Chapter 5

2239 Kata
Sesuatu yang dingin menyentuh pipinya, hampir mengenai sudut bibir, membuat Sofia tersentak dan mendongak.             Erzan berdiri di sisinya, menatapnya datar sambil mengarahkan sebotol minuman kaleng yang berembun itu kepadanya. Tersenyum tipis dan mengucapkan terima kasih, Sofia menerima minuman itu dan melirik Erzan yang kini duduk tepat di sampingnya sambil mulai menikmati minuman milik cowok itu sendiri.             Lagi-lagi, Erzan menyelamatkan hidupnya.             Sebenarnya, Sofia tidak mau kalau Erzan harus terus-menerus mengorbankan diri hanya demi membantu atau menyelamatkannya, di saat Kio mulai bertindak. Erzan bisa menjadi pribadi lain yang tidak dikenal sama sekali oleh Sofia, jika cowok itu sudah marah dan mulai melampiaskan kemarahannya. Bukannya Sofia takut, tapi, cewek itu justru merasa sedih dan kasihan entah kenapa.             “Luka lo... masih sakit?”             Pertanyaan bernada datar, ragu dan sedikit cemas itu membuat lamunan Sofia buyar. Cewek itu mengerjap, menatap kaleng berembun yang digenggam oleh kedua tangannya tersebut, kemudian menoleh. Erzan tidak menatapnya, melainkan menatap ke pohon di depan mereka. Memang, saat ini keduanya sedang berada di taman dekat kampus. Kio sendiri tadi sudah dibawa pergi oleh ambulance yang ditelepon oleh Erzan.             “Ah, luka ini,” balas Sofia sambil terkekeh. Entah terkekeh karena hal apa, cewek itu sendiri tidak tahu. Yang jelas, dia tidak mau menambah kecemasan Erzan lagi. “Udah nggak apa-apa, kok. Nggak sakit-sakit banget.”             Saat itulah, napas Sofia dipaksa berhenti oleh kedua paru-parunya.             Erzan mengurungnya dari samping, menutup aksesnya untuk pergi ke mana pun dengan rentangan kedua tangan cowok tersebut. Kedua mata Erzan menatap tegas dan intens ke arahnya, kemudian mulai menurun ke sudut bibirnya yang sedikit membiru. Lalu, mata cowok itu kembali fokus pada manik Sofia lagi.             “Nggak sakit kata lo?” tanya Erzan dengan nada yang sulit ditebak. Entahlah, Sofia merasa Erzan sedang menahan diri untuk tidak marah-marah kepadanya. Kilatan emosi itu sedikitnya bisa terbaca oleh Sofia pada pancaran mata Erzan, diikuti dengan kecemasan. “Cowok b******k itu udah bikin lo luka. Dia pasti nampar elo, kan? Sampai-sampai sudut bibir lo berdarah dan membiru kayak begini? Harusnya tadi lo biarin gue hajar dia sampai mati.”             Sofia menarik napas panjang dan mencoba tersenyum. Entah keberanian darimana, tangan cewek itu terulur dan mendarat pada sebelah pipi Erzan, membuat gestur tubuh cowok itu berubah drastis. Erzan menegang, terlalu kaget dengan sentuhan hangat dan lembut yang diberikan oleh tangan Sofia pada pipinya. Sepenuhnya, dia terjerat dalam manik menenangkan milik Sofia yang berada dalam kurungannya saat ini.             Tuhan... Erzan membatin. Perasaan apa, ini?             “Lo bukan pembunuh, Zan,” kata Sofia lembut. “Gimana bisa gue membiarkan lo menjadi pembunuh hanya karena menolong cewek nggak penting seperti gue?”             “Tapi, dia—“             “Gue nggak apa-apa,” potong Sofia. Cewek itu menurunkan tangannya dari pipi Erzan dan hal tersebut membuat Erzan merasa kehilangan, tanpa tahu pasti alasan dibalik perasaan tersebut. “Lo nolongin gue tepat pada waktunya, kok.”             Erzan diam. Cowok itu menatap Sofia yang menunduk. Ada desakan hebat pada dirinya untuk memeluk erat cewek di depannya itu, tapi dia menahan diri. Demi Tuhan, Sofia bukanlah pacar sungguhannya. Dia hanya pacar pura-pura. Pacar kontrak untuk menjauhkan Kio dari sekitar Sofia.             Hanya itu, jadi tidak boleh ada perasaan yang terlibat.             Tapi, kenapa rasanya pengaruh Sofia pada dirinya begitu besar dan hebat? Kenapa dia tidak bisa meloloskan diri dari pengaruh Sofia? Kenapa kedua kakinya dan juga otaknya langsung bergerak cepat ke arah cewek itu, di saat Sofia dalam masalah terlebih bahaya?             Apa artinya semua ini?             “Zan,” panggil Sofia kemudian. Cewek itu mendongak dan tersenyum kecil. Hal sederhana seperti itu saja sanggup membuat Erzan terpaku dan fokus pada senyuman kecil nan anggun di wajah Sofia. “Mau temanin gue jalan-jalan?”             “Jalan-jalan?” tanya Erzan setelah berhasil mengatasi kekagetannya. “Ke mana?”             “Ke mana aja,” jawab Sofia enteng. Cewek itu tertawa pelan dan menghela napas. “Gue suntuk. Gue butuh udara segar. Kalau perlu, kita nggak usah pulang. Habisin waktu sampai pagi di jalanan, menikmati semilir angin. Gimana?”             Erzan menjauhkan kedua lengannya dari tubuh Sofia, melepaskan kurungannya. Dia tidak tahu kalau saat ini, Sofia nyaris menghirup semua oksigen yang tersedia karena terlalu lama menahan napas akibat tindakannya tersebut.             “Nggak apa-apa kalau nggak pulang?” tanya Erzan sangsi. Dia tidak memiliki siapa pun di rumah, jadi tidak akan ada yang mengkhawatirkannya. Tapi, bagaimana dengan Sofia? Bukankah keluarganya nanti akan khawatir setengah mati kalau cewek itu tidak pulang ke rumah semalaman?             “Nggak apa-apa,” jawab Sofia lirih. Erzan mengerutkan kening saat melihat wajah sendu dan senyuman pahit di wajah cewek itu. “Nyokap nggak akan khawatir, sementara bokap gue ada di luar kota.”             “Gimana bisa nyokap lo nggak akan khawatir, Sof?” tanya Erzan bingung. Baru kali ini dia mendengar seseorang berkata kalau orang tuanya tidak akan khawatir jika anak mereka tidak pulang. Terdengar sedikit absurd. “Biar gimana, lo cewek. Dia pasti bakalan cemas banget.”             “Nggak akan,” balas Sofia lagi. Matanya mulai memanas, karena itu dia mengangkat wajah untuk menatap langit malam. Saat dia menundukkan kepalanya lagi, Erzan membeku tapi berusaha bersikap normal, ketika dia melihat lapisan bening menggantung di pelupuk mata Sofia.             Cewek itu menahan tangis.             “Karena dia bukan nyokap kandung gue,” lanjut Sofia. “Dia nyokap tiri gue. Dia nggak pernah peduli sama gue, jadi, gue nggak masalah kalau nggak pulang ke rumah.”             Satu fakta yang baru diketahui Erzan mengenai Sofia dan itu cukup mencengangkan. Cowok itu menatap wajah Sofia, sementara yang ditatap mengalihkan tatapannya. Akhirnya, Erzan berdiri dan mengulurkan tangan. Dia tersenyum saat Sofia menatap uluran tangannya, kemudian beralih ke wajahnya.             “Siap berpetualan?” tanya Erzan sambil tersenyum.             Mantap, Sofia menggenggam uluran tangan tersebut. Dia balas tersenyum, lantas berdiri. Genggaman tangan Erzan begitu erat dan hangat, seolah memberikan energi untuk diri Sofia. Keduanya berhadapan, saling tatap sambil tersenyum.             “Lo tau, Sof?” tanya Erzan dengan nada menerawang. Dia semakin mengeratkan genggaman tangannya. “Gue nggak tau apa yang lagi terjadi sama diri gue sendiri.”             “Hah?”             Erzan melirik Sofia yang terlihat sangat bingung, lantas cowok itu tertawa. Dia menyentil kening Sofia pelan, kemudian menarik cewek itu agar segera mengikutinya menuju motor yang dia parkir tak jauh dari tempat ini.             Membiarkan Sofia bingung dengan ucapannya barusan tanpa ada niat untuk menjelaskan.             Terlalu polos, batin cowok itu geli. ### Sofia tersenyum tipis dan memejamkan kedua matanya ketika angin malam menerpa wajahnya hingga memberikan sensasi sejuk yang tiada tara.             Motor Erzan membelah jalan kota Jakarta. Masih banyak kendaraan yang melintas, tapi tidak sebanyak siang hari. Jarum jam sudah mengarah ke angka sebelas, dan mereka masih mengitari semua jalan. Beberapa kali keduanya sempat berhenti di resto-resto tertentu untuk mencicipi menu yang tersedia di sana. Selebihnya, mereka menghabiskan waktu di jalanan.             Lalu, motor Erzan mulai masuk ke daerah Ancol. Tepatnya di pantai.             Erzan memasukkan kedua tangannya ke saku jaket sambil tersenyum saat melihat Sofia berlari ke arah laut. Cewek itu terlihat senang. Terbukti dari pancaran mata, juga senyuman lebar yang tercetak di bibirnya. Lalu, Sofia duduk begitu saja di atas pasir, memejamkan kedua mata untuk meresapi angin laut dan bau laut yang begitu menenangkan hatinya.             Ah, seandainya dia bisa selamanya mengalami ketenangan seperti ini.             “Bintangnya juga nggak kalah bagus sama laut,” ucap Erzan mendadak, membuat Sofia membuka mata dan menoleh. Di sampingnya, Erzan sudah duduk manis sambil memeluk lutut. Senyuman cowok itu terbit, mencapai matanya yang terlihat berbinar ketika menatap gelombang laut di depan mereka.             “Mm-hm,” gumam Sofia senang. Dia ikut menatap laut di depannya. “Tapi, gue lebih suka laut ketimbang bintang.”             “Kenapa?”             “Karena laut menenangkan. Karena laut menghanyutkan.”             “Kok alasannya aneh?” tanya Erzan geli. “Atau gue yang baru sadar ternyata lo emang cewek aneh?”             “Cih,” cibir Sofia pura-pura bete. Dia meninju bahu Erzan yang tertawa, kemudian kembali mencibir. “Kenyataannya, laut itu emang menghanyutkan, Zan.”             Keduanya diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Suara ombak terdengar sangat jelas, membuat perasaan Sofia dan Erzan nyaman. Kemudian, Erzan melepas jaketnya dan menyampirkannya ke tubuh mungil Sofia. Diperlakukan seperti itu membuat Sofia melirik Erzan sekilas, sementara yang dilirik sudah kembali menatap laut dengan senyuman tulus di bibirnya.             Gue mau liat lo terus tersenyum, Zan...             “Lo tau? Gue pernah nyaris mati.”             DEG!             Kalimat Sofia itu membuat Erzan langsung menatap ke arah cewek tersebut. Sofia sendiri hanya menatap sekilas sambil tersenyum dan kembali menatap laut di depannya. Pikirannya kembali mengarah ke masa lalu. Masa-masa di mana dia belum bisa menghadapi semuanya dengan kekuatan. Berbeda dengan sekarang, di mana Sofia sudah bisa menghadapi semua rasa sakit dan sesak miliknya dengan kekuatan yang dia miliki, walau belum sepenuhnya.             “Nyaris mati gimana?” tanya Erzan. Tanpa sadar, suaranya mulai gemetar. Entahlah, ada perasaan asing yang menyusup masuk ke dalam hatinya.             Dia tidak ingin Sofia terluka atau berada dalam fase seperti yang cewek itu baru saja katakan.             “Dulu, waktu SMA, gue benar-benar frustasi.” Sofia mulai bercerita. Nadanya menerawang. “Nyokap tiri gue itu nggak pernah suka sama gue sejak dulu. Kalau di depan bokap, dia akan menjelma jadi ibu super baik, seperti di cerita-cerita dongeng. Tapi, kalau bokap nggak ada, dia bakalan natap gue dengan tatapan super jijik dan kebencian yang terlihat jelas. Seolah-olah, dia mau bilang kalau gue ini pengganggu. Kehadiran gue sama sekali nggak diharapkan.”             Erzan mengalihkan tatapannya dari wajah Sofia. Cowok itu menatap laut sekarang. Berusaha mengusir rasa sesak yang muncul hanya karena mendengar cerita Sofia.             “Sejak kecil, gue nggak pernah ngerasain kasih sayang seorang ibu karena nyokap kandung gue udah meninggal dunia. Gue juga nggak punya teman. Dari dulu, semua orang menjauh dari gue, tapi gue berusaha baik-baik aja. Gue menerima semuanya dengan hati sabar. Toh, kata orang, Tuhan nggak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hamba-Nya, kan?”             Erzan mengepalkan kedua tangannya tanpa sadar.             Cukup, Sof!             “Waktu SMA adalah puncak rasa sakitnya. Gue nggak bisa nahan lagi, nggak tau kenapa. Gue kehilangan kesabaran gue dan akhirnya meledak. Gue kabur dari rumah, dan waktu gue sadar, gue udah ada di salah satu kamar di rumah sakit. Kata suster yang datang meriksa gue waktu itu, gue koma hampir dua bulan. Gue ditemuin masyarakat dalam keadaan berlumur darah karena jadi korban tabrak lari. Tapi, beberapa saksi bilang, gue cuma diam bagai patung di tengah jalan waktu itu. Seolah-olah....”             “Lo... bunuh diri?” tanya Erzan, menyelesaikan kalimat Sofia barusan. Cewek itu menoleh sekilas dan tersenyum getir.             “Mungkin.”             Ketenangan Erzan mulai hilang. Kalau... kalau saja waktu itu dia sudah mengenal Sofia, mungkin dia akan depresi karena cewek itu berniat mengakhiri kehidupannya. Meskipun terkadang menyebalkan, tapi Sofia adalah temannya. Dia tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada cewek itu.             Teman? Apa benar lo hanya menganggap Sofia sebagai teman, Zan?             Erzan tersentak ketika mendengar kata hatinya sendiri. Cowok itu memejamkan kedua mata, berniat menenangkan otak dan hatinya.             “Ada satu yang nggak pernah gue tau kebenarannya sampai detik ini.”             Suara Sofia yang terdengar pelan dan lembut kembali menggema, mengembalikan Erzan ke dunia nyata.             “Suster pernah bilang, beberapa kali, ada anak SMA yang kemungkinan seumuran gue, datang menjenguk sambil membawa bunga lili. Seminggu tiga kali, cowok itu bakalan datang dan menatap gue dari balik kaca jendela ruang ICU. Dia menitipkan bunga lili itu ke suster untuk ditaruh di dalam ruangan. Katanya, untuk seorang cewek cantik yang terlihat sangat anggun saat sedang tertidur.”             Erzan menatap wajah Sofia yang terlihat... bahagia.             Bakpao dan si pembawa lili putih. Kenapa gue nggak suka kalau lo menceritakan cowok lain dengan mimik bahagia seperti itu, Sof? Kenapa rasanya nggak enak?             “Cowok itu berhenti datang, saat minggu ketiga.”             Erzan menarik napas panjang dan menatap pasir di dekat kakinya.             “Boleh gue tanya sesuatu, Sof?”             Cewek itu mengangguk.             “Waktu lo pingsan karena demam di rumah gue, lo sempat mengingau soal bakpao.” Erzan menoleh dan menatap tegas manik Sofia yang rupanya juga sudah menatap ke arahnya. “Siapa itu bakpao?”             “Bakpao?” ulang Sofia. Cewek itu mengerutkan kening sejenak, kemudian tersenyum senang. “Satu-satunya orang yang mau berteman sama gue, mau mendekati gue, saat gue SD dulu.”             “Namanya Bakpao?”             “Gue lupa namanya,” jelas Sofia sambil tertawa. “Yang gue ingat, gue selalu manggil dia dengan nama bakpao karena pipinya yang gembil dan lucu. Tapi, dia pindah sekolah waktu kelas empat.”             Keduanya diam. Sofia memejamkan kedua matanya dan menikmati suara ombak serta angin laut yang semakin terasa sejuk. Dia menghirup dalam-dalam aroma laut tersebut dan membuka mata. Perasaannya sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya. Kemudian, cewek itu berdiri dan membersihkan bagian belakang celana jeans-nya.             “Ayo, kita jalan-jalan lagi, Zan!” seru Sofia bersemangat. Cewek itu memutar tubuh, berniat berjalan lebih dulu, saat mendadak tubuhnya berputar cepat akibat tarikan kuat pada lengannya. Sofia tersentak dan mendongak. Wajah Erzan terlihat datar dan cowok itu menunduk. Tangannya masih mencekal erat lengannya.             “Erzan?” panggil Sofia heran. “Lo kenapa?”             Erzan tetap diam. Cowok itu sedang memantapkan hati. Kemudian, kepalanya terangkat. Manik itu menatap tegas manik Sofia, membuat Sofia mengerjap dan mengerutkan kening.             “Zan?”             “Gue nggak suka sama ucapan lo di surat, juga ucapan lo ke Redhiza di telepon. Waktu lo bilang, kalau ini mungkin terakhir kalinya kita ketemu.” Erzan berkata dengan nada tegas. “Gue nggak suka waktu lo menceritakan soal teman masa kecil lo juga cowok pembawa bunga lili dengan wajah bahagia. Gue nggak suka dengan kenyataan kalau gue jadi posesif begini hanya karena pengaruh lo di sekitar gue. Gue nggak suka.”             Sofia semakin mengerutkan keningnya. Tidak mengerti sama sekali.             “Erzan, lo ngomong apa, sih?”             “Gue mau batalin kontrak kita.” Erzan kembali bersuara. “Gue mau batalin kontrak pacaran kita. Gue nggak mau jadi pacar pura-pura lo. Gue mau jadi pacar sungguhan dan melindungi lo seterusnya.”             DEG!             “Gue rasa... gue mulai jatuh cinta sama lo, Sofia.”   We keep behind closed doors... Every time I see you, I die a little more... Stolen moments that we steal as the curtain falls... It'll never be enough... It's obvious you're meant for me... Every piece of you, it just fits perfectly... Every second, every thought, I'm in so deep... But I'll never show it on my face... But we know this, we got a love that is homeless... (Secret Love Song-Little Mix feat Jason Derulo)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN