- 33 -

1896 Kata
Nida mengikuti Riza untuk memasuki kamar kakaknya itu karena hendak melanjutkan pembicaraan yang tadi sempat tertunda, perihal flashdisk dan isinya itu. Ia juga belum sempat mengambil laptop milik Riza dan meminjam ponselnya untuk hotspot, yah setidaknya ia hanya ingin menghindari sosok Lenny yang tampak lebih akrab dengan Mama sih. Yang ada Nida semakin panas melihatnya. Cewek dengan baju kurang bahan seperti itu saja di sanjung sanjung oleh Mama. Segitu pentingnya memang pihak pihak yang berhubungan dengan Mama – yang mana lebih penting dari anaknya sendiri – sehingga mama lebih senang membela Lenny yang digadang gadang kuat sebagai jodoh untuk Riza. Padahal Riza sendiri tampak enggan menanggapi Lenny, serta tidak ada tanda tanda bahwa cowok itu menyukai Lenny. Nida menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur Riza, untuk duduk sejenak di sana sebelum kembali ke kamarnya. Cewek itu tampak masih kesal dengan kehadiran Lenny yang tanpa pemberitahuan dan tiba tiba merusak mood nya saja. Nida harus bisa melindungan Riza dari makhluk seperti Lenny. Lagi pula, jika di lihat dari sikap Riza, kakaknya itu juga tidak menyukai Lenny kok. Tentu saja, Riza kan sudah cinta mati dengan sosok yang digambarkan dalam file yang ia temukan itu. Siapa namanya, Ratu Sweethella itu deh, Nida jadi penasaran seperti apa sosok Ratu Sweethella yang dicintai oleh kakaknya itu. "Eh, Kak! Si Lenny tuh kenapa sih, gak tobat tobat ya. Pake baju sampe segitunya tuh biar apa coba? Udah bener bawa jaket bulu bulu, bukannya dipake buat nutup badannya yang pake baju kurang bahan itu, emangnya gak takut masuk angin apa? Mana tadi dia dari luar, malem malem. Duh, biar narik perhatian lo tuh!” celoteh Nida, masih membahas pakaian Lenny yang tidak disukainya itu, membuatnya menyoroti hal tersebut berkali kali. Padahal, baju Nida juga ada yang seperti itu, tapi karena sudah dibutakan oleh amarah dan rasa bencinya, Nida menjadi terus mengomentari apa pun yang berhubungan dengan Lenny dengan konotasi yang buruk tentunya. Bahkan mungkin, perkara cara Lenny berjalan saja bisa ia bahas dan dibencinya setengah mati. Riza tertawa pelan mendengar ocehan Nida yang seolah memiliki dendam kusumat dengan Lenny. Ia mengetahui dengan jelas, betapa Nida memang tidak menyukai Lenny. Bukan berarti Riza menyukai Lenny sih, tapi yang pasti tidak sebenci Nida yang membenci Lenny, ia hanya sebatas tidak suka saat Lenny dekat dekay dengannya dan bersikap centil saja. "Ngomong atuh ke orangnya jangan ke gue!" kata Riza yang tidak mau terlibat percakapan lebih lanjut tentang Lenny itu, ia pun mencari man dengan menjawab seperti itu. Lagi, percuma juga kan Nida laporan terhadapnya, memang ia mengharapkan apa? Riza di suruh bicara pada Lenny gitu? Riza saja malah berurusan dengan cewek itu, nanti yang ada Lenny kepedean, dikira Riza sudah luluh terhadapnya dan mau menerimanya. Riza kan berusaha untuk menunjukan bahwa ia tidak tertarik dengan Lenny. "Ohh iya, soal flash disk lo itu. Sorry banget yaa, Kak. Gue gak maksud baca baca kok, sumpah! Itu asli deh urgent banget kemarin tuh, gue butuh buat nyalin tugas, lo pulang ke rumah kelamaan. Yaudah, gue cari aja sendiri ke kamar lo, terus ketemu deh it flash disk. Eh pas kebuka, gak sengaja liat file yang isinya curahat hati lo itu. Ya abis gimana, gak dikasih password juga. Lain kali kasih password lah kalo gak mau ada yang baca!” kata Nida menjelaskan perihal kronologisnya dalam mengetahui isi dari file yang ada di flash disk itu. Ia kan tidak sengaja, terus terbaca. Jadi kan bukan sepenuhnya sala Nida juga. Lalu Nida hanya memberikan saran agar Riza lebih hati hati lagi untuk barang pribadinya jika memang tidak ingin diketahui banyak orang. Untung Nida yang melihat, jika yang bersangkutan tahu – ya gak papa sih, bagus kan malah jadi tahu isi hati Riza – tapi entah lah apa yang terjadi hingga Riza harus memendam perasaan sampai segitunya. Riza hanya mendengus, ingin mengomel dan memprotes, tapi ia yakin bahwa itu tidak berguna. Toh, Nida juga sudah membacanya dan ia tidak bisa membuat Nida melupkan apa yang sudah dibacanya. Alhasil ia hanya bisa menerimanya saja. Toh sudah terlanjur juga. "Baca yang mana aja lo?!" Tanya Riza untuk memastikan file mana saja yang di baca Nida. Yaa, saking banyaknya isi file tersebut sampai Riza harus memastikan ia membaca yang mana saja. "Yang all about you doang kok." Sahut Nida, mengingat salah satu nama folder yang berjudul all about you, yang mana berisikan tentang tulisan Riza yang menggambarkan semua tentang cewek yang disukainya itu. Dari mulai caranya menatap, tertawa, bicara, dan sebagainya, segalanya ditulis Riza di sana. Seolah seluruh waktu Riza digunakan untuk mengamati cewek itu saja dan tidak melakukan hal lain, sebab Riza begitu mengetahui semua tentang cewek itu. Betapa Riza mencintainya hingga hafal setiap detail yang dilakukan cewek itu. Dan di situ tertulis jelas nama cewek yang disukai Riza, bagaimana bisa Nida melupakannya. Namanya indah dan tergolong tidak biasa, Nida jadi penasaran seperti apa sosok Ratu Sweethella itu. "Jangan bawel yah lo!" ancam Riza yang merasa bahwa rahasianya kini sudah tidak aman karena sudah diketahuin adiknya yaitu Nida, sehingga ia harus lebih berhati hati, khawatir suatu hari Nida bertemu dengan Thella lalu akan dengan lancarnya mengatakan hal tersebut. Apa lagi jika ada Dirgan juga, yang ada Riza semakin semaput karena rahasianya yang sudah bukan rahasia lagi itu. Ia benar benar harus bisa menutup mulut Nida, atau bahkan melakbannya saja, jika suatu hari teman temannya itu bermain ke rumahnya. Atau ia akan memastikan terlebih dahulu, apakah Nida ada di rumah atau tidak, baru ia akan membawa teman temannya untuk main ke rumah. Ia tidak akan membiarkan Thella dan Dirgan menemui Nida, meski sudah janji, Nida terkadang suka keceplosan, kan sangat membahayakan. "Sipp deh Kakak ku si ganteng maut.." Kata Nida sambil nyengir. Ia masih geli sendiri saat mengingat rangkaian kata yang dibuatkan kakaknya untuk sosok cewek yang menarik perhatiannya itu. Nida jadi semakin penasaran dan ingin sekali bertemu dengan cewek itu, ingin rasanya ia mengulik lebih dalam tentang kisah cinta Riza yang seperti belum kesampaian itu, tentang apa sih penghalang mereka belum bersama sampai Riza segalau itu dan hanya mampu menuliskan perasaannya di folder rahasia? Padahal, tinggal nyatakan aja lebih dulu, Nida yakin, pasti Riza belum menyatakan sama sekali. Sebab isi dari file tersebut hanya tentang Riza dan kekagumannya yang memandingi sosok Ratu Sweethella itu seorang diri. Nida akhirnya menuntaskan keperluannya di kamar itu, dengan membawa laptop dan meminjam ponsel milik Riza. Sebab jika Riza hanya menyalakan hotspot dari kamar ini, koneksi internetnya tidak terlalu kencang, sehingga Nida perlu meminjamnya untuk di bawa ke kamarnya. Ia membenci koneksi internet yang ada di rumah ini, kenapa sering terkendala sih, sialnya terkendala nya datang di waktu yang tidak tepat, alias saat Nida sedang benar benar membutuhkannya. Ponselnya juga tidak menggunakan paket internet yang besar sehingga tidak bisa dijadikan hotspot untu mengerjakan tugas, mungkin mulai besok Nida harus memakai paket internet dengan jumlah giga bite yang banyak agar tidak perlu lalu meminjam peralatan Riza. Tapi ada hikmahnya juga kan meminjam barang barang Riza, ia jadi mengetahui sosok cewek yang rupanya dicintai kakaknya. Ia pikit Riza sedater itu, tidak ada cewek sama sekali yang didekati karena sibuk dengan hal hal yang tidak berguna yang entah apa. Rupanya kakaknya masih normal, meski yang dikhawatirkan Nida, jika tidak ada cewek yang disukai Riza, bisa bisa Riza menerima saja dengan lapang d**a saat mama menjodohkannya dengan Lenny. Jika seperti ini kan, setidaknya ada harapan Riza akan berjuang bersama cewek itu di bandingkan malah berakhir dengan Lenny si nenek lampir bin nenek sihir yang dibenci Nida mati matian. *** Hari senin akhirnya tiba juga. Hari yang kini sangat dibenci Riza karena dirinya harus masuk sekolah. Tapi, berkat hujan hujanan sabtu kemarin, Riza sukses demam tinggi saat hari minggu. Sampai hari ini pun, ia masih merasa sakit kepala dan tidak enak badan, terlebih Riza tidak membilas dirinya setelah hujan hujanan dan langsung tidur begitu saja. Meski sebenarnya Riza memang mencari penyakit sendiri sih dengan bersikap seperti itu. Demi agar hari ini tidak perlu masuk ke sekolah. Alhasil, pukul tujuh pagi, Riza masih menempel di tempat tidurnya. Sambil bersembunyi di balik selimut tebalnya, tampak masih nyaman berada di sana dan enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya. Sambil matanya terpejam, diam diam Riza memikirkan sesuatu. Jadi berapa hari ia akan izin tidak masuk sekolah karena demam ini? Seminggu? Dua minggu? Oke, hiperbolis. Tentu saja tidak mungkin, bisa bisa Riza malah diberi surat panggilan untuk ke dua orang tuanya karena sang anak yang tidak masuk sekolag lebih dari dua minggu itu. Jadi, Riza buru buru menyingkirkan pikiran konyolnya dan digantikan dengan pemikiran yang lebih logis. Kemungkinan besar, ia hanya akan tidak masuk sekolah sampai besok, lalu hari rabu sudah kembali masuk lagi sekolah, dan menjalani serentatan aktivitas serta kewajiban sebagai siswa SMA. Serta harus melihat Dirgan dan Thella yang baru jadian di depan matanya langsnug – alasan utama mengapa Riza ingin sekali bolos sekolah – karena tentu saja tidak sanggup melihat Thella bersama Dirgan yang akan menjalani peran sebagai sepasang kekasih di sekolah. Namun, mau segimana menghindar pun, Riza tetap akan menghadapinya nanti. Jadi, Riza memang harus menghadapinya. Mau tidak mau. Suka tidak suka. Ya, Riza yakin pasti ia bisa menghadapi semua itu. Tapi yang jelas, tidak dalam waktu dekat ini. Ia perlu menata hati dan mempersiapkannya, tidak bisa begitu saja dan tahu tahu menghadapi segalanya tanpa persiapan. Jadi, setidaknya selama dua hari ia bolos ini bisa menjernihkan pikiran, dan mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan Dirgan dan Thella. Meski yang dilakukan Riza dua harian ini pasti hanya akan di isi oleh tidur saja, oh iya ia juga akan ke dokter sih, demi mendapatkan surat dokter dan diberikan pada sekertaris di kelasnya, sebagai tanda bukti bahwa dirinya memang benar benar sakit. Sakit fisik, sakit hati juga, kurang sakit apa coba? Riza merogoh area tempat tidurnya, untuk mencari ponselnya yang seingat Riza ia letakan asal di tempat tidur saat ia mau tidur semalam. Namun, Riza tak menemukannya karena mencari sambil tiduran seperti itu dan hanya meraba raba. Alhasil, cowok itu pun bangkit dari rebahannya dan mulai mencari ponselnya dengan benar sambil duduk, dengan membuka selimut yang menutupi tempat tidurnya itu agar ia bisa lebih jelas melihat area tempat tidurnya, sehingga bisa lebih mudah mencari ponselnya itu. Riza menyingkirkan bantal yang menghalanginya, menduga siapa tahu ponselnya ada di bawah bantal. Dan benar saja, akhirnya Riza menemukan ponselnya di bawah bantal yang ada di sampingnya. Buru buru Riza membuka ponselnya, yang ternyata kehabisan daya. Cowok itu hanya mendengus, lalu menarik kabel yang ada di samping tempat tidurnya tepatnya dari atas meja, untuk mencolokkan ke ponselnya agar bisa mengisi daya. Ponselnya mati total, karena Riza benar benar lupa mengisi daya ponselnya. Ia melirik jam dinding yang ada di kamarnya, jam segini pasti di sekolah sudah masuk. Apa jika Riza tidak masuk, Thella akan duduk dengan Dirgan? Membayangkan hal tersebut, membuat kepala Dirgan yang sudah pusing menjadi semakin pusing. Buru buru Riza mengenyahkan pikiran semacam itu dari kepalanya dan memilih focus untuk menyalakan ponselnya. Setelah menunggu hingga ponselnya menyala, akhirnya Riza dapat membuka beberapa aplikasi yang ada di ponselnya itu. Riza perlu menunggu beberapa menit hingga data di ponselnya menyala, lalu menderingkan notifikasi berupa pesan masuk yang terus berdatangan, sehingga membuat ponselnya terus berbunyi, berdenting, dan bergetar seraya menerima banyaknya notifikasi yang masuk. Seketika Riza tampak kebingungan, siapa sih orang kurang kerjaan yang mengirimkannya pesan sampai sebanyak ini? Ponsel Riza jadi mendadak tidak bisa gerak, padahal ponselnya tergolong keluaran terbaru dengan brand paling ternama di Indonesia. Memang yang mengirim pesan saja ini tidak kira kira, alias kebanyakan, sampai membuat ponselnya eror.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN