CHAPTER 09. SENSASI SI RISKA
Setelah bangun subuh kita siap-siap pergi ke kantor dan harus pagi berangkatnya, karena emang jaraknya jauh sekali dari ujung selatan Jakarta ke ujung utara Jakarta. Untung jalanan tak begitu macet dan jalan tol gak padat jadi kamipun sampai di lampu merah sebelum kantor masih jam 7an. Diana ku turunkan di lampu merah, untuk naik Ojol agar tak ketauan teman-teman kantor dan kulanjutkan mobil ke kantor.
Sampai di kantor, gudang belum terbuka karena Abah, kepala gudangnya belum sampe kantor. Jadi mobil sengaja kuparkirkan di halaman kantor yang udah dibuka pintunya. Langsung ku absen dan naik ke lantai dua. Udah ada teman kantor yang datang, tapi aku gak kenal banget hanya tau namanya saja yaitu Irene. Dia memang paling rajin kalau datang dan dia udah punya anak dua. Kusapa saja terus kuambil gelas minum dan gelas untuk kopi dan kuseduh kopinya.
Mas Adi Udah sampai juga dan kusapa,
"Mas, udah sehat?”tanyaku.
"Alhamdulilah Udah, tapi masih agak flu,” katanya.
"Oh gitu, ya udah, jangan berat-berat kerjanya,” Cicitku.
“Ya, Mas Fernando, eh Udah ada belum laporan QC beberapa hari yang lalu untuk kontainer elektrik?”tanyanya.
"Udah mas santai saja, nanti saya email ya, dan ada 2 kontainer lagi isi laporan pembeliannya belum saya dapet dari mas Adi, jadi saya belum bisa buat laporan QC nya,” Cicitku.
“Ya, gak papa, nanti saya kirimkan saRiskan PO nya, kayak nya ada dua pabrik berbeda itu, Mas Fernando,” katanya.
"Oh ya udah, saya tunggu saRiskan Po nya ya mas. Saya mau ke gudang dulu” Cicitku.
“Ya, siap,” katanya.
Kulanjutkan jalanku ke meja untuk meletakkan kopi terlebih udahulu. Kemudian lanjut ke gudang. Melewati jalan ke gudang harus melalui meja Risa dan Meja Diana. Ku lewat meja Risa dulu, dia belum datang, dan setelah kulewati meja Diana kulihat ada tas nya di mejanya hanya tak ada orangnya, begitu mau masuk ke gudang tools, lewat kamar mandi dan kumasuk dulu ke kamar mandi. Kamar mandi di lantai bawah itu nyatu antara kamar mandi pria dan wanita, begitu buka pintu kulihat, Diana abis cuci muka dan lagi merias. Kemudian kututup pintu dan kutahan pakai tangan kiriku, langsung saja kuraih bibirnya Diana dan kupagut bibir nya lama, kemudian kulepas dan kumasuk ke dalam kamar mandi.
Diana langsung berdehem, dan dia bicara,"Makasih sayang untuk ciuman paginya."
Kemudian Diana keluar dan kulanjutkan buang hajat nya, kemudian begitu keluar kulihat Risa sedang berdandan juga, kutahan pintu langsung kupagut juga Risa, dia kaget tapi langsung membalas, kami berpagutan cukup lama dan setelah lepas, kuberbisik
"Love you sayangku,”dan dia membalas,”Love you too sayang.”
Kemudian kukeluar begitu kutarik pintu, eh ada Riska baru dateng, dan dia seperti melihatku aneh,
"Pagi mbak Riska yang cantik dan seksi, baru datang? Ngopi yuk, di gudang?” Cicitku menyapanya.
"Hm, tumben pagi udah dateng, ya nanti aku ke gudang ya, nemenin kamu, ganteng,” katanya.
Aku langsung saja pergi dari situ agar gak menimbulkan rasa curiga dari Riska. Kemudian aku langsung saja ke gudang dan menemui abah disana, abah lagi ngopi juga dan sarapan, dia menawarkan ke saya, dan saya terima tawarannya akhirnya kami sarapan dan ngopi disana bicarakan hal yang berkaitan dengan kerjaanku yang berhubungan dengan gudang.
"Mas Fernando...Mas Fernando...loh katanya mau ngajak Riska ngopi? Kok ngopi nya sama abah sih?”tanya Riska yang langsung menghampiriku dan abah.
"Lah, saya lagi ngopi sama abah mbak Riska, ini aku juga baru saja selesai sarapan sama abah juga. Udah sarapan belum ini neng geulis?”tanyaku lagi.
"Udah, Mas Fernando yang ganteng,” kata Riska lagi.
"Riska, kok ke sini tumben amat? Biasanya malas ke gudang. Mau godain Fernando doank ya?” kata Abah.
"Ah abah mah, kan aku lagi ngobrol sama Mas Fernando, ganggu ajah nih abah,” katanya.
"Hmm, gak boleh, kamu ganjen banget sih!! Udah sana kawin cepetan, biar gak gangguin cowok-cowok disini lagi,” kata Abah sambil kesel kayaknya.
"Hm, abah gak bolehin Riska nih ke gudang?” kata Riska ngambek.
“Ya, Udah Riska ke dalam lagi ajah, daudah Mas Fernando...,” kata Riska.
"Hah, dasar lenjeh, bisanya godain doang tapi gak nikah-nikah,” kata Abah.
“Emang, kenapa abah sama mbak Riska itu, banyak kasus ya sama orang gudang katanya?” Cicitku nanya ke Abah.
“Iya, banyak yang kena porot sama si Riska itu, jangan mau Fernando kalau diajak jalan sama si Riska yang ganjen itu,” kata Abah.
"Siap bah, tapi dia orang lama ya, bah?" tanyaku lagi.
“Ya, lumayan lah, dia kesepian ajah, soalnya sering ditolak sama orang kantor jadi larinya ke orang gudang yang notabene masih pada muda dan gampang dibodohi,” katanya.
"Oh gitu, pantes dia jarang naik ke atas, malahan gak pernah ke atas,” Cicitku.
“Ya, biasalah pengen cari laki yang mapan,” kata abah.
Kulihat Riska menghampiriku lagi dari jauh, dia bawa makanan ke meja ku dan abah.
"Mas Fernando, ini ada kue tadi aku bawa dari rumah, mau gak ganteng?”tanya dia menggoda.
"Hm gak makasih Riska, nanti kuenya ada peletnya gak?hahahahaha,” Cicitku.
“Ihhh, melet gimana, sih? kayak gini?” tanyanya sambil melet-meletkan liudahnya.
"Hahahahaha,,,,enak juga tuh lidah dirasain,” Cicitku.
"Oh, Mas Fernando mau rasain Lidahku?”tanyanya.
"Gratis gak? Plus plus tapinya yah? Hahahaha,” Cicitku menggoda dia.
"Oh, mau plus plus yah..hmm..boleh tapi bayar 2 juta yah,” katanya berbisik supaya gak didengar abah.
"Kubayar 500 ribu ajah gak mau kok...hehehehe,” Cicitku juga sambil berbisik,
"Kalau gratis ayo,” Cicitku lagi.
"Hm kapan?”tanyanya.
"Kapan-kapan ya, aku masih sibuk, pacar-pacarku banyak yang masih nungguin, nanti kamu ambil tiket antrian dulu yah...” Cicitku pelan-pelan soalnya Abah masi di dekatku sambil memilah dokumen.
"Jangan lama-lama ya,” katanya lagi.
"Wah, tergantung sama antrian,” Cicitku.
"Ish, ya Udah aku ke dalam dulu, aku chat kamu ya ganteng, nanti,” katanya.
“Iya, silahkan,” Cicitku kemudian kupamit masuk ke gudang untuk melihat anak buahku di gudang service dan meninggalkan Riska yang bingung dan akhirnya dia lari ke dalam kantor.
"Pagi pak, Udah disambangin sama gadis kesepian tadi di depan,” kata di Eppi yang tadi melihat aku lagi ngobrol dengan Riska.
“Iya, tuh pi, ganjen banget, kurang kerjaan apa dia?” Cicitku.
"Pak si Riska itu kerjanya bagus, jadi disayang sama pak Oscar. Duit nya banyak itu, bonus nya gede terus tiap bulan, belum lagi dia sering dikasih sama toko-toko,” katanya.
"Ah, bodo ah, Eppi, aku gak cari pacar lagi, saya kan udah punya tunangan di jawa dan rencana menikah tahun depan,” Cicitku.
"Oh Udah ada calonnya, ya bagus pak, cuma jangan kegoda sama dia, jago merayu dia, hahahaha,” katanya.
“Ya, mudah-mudahan nggak Eppi, kerjaan Udah banyak yang selesai?”tanyaku lagi ke Eppi.
"Lumayan pak, ini udah selesai sekitar 80% dari targetnya,” kata Eppi.
"Sip, aku turun dulu yah, kasih tau si Dede dan Udin, nanti siang kita makan siang bareng yah,” Cicitku.
"Wah, boleh pak, mau ditraktir?"tanyanya.
“Ya, biar kalian semangat,” Cicitku.
"Siap pak, nanti saya sampaikan ke Dede dan Udin,” kata Eppi.
Akhirnya kuturun dari lantai 2 gudang dan masuk kembali ke dalam kantor. Melewati meja Diana dia senyum ke aku dengan manis, dan melewati meja nya Risa dia menatapku sambil senyum yang paling manis juga, Riska memperhatikanku, kutengokkan saja ke meja Riska, kemudian dia tersenyum juga menggodaku. Aku diam saja lewat tanpa senyum biar mereka gak ada yang iri.
Kemudian kunaik ke lantai 2 untuk bekerja.
Jam makan siang kutepati janjiku mengajak ke 3 anak buahku makan di rumah makan padang dan pulang perginya pun, naik mobil pak Oscar, mereka bangga sekali naik mobil bagus, tapi sebelum itu saya suruh dulu ganti baju ganti yang bersih supaya tidak mengotori mobil pak Oscar.
Setelah sampai di kantor lagi.
"Mas Fernando,”panggil Diana,
"Nanti sore, bagian siapa pulang sama mas?” tanyanya sambil berbisik.
“Ya, Risa donk, kamu maruk amat, kemaren udah sama kamu,” Cicitku.
“Iya, deh, awas kalau ngapa-ngapain yah,”ancam dia sambil berbisik juga.
"Biarin, kamu udah ngutang 2 kali sama kemaren, Minggu ini gak ada jatah pacaran lagi sama kamu, minggu ini full buat Risa yah, jangan ancem-ancem saya dan marah, awas yah!!” Cicitku sambil memakai mimik marah kepada dia sambil bercanda. Diana langsung cemberut dan gak mau noleh ke aku lagi.
Kunaik kembali ke lantai dua.
****
Pesona Sang "DONJUAN" Manager
by. SKI