12. Memprovokasi Nilam

1051 Kata
"Haaaa! Luar biasa! Sangat luar biasa! Dia benar-benar nggak mencariku!" Jihan uring-uringan sendiri sambil melihat ponsel, setelah dia seminggu lalu menyuruh Keenan menjauh dan tak menghubungi dirinya lagi. Dia pikir Keenan tahu bahwa Jihan hanya sedang merajuk seperti biasa, seperti dulu saat mereka masih berpacaran, tapi sial! Pria itu benar-benar tidak menghubungi Jihan lagi atau menemuinya, bahkan setelah seminggu berlalu dari kejadian itu. "Ini nggak mungkin, apa benar perasaannya padaku sudah luntur? Nggak, itu nggak bisa terjadi. Aku harus bisa mendapatkan Keenan, dia kan bucin banget ke aku sejak dulu, aku juga bahkan udah ngasih bubuk guna-guna, tapi kenapa... kenapa sekarang Keenan berubah? Kenapa???" Jihan mengacak rambutnya sendiri sambil mondar-mandir tak tentu arah. Jihan sudah bosan hidup berhemat dari uang hasil pekerjaannya, dia perlu pria kaya seperti Keenan untuk menopang hidup setelah dia kabur dari Will. Dia pikir akan mudah mendapatkan hati Keenan kembali, bukankah Keenan cinta mati padanya? Tapi kenapa... kenapa jadi seperti ini? "Apa karena dia tahu aku udah nggak perawan, makanya dia kehilangan minat sama aku?" Jihan menggigit kuku jarinya dengan gelisah saat memikirkan hal itu. Dia benar-benar takut jika Keenan sungguhan meninggalkan dirinya dan hidup bahagia dengan istrinya. Tiba-tiba Jihan memiliki sebuah rencana yang sangat brilian saat memikirkan istri Keenan. "Aha, kenapa aku nggak menggertak istrinya aja? Bukankah dia cuma wanita kampung yang dijodohkan dengan Keenan? Kalo aku nggak bisa memperngaruhi Keenan, aku akan merusak rumah tangga mereka dengan mempengaruhi istri Keenan. Ini ide yang bagus!" Berpikir seperti itu, Jihan pun mulai bersiap untuk pergi ke rumah yang ditinggali Keenan dan Nilam. Kebetulan yang sangat pas, saat ini kabarnya Keenan sedang ada tugas ke luar kota, itu artinya Jihan bisa leluasa menggertak Nilam, tanpa harus kehilangan muka di depan Keenan. "Aku juga akan memaksa wanita kampung itu buat tutup mulut dan nggak ngadu ke Keenan," gumam Jihan dengan penuh percaya diri. Jihan pun meninggalkan rumah menuju rumah Keenan dengan semangat. Sampai sana, dia diterima oleh seorang pembantu rumah tangga, setelah dia mengenalkan diri sebagai teman baik Keenan. Memang, setelah Nilam sakit beberapa hari yang lalu, Keenan memaksa Nilam untuk mempekerjakan seorang pembantu rumah tangga untuk membantu pekerjaan rumah Nilam. Jihan yang kini duduk di kursi yang ada di teras rumah Nilam, tersenyum dengan penuh percaya diri sambil menunggu kedatangan Nilam. "Jihan?" Nilam sangat terkejut saat melihat Jihan, mantan istri suaminya, yang kini sedang duduk santai di kursi teras seakan ini rumahnya sendiri. Jihan melepas kaca mata hitam yang dia pakai dan tersenyum pongah kepada Nilam, yang di matanya sangat tidak satu level dengan Jihan yang modis, cantik dan glowing. Bibir Jihan seketika mencibir saat melihat ke arah Nilam, yang saat ini hanya memakai daster selutut dan rambut panjang yang di gelung acak. Benar-benar wanita kampung, sinisnya dalam hati. "Hm? Kamu masih ingat aku rupanya. Ya, aku Jihan. MANTAN ISTRI, mas Keenan." Nilam hanya tersenyum kecut mendengar perkenalan Jihan yang penuh percaya diri. Sejujurnya dia juga sangat ingin seperti Jihan yang cantik dan sangat percaya diri. Hari-hari yang dia lalui di awal pernikahan saat Keenan sangat benci padanya dan menyuruh Nilam melayani dirinya sebagai Jihan, membuat Nilam merasa rendah diri di depan wanita itu. Demi harga diri, Nilam menyimpan dalam-dalam rasa rendah diri itu dan berkata dengan suara yang dibuat setegas mungkin. "Mas Keenan sedang nggak ada di rumah karena dia ada tugas ke luar kota selama beberapa hari, jadi tolong pergi dari sini dan kembalilah saat mas Keenan sudah pulang." Mendengar nyonya rumah ini mengusir dirinya, Jihan bangkit dan berjalan mendekat ke arah Nilam dengan dagu terangkat dan sikap sombong yang nyata. "Kamu ngusir aku?" "Ya. Karena aku aku nggak punya urusan sama kamu, meski kamu mantan istri suamiku," jawab Nilam, menyembunyikan gentar. Jihan tertawa mengejek mendengar jawaban Nilam dan mengipasi dadanya sendiri dengan tangan. "Haha, ini lucu. Lucu banget. Apakah saat ini kamu benar-benar berani mengusirku? Wanita yang sangat istimewa bagi Keenan?" Nilam tidak menjawab, mengepalkan tangannya erat erat untuk menahan berbagai emosi yang berkecamuk dalam dirinya saat mendengar kata-kata Jihan. Itu karena Jihan benar. Dia adalah wanita yang sangat istimewa bagi Keenan. Sampai sampai dulu Nilam harus menghabiskan hari hari awal pernikahannya dengan tangis dan air mata, karena Keenan yang belum bisa melupakan Jihan, dan menyuruh dia bertingkah seperti Jihan saat di ranjang. Jihan yang menyadari perubahan ekspresi Nilam saat dia menyebut sebagai wanita yang sangat berharga bagi Keenan, tersenyum semakin punya dan memandang Nilam dengan tangan terlipat. " Dan mungkin kamu belum tahu, tapi aku... aku lah yang akan menjadi nyonya rumah ini setelah kepergianmu." "A-apa maksudmu?!" Nilam tentu saja sangat terkejut mendengar pengakuan Jihan, yang mengatakan dengan percaya diri bahwa dia akan menjadi nyonya rumah ini. "Yah, tentu saja maksudnya sudah jelas. Mas Keenan, akan membuang kamu setelah dia bosan sama kamu, Nilam." Wajah Nilam memucat mendengar itu. Benarkah? Tapi kenapa Keenan membuangnya? Bukankah dia sudah berusaha sekeras mungkin dan sebaik mungkin menjadi istri yang memuaskan bagi Keenan? Apakah karena Jihan datang lagi ke kehidupan Keenan setelah pergi lama? Jihan yang tidak meninggalkan kesempatan untuk semakin membuat Nilam hancur dan meragukan kepercayaannya kepada Keenan sehingga wanita ini akan pergi dari sisi Keenan, melanjutkan kelicikannya. "Ohya, satu lagi. Apakah kau pikir, Keenan, suamimu itu, hanya akan puas dengan dirimu? Jawabannya tentu saja ENGGAK. Dia udah pergi beberapa hari dari rumah karena pekerjaan, kan? Apakah kamu yakin dia hanya sedang bekerja dan tidak bertemu wanita lain di belakangmu?" Nilam tak sanggup memberi jawaban pada Jihan yang tersenyum penuh percaya diri seakan-akan sangat mengenal Keenan. Mendengar hal seperti itu , hati Nilam terasa jatuh berkeping-keping. "Itu... itu nggak mungkin," bantah Nilam, menggeleng samar. Namun Jihan hanya tertawa. Seakan sedang menertawakan kebodohan Nilam. "Gimana bisa kamu sangat yakin kalo itu nggak mungkin? Emangnya kamu tahu gimana kehidupan Keenan selama ini? Kamu hanya wanita asing yang dijodohkan sama dia, kan?" Jihan mengatakan hal itu dengan ekspresi seakan tahu segalanya tentang Keenan. Membuat Nilam semakin goyah. Apakah wanita ini benar bahwa Keenan masih bermain dengan wanita lain di luar sana bahkan setelah menikah? Tapi... melihat nafsu Keenan yang luar biasa, hal seperti itu menjadi mungkin... Nilam menggigit bibir bawahnya dengan mata berkaca kaca dan ekspresi putus asa. Jihan menatap Nilam dengan ekspresi pura-pura kasihan tapi menghina. "Ck, ck, ck. Kasihan sekali hidupmu. Sadarlah, pria itu nggak ada yang puas hanya dengan satu wanita. Jadi jangan pernah mikir kalo suami yang sangat kamu cintai itu, cuma bakal main sama kamu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN