11. Lebih Memilih Nilam

1271 Kata
Pagi hari, seperti biasa, Nilam menyiapkan sarapan untuk Keenan sebelum sang suami berangkat bekerja. Mereka memang hanya tinggal berdua tanpa satu orang pun pembantu di rumah besar ini, meskipun Keenan kaya raya. Bukan karena Keenan pelit, melainkan ini memang permintaan dari Nilam sendiri yang memilih untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tanpa pembantu, toh dia juga tidak melakukan apa-apa di rumah, karena itu, dengan alasan agar tidak bosan, Nilam memilih untuk mengerjakan pekerjaan rumah sendirian. Ibu mertua Nilam semakin menyukai dirinya yang giat dan rajin, sementara Keenan juga nyaman hanya tinggal berdua dengan Nilam, karena dengan begitu, dia bebas melakukan apa pun, termasuk meminta Nilam melayani dirinya di atas ranjang kapan pun tanpa malu atau sungkan dengan penghuni lain di rumah ini. Namun, pagi ini ada yang sedikit aneh. Nilam yang biasanya cekatan, sekarang melakukan pekerjaannya dengan agak lambat, sehingga Keenan yang sudah bersiap berangkat pergi ke kantor tapi sarapan belum juga disediakan Nilam, beranjak ke dapur untuk menegur istrinya. Saat Keenan masuk dalur, dia melihat wajah Nilam yang tampak lesu dan tak bertenaga, dia pun buru-buru berjalan mendekat untuk mengecek keadaan istrinya tersebut. Keenan menempelkan tangannya di kening Nilam, dan dia langsung terkejut bukan main, saat merasakan kening panas sang istri. "Nilam, kamu sakit? Astaga, badan kamu panas banget! Udah, udah, nggak usah nerusin buat sarapan, sana istirahat." Keenan segera mengambil pisau yang dipegang Nilam, menaruhnya di atas talenan dan mendorong punggung sang istri untuk berjalan keluar dari dapur. Dia sudah mengira kalau Nilam akan sakit, mengingat berapa basah kuyupnya badan wanita itu tadi malam. Berapa lama dia berada di luar menunggu kedatangan Keenan? Hujan tadi malam berlangsung cukup lama, apakah dia berdiri selama itu? Dugaan Keenan benar, sekarang Nilam benar-benar sakit. "Tapi, Mas. Kalo kamu nggak sarapan.... " Nilam yang tampak keberatan, menahan langkahnya keluar dari dapur. "Santai aja, aku bisa makan di kantor. Sekarang kamu istirahat aja, Oke? Nanti aku belikan kamu bubur buat sarapan." "Aku nggak papa, Mas. Ini cuma meriang biasa kok," sangkal Nilam dengan tak enak hati. Dia merasa benar-benar tak enak hati memikirkan suaminya pergi bekerja tanpa sarapan, itu seperti mencederai peran Nilam sebagai istri. Namun, Keenan menggeleng tegas atas kkeberatan Nilam dan mendorong wanita itu masuk ke dalam kamar, menyuruh dirinya berbaring. "Jangan nyepelein penyakit, Nilam. Sekarang kamu istirahat. Aku nyuruh kamu istirahat, kamu nggak nurut sama aku, suamimu?" Dibilang seperti itu, Nilam langsung keder dan segera mengangguk. "B-baiklah, Mas, kalo gitu." "Biasanya kalo panas kamu minum obat apa? Apa perlu kubawa ke rumah sakit?" tanya Keenan dengan penuh perhatian, yang membuat Nilam tersipu malu. "Nggak usah, Mas. Aku bikin wedang jahe, nanti juga enakan." Keenan hanya mengangguk saja karena dia benar-benar tidak tahu bagaimana kebiasaan istrinya saat sakit, Keenan memang tidak begitu mengenal Nilam, selain sebagai istri yang berhasil memuaskan dirinya di atas ranjang dan patuh melayani kebutuhannya. Kesadaran itu membuat Keenan merasa malu pada dirinya sendiri yang begitu acuh tak acuh kepada Nilam, tapi begitu perhatian kepada Jihan. "Kamu jangan lupa minum obat, oke? Aku harus ke kantor dulu karena udah telat. Nanti aku pesankan bubur di gofood, kamu makan," ujar Keenan, setelah berdehem satu kali untuk menutupi rasa bersalah yang mengganggu dirinya. "Iya, Mas... " Setelah mengatakan hal itu dan memastikan Nilam beristirahat di kamar, Keenan pun berangkat ke kantor. Sampai kantor, dia segera memesankan Nilam bubur hangat untuk sarapan sang istri dan mulai bekerja. Sayangnya, saat bekerja, Keenan masih terus memikirkan keadaan istrinya yang sedang sakit di rumah. "Haaah, aku jadi nggak konsentrasi kerja. Aku pulang dulu." Dia pun memilih untuk segera pulang setelah hanya bekerja setengah hari karena khawatir Nilam di rumah kenapa napa. Nilam memang sangat jarang sakit, hal itu membuat Keenan jadi lebih khawatir. Dan yang paling membuat dirinya khawatir adalah jika Nilam di rumah tidak mau beristirahat tapi malah mengerjakan pekerjaan rumah meski tahu bahwa dirinya tengah sakit. "Nilam! Astaga, kenapa kamu malah bersih bersih! Aku udah bilang kamu biar istirahat, kan?" Dan benar dugaan Keenan, saat dia pulang, istrinya yang sedang demam itu malah mengepel lantai. "Tapi aku nggak enak diem aja, Mas." Nilam mencoba membela diri, tapi Keenan langsung menyuruh dia meninggalkan alat pel itu dan masuk ke kamar untuk berbaring. "Kamu bisa nonton televisi, atau main hape. Pokoknya kamu istirahat, kamu sedang sakit. Masalah bersih bersih rumah nggak usah dipikirkan, ngerti?" titah Keenan dengan tegas, mengambil remote televisi di kamar dan memberikan benda itu kepada Nilam. "I-iya, Mas." Keenan yang lega karena Nilam menurut, menyentuh kening istrinya dan menarik napas panjang. "Kenapa panasnya belum turun? Ayo ke rumah sakit aja!" "Nggak usah, Mas. Ini beneran cuma meriang aja. Mungkin karena kehujanan semalam." Jawaban Nilam membuat Keenan semakin merasa bersalah karena diingatkan lagi dengan kejadian yang membuat istrinya tersebut sakit. "Besok besok nggak usah nunggu aku di luar, aku juga janji bakal selalu ngabarin kamu kalo pulang telat," ucap Keenan dengan nada tegas, meski terdengar acuh tak acuh tapi sebenarnya Keenan perhatian. "Iya, Mas... " "Sekarang kamu tidur, istirahat. Kamu pengen makan sesuatu? Bilang ke aku, jangan sungkan." "Eh, iya, Mas. Sebenarnya... aku pengen makan yang manis manis," jawab Nilam, memberanikan diri untuk menjawab apa yang sangat dia inginkan sekarang. Untungnya Keenan langsung mengiyakan apa permintaannya sehingga Nilam merasa sangat lega. "Yang manis manis? Oke, aku pesenin. Apa?" Nilam menyebutkan makanan manis apa saja yang dia ingin makan saat ini dan Keenan memesan semuanya, membuat Nilam sangat bahagia. Setelah makan dan kenyang, Nilam yang sakit itu pun tertidur. Keenan yang ada di sebelahnya, memandang Nilam dengan perasaan bersalah. "Aku ngerasa bersalah banget udah bikin istriku kayak gini. Aku bakal lebih memikirkan dia lagi lain kali." Mereka memang menikah karena dijodohkan, tapi bukan berarti Keenan bisa terus membuat Nilam menderita. Berjanji untuk mulai membahagiakan Nilam di masa depan, Keenan mengelus lembut rambut Nilam yang sedang tertidur pulas. Malam hari, saat Keenan keluar untuk membeli makan, telepon masuk, setelah diam beberapa saat, dia pun memutuskan untuk menerima telepon tersebut. "Mas, ke mana aja? Aku telepon nggak diangkat angkat, bahkan telepon aku kamu reject. Kamu nggak pernah kayak gini lho sebelumnya!" Jihan berteriak protes kepada Keenan, setelah seharian ini chat dan telepon dirinya terus diabaikan oleh Keenan. "Aku lagi ada urusan penting. Kamu ngapain nelepon aku malam-malam, Jihan?" "Maas, aku takut tidur sendiri. Serem banget di sini, mana di daerah aku barusan ada orang meninggal. Aku takut banget," ucap Jihan dengan nada manja seperti biasa. "Tapi aku nggak mungkin ke rumah kamu malam ini," jawab Keenan cepat, yang membuat Jihan terkejut bukan main dengan penolakan langsung dari Keenan, hal yang tak pernah terjadi sebelum ini. "Kenapa, Mas? Kamu biasanya selalu dateng kapan pun aku panggil, kan, Mas. Aku beneran lagi butuh kamu, aku nggak bisa tidur, Mas," rengek Jihan, seperti hendak menangis. Keenan menghela napas panjang dan berkata dengan suara tenang tapi tegas. "Jihan, aku mohon pengertian kamu. Istriku sedang sakit, aku nggak bisa pergi ninggalin dia. Dia baru bisa tidur habis minum obat, aku nggak tega ninggalin dia, Jihan." "Jadi, kamu lebih memilih aku apa wanita kampung itu, Mas?" Pertanyaan dari Jihan membuat Keenan terkejut. "Jihan, wanita kampung itu istriku dan namanya Nilam. Kamu harus memanggilnya dengan namanya, bukan WANITA KAMPUNG," jawab Keenan dengan penuh penekanan. Ada kemarahan dalam nada suaranya karena Jihan menyebut istrinya dengan nada menghina. "Oke, oke. Sekarang aku tanya, siapa yang kamu pilih, aku apa dia?" "Jawabannya bukannya udah jelas?" balas Keenan dengan suara sinis. Sudah jelas dia memilih siapa, tentu saja itu adalah istrinya, Nilam. "Kalo gitu, mulai sekarang, kita nggak usah berhubungan lagi, Mas. Jangan temui aku lagi," ujar Jihan dengan nada dingin dan mematikan panggilan telepon. Keenan melihat layar ponselnya yang mati dan mengendikkan bahu. Entah kenapa, kali ini dia tidak mmerasa sedih atau menyesal sama sekali karena ditinggalkan Jihan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN