CHAPTER 13. CINTA KUAT MEREKA
Kami sampai di kantor kemudian kami masuk dan menuju meja masing-masing. Sorenya setelah jam pulang kerja aku turun ke gudang dulu untuk koordinasi dengan Aba dan ternyata kontainer nya tak jadi datang, kemungkinan semuanya masuk minggu depan.
Kuturun dan menuju mejanya Risa,
"Risa, aku sama Diana ya, kamu jaga baik-baik dijalan, nanti malam chat aku ya" pesanku ke Risa berbisik.
“Ya, mas, kamu juga hati-hati, terima kasih ya, love you!" jawabnya juga berbisik kepadaku.
[Diana, tunggu tempat biasa ya, aku mau ke ATM sebentar!] chatku.
[Ya, mas] Balas Diana.
Kemudian ku arahkan mobil dari kantor ke ATM terdekat disitu dan lanjut ke tempat janjian dengan Diana. Kulihat Diana sudah berdiri disitu dan kuklason sebelumnya.
"Masuk Diana," Cicitku sambil membukakan pintu sebelah kiri.
Setelah Diana masuk dia langsung pasang Seatbeltnya dan dia langsung mencium pipiku.
"Kangen banget mas, aku sama kamu,"
"Ah, masa? Kan kita baru jalan bareng tadi,"
“Iya, gak tau aku makin sayang kali sama kamu, kamu selalu yang paling kudambakan menemaniku terus sepanjang hidupku!!" katanya sambil menatapku dengan mata yang penuh harap.
"Hm, ya, mau hamil duluan gak, hahahaha?" Cicitku sambil tersenyum dengannya.
“Ih, kok hamil duluan? Aku pengen normal menikah tuh bukan karena hamil ataupun karena terpaksa!!" katanya jutek dan ketus.
"Hahahaha...ya tunggu kalau gitu, sabaar diiinneee...aku juga kan lagi baru mulai bekerja, belum tau ke depannya sayang," sambil kuelus rambutnya kemudian turun ke pipinya. Begitu dia menengok kucium bibinya yang mungil itu, dia membalasnya dengan sambil menyedot kedua bibirku. Pada saat itu memang lagi di lampu merah jadi aman kita pelukan. Setelah lampu pindah ke hijau kulanjutkan lagi menjalankan mobil langsung ke arah rumah Diana.
“Yank, kuncinya sama siapa?" tanya Diana.
"Oh iya !! Kuncinya sama Risa sayang, wah kamu telpon gih Risa!! Maaf ya sayang, untung masih disini, nanti suruh dia antar saja pakai OJOL dia kemari," Cicitku.
Kemudian Diana menelpon Risa dan menyuruh Risa sesuai dengan yang dikatakan oleh Fernando.
"Sudah mas, dia mengarah ke sini, terus Risa kita antar dulu ke rumahnya?"
"Hmm, kalau kita angkut ke rumahmu sekalian boleh, gak???"
"Ish, kok gitu sih? Kan, gak bisa b******a kita?!!"
"Siapa bilang gak bisa?!Ya itu sih bisa diatur Diana!" Cicitku mengerlingkan mataku.
“Ya, sudah deh, boleh!" katanya sambil jutek mukanya.
kemudian sekitar 15 menit kemudian pintu mobilku diketok sama Risa,
"Mas, ini kuncinya,"
"Sudah kamu masuk sekalian Risa ke mobil!!" Cicitku.
Kemudian Risa naik ke mobilku dan kujalankan kembali ke jalan raya.
"Mas, aku nanti mau diantar pulang?"
"Gak Risa, kamu ikut kami ajah ke rumah Diana!"
"Hah, ke rumah Diana lagi?" katanya heran."Kan, ini jatah Diana mas?!" lirihnya.
“Iya, gak papa kita bertiga nanti mainnya, kalian kan semua calon istriku, jadi boleh dong kalau main sama kalian juga barengan??!!" Cicitku sambil tertawa dalam hati,
'Wah enak nanti bisa b******a bertiga alias Three Some' Cicitku dalam hati.
“Ya, Sudah aku ikut kamu aja mas!" kata Risa.
"Kamu gak papa, Diana?" tanya Risa malu.
"Hm gak papa Risa! Nanti kita gantian ajah garap Mas Fernando, pengen tau dia kalau main bereng kita berdua, dia sanggup gak!!" Ucap Diana sambil melirik ke arahku.
"Siaapp, tenang ajah sayang ku berdua, aku siap menantang kalian berdua, awas kalau aku sampai gak puas nanti!!" Cicitku berkata agak mengancam.
“Emang, kalau kamu gak puas gimana??!" tanya Diana agak takut.
"Kalian harus traktir aku makan di hotel BIVAK atau Seafood waktu itu," Cicitku yakin.
"Hah,.mas, belum gajian ini masih pas-pasan!" katanya merengek.
“Ya, kalau gitu puasin aku yah!!" Cicitku.
“Iya,!!" Katanya kompak dan aku seneng mereka sudah bisa saling perhatian dan pengertian.
Kemudian aku arahkan melaju ke jalan tol dan sampai di rumah Diana pas jam 8 malam.
Kami bertiga masuk dan aku menurunkan barangku dan barang Risa dari mobil.
Risa masuk dan langsung ke kamar mandi untuk mandi, soalnya dia bilang badannya lengket. Diana yang melihat Risa masuk kamar mandi langsung memelukku dan ingin dipuaskan. Aku langsung b******a cepat dengan Diana, dan sempat dia k*****s sebanyak dua kali.
Melihat Risa akan keluar, aku suruh Diana pakai handuk dan mandi bareng dengan ku, di dalam kamar mandi Diana kembali k*****s dua kali dan akhirnya kami mandi bersama. Begitu keluar kamar mandi aku liat Risa sedang menonton TV. Diana langsung ke dapur dan masak buat makan malam bersama.
Melihat Risa mesem saja kemudian kupagut mesra bibirnya dan kubopong Risa ke kamar, disana kami b******a dan akhirnya aku k*****s di dalam rahimnya Risa dan desahan dan teriakan kami pada saat k*****s membuat Diana tak sabar mengintip ke dalam kamar.
Akhirnya kami memakai pakaian kembali dan keluar kamar dan kulihat Diana sudah menunggu di meja tamu dengan sajian makan malam yang seadanya. Kami makan bersama. Aku buat aturan pada saat makan malam bersama. Aku akan suapin Diana dan Risa bergantian dan mereka menyuapi aku kemudian bergantian. Kami lakukan sambil berbincang-bincang masalah di kantor.
"Di kantor sudah ada gosip gak mengenai kita?" tanyaku kepada mereka.
"Ada mas cuma mereka hanya bilang kalau kita bertiga ini kayak sahabatan"
"Kata siapa itu?"
"Kata Afung, dan Riska sekarang gak ember lagi setelah melihat sikap kita di makan siang itu!" Ucap Diana.
“Iya, Mas tenang saja, aman kok"
"Diana, kamu rencana dengan hubungan kita gimana?" tanyaku kepada Diana sambil menyuapi Risa.
"Mas, aku sih nurut sama Mas Fernando saja bagaimana nanti" katanya menjelaskan.
"Kalau kamu, Risa?"
"Aku juga dan aku sih janji akan selalu setia menemani kamu seumur hidupku!" ujar Risa.
"Kalau aku menikahi yang di Jawa bagaimana dengan kalian?" sambil kumelihat ke muka mereka berdua.
Mereka saling berpandangan satu sama lain dan akhirnya Diana bicara duluan,
"Mas, kalau kamu menikah dengan mbak Riska yang di Jawa, aku nih ya, aku sih gak papa tapi dengan satu syarat!" katanya,
"Setelah kamu menikah tiga bulan kemudian kamu harus menikahiku siri dan aku akan berhenti bekerja dari sana!"
"Loh kok mengundurkan diri? Kan, lebih baik kamu ketemu terus sama aku di kantor sayang" Cicitku sambil mencium bibirnya di depan Risa. Risa terlihat salah tingkah malu-malu.
“Ya, begini mas, aku ingin kamu menyediakan waktumu di rumahku setelah pulang kerja atau kamu bisa membagi waktu untuk menjaga kualiti time bersamaku, sebelum kamu kembali ke rumah istrimu yang di jawa.
"Hm begitu maksudmu? Ya akan aku pikirkan nanti, tapi ya aku bisa saja kok sayang, membagi waktu abis pulang dari kantor, kalau ada waktu ya aku bisa menemani kamu kok," Cicitku lanjut.
"Kalau kamu, Risa sayang?" aku cium dia sebelum dia bicara.
"Mas...kalau memang kamu menikahi Diana ya 1 bulan kemudian kamu harus menikahi aku juga, terus aku sih tetap mau kerja sayang, dan aku mau hidup satu rumah dengan Diana saja!!" katanya yakin.
"Hah, satu rumah sama aku??!!" Ucap Diana kaget.
“Iya, Diana, kalau kita kan Sudah biasa membagi waktu buat Mas Fernando, kayak gini ajah kan? berarti bisa nantinya!!" kata Risa meyakinkan Diana sambil memegang kedua tangan Diana. Ku senyum-senyum saja melihat mereka.
"Sayang terima kasih buat kalian berdua, aku akan selalu memprioritas kan kalian berdua, dan kalian berdua harus memberikan aku anak loh, oke, dan satu hal lagi, pokoknya kalian harus menjaga cintaku dengan baik, dan jangan selingkuhiku!!" Cicitku lagi sambil kupeluk mereka berdua dan mencum kening mereka satu persatu. Kami bertiga saling berpelukan dan aku ciuman gantian dengan mereka berdua.
"Eh habiskan dulu makan kita dong, yuk, hahahaha," Cicitku sambil tertawa. Mereka dengan sabar bergantian menyuapi ku makan, begitu juga sebaliknya.
****
FLASHBACK..PAGINYA HARI ITU
Tiba-tiba ada telpon masuk ke HP ku dari calon istriku di Jawa,
"Halo, assalamualaikum, mas"
"Waalaikumsalam, sayang"
":Lagi, dimana?"
"Aku lagi di rumah kawan, di Depok sayang"
"Oh, temen kuliahmu?"
“Iya, temen kuliah, tadi ketemu gak sengaja ketemu di rumah makan pas makan siang, taunya dia kerja di dekat sana juga. Pulangnya aku sekalian mau ketemu sama kawan juga di Depok yang kebetulan dekat rumahnya. Temen deket dulu, si Ewing dan Ikhsan." kataku berbohong.
"Oh gitu, ya sudah, Mas kapan ke sini? Sudah lama aku rindu banget sama mas." tanyanya.
"Aku juga rindu sayang, cuma kerjaan juga lagi numpuk, palingan aku bisa kesana hari sabtu pulang minggu malam," Cicitku. “Ya, itu kalau tidak capek sayang."
“Ya, kalau sempet diusahakan ya mas, aku kangen banget ini, yang bawah juga sudah nyariin kamu, hahahaha"
“Ya, sayang sama, sudah kangen berat ini yang bawah juga!!" katanya sambil merengek.
“Ya, aku tunggu kabarmu mas, sekalian kita nabung barang buat Emas kawin dan cincin kawin sayang"
“Ya, nanti aku usahakan ya.." Cicitku.
“Iya, mas, love you"
"Love you too, sayang."
Kemudian telpon dimatikanku, ternyata Risa sudah memelukku dari belakang.
"Mas...yang bawah sudah pengen dicelup ini"
"Hahahaha...bisa ajah kamu" Cicitku sambil memeluknya.
Kemudian dia menciumi leherku dan aku kegelian. Kuberdiri dan kutarik badannya ke dalam pelukanku dan bibirnya langsung kupagut. Malam itu aku b******a dengan Risa sampai 2 ronde, didapur sekali dan di ranjang sekali.
"Sayang, ayuk tidur, aku capek banget!"
“Iya, Yuk, kita mandi dulu, biar tidur nya enak dan nyenyak!!"
“Iya, mas," kata Risa menyahut perkataanku.
Kemudian kami mandi bersama dan ke ranjang bersama. Dibalik selimut kami tidur saling berpelukan.
Paginya kami setelah subuh sudah meluncur ke kantor agar terhindar dari kemacetan, dan kami sampai dekat dengan kantor sekitar jam 6.30. Kucari jualan bubur Ayam dan sarapan berdua dengan Risa. Di rumah tadi cuma sempat makan roti dan minum s**u kotak di jalan. Risa semua sudah menyiapkan nya, setelah sebelum saya bangun ternyata dia sudah membersihkan rumah sampai bersih dan rapi.
"Sayang, yuk makan Bubur Ayam dulu, katanya disini enak"
“Iya, yuk turun mas!"
Kemudian kami makan sampai kenyang dan ku minta penjualnya bungkus 3 bungkus untuk kuberikan kepada Diana, Abah dan Riska. Setelah kubayar kemudian Risa kuturunkan di tempat bias dan kulanjutkan ke kantor.
Sampai disana setelah kuparkir mobil, kumasuk dan absen pagi. Kulihat meja Riska masih kosong, dan meja Diana sudah datang. Kemudian kutaroh aja di meja nya bubur ayam dan kutulis dari aku. Aku jalan kemudian ke gudang dan bertemu dengan abah,
"Bah, ini saya belikan bubur ayam buat abah, dimakan ya bah!"
"Wah terima kasih Fer, repot aman beliin saya sarapan bubur ayam!" kata abah lagi.
“Ya, bah cuma bubur ayam saja"
Kemudian Abah makan bubur ayam nya dan setelah selesai mengambil kopi dan menyediakan kopi segelas untukku.
"Ini Fer, kopinya, hahahaha"
"Ah, abah juga merepotkan saja, hahaaha"
"Ah, cuma kopi Fer, hahahaha" kami tertawa berdua.
"Gimana Bah, minggu ini ada kontainer masuk gak?"
"Kayaknya ada 5 kontainer lagi belum masuk kalau minggu ini gak masuk ya minggu depan masuknya, kan ini sudah hari jumat Fer," kata Abah.
“Iya, ya bah, pengennya sih gak usah ada yang masuk jadi gak lembur, hahahaha"
“Ya, berdoa saja Fer, ini lagi kenceng penjualan Stabilizer nya,"
“Iya, padahal merk sendiri ya bah, tapi banyak banget penjualannya, itu ajah Sudah langsung ludes ya bah," Cicitku kepadanya sambil merokok.
“Iya, itu mah yang digudang tinggal kirim gak ada sisa, dari gudang retur dan service ada gak?" tanya abah.
"Nanti saya tanya sama Dede dana Ephi dulu, kemaren emang gak diturunkan, bah?"
"Sudah sebagian cuma masih ngejar target mereka, tinggal dus nya ajah Fer, disiapkan"
"Oh, kalau gitu saya cari nanti supllier dus nya"
“Iya, Fer cepetan, dus dalam dan luar juga ya"
"Siap bah"
Kemudian setelah kopiku habis kumasuk ke dalam kantor lagi dan lewat meja nya Diana,
"Mas Fernando, makasih ya bubur ayam nya, besok-besok yang lain ya? Hahahaha..." Ucap Diana sambil ketawa.
“Iya, tenang saja mana duitnya?" Cicitku sambil tertawa juga.
"Hahaha, sukurin loh Diana," kata Afung teman samping mejanya.
"Mas Fernando ganteng, terima kasih ya bubur ayamnya," kata Riska sambil merajuk gitu dan merayu muncul dari belakang.
“Iya, Sudah abis belum, Riska?" tanyaku kepada dia.
"Sudah mas, aku dan kenyang, ini yang beli di dekat minimarket itu ya?"
“Iya, Riska, kok tau?"
"Disitu emang enak, sih,"
"Eh, iya tapi Sudah abis belum?"
"Sudah Mas Fernando ganteng, emang kenapa?"
"Alhamdulillah, Pelet jaran goyangku sudah masuk ke badanmu dong, hati-hati mulai nanti malam kamu bakalan gak bisa tidur pengen ketemu sama aku loh, Haahahahahahahaha..." Cicitku sambil tertawa keras senang telah menggoda dia.
“Ihhh, kok ada peletnya? Waduh nanti Risa dan Diana bisa menerima aku gak? hahahaha"
“Ih, Riska, apa sih? Silakan ajah kalau Mas Fernando suka sama kamu, karena Mas Fernando kan sudah punya tunangan di Jawa, apa hubungannya dengan ku, Riska?"
"Oh, kamu sudah punya tunangan, ya? Kok gak ngomong sih? aku boleh jadi yang kedua gak?"
"Hahahaha, ngaco kamu Riska, aku kan cuma mau satu saja istriku,"
"Ah, yang bener? satu sana, satu di jawa, satu disini, hahahaha, SETIA " Setiap g**g Ada" hahahaha," kata Riska sambil tertawa dan kami semua tertawa.
"Oh, mau nih jadi yang kedua?" tanyaku lagi kepada Riska.
"Hmm, mau dong, tapi harus yang jadi utama ya?" kata Riska menggodaku dengan mengeringkan mata kanannya.
"Hah, males aku deh Riska, mending gak usah! ahaahah" Cicitku.
Kemudian aku ke atas dan ke meja kerja dan melanjutkan bekerja sampai makan siang.
Jam makan siang ku turun ke lantai 1 dan menemui Diana,
"Diana, makan siang yuk, mana Risa?" tanyaku setelah kuliat meja Risa kosong.
"Ayuk, itu Risa lagi di kamar mandi," Ucap Diana.
Kudekati Diana,
"Nanti malam jadi kesana?" Cicitku sambi berbisik.
“Ya, sayang jadi!" katanya pelan.
"Sip" Cicitku mengangkat jempolku ke arah nya.
"Yuk itu Risa sudah selesai, Risa kita makan siang sama Mas Fernando!"
"Yuk Diana, yuk mas!"
Kemudian kita bertiga ke luar dan kumasuk ke dalam mobil bertiga, tiba-tiba Riska menyusul,
"Aku ikut juga yah, awas kalau kalian gak ijinkan aku!!" katanya kemudian langsung masuk dan duduk di sampingku di depan.
"Kok, kamu disini, Riska?" tanyaku heran dengan kelakuan nya.
“Iya, Sudah cepetan nanti keburu siang!" katanya kemudian.
“Ya, sudah!!" Cicitku dan aku lanjut ke arah resto yang tak jauh dari situ.
"Eh, emang murah disini Fernando makanannya??"
“Ya, kalau gak mau mahal bayarnya, pesen saja nasi putih saja sama kuah air dan pesen air putih," Cicitku kesal sama dia.
“Ya, sudah deh, kamu kan yang bayarin?" katanya sambil tersenyum meledek.
"Enak ajah kamu main minta traktir!" Cicitku sebelum turun.
" Bayar sendiri-sendiri!!"
"Oh, bayar sendiri-sendiri ya?!" nada suaranya tercekat.
"Yuk Diana, Risa, kita turun," Semua akhirnya turun dan masuk ke dalam resto. Setelah kita pesan makanan masing-masing kami terlibat obrolan,
"Fer, jadi kalau kalian bertiga makan siang selalu bayar sendiri-sendiri? memang kamu gak bayarin Diana dan Risa?"
“Iya, dong, mereka kan bukan siapa-siapa aku Riska, termasuk kamu," Cicitku kepadanya dengan jutek.
"Kirain, kamu pacar mereka berdua??" tanyanya heran.
"Ah, kata siapa, mereka itu cuma teman curhatku saja," sambil kulirik mereka berdua dan mereka berdua diam saja.
"Risa, Diana, kamu gak pernah dibayarin makan sama Mas Fernando?" tanyanya.
"Nggak lah, kan Mas Fernando belum ada gaji bulan ini, masa mentang-mentang kita cewek minta bayarin makan, kita juga kan punya harga diri dan tidak suka morottin cowok yang suka makan siang bareng juga," kata Risa.
“Ya, sudah kalau gitu, maaf yah, aku kira kalian emang pada punya hubungan??" katanya.
"Kalaupun ada hubungan, ya kasihan lah sama dia," Ucap Diana.
Kemudian kami makan setelah pesanan kami sampai. Dan kembali ke kantor
***
Pesona Sang "DONJUAN" Manager
by. SKI