Dunia memang memisahkan kita, namun hati kita tetap terpaut satu sama lain.
Rumah dua lantai bergaya minimalis itu masih banyak orang. Bukan dari tetangga namun dari keluarga Fafa yang datang. Mereka hadir untuk menguatkan Fafa yang sedang hamil besar. Harusnya ini adalah masa-masa kebahagian Fafa yang akan menjadi seorang Ibu namun Tuhan malah mengambil suaminya.
"Fa, kamu yang kuat ya." Kata Tante Ira menguatkan keponakannya itu. Dia memang tidak pernah kehilangan suami namun dia bisa merasakan betapa beratnya menjadi Fafa. Karena dulu waktu dia hamil tua suaminya di tugaskan di luar pulau beberapa bulan dan itu sedihnya luar biasa apalagi Fafa yang harus ditinggal selama-lamanya.
"Iya, Tan. Sabar dan ikhlas memang ilmu yang sangat mahal dan aku akan belajar hal itu." Jawab Fafa dengan senyum getirnya.
"Kamu boleh sedih tapi kamu harus jaga kesehatan bayi kamu. Jangan berlarut dalam musibah ini, ada nafas lain yang bergantung padamu." Kata Tante Ira lagi memberi nasehat.
"Iya, Tante makasih ya." Jawab Fafa lembut.
Tante Ira tersenyum. Dia memeluk keponakannya itu sejenak seakan-akan mentransfer semua kekuatannya kepada Fafa.
Sore hari banyak keluarga yang sudah berpamitan. Begitu juga dengan Fafa yang pamit kepada Ibunya untuk istirahat di kamar. Dia memilih merebahkan tubuhnya di ranjang karena sejak semalam dia sama sekali tidak istirahat. Tangannya mengelus perutnya yang sudah besar. Rasanya ini seperti mimpi. Fafa tidak pernah berpikir sebelumnya jika suaminya akan meninggalkannya secepat ini.
"Nak, mulai sekarang kamu tidurnya cuma berdua sama Mama ya. Jangan rewel-rewel ya nungguin di elus dulu sama Papa." Kata Fafa seakan-akan berbicara kepada anaknya. Ya, biasanya ketika dia akan tidur dia meminta suaminya mengelus perutnya. Entah mengapa hal itu membuatnya nyaman dan nyenyak dalam tidurnya.
Perlahan-lahan Fafa memejamkan matanya dan mulai terlelap. Dia berharap bisa terus bertemu suaminya walaupun hanya dalam mimpi. Tak apa karena itu bisa mengobati sedikit rasa rindunya.
***
Fafa merasakan pusing ketika bangun dari tidurnya. Dia melihat langit sudah gelap dan berganti melihat jam dinding. Sudah pukul 7 malam. Fafa segera bangkit dari kasur dan keluar dengan terburu-buru. Setelah itu dia menyalakan kompor dan mulai memasak. Tangannya dengan cekatan mengambil sayur dan daging yang dia simpan di dalam kulkas dan mulai memasaknya.
"Fa, kamu sudah bangun?" tanya Ria yang terkejut melihat menantunya sudah sibuk di dapur.
"Iya, Ma Fafa nggak sadar kalo tidur terlalu lama. Fafa mau buru-buru selesain masaknya soalnya Mas Andro sebentar lagi pasti pulang." Jawab Fafa yang sama sekali tidak menoleh ke Mama mertuanya. Dia terus fokus ke masakannya.
Ria mendekati menantunya itu dan memeluknya dengan erat. Matanya kembali menetes di pundak Fafa. Fafa yang merasakan hal itu membuatnya bingung. Hal apa yang membuat mertuanya sampai menangis sesenggukan seperti itu. Apakah karena kesalahannya bangun terlalu malam, namun bukannya seharusnya dia perlu dimarahi saja bukannya dipeluk sambil menangis.
"Ada apa, Ma?" tanya Fafa bingung.
"Mama ngerti yang kamu rasakan. Mama juga merasa sangat kehilangan tapi kamu harus terbiasa mulai sekarang kalau suamimu sudah meninggal." Kata Ria disela-sela tangisnya.
Fafa terdiam. Tiba-tiba ingatannya kembali pada tadi pagi. Benar yang dikatakan mertuanya. Suaminya sudah meninggal tapi dia merasa itu mimpi. Fafa terduduk lemas dan kembali menangis.
"Sabar, Fa yang kuat, Sayang." Kata Ria kembali memeluk menantunya.
"Ma, rasanya ini masih seperti mimpi." Ucap Fafa pelan.
"Mama ngerti, Sayang."
Kedua perempuan beda usia itu menangis dalam peluk. Mereka terus menangisi kepergian Andro. Senyuman dan sikap tenang yang tadi mereka tunjukkan ke orang-orang adalah topeng semata. Ini adalah perasaan asli yang mereka rasakan.
"Fa, kamu duduk saja di sana biar Mama yang teruskan masaknya." Kata Ria sambil membantu menantunya berdiri. Dia menuntun menantunya itu duduk di salah satu kursi yang ada di dapur ini.
"Mama tinggal di sini saja ya temenin Fafa." Kata Fafa kepada mertuanya. Kemiripan wajah antara suaminya dan Mamanya membuat Fafa ingin terus melihat wajah Mama mertuanya itu.
"Iya, Mama akan nemenin kamu sampai kamu lahiran." Jawab Ria sambil memasukkan sayuran kedalam panci.
"Setelah Fafa lahiran, Mama nggak mau nemenin cucu, Mama?" tanya Fafa lagi dengan lirih.
Ria menoleh ke menantunya itu. "Mama akan sering-sering ngunjungin kamu sama bayi kamu tapi Mama nggak bisa kalau harus menetap di sini." Jawab Ria dengan hati-hati. Dia takut menyinggung hati menantunya itu.
Fafa menganggukkan kepalanya pelan. Dia mengerti dengan keadaan mertuanya itu. Di Surabaya mertuanya itu memiliki butik yang sudah ada 5 cabang jadi mustahil rasanya jika mertuanya meninggalkan bisnisnya itu. Namun Fafa sudah bersyukur karena mertuanya tetap bersikap hangat dan berjanji akan sering-sering datang menengoknya.
"Ibu sama Papa kemana, Ma?" tanya Fafa bingung karena sedari tadi tidak melihat kedua orang tua dan kakaknya.
"Oh iya mereka pulang dulu dan besok kembali kesini lagi katanya." Jawab Ria yang lupa menyampaikan salam dari besannya itu. "Tadi kamu masih tidur jadi mereka nggak mau mengganggu istirahat kamu." Lanjut Ria menjelaskan.
Fafa mengangguk ngerti. Sejak semalam kedua orang tua dan kakaknya memang orang yang paling sibuk. Mereka mengurus semua keperluan di rumah sakit dan di rumah bahkan mereka juga yang mengurus pemakaman tadi siang. Wajar saja jika mereka kelelahan dan mereka juga butuh istirahat. Lagi pula di sini juga sudah ada mertuanya jadi dia tetap ada teman.
Terdengar suara langkah kaki yang baru memasuki dapur. Sesosok laki-laki tampan dengan postur tubuh bak atlet nasional. Memakai kaos oblong berwarna putih dengan celana jins hitam membuatnya tampil kasual namun tidak mengurangi ketampanannya.
Fafa melorotkan matanya karena masih melihat laki-laki itu di rumahnya. Dia berpikir ketika di pemakaman tadi dia salah lihat tapi ternyata itu semua nyata.
"Sudah selesai urusan kamu?" tanya Ria kepada laki-laki itu.
"Sudah, Ma." Jawab laki-laki itu sambil menarik kursi yang tidak jauh dari tempat Fafa.
Ria mematikan kompornya dan menuangkan sayur itu ke mangkok. Setelah itu dia membawanya ke meja depan Fafa dan Dirga. Dia juga membawa nasi dan piring kosong lengkap dengan sendok dan garpu.
"Makan dulu ya, Fa. Kesehatan kamu tetap nomor satu." Kata Ria sambil membantu Fafa untuk mengambil makannya.
"Ma, Fafa bisa ambil sendiri." Kata Fafa yang merasa tidak enak.
"Sudah gapapa biar Mama yang ambilkan." Kata Ria yang melarang menantunya untuk ambil makanan sendiri.
Fafa kembali diam. Dia memang merasa tidak enak namun mertuanya melarang dan dia hanya bisa menurut sekarang.
Makanan itu sudah terhidang di depannya namun Fafa sama sekali tidak nafsu. Dia merasa perutnya sudah penuh. Mungkin karena pikirannya yang masih berantakan membuat nafsu makannya hilang.
"Mau, Mama suapin, Fa?" tanya Ria pelan.
"Nggak usah, Ma. Fafa makan sendiri saja." Tolak Fafa dengan halus. Setelah itu dia memaksakan diri untuk memakan hidangan di depannya itu. Makanan yang tidak terlalu banyak itu namun Fafa rasa makanan itu tidak berkurang padahal sudah dia makan.