- 20 -

1427 Kata
Mendapatkan pertanyaan tersebut, Thella tampak tersenyum malu, membayangkan apa yang pernah ia ceritakan pada Riza di taman tersebut. “Duh, maluu.” Kata Thella menjawab ucapan Firda, sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Thella terlihat ragu untuk menceritakan tentang hal tersebut pada Firda karena merasa memalukan. “Gak papa lah, Kak! Ayok ayok cerita, aku gak bakal cerita ke siapa siapa. Ya lagian juga, emang aku bisa cerita ke siapa cobaa.” Kata Firda untuk meyakinkan Thella agar mau menceritakannya dengan jelas, perihal apa yang terjadi di taman tersebut, karena Firda tidak memiliki bayangan apa pun. Lantas apa hubungannya dengan ajakan Riza yang mengatakan untuk berkunjung ke taman tersebut? Jika memang ada suatu kenangan penting yang terjadi di sana, kenangannya itu apa? Firda tidak dapat menebak, apa yang pernah terjadi di sana. Thella terlihat berpikir untuk beberapa saat, menimbang apakah ia akan menceritakan hal ini pada Firda atau tidak. Namun, belu selesai cewek itu berpikir, suara Firda yang merengek untuk meminta diberitahu sudah terdengar. “Ayok Kak! Apaan duh apaan?” rengek Firda sambil mengguncang guncang bahu Thella, seraya meminta kakaknya itu untuk memperjelas ceritanya, agar Firda tidak penasaran dan paham korelasi cerita Thella ini. “Iya iya, sabar dong adik sayang,” kata Thella sambil tersenyum manis, lalu mencubit gemas pipi Firda. Wajah adiknya itu terlihat gemas karena penasaran mendengarkan ceritanya, Firda bahkan sudah melupakan perihal tugas yang tengah dikerjakannya hari itu, malah memilih untuk mendengarkan cerita Thella yang tidak ada untungnya juga kan untuk anak itu. Firda kembali menatap Thella dengan mata berbinar, menunggu kakaknya untuk bercerita tentang hal tersebut. “Jadi.. apa kak?” desak Firda lagi, saat melihat Thella belum mengeluarkan suaranya lagi. Thella berdecak pelan, melihat wajah tidak sabaran Firda. “Jadi, kakak tuh pernah cerita sama Riza. Dulu kan yaa dulu, anak SMP kan suka asal gitu kalo ngomong. Ini pure kakak cerita bukan ngode ya, emang ngayal doang kan yaa, Namanya masi remaja gitu kan.” Thella membuka ceritanya, dengan peringatan jelas di awal karena takut Firda salah paham tentang apa yang pernah terjadi saat dulu. Jadi, Thella menjelaskan hal tersebut lebih dulu sebelum masuk ke dalam inti pembicaraan mereka itu. “Iyaa kak iyaa, percaya kok Firda. Jadii.. gimana?” Firda berusaha untuk mengembalikan obrolan mereka ke jalan yang lurus agar tidak melenceng ke mana mana, karena Firda sudah tidak sabar mendengar cerita Thella ini. Saat ini saja, Firda sudah semakin mendekatkan tubuhnya ke dekat Thella, agar bisa terus mendesak kakaknya itu untuk menutaskan cerita yang di mulai kakaknya itu. Thella sampai menggelengkan kepalany aelihat antusiasme Firda. Lalu, cewek itu pun melanjutkan ceritanya. “Kakak tuh pernah bilang ke Riza, kakak pengen ada yang nembak alias nyatain cinta ke kakak, pake lagu yang judulnya laguku itu, kan khas menyatakan cinta banget kan. Duh kakak suka juga sama lagunya, sambil maen gitar gitu.” Thella bercerita dengan malu malu, membayangkan hari saat Thella mengatakan hal tersebut tanpa berpikir panjang hingga akhirnya cewek itu ingin Riza yang melakukan hal tersebut. “Terus terus.” Firda terus memancing Thella untuk bercerita dengan jelas hingga berkaitan dengan taman yang akan menjadi tempat pertemauan Thella dan Riza sabtu ini, yang belum juga terjawab. “Terus, pas kapan gitu, kakak nambah lagi harapannya. Dulu kan kakak seneng banget main ke taman itu pas pulang sekolah, ya di temenin Riza. Pokonya kaka suka deh sama taman itu, sampe bilang gini, pengen ada yang nembak di taman itu sambil di nyanyiin laguku. Duh, kakak gak tau yaa pas itu kalo bakal sampe sepanjang ini hubungan sama Riza, sama sekali gak ada maksud apa apa kok.” Thella semakin terlihat malu saat menjelaskan hal tersebut, membayangkan bagaimana dulu dirinya dengan polos bercerita hal tersebut pada Riza, tanpa berpikiran yang aneh aneh. Firda yang mendengar hal tersebut tersenyum lebar, saat berhasil menarik kesimpulan dari seluruh cerita Thella hari ini. “Jadi.. jadi..” kata Firda yang menggantung ucapannya sejenak, sambil tersenyum menggoda. “Maksudnya Kak Riza ngajak kakak ketemuan di taman itu, jadi.. mau nyatain perasaan dan ngewujudin impian kakak, gituuu?” Firda berseru dengan semakin antusias saat menarik kesimpulan tersebut, tentang kemungkinan yang paling masuk akal atas cerita Thella tersebut. Thella menggeleng sambil tersenyum malu. “Gak tau, kakak Cuma nebak nebak aja, kalo dihubungin kea rah sana kan ya?” Thella bertanya dengan pandangan ragu ragu, meminta pendapat sang adik, agar dirinya tidak merasa salah mengartikan sendirian. Firda mengangguk yakin. Mendukung ucapan Kakaknya. “Iya lah! Apa lagi dong, yang tau hal itu kan Cuma Kak Riza doang kan?” tanya Firda memastikan. Thella mengangguk setuju. “Kakak gak pernah cerita ke siapa siapa lagi, itu Cuma cerita iseng doang lagian.” “Nah! Ka Riza pasti masih inget deh, dan mau menerapkannya buat nyatain perasaan ke kakak. Aku yakin banget! Wah selamat yaa Kak!” Firda kembali berseru girang, sambil memeluk kakaknya yang tengah berbahagia. Thella tersenyum geli, tapi karena belum berlangsung, Thella pun enggan untuk terlarut dalam euphoria ini. “Belom Firda, kan hari sabtu. Itu Cuma praduga doang, gak tau juga Riza mau ngapain di taman itu kan.” Kata Thella yang masih merasa belum pasti sebelum hal tersebut berlangsung. Meski dalam hati ia tak sabar ingin cepat cepat hari sabtu, dan berharap bahwa apa yang ia pikirkan menjadi kenyataan, bahwa Riza benar benar akan menyatakan perasaannya dan mewujudkan keinginannya saat dulu. “Udah valid kok! Pokonya Kak Riza pasti mau nyatain perasaan ke Kak Thella. Siap siap doong nanti traktirannya.” Firda masih berseru antusias, meyakinkan kakaknya tentang hal yang akan terjadi di hari sabtu nanti. “Lagian, itu Kak Riza yang ngomong langsung ke Kak Thella. Yaa udah pasti karena Kak Riza pengen nembak kakak dong.” Firda masih terus menyambungkan hal tersebut ke arah sana, karena memang semua petunjuk yang ada menuntunnya untuk mengambil kesimpulan tersebut. Untuk apa juga tiba tiba Riza mengajak Thella ke taman tersebut, sedangkan mereka sudah sama sama jarang ke tamat itu, lalu di taman tersebut Thella pernah menyampaikan keinginannya yang mana berkaitan dengan taman tersebut dan pernyataan cinta. Tidak ada hal lain yang bisa disimpulkan selain Riza akan menyatakan perasaannya pada Thella, bukan? “Yah, semoga deh ya.” Thella menjawab sambil masih tersenyum malu malu, berakhir dengan mengakui perasaannya sendiri pada sang adik, yang sebelumnya enggan untuk di bahas karena malu membahas hal tersebut bersama Firda yang masih duduk di bangku SMP. Thella sendiri tidak menyangka, bisa bisanya ia curhat dengan sang adik, padahal sebelumnya ia jarang membahas masalah seperti ini pada Firda. Rupanya Firda memang pandai memancing orang untuk bisa bercerita tentang masalah asmaranya, yang begitu terbaca oleh anak itu. Atau memang, Thella segitu terlihatnya ya menyukai Riza sampai sampai Firda bisa menebak padahal Thella tidak pernah bercerita apa pun? Apakah ekspresi Thella begitu kentara, dalam menggambarkan perasaannya? Membayangkan hal tersebut Thella semakin malu, jangan jangan Riza juga sudah mengetahui hal tersebut sejak lama? Atau Dirgan juga jangan jangan mengetahuinya? Serangkaian pikiran tersebut membuat Thella berusaha membuang jauh jauh over thinkingnya, dan fokus untuk menjalani sisa hari dengan banyak hal yang harus ia kerjakan, tidak hanya memikirkan masalah ini saja. Sebab hidupnya tidak hanya berputar dalam roda asmara kan? Hingga tiba tiba Thella terpikirkan sesuatu, jangan jangan Firda bisa mengetahui perasaannya karena Thella tidak sengaja menyebut nama Riza sewaktu mereka tidur? Soalnya, mereka kan tidur di kamar yang sama, bahkan bersebelahan, bukan tidak mungkin kan Firda mendengarnya mengigau tanpa dirinya sadari? Jika memang benar karena hal itu, rasanya Thella ingin mengubur dirinya hidup hidup saja, karena pasti rasanya malu banget. Thella lebih takut jika dirinya juga keceplosan saat tidur di dalam kelas yang disaksikan Dirgan dan Riza, semoga saja ia tidak pernah menyebutkan nama Riza, karena Thella sangat menyadari bahwa Riza nyaris hadir di setiap mimpinya. Bagaimana bisa Thella tidak mengkhawatirkan hal tersebut? Karena tidak mau penasaran, akhirnya Thella memutuskan untuk bertanya saja langsung pada Firda untuk memperjelas semuanya, tentang dari mana anak itu mengetahui soal perasaannya pada Riza yang berusaha ia sembunyikan rapat rapat agar tidak ketahuan. Tapi malah ketahuan juga oleh adek sendiri yang tiba tiba sering menggodanya soal Riza yang entah ia ketahui dari mana. “Firda!” panggil Thella, saat Firda sudah mulai mengerjakan tugasnya lagi. Firda pun menoleh sebentar, sambil sesekali berusaha tetap menulis dan melanjutkan mengerjakan tugasnya itu. Bisa bisa nanti tugasnya tidak kelar kelar jika terganggu dengan urusan Thella terus kan, maka dari itu Firda berusaha untuk bisa fokus pada keduanya, bisa mendengarkan Thella, dan tetap mengerjakan tugas. “Kenapa, Kak?” sahut Firda. Kini tangannya mengambil tipe x karena melakukan kesalahan pada buku tulis, sehingga Firda membutuhkan benda untuk menimpa tulisannya tersebut agar bisa di koreksi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN