Bab 2 Meninggalnya Nenek, Tante Sonya dan Ibu.
Orang tua ibu Adelia adalah tuan tanah besar di sebuah pedesaan di Sumatera.
Dia mengundang Ayah untuk berkunjung ke Sumatera. Ayah dan Melyana yang kelak melahirkan Adelia berpacaran serius dengan ayah.
Pada saat study ayah selesai, ayah kembali ke Jakarta dan lanjut berkencan dengan ibu.
Setelah Lebaran, ayah dan ibu Adelia menikah. Adelia adalah anak pertama dan terakhir ibunya. Ia diberi nama Adelia Eka Adriansyah
Ayah dan ibu serta Adelia tinggal di Jakarta.
Ayah membeli sebuah rumah yang indah di sebuah pantai di selatan Jakarta. Rumah yang menghadap ke pinggir laut. Rumah yang indah dan menyenangkan. Adelia dan ibunya senang tinggal disana.
Ayah juga punya Apartemen yang bagus di pusat kota. Itu adalah hadiah dari kakek Adelia atau orang tua ayah karena menikah dengan ibu.
Ayah adalah orang anak yang dimanjakan dan calon tunggal pewaris sebuah perusahaan besar. Perusahaan PT. Pandora Grup milik ayahnya. Pada akhirnya nanti, perusahaan itu akan menjadi milik ayah.
Sebagai pimpinan dari sebuah cabang perusahaan ayah diberikan lagi perusahaan oleh ayahnya atau kakek Adelia. Mungkin kakek ingin melatih ayah.
Ayah diberi perusahaan sebelum mewarisi kekayaan luar biasa kakek.
Ayah mulai dengan usahanya sendiri. Perdagangan ayah sebagai importir mobil dari luar negeri.
Perusahaan ayah berkembang dengan pesat. Ayah pandai mengendalikan perusahaan.
Di kalangan masyarakat Sosialita di Jakarta ayah dan ibu Adelia dikenal sebagai "pasangan emas" yang memiliki segalanya.
Hubungan ibu dengan Tante Sonya sangat erat. Ibu sangat tergantung dengan kasih sayang Tante Sonya.
Tante Sonya yang kaya sering datang ke tempat mereka. Lebih sering ibu yang pergi kesana. Keluarga Adelia dilimpahkan kekayaan yang luar biasa.
Ibunya dari Sumatera sering datang ke Jakarta. Datuk atau 'atuknya di Sumatera amat jarang bepergian.
***
Adelia masih kecil ketika itu dan tidak tahu apa apa ketika sebuah tragedi terjadi. Tante Sonya dan nenek atau ibu dari ibu Adelia meninggal secara tak terduga .
Nenek atau ibu dari ibu Adelia dan Tante Sonya memakai mobil ayah dalam sebuah perjalanan ke Semarang.
Entah kenapa mereka memakai mobil ayah, pada hal Tante Sonya punya mobil yang bagus bagus dan supir terpercaya.
Tapi Itulah kejadiannya. Tragedi keluarga. Sebuah kecelakaan menewaskan Tante Sonya dan nenek atau ibu yang disayangi ibu Adelia.
"Ibuku meninggal, Tante Sonya juga. Kenapa Tuhan menghukumku begitu berat?" Tanya Melyana.
"Semuanya sudah takdir, Melyana dan mungkin Tuhan punya rencana lain," jawab ayah.
"Mengapa sampai dua orang? Ibu dan Tante Sonya. Ayahku kehilangan dua orang saudaranya secara bersamaan." Seru ibu.
"Supir kamu lalai." Ibu marah kepada ayah. Tapi ayah sabar.
"Sopir juga luka parah Melyana dan dia juga meninggal."
"Aku tidak bisa menerimanya," kata ibu. Entah kenapa ibu Adelia menjadi tidak suka kepada ayah.
Ibu Adelia terpukul dan menyesali atas apa yang terjadi.
"Pikirkan anak kita Melyana? Dia membutuhkan kamu. Kita punya Adelia dan kamu juga masih ada ayah," bujuk ayah.
Tapi ibu tidak bisa dibujuk,
Ibu Adelia menjadi depresi dan ayah merasa bersalah mencoba yang terbaik untuk mendukung kesedihan ibu.
"Ayo Melyana, kita akan pergi menghilangkan kesedihan," ajak ayah.
Ayah membawa ibu berkeliling negara. Ke Tokyo, Amerika dan melakukan perjalanan ke Bangkok dan kemudian memberikan ibu perhiasan perhiasan mahal serta barang barang mewah untuk ibu.
Tetapi semuanya sia-sia saja. Ibu tetap saja berduka dan tidak berbicara dengan semua orang. Ibu selalu mengingat Tante Sonya dan ibunya.
Ibu memutuskan untuk tinggal di Sumatra bersama ayahnya atau Datuk Adelia. Ibu membawa Adelia kecil pulang yang saat itu masih berumur empat tahun.
Meskipun ayah berusaha untuk mengajak ibu tetap di Jakarta, ibu tetap tidak mau.
"Tapi aku tidak bisa melihatmu atau anak kita Melyana Aku ingin kita tetap bersama!"
"Tidak," jawab ibu.
"Aku tidak bisa lagi ke pulau yang mencelakakannya ibuku dan Tante Sonya," jerit ibu.
"Jadi Adelia bagaimana? Pikirkan sekolah dan hidupnya," kata ayah.
"Anakku bersama ibunya," jawab ibu Adelia. Jadi Adelia tetap bersama ibu.
Ibu Adelia berbicara dengan keras kepala kepada ayah.
"Aku ingin pulang dan tinggal bersama ayahku. Engkau suamiku bisa datang dan mengunjungiku kapan saja. Atau kita bisa pindah ke sana," ujar ibu.
"Ke desa? Itu bukan tempat kita Melyana. Kita punya perusahaan besar yang harus dikelola."
Tapi ibu tidak peduli. Ibu tidak peduli dengan kemewahan. Ibu memilih pulang ke desa yang sederhana. Desa yang jauh dari kemewahan kota.
Tentu saja ayah tidak bisa mengikutinya. Ayah punya pekerjaan. Ayah akan mewarisi usaha dari ayahnya atau kakek Adelia. Itu bukan perusahaan kecil. Perusahaan yang bernilai triliun rupiah. Jauh lebih kaya dari kakek di kampung.
Ayah dan ibu saling memandang, dan ayah mengalah dan memutuskan untuk melakukan segalanya agar ibu atau istrinya senang.
Ibu tetap didesa dan meninggal dunia dua belas bulan kemudian.
***
Itulah sepenggal cerita ayah. Cerita yang diceritakan berulang ulang kepada Adelia.
Iwan Albert adalah suami Adelia yang bekerja dengan ayah. Dia juga pilihan ayah untuk menikah dengan Adelia.
Bukan berarti pertemuan Adelia dengan Iwan Albert tanpa cinta. Adelia mencintai Iwan Albert sejak kuliah di inggris.
Iwan Albert tinggal di keluarga angkatnya seorang Inggris yang bernama Albert.
Dia adalah orang Indonesia. Ayah dan ibunya tinggal di Indonesia. Ayah angkat di Inggris membantunya kuliah sejak kecil.
"Hei, kamu dari Indonesia iya?" Tanya Iwan Albert ketika Adelia menginjakan kaki dibangku Universitas.
Adelia menatap Iwan Albert dengan malu malu.
"Kita bisa berteman, kamu perlu sahabat disini."
Iwan Albert bermata tajam, tersenyum kepada Adelia.
Tentu saja Adelia butuh teman. Iwan Albert adalah orang yang tepat untuk membantunya di Inggris.
Singkatnya Adelia dan Iwan Albert berpacaran.
Ketika Adelia memperkenalkan dengan ayah, ayah menerimanya dengan tangan terbuka. Ayah tampaknya juga senang kepada Iwan Albert .
"Apakah kamu senang dengannya?"Tanya ayah.
"Apakah ayah menyukainya?" Balik Adelia yang bertanya.
"Kamu sudah waktunya menikah." Ujar ayah mengangguk.
"Kita akan membuat pesta untuk perkawinan kamu setelah selesai kuliah. Dia bisa menjadi kaki tangan ayah."
Di kampus, Adelia mengatakan hal itu kepada Iwan Albert.
"Tentu saja aku senang Adelia, ayah angkatku juga. Pada gilirannya, aku akan kembali ke Indonesia." Jawab Iwan Albert.
****
Ayah membuat pesta yang meriah. Iwan Albeth sangat segan dengan ayah. Dia selalu patuh dengan ayah.
Ayah Adelia sangat senang, Iwan Alberth bekerja dengan rajin. Tak pernah sekalipun dia membantah ayah. Kini sudah setahun perkawinan Adelia.
Iwan Albert sangat memperhatikan Adelia. Anak tunggal kesayangan bos