32.

1222 Kata
Nida terus menatap sosok cewek itu dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, bukan hanya kepribadiannya yang dibenci Nida. Rasa benci Nida sungguh sudah merembet ke segala hal, hingga cara berpakaian cewek itu pun menjadi sorotan Nida karena terasa merusak matanya. Cewek itu, malam malam begini, hanya menggunakan baju tanpa lengan serta hot pants dengan bahan tipis. Nida dapat melihat jaket berbulu yang tersampir di kopernya, tapi entah sejak kapan jaket itu dibuka. Mungkin demi semata menarik perhatian Riza, agar Riza dapat menikmati aset asetnya yang menonjol itu. Sial! Nida benar benar muak dengan tingkah cewek ini. Ia tidak akan sudi jika sampai Riza sampai jadian dengan nenek lampir satu ini. Meski di dukung mama nya mati matian, Nida akan menjadi orang pertama yang menentang hubungan mereka berdua sambil membawa bendera besar berisi penolakan, seperti masa yang berdemo menolak undang undang. "Ehh lo pake baju kurang bahan apa yah?" Tanya Nida sinis, dengan tatapannya yang jauh sekali dari bersahabat. Justru tatapannya serasa mengibarkan bendera perang terang terangan, jika perlu perang detik ini juga Nida siap kok. Jika Nida saat ini memegang bom atom, mungkin sudah ia lemparkan pada cewek itu sekarang juga agar dia tidak bisa lagi ke tempat ini karena sudah mati mengenaskan. "Nida, kamu yang sopan dikit dong sama Kak Lenny!” bentak Mama yang semula manis terhadapnya, berubah menjadi mengomel terhadapnya. Mama bahkan lebih memilih untuk membela cewek itu, yang bernama Lenny sesuai yang Mama sebutkan, alih alih membela anaknya sendiri yang jarang diperhatikan ini. Padahal, Nida akan sangat senang jika mama membelanya di hadapan orang lain, bukan malah menyalahkannya begini dan memilih untuk membela Lenny yang bukan siapa siapa. Oh salah, Lenny penting bagi Mama. Lenny merupakan anak dari rekanan bisnis keluarga ini. Mama begitu menyayangi Lenny layaknya anak sendiri – yang bahkan tidak diberikan kasih sayang sampai segitunya – orang tua Lenny sangat akrab dengan Mama dan Papa. Mereka sering menjalin kerja sama bisnis yang saling menguntungkan. Maka dari itu Mama begitu baik pada Lenny. Sesungguhnya, Lenny tergolong sebagai teman masa kecil Riza – tapi tetap tidak akrab amat – atau tepatnya Riza tidak mau terlalu akrab dengan Lenny yang menurutnya sangat manja. Nida juga sudah mengenal Lenny dari kecil, karena itu lah ia membenci Lenny, karena di anggap sudah mengambil alih perhatian orang orang darinya yang padahal masih membutuhkan banyak perhatian. Satu fakta lagi, mama seolah gencari sekali untuk menjodohkan Lenny dengan Riza. Terbukti dengan membawa Lenny ke sini, pasti karena Mama ingin kembali mendekatkan diri pada Riza agar mereka berdua semakin akrab. Mama jelas ingin sekali besanan dengan rekan bisnis yang menurutnya potensial, dalam hal ini keluarga Lenny termasuk dalam kandidat yang bagus. Mama jelas tidak akan menyia nyiakan kesempatan emas itu, dan langsung menjodoh jodohkan Riza dengan Lenny tanpa peduli Riza setuju atau tidak. Riza yang tadi habis di peluk Lenny, buru buru melepaskan cewek itu agar tidak memeluknya terlalu lama. Ia juga risih saat Lenny menempelkan dadanya yang berusaha ditonjolkan itu ke tubuhnya, berniat untuk memancing sisi lelaki Riza, justru malah membuat Riza tidak suka karena Lenny yang terlalu terbuka seperti ini. Jujur saja, ia memang tidak begitu suka bergaul dengan Lenny, baik dulu atau pun sekarang. Maka, Riza hanya tersenyum simpul sebagai formalitas belaka pada Lenny, lalu dirinya buru buru bergegas untuk pergi lagi dari ruang tamu ini. Untuk kembali ke kamarnya dan melanjutkan peristirahatannya yang terganggu dengan banyak hal, dari mulai Nida yang rusuh, hingga saat ini ibunya datang dengan membawa Lenny yang pasti akan mengganggunya juga. Riza merasa hidupnya semakin tidak tenang dengan seretetan kejadian ini. Apa ia harus mulai mempertimbangkan untuk mendaftarkan diri sebagai manusia yang akan diterbangkan ke mars? "Ohh, Riza mau ke kamar lagi, mau istirahat, capek banget. Duluan ya, Len." Kata Riza yang segera pergi meninggalkan ruang tamu itu, lalu berbalik arah untuk menaiki tangga dan kembali ke kamarnya, tanpa peduli bahwa di ruang tamu ada Lenny yang merupakan temannya sejak kecil, tampak antusias saat melihat Riza. Ya memang, siapa yang suruh cewek itu datang ke sini. Riza juga tidak meminta, jadi Riza tidak ada kewajiban untuk menemaninya kan? Riza benar benar ingin merebahkan diri di tempat tidurnya, kembali meratapi nasibnya yang malang karena sudah kehilangan kesempatan untuk bersama Thella. Ia tidak akan mengurusi Lenny yang tidak tahu apa tujuannya datang ke sini dan hanya akan memperkeruh suasana dengan mengikutinya terus menerus. Ia tidak paham, memangnya Lenny tidak bisa menangkap penolakannya yang sudah ditunjukkan dengan sangat jelas itu? Bisa bisanya Lenny masih berusaha untuk mendekat saja. "Gue ikut Kak." Nida pun berlari kecil mengikuti Riza untuk menaiki tangga, mengejar langkah kakaknya yang sudah lebih dulu menaiki anak tangga. Siapa juga yang mau melepas kerinduan dengan nenek sihir, mending masuk ke kamar dan kunci pintu sebelum mama menyuruh Lenny menginap di kamarnya. Nida tidak akan mengijinkan Lenny untuk memasuki kamarnya barang sejengkal pun. Tidak akan ia ijinkan sedikit pun. "Riza, Nida, kalian gimana sih masa Lenny ditinggal sendirian?" Teriak Mama yang melihat kelakuan anaknya yang malah meninggalkan sosok yang menurutnya penting. Ke dua anaknya itu tidak peduli dengan sopan santun dan memilih pergi begitu saja, Mama sudah berteriak pun mereka berdua sama sekali tidak menoleh dan memilih untuk tetap berjalan, melangkah menaiki tangga untuk memasuki kamarnya masing masing. Riza dan Nida benar benar tidak menoleh sama sekali. Dilihatnya Nida malah ikut masuk ke kamar Riza, karena terlihat seperti berbisik entah membahas apa. Mama masih teriak teriak memanggil nama ke dua anaknya, tapi tidak dihiraukan sama sekali. Alhasil, Mama hanya berusaka untuk menenangkan Lenny yang tampak bete karena sikap mereka berdua itu. Mama sebisa mungkin berusaha menghibur cewek itu dengan membicarakan hal hal yang lebih baik dari kejadian malam ini. “Riza lagi capek kali, Len. Kamu mau istirahat di kamar tante kan? Yuk?” ajak Mama seraya menggandeng Lenny untuk melangkah menuju kamarnya. Entah akan sampai berapa hari Lenny menginap di rumah ini sampai membawa koper seperti itu. “Masa Riza gak suka sama Lenny sih, Tante.” Keluh Lenny sambil berjalan untuk menuju kamar milik Sita yang berada di lantai bawah. Wajah Lenny menjadi keruh karena sikap Riza dan Nida yang tidak bersahabat dan sama sekali tidak menyukai kehadirannya itu, beruntung Sita tetap mendukungnya, membuat Lenny menjadi kembali bersemangat untuk mendapatkan hati Riza karena ia sudah dekat dengan Mamanya. Sita benar benar sudah bertekad untuk memilihkan jodoh yang tepat untuk Riza, meski Riza masih SMA, tapi ia akan membuat Riza terus dekat dengan Lenny hingga mereka bisa terbiasa dan saling tumbuh rasa cinta. Sebab Lenny dan keluarganya merupakan aset berharga, yang sangat berguna untuk bisnis keluarganya ini. Untuk itu, Riza harus mau membantu agar bisnis keluarganya tetap berjalan seperti saat ini. Bagaimana pun caranya, Sita akan berusaha agar Riza bisa dekat dengan Lenny. Ia yakin, pada akhirnya Riza bisa luluh dengan Lenny. Toh, Riza juga tidak pernah terlihat dengan cewek mana pun. Jadi, lebih baik Riza bersama Lenny kan. Banyak yang diuntungkan jika mereka bersama. Meski masa depannya masi panjang, tapi tidak ada salahnya untuk dipersiapkan sejak dini, sebab persiapan untuk masa depan Riza sudah di atur sedemikian rupa oleh Sita. Dengan harapan agar semua yang terjadi masih di bawah kendalinya. Riza hanya seorang remaja yang masih belum bisa menentukan pilihannya dengan benar, untuk itu Sita sebagai ibu yang baik akan membantu Riza dalam menentukan masa depannya. Salah satunya dengan menjalin hubungan baik dengan Lenny yang merupakan anak dari rekanan bisnisnya yang bernilai besar itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN