- 19 -

1155 Kata
Thella berjalan memasuki rumahnya dengan wajah berseri, masih membayangkan ucapan Riza di sekolah tadi yang mengajaknya untuk pergi ke taman dekat SMP nya dulu. Riza pasti masih ingat dengan kata katanya dulu, yang memiliki angan angan ingin ada yang menyatakan cinta di tempat tersebut. Selama ini Riza tidak pernah menyinggung hal itu lagi, karena hubungan mereka yang semakin akrab dan tidak menyinggung masalah percintaan lagi. Memabahas persoalan pernyataan cinta pun sudah jarang karena tidak enak, karena kini Thella sudah mulai menyadari perasaannya sendiri, tidak seperti dulu yang asal bicara. Namun, siapa sangka denga nasal bicara itu, dengan Riza yang mendengarnya, siapa tau bisa mewujudkan. Di tambah lagi satu satunya cowok yang disukai Thella saat ini ya jelas Riza, tentu saja hanya Riza, karena Thella tidak dekat dengan siapa pun lagi kecual kedua sahabatnya itu. Namun, porsi Riza jelas berbeda, cowok itu menemani Thella sejak mereka baru bertumbuh remaja. Riza hadir saat Thella merasa tidak bisa akrab dengan teman sekolahnya, hanya sekadar mengenal nama satu sama lain, dan bertegur sapa di kelas, tanpa tahu rasanya main di luar bersama teman teman sekolahnya. Hingga akhirnya ia berteman dengan Riza karena insiden dipindahkannya tempat duduk Riza di depan mejanya. Sejak saat itu, Thella seolah memiliki teman. Pun sebaliknya, Riza pun begitu. Tidak peduli dengan teman teman cowok di kelasnya yang mengatai Riza seperti banci karena bermain dengan cewek, Riza tetap tampak asik saja bermain dengan Thella, dan tidak peduli dengan ucapan mereka. Toh yang tahu rasanya berteman dengan nyaman bersama Thella kan adalah dirinya, untuk apa Riza memaksakan untuk terlihat keren bermain dengan anak anak cowok padahal Riza tidak menyukainya. Jadi, Riza memutuskan untuk tetap berteman dengan Thella tanpa peduli ada banyak suara yang mencibirnya. Mengenal Riza selama itu, bagaimana mungkin Thella tidak jatuh hati. Riza dengan segala sikap dan kebaikan hatinya. Riza yang terkadang lucu karena ucapannya yang kadang juga garing, Riza yang suka narsis, tapi Riza yang begitu peduli terhadapnya. Sejak mereka berteman dahulu, saat Riza belum memiliki kendaraan pribadi karena belum cukup umur, cowok itu rela untuk naik angkot yang sesungguhnya tidak searah dengan rumahnya agar bisa pulang bersama Thella. Ya meski sama sama naik angkot dua kali, tapi mengikuti angkot yang sama dengan Thella malah membuat jalan ke rumahnya lebih jauh lagi. Sambil terus bersenandung kecil, Thella memasuki kamarnya untuk menaruh tas sekolah dan mengganti baju seragam sekolahnya. Dilihatnya Firda yang tengah serius mengerjakan tugas sekolahnya sambil tiduran di tempat tidur mereka, lalu sang adik seketika menoleh ke arahnya yang baru saja datang sambil bersenandung kecil dan wajah berseri seri ceria. Hal tersebut kontan menarik perhatian Firda, yang biasanya melihat wajah Thella tidak secerah hari ini dan hanya memasuki kamarnya dengan berjalan santai. Sedangkan saat ini, aura kebahagiaan Thella seolah terpancar dari sosok sang kakak yang kini tengah mencari baju ganti yang santai untuk dikenakannya selama di dalam rumah. “Duh, lagi seneng ya, Kak?” tanya Firda iseng, cewek itu kini sudah mengubah posisinya menjadi duduk di atas tempat tidurnya, untuk melihat kea rah Thella yang tengah memilih baju itu. Bahkan Thella sudah mulai bersiul kecil dengan nada lagu yang tidak mellow seperti yang sering Thella nyanyikan. Bukan kan lagu tersebut seolah menandakan tentang suasana hati Thella yang juga sedang bahagia? Firda menjadi tertarik untuk mendengarkan, kira kira hal apa yang sampai membuat kakaknya bisa secerah ini, saat pulang sekolah biasanya yang tersisa hanya aroma matahari yang tercium jelas dari kepala Thella yang kepanasan sepanjang melakukan perjalanan hingga sampai rumah itu. “Enggak sih, biasa aja.” Jawab Thella diiringi senyuman yang belum luntur dari wajahnya. Meski dikatakan biasa saja, tapi wajah Thella jelas tak dapat membohongi perasaannya yang memang sedang dilanda kebahagiaan. Firda yang mengenal Thella, jelas tidak percaya dengan ucapan kakaknya itu. “Uhh, masaaa? Kenapa sih kenapa? Cerita doongg. Kak Riza udah mulai sadar sama perasaannya?” Firda berusaha menebak apa yang membuat kakaknya sebahagia ini, yang diketahui gadis itu, biasanya berhubungan dengan Riza, cowok yang memang terlihat jelas ditaksir oleh kakaknya. Ralat, satu satunya cowok yang dekat dengan Thella dalam kurun waktu selama ini, jelas tidak mungkin jika Thella tidak menyukainya. Terlebih menerima setiap detail kebaikan yang dilakukan Riza untuknya. Tidak mungkin jika kakaknya tidak menyukai Riza, sebab Firda saja, yang melihat bagaimana sikap Riza terhadap Thella, terlarut untuk mengagumi sahabat kakaknya itu. Riza yang terlihat superior dan selalu ada untuk Thella, membuat hatinya menghangat. Perhatian perhatian kecil yang cowok itu tujukan pada kakaknya, membuatnya bertanya tanya, mungkin kah ia juga nanti bisa mendapatkan cowok semanis Riza terhadap Thella? Firda tidak mengerti bagaimana perasaannya saat ini, entah sekadar kagum, atau mungkin ada satu perasaan yang lebih dari sekadar kagum? Namun, apa pun itu, Firda jelas memilih untuk diam alih alih menunjukannya pada Thella. Sebab, Firda tahu pasti bahwa Thella menyukai Riza. “Enggak gitu juga sih. Tapi sedikit ke arah sana lah yaa.” Thella akhirnya menjawab pertanyaan Firda yang terus terusan memancingnya. Mendengar hal tesebut, Firda berusaha untuk tersenyum cerah, sambil menatap kakaknya dengan padangan jail atas jawaban tersebut. “Tuh kaan! Akhirnya mengakui. Ciyee kak Thella, ciyee Kak Riza nih kan yaaa..” Firda terus menggoda kakaknya sepanjang hari itu, yang sukses membuat pipi Thella bersemi kemerahan karena menahan malu atas godaan yang di ucapkan Firda. “Jadi, kenapa Kak? Kak Riza ngajak jalan ya?” pancing Firda lagi, berusaha untuk mendapatkan banyak informasi dari kakaknya itu, soal perkemangan hubungan kakaknya dengan sahabatnya. Meski Firda juga mengagumi sosok Riza, tapi kebahagiaan kakaknya jelas di atas segalanya. Sebab, begitu pun dengan Thella yang begitu mementingkan kesehatannya, dan memastikan dirinya selalu baik baik saja. Mana mungki Firda bertindak jahat pada Thella dengan menusuk kakaknya dari belakang. Apa pun perasaannya untuk Riza, Firda akan membunuhnya sebisa mungkin dan tidak akan menampakannya sedikit pun. Ia lebih bahagia melihat sang kakak bersemi ceria seperti ini, dari pada merasa bersalah karena dirinya yang ternyata malah menyukai sosok cowok yang disukai kakaknya itu. Biarkan Firda saja yang memendam perasaan ini seorang diri, tanpa perlu mendapatkan balasan sama sekali. Thella tersenyum sambil mengangguk malu malu. Akhirnya, cewek itu tak kuasa menahan kebahagiaannya hari ini untuk dibagikan bersama sang adik yang terus terusan memancing jika Thella tidak menceritakannya. “Iya. Tau gak, Fir. Riza ngajak kakak buat ke taman yang sering kakak kunjungin pas SMP dulu. Pokonya, di taman itu emang ada something deh, yang Kakak dan Riza saling berbagi. Kakak nebak, Riza bakal ngelakuin sesuatu yang berkaitan sama apa yang dulu pernah kita certain.” Thella bercerita dengan antusias dan menggebu gebu, menceritakan tentang apa yang terjadi di sekolah tadi, saat Riza mengajaknya untuk keluar hari sabtu ini, yang merupakan akhir pekan. Firda mengangguk paham mendengar cerita Thella, tapi ia masih belum mengerti tentang apa yang pernah terjadi di taman dekat SMP Riza dan Thella itu. Gadis itu pun menatap kakaknya dengan penuh kebingungan. “Emang cerita apa di taman dulu?” tanya Firda untuk memperjelas cerita Thella pada siang hari itu. = = = = = T B C -= = = = =
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN