Pesona Sang "DONJUAN" Manager

1431 Kata
CHAPTER 05. BERSAMA RISA DI PANTAI Kemudian kita ke parkiran untuk naik motor menuju pantai di utara kota Jakarta. Selama di motor, Risa selalu meletakkan kepalanya di punggungku dan tetep merangkul erat pinggang ku. Setelah setengah jam sampailah di pantai, kemudian aku bayar untuk tiket masuk dan mengunjungi kawanku di arena Singa Laut dan Lumba-lumba. Sampai di parkiran motornya aku telpon temen lamaku disana, ternyata dia masih tugas di dalam sebagai operator dan aku menunggu sambil menghisap rokok sebatang. Tak lama kemudian dia datang menyambutku. “Hai Bro, apakabar? Tumben mampir, ada angin apakah ini?” tanyanya. “Baik bro, maaf ini kenalin pacarku, Risa. Kami ingin nonton pertunjukan Singa Laut bisa?” Cicitku ke dia memperkenalkan Risa. Kemudian Risa dan temanku yang bernama Bram saling bersalaman. Bram sepertinya tak percaya kalau Risa itu pacarku. “Bisa bro, beneran itu pacar ente?” tanyanya. “Iya, bro, baru jadian kemaren bro, teman kantor,” Cicitku menjelaskan nya. “Oh ya Sudah siplah. Ente mau masuk bareng dia?” tanyanya. “Iya,, boleh ente bantu?” tanyaku. “Siap, ayo ikut Ane,” katanya. “Yuk sayang kita masuk, mumpung ada juragan Singa Laut,hehehehe” Cicitku. “Risa baru ke sini? atau Sudah pernah?” tanya Bram. “Belum sih, kalau ke arena Singa Laut,” katanya. “Ya, kamu dan Risa boleh masuk nanti setelah setengah jam lagi. Tadi saya keluar karena baru selesai tugas di dalam,” katanya. “Siap bro, makasih ya tiket nya,” Cicitku. “Siap bro, hati-hati ya,” kata Bram. “Sip broo,” Cicitku. Aku dan Risa menunggu sekitar 20 menitan dan kemudian masuk dengan tiket yang diberikan oleh Bram tadi. Risa selama pertunjukan tertawa terus melihat aksi Singa Laut yang lucu. Aku senang bisa melihat Risa tertawa dan selama di dalam Arena Singa Laut dia tidak pernah melepas genggaman tangannya. Dia kadang meletakkan kepala nya ke bahuku dan seperti nyaman sekali. Akhinya selesai pertunjukan Singa Laut kami mengucapkan terima kasih kepada Bram dan pergi setelah berpamitan. “Terima kasih sayang, kamu sudah mengajak aku ke situ tadi. Sangat menghiburku setelah penat di kantor tadi banyak DO yang harus aku buat,” katanya. “Iya, sama-sama sayang, aku juga terhibur tadi, hehehehe,lucu ya mereka,” Cicitku. “Abis ini kita kemana sayang? Makan yuk, tapi kita harus keluar yank,” kata Risa. “Gak perlu seafood sayang, apa ajah yah, soalnya aku sudah laper banget, Sudah jam 8 malam lebih ini sayang,” Cicitku. “Iya, deh, makanan cepat saji aja yah?” tanyanya minta persetujuanku. “Iya, apa ajah sayang ku, kamu yang milih ya, aku ikut saja. Yuk sambil jalan nyari makanannya,” Cicitku. Kami jalan naik motor dan jatuh pada pilihan ayam krispi yang lezat. Setelah makan kami melanjutkan pergi keliling untuk mencari tempat yang pas untuk berpacaran. “Disini aja ya sayang,” Cicitku. “Boleh yank, disini juga enak kayaknya,” kata dia. “Yuk turun,” Cicitku sambil memarkirkan motor ditempat nya. Setelah turun ada kursi panjang menghadap kelaut. “Sayang kamu seneng pemandangan laut ya?” tanyaku. “Hhmm gak juga sih. Aku lebih suka sama gunung dan pemandangan alam pohon,” katanya. “Iya, sama, aku juga lebih senang gunung. Kapan-kapan kita ke tempat yang dingin ya, kan banyak Gunung di Jawa Barat,” Cicitku. “Boleh, cari libur yang panjang yank biar kita bisa kesana lebih lama,” katanya, “Eh bukannya minggu depan ada libur dari sabtu,” Cicitku. “Oh sabtu depan libur ya sayang? Yuk kita ke Bandung, kan dingin. Kayaknya enak ke ciwidey yank, naik motor ajah biar romantis,” katanya. “Gak usah yank, nanti aku bawa mobil saja,” Cicitku. “Oh kamu punya mobil yank?” tanyanya. “Punya sayang, emang kenapa?” tanyaku. “Kok gak pernah dibawa ke kantor sih?” tanyanya. “Ah males, macet, bisa jam berapa aku berangkat dari rumah? Abis subuh kali baru sampe kantor sebelum jam 8,” Cicitku. “Hehehehe…iya ya, mending naik motor ya yank, cepet,” katanya. “Nah itu pintar,” Cicitku sambil mencubit pipinya yang agak cubby. “Yank, baru sekali jalan sama kamu saja aku Sudah bahagia banget loh” kata Risa. “Beneran yank? Ya Sudah kita akan sering jalan ya. Oh iya sayang, aku ada hadiah buat kamu, jangan ditolak ya, soalnya walaupun jelek, aku belinya di luar negeri, special buatmu,” Cicitku. “Apa itu sayang?” tanya Risa penasaran. “Ini, sayang,” Cicitku sambil mengeluarkan kotak berisi Jam tangan dari Swiss. “Ah, kamu yank, bisa ajah membuat aku bahagia. Ini Jam tangan bagus banget sayang, tapi apa aku pantes mengenakannya? Apa gak sebaiknya buat pacarmu di jawa saja?’ katanya. "Sudah pakailah, aku senang kamu yang memakainya. Lagi pula aku gak pernah memberikan ini kepada siapapun termasuk pacar ku yang di jawa. Jadi menurutku kamu memang pantas memilikinya," Cicitku sambil mengenakan di tangan sebelah kanannya. "Wah, indah sekali sayang, kamu emang suamiku yang ganteng. Eh..pacarku..," katanya meralat. "Hahahahaha...makasih sayang kamu sudah menganggap aku suamimu, aku sangat tersanjung sayang," Cicitku. "Yuk, kita pulang sayang, ini sudah jam 10 malam, aku anter kamu pulang ya sayang," Cicitku. "Yuk, nanti anter aku sampai bawah jembatan kereta saja ya," kata Risa. "Ya, sayang," Cicitku. Setelah itu kami pulang dan mengantarkan Risa sampai di bawah jembatan kereta. "Sayang, aku besok ada acara keluarga, jadi nanti aku ajah yang telpon ya. Kamu gak usah telpon aku sebelum aku telpon kamu," Cicitku. “Ya, sayang, tapi kalau chat boleh kan?" tanyanya. “Ya, boleh sayang, bebas kalau chat, tapi kalau aku balas agak lama jangan marah ya sayang?" tanyaku berharap. “Ya, sayang aku mengerti," katanya. "Aku pulang dulu ya pangeran hatiku, love you so much," katanya sambil mencium pipiku. “Love you too bidadari cintaku,” balasku sambil dibalas senyuman oleh Risa. Aku heran sama Risa, kenapa dia mau jadi pacar ku padahal dia tau kalau aku Sudah punya pacar dan sudah akan tunangan. Tapi entah kenapa, sosok Lina di dalam benakku makin lama terasa oleh rinduku kepada Risa. Setelah itu aku lanjutkan motor menuju rumah. Sekitar 1 jam lebih sampai dirumah, Ku lihat HP ada banyak telpon masuk yang tak kujawab, karena memang dari tadi semenjak dari pantai aku matikan HP ku. Setelah mAdi dan bersih-bersih kutelpon Lina yang tadi sudah 8 kali menelponku. mudah-mudahan dia gak curiga. “Halo, ya sayag, tadi nelpon? Maaf ya sayang tadi ada 2 kontainer masuk dan aku mengawasi bongkar nya jadi pulang malam. Baterai mau pulang Sudah 5% jadi aku matikan dulu sampai dirumah,” Cicitku. “Halo, Ya gak papa, kasih kabar aja kalau mau lembur gitu. Kamu sudah makan belum mas?” tanya Lina. “Sudah sayang kalau makan, tadi banyak makanan di kantor,” Cicitku. Akhirnya setelah 1 jam menelpon Lina aku istirahat karena sudah mengantuk sekali. Besok pagi jam terbangun dan sholat subuh. Setelah itu aku tidur lagi bangun jam 9 pagi. Badan lelah hanya hati penuh bunga-bunga kasmaran. Langsung saja kutelpon Risa, “Hai sayang, lagi apa?” tanyaku. “Lagi masak sayang buat makan siang,” katanya. “Oh kamu bisa masak sayang?” tanyaku. “Bisa dong, mau aku masakin apa mas ku tersayang?” tanyanya. “Masak apa ya? nantangin nih?” Cicitku. “Ya, gak papa, mau masak apa aja aku siap kalau untuk pengeranku yang aku sayangi sepanjang hdupku,” katanya lagi. “Kamu berlebihan sayang, aku bukan pangeran, aku hanya orang biasa yang mengharapkan cinta suci dari seorang bidadari pujaan ku,” Cicitku. “Ya, maaf sayang. Entah kenapa aku selalu memikirkan mu dan rindu setiap saat,” katanya memelas. “Iya, sama kalau rindu aku juga rindu sama kamu,” Cicitku. “Oh iya, jam berapa kamu berangkat ke acara keluarga?” tanyanya. “Hhmm sebentar lagi, abis mandi aku berangkat, ini semua sudah pada siap semua. Aku baru bangun sayang,” Cicitku. “Ya, sudah sana mandi nanti terlambat. Kasihan semuanya menunggu lama,” katanya. “Ya, sudah aku siap-siap dulu ya, sayangku,” Cicitku. “Love You Pangeranku,” kata Risa. “Love you juga, Bidadariku,” balasku. Akhirnya sebelum aku mandi aku telpon dulu Diana. “Hallo, hai Diana, lagi dimana nih?” tanyaku. “Hallo Mas Fernando? Gimana bisa anter aku gak ke Depok?” tanyanya langsung. “Bisa, palingan jam 11 aku sudah sampai dekat dengan rumahmu. Gak papa?” tanyaku. “Iya, aku tunggu ya. Terima kasih Mas Fernando….hhmm…love you,” katanya pelan dan langsung matikan telpon nya. “Hhm…dasar cewek kesepian,” Cicitku. Aku langsung mandi dan tancap gas ke rumah Diana. *** Pesona Sang "Donjuan" Manager by. SKI
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN