CHAPTER 8. PEREBUTAN JADWAL KENCAN
Setelah duduk kami menunggu jus Alpukat yang aku pesan, mereka diam semua, aku cek Hp ku dan kulihat pesan dari pacarku di jawa, dia menanyakan kapan aku bisa ke Jawa karena dia kangen katanya. Aku jawab saja secepatnya, mungkin dua atau tiga minggu lagi.
"Gimana?Kita bertiga resmi ya pacaran?" tanyaku.
"Mas, ini gimana bayar nya? kan mahal makan disini?"tanya Diana.
"Gak tau Diana, nanti kalau gak bisa bayar aku gadaikan mobil pak Oscar saja, atau naroh KTP," Cicitku tenang berusaha untuk menguji mereka.
"Ayp kita pesan makanan yang banyak biar kita semua kenyang dan puas makan seafood, oke," Cicitku lagi. Kupencet saja tombol bel nya.
Kemudian datang pelayan sambil membawa 3 jus Alpukat ke meja kami," mau pesan apa pak?ini daftar menu nya," katanya sambil memberikan daftar menu baru. Dan kupesan 5 macam seafood termasuk dengan lobster yang mahal harganya. Setelah menunggu 20 menit semua hidangan tersedia, dan aku mulai makan. Diana dan Risa kit makan dalam diam.
"Ayo kalau mau nambah aku pesan lagi," Cicitku tenang sambil melihat menu lagi.
"Jangan sudah cukup mas, gak tau bayar nya ini," katanya. Aku tersenyum saja.
Sambil ku kirim chat ke Risa,
"Tenang, aku yang bayar semuanya, kamu makan ajah yang kenyang ya Risa sayang. Aku mau menguji Diana saja, kamu pura-pura gak tau ya, makan saja yang kenyang dan pesan lagi kalau kurang," pesanku.
“Ya, mas, aku juga kesel ternyata bener kan, kalau dia juga sayang kamu, Ih nyebelin dapat saingan baru mendapatkan hatimu, tapi kamu mengutamakan aku kan mas?" balesnya.
“Iya, dong sayang, aku emang sayang kamu, kalau sama Diana biar dia gak kecewa saja," balasku.
"Love you," balas Risa.
"Diana, aku mau nambah ah, mas pesenin kepiting lagi ya? Aku suka kepitingnya enak," kata Risa.
Diana melotot ke Risa,
"Risa yang bener ajah mesen lagi, kita bayarnya gimana, nih!!?" Tanya Diana sambil berbisik ke Risa.
"Kan Mas Fernando mau gadaikan mobilnya pak Oscar, jadi gak usah takut!!" katanya mantap dan yakin.
"Aku sudahan ajah makannya, Sudah kenyang," Ucap Diana.
Setelah makan kami sudah selesai, ku merokok sebatang dan mesan kopi ke pelayan. Kemudian kubuka omongan ke mereka,
"Gimana?sudah kenyang belum?"
"Sudah mas, Diana kamu sudah kenyang belum?" tanya Risa.
"Sudah Risa, Sudah kenyang sama harganya!!" katanya ketus.
"Hahahahaha...katanya mau layanin aku sebagai calon suamimu, Diana," Cicitku meledek dia yang sedang cemberut itu.
"Mas, ini mahal-mahal loh, aku ga sanggup kalau bayar sendirian, Risa juga mas," Ucap Diana.
"Kan sudah aku kasih tau, kalau kalian gak bisa patungan buat bayarin makanan nya, ya aku taroh aja mobilnya pak Oscar disini sebagai jaminannya!" Cicitku tenang.
Mereka diam, terutama Diana yang cemberut saja dari tadi. Kayaknya, dia manahan lapar karena makannya sedikit saja.
"Nah, sekarang aku ingin tau perasaan kalian ke aku. Ayo Diana, duluan," Cicitku.
"Hm, mas, aku sudah suka sama kamu sejak kenal sama kamu, aku mau kamu jadi pacarku selamanya,dan kalau bisa menjadi suamiku nanti," katanya.
"Terus apa yang akan kamu lakukan ke aku mulai dari sekarang, untuk membahagiakanku dan membuat aku memilih kamu untuk menjadi istriku?" tanyaku lagi.
"Aku akan melakukan apapun untuk kamu, dengan Ikhlas," katanya.
“Ya, kalau gitu nanti kamu bayar semua tagihan ini yah," Cicitku tenang.
"HAHHHH...., iya mas, aku bayar semuanya," katanya menundukkan kepala.
"Kalau kamu Risa, gimana?" tanyaku juga.
"Mas, aku sih akan patuh dan taat kepadamu, apapun yang kamu perintahkan," katanya.
"Apapun?" tanyaku.
“Ya, Apapun, karena aku kalau jadi istrimu nanti aku akan menjadi isteri solehah buatmu," katanya dengan serius.
"Bagus, terima kasih kalau kalian mau menjadi kesayangan saya mulai sekarang, oke...Yuk kita pulang," Cicitku lanjut.
"Aku ke toilet dulu ya, kalian tunggu saya di depan, jangan dibayar dulu!" Cicitku.
“Ya, mas," kata meraka kompak.
Setalah itu aku temui manager restoran ini yang ternyata teman kuliahku dan kuberitahu skenarionya di depan sana. Rio, manager resto ini menyetujui nya, kami berbincang sebentar saling menukar nomer Hp. Setelah itu aku keluar menemui mereka.
"Yuk, kita bayar," Cicitku.
"Diana, bayar sana," Cicitku.
"Mbak, berapa tagihannya?" tanyanya.
"Ini bu hanya 250 ribu saja," kata kasirnya.
"Hah, kok murah banget, kan kita Sudah makan banyak tadi?" tanya Diana.
“Iya, mbak, ini tagihan mbak semuanya 1,25 juta, tapi ada discount karena mbak adalah pelanggan kamu ke 1000 restoran kami dan mbak mendapatkan potongan sebesar 1 juta," katanya.
“Selamat malam, mbak, perkenalan saya Rio, Manager Restoran ini, selamat karena mbak adalah Pelanggan kami yang ke 1000, jadi kami berikan diskon sebesar 1 juta," kata Rio.
"Wah, beruntung banget kamu Diana, coba aku pesan lagi tadi nambah banyak, kamu juga bisa kenyang, Diana," Cicitku.
"Hm, ya sudah mbak, ini uangnya," Ucap Diana sambil menyerahkan uangnya.
"Terima kasih, Mbak. Semoga bisa datang lagi ke resto ini," kata Rio sambil mengedipkan mata ke aku.
“Ya, mudah-mudahan ada rejeki lagi mas," katanya.
"Sip ayo kita pulang, terima kasih pak Rio, atas semuanya dan pelayanannya," Cicitku.
“Ya, sama-sama pak, Selamat Malam" katanya.
Akhirnya kami bertiga kembali ke mobil dianter oleh Rio dan kami masuk ke mobil dan kembali ke perjalanan.
"Mas, antar aku pulang duluan, yah," kata Risa.
“Ya, Risa sayang," Cicitku.
"Eh, sudah pake sayang-sayang lagi, sebel, ganjen banget sih kamu mas!!," Ucap Diana ketus.
"Maaf sayangku Diana, aku juga kan harus adil sama kalian berdua," Cicitku.
"Urusan kita belum selesai! Kita harus kumpul lagi bertiga besok malam, harus adil dibagi bertemu kencan dengan kamu," Ucap Diana seperti memerintah.
"Eh kok gitu sih, mau nya aku lah mau kencan sama siapa? Kok diatur-atur jatah nya?" Cicitku senyum ke Risa.
“Ya, donk, biar adil!!" Ucap Diana.
“Iya, mas, sebaiknya kita bicarakan dulu supaya kita gak saling salah paham. Kalau lancar, kan enak kamu nya juga?" kata Risa.
"Risa, kamu mau berbagi dengan Diana?" Tanyaku.
“Ya, gimana donk mas, Diana dan aku kan memang sayang sama kamu, dan kami gak mau kamu permainkan perasaan kami. Kamu harus mengikuti permainan kami juga donk, biar adil," kata Risa.
"Nah itu mas, kamu harus ikutin acara kami!!" Ucap Diana mengingatkan.
“Ya, deh tapi kalau itu aku lagi di Jakarta ya, kalau aku lagi dijawa jangan ganggu aku!!" Cicitku tegas.
“Ya, mas kita janji gak akan ganggu mas kalau lagi di Jawa, oke, Diana?" tanya Risa lagi.
“Ya, setuju!!" Ucap Diana.
"Malam ini, Risa aku antar duluan?" tanyaku.
“Iya, mas," kata Risa.
“Ya, sudah oke," Cicitku sambil mengarahkan ke rumah Risa.
Kemudian sampailah di tempat Risa turun, karena dia tinggal jalan kaki dari depan g**g itu.
"Mas, makasih ya, sudah antar aku sampai rumah," katanya sambil cium tanganku dan cium pipiku,
"Love you mas," katanya berbisik di telingaku."
Kujawab pelan juga," Love you so much"
Diana pindah ke depan, terus dia gelendot di lengan kiriku.
"Mas, kamu beneran sayang sama Risa juga?" tanyanya.
“Iyah, emang kenapa? Aku emang suka dan sayang sama Risa sejak bertemu dia, abis menggemaskan dan lucu," Cicitku.
"Kalau aku, sayang gak?" tanyanya.
“Ya, sayang donk, setelah kita b******a muncul sayang ke kamu," Cicitku sambil mengelus bibir Diana yang mungil. Pas Lampu merah aku langsung kupagut bibirnya dan kusedot lama karena memang Lampu merahnya sekitar 2 menit.
"Sayang, cek in yuk sebentar," Cicitku ke Diana.
"Mas, gimana kita ke rumahku aja di Depok, mumpung naik mobil mas," tanya Diana.
"Boleh, tapi aku harus beli baju dulu di sana," Cicitku.
“Ya, mas, nanti aku beliin, mau?" tanyanya.
"Mau donk, masa gak mau dibeliin baju sama calon istri?" Cicitku.
Diana langsung bersemangat dan menciumi pipiku.
"Aku tambah sayang sama kamu, mas," katanya.
Sebelum sampai di rumah Diana, aku dibelikan baju mahal olehnya di swalayan dekat rumahnya. Dan tidak lupa dia beli ke apotek obat anti hamil hehehehe.
Sampai sana kita mandi bersama dan b******a sampe dua ronde dan kamipun tidur saling berpelukan sampai pagi.
*****
Pesona Sang "Donjuan" Manager
by. SKI