- 48 -

256 Kata
Riza tertawa pelan, seperti ia punya tipe khusus saja dalam urusan perempuan. Padahal ya gak ada, paling juga patokannya Thella. Yang di maksud Riza gak sesuai tipenya itu, maksudnya Leni gak kayak Thella. Yang manis, mandiri, pintar, sopan, dan segudang sikap baik lainnya. Thella seolah menjadi tolak ukur setiap cewek di pandangan Riza. Kalo gak kayak Thella, berarti Riza gak tertarik. Seolah seluruh magnet hatinya berpusat pada Thella, membuatnya serasa mau gila karena kebucinan yang tiada tara ini. Entah sampai kapan kebodohan hati ini akan berlanjut, Riza juga tidak ingin ini berlarut. Namun apa lah daya hati mengatakan lain, jadi Riza hanya mampu menerima dan menikmatinya. Apanya yang dinikmati kalo kayak gini, bikin panas hati iya yang ada. Karena kenyataan yang menamparnya bahwa Thella tidak bersamanya. "di kamar lo!" Suara Nida membuat Riza kembali tersadar bahwa ia masih tersambung dengan telepon dari Nida yang mengatakan bahwa cewek itu tengah berada di kamarnya, alih alih kamar milik Nida sendiri yang kemungkinan besar sudah dikuasai Leni. Nida sudah pasti jelas kalah karena tidak dibela oleh Mama, tidak seperti Leni yang kemungkinan besar di bela oleh Mama mati matian. Hal tersebut jelas sering membuat kemarahan Nida kian meradang, emosi remaja itu setiap harinya seolah di ganggu oleh sang ibu sendiri yang menomor duakan anaknya ketimbang anak orang lain yang lebih merasa di pentingkan. Riza dapat memahami mengapa Nida akhirnya tumbuh menjadi pribadi yang seperti saat ini. Ia juga merasa turut menyumbang andil atas karakter yang terbentuk Nida saat ini karena kurang memperhatikan adiknya yang tengah di masa pertumbuhan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN