Merasa Sempurna
Tiada hubungan yang indah selain para saksi mengatakan "sah".
Senyum terukir di bibir Rifana. Matanya menatap setiap lembaran album foto yang di pangkunya. Sesekali dia mengusap foto itu seraya mengingat siapa saja tamu yang hadir di pesta pernikahannya itu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Rifana Daimona binti Syarifuddin dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Kata seorang laki-laki yang berbisik di telinganya seraya memegang kedua bahu Rifana dari belakang. Matanya melirik album foto yang dipangku istrinya. Di dalam album foto itu terdapat sepasang pengantin mengenakan kebaya putih dan mempelai pria menjabat tangan laki-laki paruh baya.
Fafa, begitu orang-orang memanggilnya, dia semakin menyunggingkan senyumnya. Tanpa dia menoleh pun dia tahu ulah siapa itu. Siapa lagi kalau bukan lelaki yang mengubah statusnya menjadi seorang istri. Laki-laki yang menitipkan bayi di dalam rahimnya. Laki-laki yang membuatnya sebentar lagi menjadi seorang Ibu.
"Sudah selesai, Sayang?" tanya Fafa singkat. Dia menutup album foto itu dan menyimpannya kembali di laci nakas. Dia membantu suaminya mengancingkan kemeja navy yang kini melekat di tubuh suaminya.
"Aku suka aroma lilin pagi ini." Kata Andro sambil mencium kening istrinya. "Istriku memang pandai membuatku malas keluar rumah." Lanjutnya seraya menghujani puluhan kecupan di wajah Fafa.
Fafa yang di perlakukan manis seperti itu hanya bisa tersenyum. 10 bulan hidup bersama Andro membuat dia hafal apa saja yang di sukai dan harus di hindari suaminya. Hal apa saja yang harus dia penuhi agar suaminya betah di rumah. Salah satunya dia selalu mengganti aroma lilin aromaterapi setiap tiga hari sekali. Dia tahu jika pekerjaan suaminya di kantor sangat menguras tenaga dan emosi. Dia ingin ketika suaminya di rumah suaminya bisa melepas penat dan kembali relaks. Itulah mengapa dia tidak pernah telat mengganti lilin aromaterapi di kamar mandi.
"Tiga hari lagi aku ganti aromanya lagi ya, Mas." Kata Fafa lembut. Ya, dia memang wanita lembut. Hal itulah yang membuat suaminya juga memperlakukannya dengan lembut.
Andro hanya menganggukkan kepalanya. Dia menghadap kaca dan menuangkan minta rambut ke tangannya. Dia menata rambutnya dengan acak dan setelah itu dia duduk di tepi ranjang menunggu istrinya yang merapikan rambutnya.
Sejak dia menikah dia menjadi laki-laki yang manja. Dia menyerahkan seluruh kebutuhannya kepada Fafa. Bagi Andro meminta Fafa memenuhi segala kebutuhannya adalah salah satu bentuk kepercayaan yang dia berikan untuk istrinya. Hal itu membuat Fafa merasa jika dia dibutuhkan oleh suaminya. Kehadirannya memberikan dampak besar bagi kehidupan Andro.
"Sudah ganteng suamiku." Kata Fafa sambil tersenyum. Dia mundur dua langkah dan memperhatikan suaminya dengan tatapan mengoreksi. Tidak lama setelah itu dia mengacungkan kedua jempolnya menandakan jika penampilan suaminya sempurna. Andro yang mendapatkan acungan jempol itu segera bangkit dari duduknya dan memakai jam tangan.
Fafa mengambil jas hitam yang masih tergantung di lemari. Dia juga membawakan tas kerja milik suaminya. Setelah itu mereka keluar kamar secara bergantian. Menuju ruang makan yang sudah menanti mereka untuk menikmati sajian sederhana.
Andro mengambil roti panggang yang sudah di siapkan istrinya. Dia begitu menikmatinya terlihat dari kedua pipinya yang menggembung seakan-akan tidak sanggup melahap roti panggang yang dia jejalkan ke mulutnya. Sedangkan Fafa menuju meja dapur dan menata masakan sederhana yang tadi dia masak.
"Bekal hari ini aku siapin capcay, tahu bacem, sama ayam goreng." Kata Fafa sambil menutup kotak bekal yang sudah penuh oleh makanan itu.
Andro hanya menganggukkan kepalanya. Dia tidak pernah protes dengan apa yang sudah di masak oleh istrinya, asalkan bukan belut yang dimasak karena dia alergi belut dan Fafa sudah hafal itu.
Fafa selalu menyiapkan bekal makan siang untuk suaminya. Dia selalu mengganti menu setiap hari. Menu sarapan yang biasanya hanya roti atau salad, menu makan siang dan akan dia ganti lagi untuk menu makan malam. Hal itu dia lakukan agar suaminya tidak bosan.
Dulu ketika perutnya belum membesar dia selalu mengantarkan makan siang untuk suaminya, namun setelah perutnya bertambah besar membuat Andro melarang Fafa untuk sering-sering bepergian seorang diri. Jadi lebih baik dia membawa bekalnya itu sekalian daripada istrinya harus bolak-balik ke kantor untuk mengantar makanan.
"Sayang, nanti malam nggak usah masak ya, kita makan di luar saja." Kata Andro dengan lembut. Dia memang rutin mengajak istrinya makan di luar. Hitung-hitung seperti kencan juga. Namun sejak istrinya hamil besar kencan mereka di luar rumah tidak sesering dulu.
Mata Fafa langsung berbinar ketika dia mendengar ajakan suaminya. Memang dia sedang ingin mencari udara segar dan makan bebek goreng langganannya. Mendengar suaminya yang mengajaknya lebih dulu membuat Fafa tidak perlu merengek untuk jalan-jalan keluar rumah.
"Mas, kita makan bebek goreng Cak Kumis ya." Kata Fafa dengan semangat.
"Kamu nggak pengen makan di restoran? Makan steak atau pasta gitu?" Tanya Andro menawarkan. Pasalnya dia ingin menyiapkan makan malam romantis bersama istrinya itu. Dia juga sudah meminta sekretarisnya untuk memesan paket dinner romantis bersama istrinya.
"Dedeknya lagi pengen makan bebek goreng, Cak Kumis." Jawab Fafa sambil manyun. Dia juga mengelus perutnya yang sudah membesar itu. Ya, karena 2 bulan lagi dia akan melahirkan.
Andro yang melihat ekspresi istrinya begitu gemas. Dia mengulurkan tangannya dan ikut mengusap perut istrinya. Sejak memiliki istri Andro merasa bahagianya begitu sederhana. Cukup melihat senyum istrinya saja sudah membuat hatinya tenang.
"Dedek atau Mamanya yang pengen?" tanya Andro menggoda.
Fafa terkekeh pelan. "Dedeknya tadi bisik-bisik." Jawabnya bercanda.
"Ya sudah nanti kita turutin maunya dedek ya." Jawab Andro menimpali.
Mata mereka yang saling pandang romantis seakan menyalurkan cinta satu sama lain. Seketika bibir mereka saling tertarik membentuk tawa.
"Udah siang, aku berangkat dulu ya, Sayang." Kata Andro sambil bangkit dari duduknya.
Fafa yang ikut bangkit perlahan membantu suaminya itu untuk memakai jas hitamnya. Tangan kanannya menggandeng lengan suaminya dan tangan kirinya menenteng tas berisi lunch yang tadi sudah dia siapkan.
"Sayang, kamu jangan capek-capek ya. Kalo kamu bosen di rumah ajak Ibu jalan-jalan atau belanja ke mall." Kata Andro memberi pesan. Dia tahu sekali jika istrinya tidak bisa diam. Fafa akan mencari pekerjaan atau sesuatu yang bisa dia kerjakan. Dan Andro tidak ingin istrinya itu terlalu capek karena kandungannya yang semakin membesar.
"Iya, Mas." Jawab Fafa singkat. Dia seperti hafal dengan ucapan suaminya karena kata-kata itu selalu di ucapkan suaminya setiap pagi.
"Jaga diri kamu dan dedek ya." Kata Andro lagi sambil mengelus perut istrinya.
"Oh iya, Mas besok jadwal periksa dedek. Jangan lupa dan jangan sampai terlambat." Kata Fafa mengingatkan. Dia bersyukur karena memiliki suami siaga seperti Andro. Andro selalu menyempatkan datang ketika jadwal periksa ke dokter kandungan. Bahkan ketika dia merasa bosan dan ingin makan di luar, Andro menyempatkan datang dan menuruti kemauannya. Fafa merasa menjadi istri yang paling beruntung di dunia ini. Itulah mengapa dia selalu berusaha menjadi istri yang sempurna karena dia juga memiliki suami yang sempurna.