01. Perkenalan
"Manda, ke ruanganku sekarang!" Begitulah perintah Barra. Sesaat kemudian, seorang perempuan menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" Amanda tersenyum dengan begitu ramah, untuk hari ini dia sudah berkali-kali keluar masuk ruangan bosnya.
"Sini," Barra menepuk pahanya, mempersilahkan Amanda untuk duduk di pangkuannya.
Amanda bergidik ngeri, dia menggeleng pelan. "Nanti ada yang masuk pak."
"Gak akan ada yang berani masuk selama kamu ada di dalam ruangan ini, ayo, kesini." Barra mengulirkan tangannya.
Amanda menurut, dia menatap Barra yang sudah ada di depannya.
"Disini aja," tawar Amanda.
Barra menghela nafas, kemudian dia langsung menarik tangan Amanda dan membuat perempuan itu duduk dipangkuannya.
"Mas ini di kantor," cegah Amanda. Dia tidak enak sendiri jika nantinya ada yang memergoki mereka berdua. Walaupun hubungannya dengan sang bos sudah diketahui oleh banyak orang.
"Aku cuma mau peluk kamu sebentar, pusing," gumam Barra. Dia menyusupkan kepalanya pada ceruk leher Amanda.
"Kamu sakit?"
Barra menggeleng, dia semakin mengeratkan lingkar tangannya pada perut Amanda.
Cukup lama keduanya hanya diam, Manda juga tidak berani berbicara, takut hal itu akan mengganggu Barra.
Barra menjauhkan kepalanya dari ceruk leher Amanda, kemudian menatap Amanda dengan dalam. Permpuan yang begitu dia cintai, perempuan yang sudah mengisi hari-harinya selama setahun ini.
"Nanti kamu jadi ikut ke rumah kan?"
Amanda diam, dia ragu untuk ikut bersama Barra.
"A-aku..."
"Aku mau ngenalin kamu sama Maurin, hari ini dia ulang tahun."
Amanda semakin takut, dia takut akan menerima penolakan dari keluarga Barra.
Barra yang mengerti kecemasan di wajah Amanda tersenyum, "Gak usah takut, gak banyak kok yang dateng. Cuma keluarga inti aja, mau ya?"
Dengan terpaksa Amanda mengangguk, dia tidak mungkin mengecewakan Barra.
***
Amanda melangkah ragu untuk masuk kedalam, tangannya terasa begitu dingin. Dia sangat cemas, ini adalah pertemuan pertamanya dengan keluarga Barra, bagaimana jika nanti mereka menolak kehadirannya? Dan berbagai hal buruk menghantui pikirannya.
"Kok diem? Ayo masuk."
Amanda menarik nafas dalam-dalam, kemudian kembali melangkah mengikuti Barra.
Rumah ini begitu besar, 2 kali besar rumahnya mungkin. Banyak pernak-pernik yang menghias sudut ruangan. Sangat mahal, pikir Amanda.
"Papi." Seorang gadis yang menginjak usia remaja berlari menghambur dalam pelukan Barra.
Pria itu memeluk gadisnya, membawanya ke dalam gendongannya.
"Maurin udah nungguin papi dari tadi tau," adu Maurin dengan wajah cemberutnya.
"Maaf ya sayang, tapi papi gak telat kan?"
Maurin menggeleng, dia turun dari gendongan Barra. Tatapannya tajam dan menusuk ke arah Amanda yang berdiri tepat di belakang Barra.
"Dia siapa?"
Barra mengikuti arah pandangan Maurin, kemudian tersenyum. Dia membawa Amanda berdiri di sebelahnya.
"Kenalin, namanya tante Amanda."
Mata Maurin memicing, "Aku gak mau punya mami baru, aku gak mau papi nikah lagi!"
Maurin berteriak dengan kencang, kemudian berlari menaiki tangga. Tak lama terdengar suara pintu yang ditutup dengan kencang.
Amanda menunduk, baru 5 menit dia bertemu dengan putri kekasihnya namun yang didapat adalah penolakan yang begitu kuat.
"Maafin Maurin ya? Biar aku yang bicara sama dia, ayo, aku anterin kamu ke taman belakang, keluarga aku yang lain ada di sana."
Amanda mengangguk, dia mengikuti Barra.
"Nah itu Barra. Lho Maurin mana? Tadi katanya mau jemput kamu ke depan," ucap wanita paruh baya yang sedang sibuk menaburi bumbu pada daging yang akan di bakar.
"Maurin ke kamar sebentar ma, oh iya, kenalin, Amanda. Calon istri Barra."
Amanda tersenyum semanis mungkin disaat keluarga Barra menatapnya dengan tajam.
"Kamu duduk dulu disana ya, bisa kan kenalan sendiri?"
"Iya."
Sepeninggal Barra, Amanda berdiri dengan canggung di sebelah Ratih. "Malam tante, saya Amanda."
Ratih hanya mengangguk, kemudian melanjutkan aktivitasnya.
"Wah cantik banget calon istrinya abang, hallo aku Sasmita, panggil aja Mita. Sepupunya Barra."
Amanda tersenyum, "Manda."
"Nah kalau yang lagi nyiapin arang itu Dion, suami aku. Terus dua krucil yang asik main gadget itu anak aku, namanya Elia dan Lio. Mereka kembar."
"Mereka lucu banget," ucap Amanda.
"Kalau tagi banyak tingkah, bikin pusing." Mita tertawa. "Yaudah yuk duduk dulu, kita siapin cemilannya aja."
***
Barra mengetuk kamar putrinya berulang kali, namun pintu tak kunjung terbuka.
"Maurin, buka dong pintunya. Papi pengen masuk nih, papi belum ngucapin selamat ulang tahun buat Mawmaw," ucap Barra. Dia tidak berhenti membujuk Muarin untuk membuka pintunya.
"Buka ya? Setelah itu papi kasih hadiah deh."
Tak lama kemudian pintu terbuka, menampakan wajah sembab Maurin.
"Maurin gak mau kado! Maurin mau, papi jangan nikah lagi," gumam Maurin dengan suara paraunya.
Barra dengan sabar menuntun Maurin untuk masuk ke dalam, mereka duduk di ranjang.
"Selamat ulang tahun yang ke 12 anaknya papi, semoga di umur Maurin yang sekarang Mawmaw makin sayang sama papi, jadi anak yang berbakti yang baik dan nurut sama papi." Barra menyingkirkan helaian rambut Maurin kebelakang telinga.
"Semoga Mawmaw jadi anak pinter, makin cantik dan baik terus sama semua orang."
Maurin memeluk tubuh Barra, dia semakin menangis saat Barra membalas pelukannya.
"Jangan nangis dong, ini hari ulang tahunnya Maurin lho," hibur Barra.
"Kita turun yuk, oma dan yang lainnya udah nungguin di taman belakang."
***
Amanda cukup lega saat keluarga Barra menerima kehadirannya dengan hangat, terutama Mita. Dia tidak tau apa yang terjadi kalau saja Mita tidak ada disini, karena sejak tadi Ratih tidak mengajaknya bicara sama sekali. Seolah Amanda tidak ada disana.
"Aku kaget banget waktu Barra posting tangan cewek pake cincin di whatsappnya, aku ikut seneng saat dia kembali menemukan perempuan untuk mendampingi hidupnya," ucap Mita.
"Pasti kamu udah taukan tentang masa lalu Barra, dia menikah karena 'kecelakaan' dan hadirlah Maurin, tapi sayangnya mama Maurin meninggal saat melahirkan anak kedua mereka, 5 tahun lalu."
Amanda mengangguk, Barra memang sudah menceritakan semuanya. Dia akui, Barra sangat terbuka kepadanya, tidak ada yang ditutupi dari Barra.
"Dan sejak saat itu, Barra seakan menutup diri. Makanya aku kaget saat tau dia mau nikah lagi, aku ikut seneng dengernya."
"Mita, tolong ambilkan piring di dapur. Mbak Tatik lagi iris daging."
"Iya tante," jawab Mita. "Aku tinggal sebentar ya."
Amanda mengangguk.
Setelah Mita pergi, Ratih duduk di depan Amanda, mengamati perempuan itu dengan teliti.
"Kamu butuh uang berapa? Biar saya kasih, tapi tinggalkan anak saya," bisik Ratih, tatapannya tajam seolah menikam lawan bicaranya.