Bruk! "Auwh!" Tubuh Anin tersungkur ke lantai, wanita itu langsung meringis kesakitan. Dapat di pastikan jika kedua lututnya terluka karena beradu dengan lantai cukup keras. "Makanya kalau jalan itu lihat-lihat, Mbak Anin! Jangan meleng!" ujar Wulan sinis tanpa berniat membantu Anin untuk berdiri. Tidak ada rasa bersalah, apalagi rasa simpati di hati wanita itu. Justru ia merasa jika itu adalah kesalahan Anin, meskipun kenyataannya ia yang sengaja menyenggol bahu Anin dengan keras, hingga wanita itu jatuh tersungkur ke lantai. Anin lantas mendongak, menatap tajam ke arah Wulan yang tersenyum mengejek ke arahnya. "Apa? Tidak terima? Harusnya Mbak Anin lho yang minta maaf sama kami, karena sudah menghalangi jalan," ujar Wulan dengan tatapan mengintimidasi. "Apa? Minta maaf? tanya Anin

