"Bangunlah, Adikku Sayang. Sudah pagi. Kau jangan tidur berlebihan. Sekarang sudah jam sembilan. Jangan malas. Cepatlah bangun." Varlotta dengan langkah yang malas berjalan ke arah pintu kamar tidurnya. Sangat lamban kedua kaki jenjangnya melangkah. Memang disengaja, mengingat rasa kantuk belum bisa hilang memengaruhinya. Ditambah dengan kelelahan karena menempuh penerbangan dari benua Eropa memakan waktu lama. Tangan kanan memegang sebuah tas belanja berwarna hitam dengan tulisan salah satu brand terkenal dunia, di dalamya ada kotak yang berisi hadiah khusus untuk sang kakak. Diambilnya sekitar sepuluh detik lalu dari atas nakas di dekat tempat tidur. Tok! Tok! Tok! Sungguh menyebalkan mendengar ketukan pada pintu yang berulang kali dilakukan oleh Darmo Vandara dengan cukup kencang. I

