10. Cinta Tulus Nilam

1022 Kata
"Mas, apa ini?" Nilam terheran-heran saat Keenan pulang bekerja dengan membawa begitu banyak barang, apalagi barang-barang itu adalah baju, tas, dan semua hal untuk Nilam. Sesuatu yang sangat tidak biasa dilakukan oleh Keenan. Meski hubungan pernikahan mereka terlihat akur dan bahagia, sebenarnya sangat dangkal. Nilam memainkan peran sebagai wanita penurut yang tidak membuat suaminya stress, dan Keenan menyukai Nilam yang seperti itu sehingga dia tak perlu berpura-pura baik menghadapi wanita yang disukai orang tuanya tersebut. Nilam sendiri tidak mengharapkan lebih dari Keenan, dia sudah sangat bersyukur Keenan mau bersikap baik padanya sebagai suami dan tidak kasar saat berhubungan badan. Itu saja bagi Nilam sudah merupakan kebahagiaan yang tiada tara. Dia menjalani hidup dengan baik dan tenang di sini, Nilam menerima takdir menjalani pernikahan yang seperti ini, karena tak punya lagi tempat juga untuk pulang. Dia juga sangat takut dengan title janda. Itulah kenapa Nilam sangat terkejut saat Keenan tiba-tiba membawa banyak hadiah untuknya seperti ini. Omong-omong, meski sudah kaya dan naik jabatan, Keenan sebenarnya masih orang yang cukup pelit. "Nggak apa-apa, aku cuma tiba-tiba pengen ngasih kamu aja. Ohya, gimana kalo malam ini kita pergi nonton? Udah lama kita nggak keluar berdua, kan?" Nilam dibuat lebih terkejut lagi dengan jawaban yang diberikan Keenan. Keluar? Berdua? Kenapa Keenan sangat aneh hari ini? "Kamu nggak capek, Mas? Akhir-akhir ini kan kamu sering pulang telat karena pekerjaan," jawab Nilam dengan ekspresi khawatir. "Aaah, enggak. Kebetulan aku juga lagi pengen main keluar sama kamu. Mau nggak?" Keenan menawari Nilam lagi, dia yang sedang duduk di sofa sebelah Nilam, memandang wajah sang istri untuk menunggu jawaban. Kalau dilihat-lihat, Nilam sebenarnya wanita yang sangat manis. Apalagi setelah dia rajin memakai skincare dan merawat tubuh. Memang dia tidak semodis Jihan, make up nya juga tidak secetar Jihan, tapi bagi Keenan, itu merupakan kecantikan yang alami dan langka. Dia baru menyadari kecantikan istrinya akhir-akhir ini. Dan Keenan merasa sedikit bersalah pada Nilam, karena akhir akhir ini sering pulang telat karena terus dipanggil Jihan untuk menemani dirinya ke mana-mana. Rasa bersalah itu membuat Keenan akhirnya membeli banyak barang untuk Nilam dan mengajaknya keluar, sebagai bentuk penebusan dosa. "Aku mau mau aja, Mas. Kebetulan ada film yang mau ku tonton. Beneran kamu nggak papa?" Nilam bertanya lagi dengan tatapan khawatir, sedangkan Keenan langsung menggeleng. "Nggak papa, Nilam. Buruan ganti baju dan dandan sana, jangan lama-lama, oke?" "Iya, Mas." Nilam akhirnya patuh dan mengambil salah satu baju yang telah dibelikan Keenan, lalu masuk kamar untuk mulai berdandan. Tidak lama kemudian, dia muncul di hadapan Keenan. "Udah siap? Ayo jalan." Keenan bangkit dari duduknya dan mengajak Nilam ke mobil untuk membawa sang istri pergi ke bioskop. "Kamu kelihatan seneng banget, padahal aku cuma bawa kamu jalan jalan sama nonton, lho." Keenan berkomentar saat keduanya selesai menonton di bioskop, mendengar komentar itu, Nilam tersenyum malu-malu. "Iya, Mas. Aku seneng banget. Gini aja aku udah seneng lho, Mas. Tapi aku kepikiran kamu, gimana kalo kamu lagi capek banget dan terpaksa nemenin aku. Kamu nggak dipaksa orang tua kamu lagi, kan?" "Nggak kok, Nilam. Aku ngelakuin ini karena pengen aja. Kita kan udah jadi suami istri setahunan, masa nggak pernah jalan bareng," jawab Keenan, meredam kekhawatiran istrinya. Nilam menghela napas lega mendengar hal itu dan tersenyum manis kepada Keenan. "Makasih banyak, Mas, kalo gitu. Aku senang kamu nggak malu lagi bawa aku keluar." Mendengar Kata-kata tulus Nilam, Keenan merasa sedikit tertohok. "Nggak lah. Lain kali aku bakalan sering ajak kamu keluar dan ngenalin ke temen temen aku." "Oh, gitu ya, Mas. Aku senang dengernya." Tangan Keenan spontan menepuk puncak kepala Nilam saat melihat sang istri tersenyum begitu bahagia. Diam-diam Keenan berjanji akan lebih sering mengajak istrinya keluar dan membatasi pertemuannya dengan Jihan. Meski Jihan adalah cinta pertama dan sahabat masa kecilnya, Nilam adalah istrinya sekarang. Namun, tekad itu langsung kabur begitu saja saat menjelang pulang kerja di hari berikutnya, Jihan menelepon sambil menangis tersedu-sedu dan meminta Keenan datang untuk menghiburnya. Keenan tanpa ragu langsung datang ke tempat Jihan, dia lupa tidak mengabari Nilam akan pulang terlambat karena ponselnya mati. "Ah, aku nggak bakalan lama sama Jihan dan langsung pulang aja nanti." Begitulah yang ada dipikiran Keenan, kadang itu begitu sampai rumah Jihan, Keenan tidak langsung men charger ponselnya untuk bisa digunakan menghubungi Nilam. Sayangnya, prediksi Keenan meleset, dia tidak bisa pulang cepat setelah menghibur Jihan, karena hujan tiba-tiba turun dengan deras. Akhirnya terpaksa Keenan menunda kepulangan karena Jihan yang mengeluh takut sendirian saat hujan. Melihat sang suami yang pulang sangat telat dan tanpa kabar, Nilam di rumah sangat khawatir. "Mas Keenan tumben belum pulang? Nggak ada hal buruk yang terjadi padanya, kan?" Dia menelepon ke kantor dan bertanya apakah Keenan lembur, tapi jawaban yang dia peroleh sangat mengejutkan. "Apa? Mas Keenan sudah keluar kantor dari tadi?" Nilam merasa tak percaya dengan jawaban itu, tapi orang kantor Keenan tidak mungkin berbohong. "Astaga, ke mana mas Keenan. Ditelepon juga nggak diangkat." Nilam merasa semakin cemas saat dia mencoba menelepon Keenan, tapi ponsel suaminya tak merespon. "Apa aku coba lihat ke jalan raya siapa tahu ketemu mas Keenan?" gumam Nilam setelah dia menunggu sambil mondar mandir di ruang tamu, tapi suaminya tetap tak kunjung datang. "Mas Keenan, kamu di mana?" Nilam pergi ke jalan raya untuk melihat apakah ada mobil Keenan, tapi semuanya nihil. saat berjalan balik ke rumah, hujan turun tiba-tiba dengan sangat deras. ‌Nilam yang menghawatirkan Keenan, akhirnya tidak masuk rumah dan menunggu suaminya pulang di teras. ‌ Saat hujan mulai mereda, Nilam sangat senang melihat mobil suaminya yang berjalan menuju rumah mereka, dia segera berlari dan menyambut kedatangan Keenan dengan ekspresi lega. ‌"Nilam, kenapa hujan hujanan di luar? Hujan malam nggak baik buat kesehatan kamu," ucap Keenan yang terkejut melihat tubuh istrinya yang basah kuyup dengan wajah pucat karena kedinginan. "Aku khawatir banget sama kamu karena pulang lebih telat dari sebelumnya, Mas. Aku nyari nyari dekat halte kamu nggak kelihatan, karena nggak tenang nunggu di dalam, aku nunggu di luar, takut kamu kenapa napa, Mas." Jawaban Nilam membuat Keenan merasa sangat bersalah, sehingga membimbing wanita itu masuk. "Aku ada urusan bentar sama teman, maafkan aku nggak jawab telepon kamu, hape aku mati tadi. Ayo masuk, kamu bisa sakit kalo hujan hujanan malem malem kayak gini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN