Mencari Rahasia

1007 Kata
Bab 3 Mencari Rahasia Tapi keberpihakannya yang terlalu besar kepada ayah membuat Adelia tidak suka. "Kenapa kamu sama dengan ayah melarangku berjumpa dengan Atukku di Sumatera?" "Aku setuju dengan ayahmu. Tidak ada gunanya kamu pergi kesana," jawab Iwan Albert. "Sudahlah Adelia, jangan mencari masalah," ujar Iwan Albert pula. Adelia sangat kesal. Suaminya juga termasuk penentang Adelia untuk menemui kakek di desa “Adelia, ayahmu tidak harus disalahkan atas kematian ibumu. Kamu harus percaya, ibumu meninggal karena sakit." Lanjut Iwan Albert. "Kamu selalu membela ayah, aku selalu merasa ada sesuatu yang disembunyikan dari kematian ibu." "Apakah kamu yakin?" "Aku yakin," sahut Adelia. "Engkau dilarang ayah untuk pergi ke Sumatera bersamaku 'kan?" Kata Adelia sengit. Iwan Albert terdiam lesu, namun kemudian memberikan alasan. "Pekerjaanku banyak Adelia, lagipula aku tidak suka jauh dari kota," kata suami Adelia Iwan Alberth. "Lalu siapa yang menemaniku ke tempat kakek? Itu sehari perjalanan dari kota provinsi dengan mobil, " kata Adelia khawatir. Iwan Albert suami Adelia diam tidak menjawab. Tampak sekali dia enggan mendampingi Adelia. Adelia harus berusaha sendiri. Mencari rahasia ayah dan 'Atuk. Namun, dalam hati Adelia juga takut untuk mencari sesuatu yang tidak diketahuinya tentang dirinya sendiri. Apakah itu akan memuaskan hatinya atau menjadi bumerang nantinya? Pertanyaannya adalah! Mengapa Ayah dan 'Atuk atau kakek tidak bisa saling berbaik? Apakah ada misteri di antara mereka? Ada rahasia mereka yang tidak mau dibagi dengan Adelia. Seribu satu pertanyaan yang menggayut Adelia. Itu semua ingin diketahuinya. Ayah secara jelas mengatakan bahwa ia melindungi dirinya dari Datuk. Melindungi dari apa? Ayah tidak mau menjelaskan. Ayah tidak berterus terang. "Aku ingin melihat makam ibu," kata Adelia. "Itu tidak perlu, biarkan saja ibumu tenang," jawab ayah. "Lalu kenapa ayah tidak berbaikan dengan Datuk?" "Itu memerlukan waktu," sahut ayah. "Ini sudah dua puluh tahun ayah, Datuk sudah sangat tua dan waktunya kita mengunjungi dia. " "Aku tidak mau, tidak sekarang," ayah menolak tanpa ragu ragu. "Jadi kalau begitu biarkan aku ketempat Datuk," kata Adelia. "Tidak boleh," perintah ayah. "Aku akan pergi," bantah Adelia. "Tidak boleh, iya tidak boleh," jawab ayah Adelia tegas. Tapi kemudian dia melembut. "Ikuti kata ayah Adelia, kamu tidak perlu ke tempat Datukmu. Hanya akan menyakiti kita semua." Ayah berusaha meyakinkan Adelia untuk tidak menemui 'Atuk. Tentu saja, ketika dilarang, Adelia semakin penasaran dengan ayah Adelia. Adelia semakin melawan. Tapi sekali lagi, tak ada yang mendukungnya. Tidak juga bagi suaminya Iwan Albert. “Jadi kamu bertekad akan pergi.?" Tanya Iwan Albert suami Adelia. Tak henti-hentinya dia menghalangi Adelia. "Aku harus mencari tahu apa yang terjadi, pada ibuku," Adelia menjawab suaminya. Adelia membalik menghadap suaminya. Membulatkan tekad dan berkata kepada suaminya dengan tegas. "Ayah membuat aku dalam kegelapan selama bertahun-tahun, tetapi hari ini aku memutuskan untuk mencari tahu kebenarannya. Tidak seorangpun bisa menghalangiku." " Mungkin ada alasan ayahmu melarang. " kata suami Adelia membantah. Kata yang selalu dikatakannya berulang ulang. "Waktu kecil mungkin. Tapi kini aku sudah dewasa." "Saya akan membujuk ayahmu mencari tahu lagi." "Itu sudah kamu katakan berulang kali dan kamu gagal." Kata Adelia sinis. Adelia mencoba lagi membujuk suaminya. "Kamu harus punya keberanian tanpa izin ayah pergi berdua selama satu atau dua minggu," desak Adelia. "Itu tidak mungkin Adelia. Ayah akan memecatku," ujar Iwan Albert keras. "Nah, ketahuan bukan?" Adelia cemberut, tapi Iwan Albert tidak peduli. Iwan Albeth suami Adelia yang bekerja dengan ayah atau mertuanya "Adrian motor Group." Suami Adelia adalah salah satu Direktur keuangan Perusahaan ayah, sebuah jabatan kunci di perusahaan besar ayah. Adelia memiliki jabatan Komisaris di perusahaan ayah. Jabatan Adelia tidak mengharuskan dia datang setiap hari. Suaminya Iwan Albert bergabung dengan PT. Adrian Grup setelah lulus dari sebuah sekolah bergengsi di Singapura. Kemudian juga di England Business School, di Inggris dan bertemu Adelia. Adelia mendekat ke suaminya dan berkata. "Aku benar-benar ingin kamu pergi ke tempat kakek, tapi tidak apa. Aku punya teman Amelia seorang dokter yang bekerja di kota provinsi tempat kakek. Dia mungkin mau menemaniku selama seminggu ditempat kakek." "Kota provinsi ke tempat kakek satu hari perjalanan" kata Ivan. "Hanya 8 jam." "Kalau jalan buruk, butuh waktu seharian." "Itu tidak terlalu jauh." Lalu Adelia mengajukan usul. "Mungkin selama satu atau dua hari kamu mendampingiku, setelah itu kamu bisa kembali meninggalkan aku?" "Aku tidak bisa, aku menentangnya Adelia. Selama ayah tidak setuju," jawab Iwan Alberth. Iwan Alberth membungkuk dan mencium pipi Adelia dengan lembut. “Kita akan memikirkannya nanti sayang. Biarkan aku pergi bekerja dulu." Adelia memeluk leher suaminya. " Aku tidak bisa tanpamu," kata Adelia. "Jadi jangan pergi kedesa itu," teriak Iwan Albert. "Jangan berdegil," sahut Adelia. Iwan Alberth mencoba lagi membujuk Adelia. Pagi itu tiba tiba Adelia ingin bercinta dengan suaminya. "Apa kamu ingin membuatku lelah sehingga aku terlambat bekerja di pagi hari dan ayahmu memecatku?" Tanya Adelia. Adelia tersenyum, menatap mata gelap Iwan Albert yang bersinar. "Itu bagus dan kita bisa berbulan madu lagi ke Tokyo." Adelia terus meminta. Adelia menciumnya di dekat telinga, tempat yang paling sensitif suaminya jika bercinta. "Adelia," pintanya, mencoba melepaskan diri dari pelukan Adelia. "Aku harus berada kekantor segera dan tidak bisa terlambat." “Kita bisa melakukannya dengan cepat sayang." Rayu Adelia. Adelia terus mencium dan membelai suamiku tidak ingin berhenti. Perlahan-lahan, suaminya juga menurut. Ciuman suaminya mendarat di leher dan bibir Adelia. Adelia memejamkan mata dan terjun ke dunia sensasi yang menyenangkan. Setelah beberapa saat, Adelia dan suaminya klimak hampir bersamaan . Seolah-olah mereka bercinta untuk pertama kalinya. *** Sorenya Iwan Albert suaminya pulang. " Aku sudah berbicara dengan ayah, " katanya sebelum Adelia meminta. "Kamu melaporkan lagi keinginanku ke tempat kakek?" Tanya Adelia. Ia tahu ayahnya akan tetap melarang. "Tidak ada salahnya ayah melarang," kata Iwan Albert membuka jasnya dan mengganti dengan pakaian rumah. "Ayah pasti marah dan lagi lagi melarangku," bisik Adelia cemberut. "Dengarkan ayahmu Adelia, kamu tidak boleh pergi. Itu akan menimbulkan trauma bagi kamu," ujar Iwan Albert. "Ayah pernah mengatakan itu, tapi trauma apa? Bisakah kamu menjelaskan arti trauma bagiku?" "Aku tidak tahu, ayah tidak mau menjelaskan. Tapi ayah menyuruh agar sedapat mungkin melarang kamu," kata Iwan Albert lagi. "Semakin dilarang aku semakin ingin pergi," jawab Adelia. Suaminya terdiam. Tampak sekali suami Adelia Iwan Albert bingung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN