"yaudah, tidur aja di situ!" Suruh Riza akhirnya, membiarkan sang adik tertidur di kamarnya dari pada harus ribut dengan Leni dan menjadi huru hara yang menghebohkan rumahnya. Yang ada Nida nanti semakin sekarat karena merasa sakit hati, lantaran sang ibu yang berada di sana tapi tidak membelanya. Riza benar benar merasa kasihan dengan tumbuh kembang Nida yang merupakan anak bungsu tapi tidak bisa bermanja manja seperti anak bungsu lainnya. Nida di paksa untuk tumbuh seperti orang dewasa, yang bisa tumbuh dengan sendirinya tanpa ada bimbingan sama sekali. Al hasil, yang terjadi Nida justru menjadi sosok yang seperti ini, yang sering dikatakan egois dan keras kepala. Padahal aslinya Nida itu cewek yang periang dan penyayang, hanya saja keadaan telah membentuknya untuk menjadi dirinya yang saat ini. Yang sebagian besar diisi waktu nya oleh kemarahan terhadap apa pun. Dari mulai marah terhadap dunia, keluarga, teman teman, dan setiap benda yang ada di sekitarnya tak luput dari amukan Nida yang di landa kemarahan.
tutt..tutt..tutt..
telpon akhirnya terputus beriringan dengan perintah terakhir Riza yang menyuruh Nida untuk tidur di kamarnya saja, hal tersebut membuat Riza segera menjauhkan ponsel dari telinganya untuk bersiap bergegas pulang ke rumah dan mencari tahu keadaan di rumah yang tampak memanas karena kehadiran Leni. Riza melirik jam tangannya sejenak, sudah malam juga, jadi memang sudah waktunya untuk Riza pulang dan membereskan masalah di rumahnya itu, sebelum Nida semakin mengamuk dan tak ada yang bisa mengatasinya. Hanya pengurus rumah tangganya dulu yang bisa mengatasi amukan Nida, yang sayangnya sudah berhenti bekerja dari rumahnya sehingga Nida kini merasa sendirian dan tak ada lagi tameng yang melindungi.