CHAPTER 06. PACARAN DENGAN DIANA
Setelah hampir 1 jam di dalam perjalanan akhirnya sampai di tempat aku menjemput Diana untuk pergi ke Depok. Setelah memberikannya Helm dan dia naik dibelakangku. Kemudian kulajukan motorku ke jalan yang ramai ke arah Depok.
Setelah 15 menit perjalanan Diana masih diam dan berpegangan pada pegangan belakang di motor tetapi karena ada kucing lewat aku yang akhirnya mengerem secara tiba-tiba membuat badan Diana menghantam punggungku dan akhirnya dia memelukku dari belakang.
"Maaf ya Diana, ada kucing tuh, nyeberang sembarangan ajah!" Cicitku kesal.
"Gak papa mas, aku boleh memelukmu seperti ini kan, supaya aku gak jatuh?" Ucap Diana berharap cemas.
"Gak papa, kalau bisa mesraan dikitlah, supaya ada bedanya, hahahaha," Cicitku menggoda.
“Ih, genit, iya emang mau beda kayak gimana?" Ucap Diana sambil mengelus perutku lembut.
Walaupun masih ada baju dan jaket tapi elusan itu membuat aku geli merinding dan ada dessiran halus di jantungku.
' Hhmmm rasain loh Mas Fernando, kamu gak tau kalau aku itu Penggoda ulung ' batin Diana.
“Iya, maaf sayang, geli ya?nanti aku kasih yang lebih geli ya?" goda Diana membisikkan nya di telinga kanan Fernando.
“Yang lebih gimana, Diana?" tanyaku.
"Kepuasan batin, sayang.." bisiknya lagi.
“Emang, kamu bisa?" tanyaku lanjut.
"Hhmm, mau?Nanti abis acara kita chek in yah..aku kasih kamu kepuasan yang belum pernah Mas Fernando rasakan seumur hidupmu," bisik Diana lagi.
"Gak ahh, kamu nakal banget sih Diana...Sudah gak perawan lagi ya kamu?" Cicitku menembak dia langsung.
"Hmm, masih mas, kan aku cuma sering liat di film dan video syur," Katanya.
“Emang, kayak gimana videonya?" tanyaku polos.
“Ya, nanti saja aku praktekan langsung dengan Mas Fernando, tapi ada syaratnya!" katanya sambil diam sebentar.
"Apa syaratnya, Diana?" tanyaku heran.
"Kamu menjadi kekasih gelapku dan kamu harus memberikan kepuasan kepadaku seminggu sekali. Kita bisa melakukannya di mana saja, hotel atau dimana saja mas," katanya.
"Wah, kalau tiap minggu chek in aku gak sanggup bayar hotel nya Diana," Cicitku.
"Aku sudah punya rumah di kawasan Depok mas, nanti kita bisa nginap disana, kalau kita mau ya," Ucap Diana.
' Wah gawat, kelas tinggi juga nih Diana '
“Emang, kamu mencari apa dalam hubungan kita?" tanyaku.
"Kepuasan batinku, Mas Fernando, rasa sayang yang nggak pernah aku rasakan dari seorang Pria. Dan kamu itu adalah Pria Idaman setiaap wanita, aku yakin kamu banyak yang menginginkannya…" katanya lanjut.
"Kamu gak menyesal nanti, kalau aku merawanin kamu, Diana?" tanyaku gemas.
"Nggak dong, kamu itukan Pria Idamanku dan kamu juga yang aku sudah sayangi, jadi aku rela untuk kesucianku, kukasihkan ke kamu," katanya berbisik lagi.
"Gila kamu ya Diana. Aku ini gak cinta sama kamu! kalau aku cuma nafsu saja gimana? Kalau kamu hamil gimana?" tanyaku lagi.
“Ya, gak papa, kalau aku hamil bisa aku gugurin sayang dengan obat. Pokoknya kamu santai ajah sayang. Aku juga bisa pakai pil anti hamil sebelum kita b******a," katanya lugas.
"Wah, kamu gak menghargai artinya komitmen dong Diana?" tanyaku.
"Komitmen sudah gak penting. Yang penting bagiku adalah menjadi wanitamu yang memuaskanmu!" katanya lagi tanpa beban.
“Ya, sudah ini sudah mau sampe, nanti kita lanjut lagi ya," Cicitku.
Sesudah sampai di tempat musik itu berlangsung, kami langsung menuju ke lokasi. Selama konser berlangsung, Diana selalu menggenggam tanganku dengan erat dan sesekali bersender di bahuku yang bidang.
"Mas, aku bosen, ke rumahku yuk," katanya.
“Ya,, yuk..aku juga gak suka jenis musiknya," Cicitku males sambil menarik tangannya.
"Asiikk, kita belanja dulu makanan sayang, di rumah gak ada makanan dan kita bisa santai disana sampai malam," katanya.
“Ya, Diana terserah kamu saja, kamu gak beli sekalian a**************i?" tanyaku menggoda.
"Hm, kamu mau nanti b******a? Ah, aku kok jadi berdenyut gini ya bawahku..langsung basah," katanya.
"Apanya Diana? Kamu basah kenapa? Kan gak ada air kita bawa?" tanyaku heran dan bercampur tidak paham sama sekali.
"Masa kamu gak tau sayang, ayolah aku Sudah gak sabar sayang," katanya.
Setelah itu kita sampai di suatu swalayan, dia membeli makanan matang, buah, dan minuman ringan.
"Mas nanti mampir ke apotek ya," katanya.
“Iya…Kamu mau beli obat apa? apa kamu pusing?" tanyaku normal.
“Iya, pusing, mau segera b******a sama kamu!" katanya lagi.
"Waduh, kamu ini m***m ya," Cicitku sambil mencubit pipinya yang tembem itu.
"Hahahaha,...makasih sayang sudah cubit mesranya," Ucap Diana senang.
Kemudian Diana tanpa malu mencium pipiku kanan dan kiri, aku gak bisa menghindar.
"Love you," bisiknya.
“Ih, Diana, gak malu apa sama orang lain," Cicitku merah pipiku.
"Yuk, ke apotek beli obat dulu," katanya.
Setelah ke apotek lanjut kita ke rumah Diana yang kecil tapi sudah lengkap perabotannya, ranjang besar, kulkas, televisi besar, lemari pakaian dan paeralatan dapur yang lengkap.
"Ini rumahmu Diana?" tanyaku heran.
“Ya, aku beli dua tahun lalu setelah aku mendapatkan uang warisan yang dibagikan keluarga," katanya.
"Gimana mas? Bagus gak?" tanyanya.
“Ya, bolehlah untuk gadis sepertimu, sudah mapan dan punya rumah. Emang kamu usia berapa Diana?" tanyaku.
"Usiaku baru 20 tahun mas? Kamu berapa?" tanyanya.
"Usiaku baru 25 tahun," Cicitku.
"Hhm, cocok ya beda 5 tahun, pasangan suami istri yang ideal mas," katanya sambil tiba-tiba mengelus pipiku dan dia memagut bibirku dengan mesra dan sedikit liar. Aku mengimbangi pagutan nya.
Setelah b******a hampir 2 jam, akhirnya kami berdua lelah dan tidur saling berpelukan. Diana kekasih gelapku yang nanti akan selalu membuatku puas, setiap saat ku mau (Mana ada kucing dikasih ikan asin menolak?? hehehe)
Akhirnya malam pun sudah memasuki pukul 7 malam, aku bangun dan ke kamar mandi dulu membersihkan sisa pertempuranku. Diana menyusul ke kamar mandi yang sengaja aku gak kunci. Dan akhirnya ronde selanjutnya terjadi di dalam kamar mandi.
Setelah mandi bareng kita akhirnya keluar dan memakai kembali pakaian yang berserakan di lantai.
"Mas aku bahagia, aku milikmu seutuhnya Mas Fernando," katanya sambil memelukku erat.
“Ya, Diana, terima kasih semuanya, maafkan aku yang telah menodaimu tadi. Aku khilaf Diana, aku minta maaf, lihat tuh di spray mu? Ada noda merah darah perawan mu, gak menyesal?" Cicitku sambil berpelukan dan mencium kening dan rambutnya yang wangi sekali.
"Gak mas, mas gak salah, kan aku yang duluan meminta dan memaksa mas. Aku ikhlas semuanya terjadi, aku siap menjadi orang kedua dalam hidupmu, asal kamu selalu tak pernah menjauhiku." katanya sambil menangis.
“Ya, sudah kita makan dulu yuk, aku lapar sekali ini. Oh iya, tadi kamu sudah minum obat anti hamilnya belum? Soalnya aku tadi nembak dua kali di dalam loh?" tanyaku.
"Sudah sayang tenang saja, liat nih..Aku suapin ya sayang. Kamu itu Sudah menjadi "Suamiku" mulai sekarang. Jadi kalau minta apapun ke aku ya sayang, aku akan memberikannya walaupun itu harus kujual semua hartaku demi hidupku denganmu," katanya lagi sambil dia memagut bibirku kembali.
“Ya, Diana, aku selalu akan menjagamu. tapi ingat hubungan kita di kantor hanya sebatas teman saja ya, supaya gak ada yang curiga," Cicitku.
“Iya, mas, aku akan siap menjalaninya, terima kasih sayangku," katanya