tetap memarahinya. “Sepertinya aku memang benar-benar harus segera cuti,” gumamnya sambil berjalan menyusuri trotoar. Perempuan itu tak meminta Pak Bram untuk menjemput dirinya, tapi dia juga tak segera menghentikan taksi untuk dinaiki. Entah kenapa, Nadira ingin menikmati jalan kaki sore hari sepulang kantor terlebih dahulu. Dia ingin melepaskan rasa penat dan juga stres yang sedang melanda dirinya. Namun tanpa dia sadari, ada orang yang mengamatinya dari kejauhan melalui dalam mobil. “Dia menolak untuk diantar oleh saya, Pak! Jadi sebaiknya memang kita mengamatinya dari jauh seperti ini,” tutur Pak Bram. Sementara Rangga yang kini duduk di samping

