- 43 -

1572 Kata
"Yaudah deh." ucap Thella pasrah, akhirnya. Sambil mengikuti Riza untuk menggerakkan tangannya, membenahi kertas kertas yang tadi sudah ia susun. Sebisa mungkin ia kembali memasukan dengan urutan yang benar agar tidak berantakan lagi. Thella sangat terbantu sekali dengan kehadiran Riza ini, membuatnya tidak harus repot repot sendirian hingga kelelahan sendiri, Riza selalu membantunya dalam urusan seperti ini dan bahkan rela menunggunya hingga dirinya juga ikut pulang bersama cowok itu. Thella bersyukur sekali meski posisi Riza memang hanya sebatas sahabatnya. Sikap Riza juga tidak berubah meski dirinya kini sudah menjalin hubungan dengan Dirgan, Riza masih seperti sebelumnya, memberikan perhatian perhatian kecil terhadapnya serta membantu dirinya setia[ kali ada kesulitan. Betapa Thella selalu ingin mengandalkan Riza dalam melakukan aktivitasnya jika Riza seperti ini. Waktu bersama dengan Thella seperti ini serasa berharga, meski hanya di isi dengan menemani cewek itu membenahi tugas atau pun menamninya mengerjakan tugas yang seharusnya untuk Riza dan malah dilimpahkan pada Thella. Hanya ada mereka berdua di sana, meski tidak melakukan hal hal aneh, dan hanya sebatas mengerjakan tugas, tapi hati Riza serasa menghangat dan bergetar. Riza ingin merasakan moment seperti ini terus, bersama Thella begini, berdua. Menikmati masa masa remaja seperti seharusnya, dan sang pujaan hati yang saling mendamba satu sama lain. Hanya saja terdapat jurang pemisah yaitu perasaan sang sahabat yang lain. Yang merupajan kekasih dari Thella, dengan Riza yang membantu Dirgan sampai bisa menjadi sosok kekasih bagi Thella itu. Dengan kata lain, seolah Riza yang memang menginginkan hal itu, sebab jika tidak untuk apa juga Riza membantunya? Hanya sekadar membuka lembaga amal dalam membantu sahabat menyatakan perasaannnya mungkin. Mereka akhirnya selesai memasukan kertas kertas tersebut serta menyusunnya dengan rapi. Riza pun membantu Thella untuk memasukan berkas berkasnya ke dalam tas, berikut dengan flash disk milik Riza yang tadi di pinjamkan. Riza menyusun barang barang tersebut ke dalam tas Thella dengan rapi, membuat isi tas Thella tampak padat sekali dengan barang barangnya hari ini. Pasti tas itu sangat berat sekali, tapi Thella sama sekali tidak menunjukan bahwa dirinya keberatan dengan isi tasnya itu. Thella yang memang jarang mengeluh dan hanya menjalani hal hal yang harus di jalaninya, itu lah yang membuat Riza mengangumi sosok itu sampai segininya. Thella nya yang selalu hebat dan mampu melakukan segalanya. “Yuk, Thel?” ajak Riza untuk keluar dari ruangan komputer tersebut untuk beranjak pulang ke rumah, dengan Riza yang akan mengantar Thella pulang ke rumahnya tapi mampir terlebih dahulu ke rumahnya untuk mengambil laptop. Riza sudah berjalan terlebih dahulu dan mencapai pintu ruang komputer untuk beranjak ke parkiran, mengambil motornya yang terparkir di sana. Cowok itu tampak menunggu Thella yang tadi ada barangnya yang tertinggal, dan masih berdiam diri di dalam pintu. Dilihatnya Thella yang kini sudah mulai berjalan ke arahnya dan tidak ada lagi yang tertinggal hingga akhirnya mendekat ke posisinya. Thella menoleh sejenak pada penjaga ruang komputer, lalu menundukan kepalanya seraya berpamitan. “Kak, pulang ya. Makasih,” kata Thella seraya berpamitan pada penjaga ruangan tersebut, diiringi gerakannya yang memberikan gestur sopan. Lalu baru beranjak dari sana untuk mengikuti Riza berjalan sampai parkiran, tempat motornya ia parkirkan. Mereka berdua akhirnya berjalan beriringan menyusuri koridor sekolahnya yang sudah tampak sepi. Sambil sesekali mereka mengobrol tentang keseharian mereka masing masing. Keduanya sama sekali tidak menyinggung soal Thella yang pacaran dengan Dirgan, seolah hal tersebut sudah menjadi perjanjian bagi keduanya untuk menghindari pembahasan itu. Mereka seolah ingin terlarut dalam kebersamaan mereka berdua, tanpa ada lagi pembahasan mengenai orang ke tiga di antara mereka. Meski nyatanya, yang menjadi orang ketiga jika memang ada, sudah pasti orang itu adalah Riza. Sesampainya di parkiran, Riza segera menghampiri tempat motornya terparkir dengan diikuti Thella. Suasana parkiran juga sudah sepi, hanya tersisa beberapa motor yang masih berjajar di sana, yang di prediksi tinggal milik pekerja di sekolah yang membawa motor, bukan lagi milik siswa yang sudah nyaris pulang seluruhnya. Riza pun mengeluarkan motornya dari sana, lalu Thella naik ke boncengan cowok itu untuk di antar pulang. Setidaknya hari ini ia bisa pulang lagi bersama Riza, yang kemungkinan besok besok ia sudah tidak bisa melakukannya lagi karena harus fokus bersama Dirgan. *** Sesampainya di rumah Thella langsung memasuki rumahnya yang sederhana itu. Saat memasuki kamarnya ia melihat sosok sang adik sedang terbaring lemah di tempat tidurnya. Rasa kasihan serta sayang itulah yang dirasakan Thella kepada sang adik yaitu Firda. Seperti info yang ia dapatkan dari Rocky bahwa di sekolah tadi Firda pingsan, Thella benar benar tidak tega atas segala penderitaan yang dirasakan Firda, betapa Firda tidak bisa beraktivitas seperti remaja pada umumnya karena harus terbatas dengan kesehatannya. Firda yang tidak bisa kelelahan sehingga tidak bisa bermain dengan bebas seperti teman temannya. Hingga tak jarang Thella menyaksikan kenyataan bahwa Firda tidak memiliki teman di sekolah, kecuali Rocky. Karena sepanjang Thella memperhatikan, hanya Rocky satu satunya teman Firda yang dikenal Thella. Meski dulu Firda pernah bercerita bahwa ia memiliki teman cewek yang baik dan mau berteman dengannya tanpa peduli ia sakit, hanya saja entah karena alasan apa Firda sudah tidak pernah bercerita tentang hal itu lagi, seolah sudah menutup diri dari pertemanan itu. Thella berjalan menghampiri tempat tidurnya, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya mengusap lembut puncak kepala sang adik yang masih terlelap. Suhu tubuh Firda yang hangat dapat dirasakan oleh kulit tangannya, serta bulir bulir keringat yang menumpuk pada dahinya. Thella terus mengusap sang adik, memberikan sentuhan kasih sayang dengan tujuan menguatkan adiknya itu. Thella bahkan tidak mampu membayangkan, seusia Firda harus dibatasi dengan aktivitas yang tidak bisa dilakukannya, sementara seperti yang diketahui Thella sendiri tergolong aktif beraktivitas. Sepulang sekolah tak jarang Thella main terlebih dahulu, atau pun menghabiskan waktu akhir pekan bersama teman temannya. Tapi Firda tidak bisa melakukan itu karena tidak boleh kelelahan. Firda tertidur dengan lelap hingga tidak sadar saat tangan Thella terus mengusap dahinya, sepertinya Firda sangat kelelahan hari ini, atau ia sangat tidak kuat menahan rasa sakit yang dideritanya. Membayangkan Firda harus merasakan sakit setiap detiknya membuat Thella merasa ngilu, bahkan Thella menghadapi nyeri saat menstruasi saja sudah sering mengeluh. Tidak terbayang dengan apa yang harus dirasakan Firda, yang nyeri di sekujur tubuhnya hingga harus membatasi aktivitas. Lalu firda merasakan hal tersebut dalam kurun waktu yang tentu saja tidak sebentar. Thella tahu bahwa adiknya memang kuat, ia berharap Firda akan terus bertahan hingga mereka menemukan cara agar Firda bisa sembuh. Setelah selesai meratapi nasib sang adik, Thella pun kembali bangkit dari duduknya untuk berganti seragam sekolahnya dengan baju santai saat di rumah. Cewek itu berjalan menuju lemari yang berada di sudut kamarnya untuk mengambil baju. Namun, baru beberapa langkah dirinya berjalan, tiba tiba ponsel yang ia letakan di saku seragamnya bergetar menandakan ada pesan masuk. Thella pun merogoh saku seragamnya untuk mengambil ponsel tersebut, lalu mengecek notifikasi yang barusan berbunyi, untuk melihat pesan dari siapa yang baru saja masuk. Saat membaca nama sang pengirim, seberusaha mungkin Thella tidak menarik sudut bibirnya ke atas untuk membentuk senyuman. Tidak, Thella tidak boleh bersikap seperti ini. Hanya mendapatkan sebuah pesan singkat dari Riza saja, sesuatu dalam dirinya seolah berterbangan, seperti ada yang menggelitik hingga membuat Thella terasa geli sendiri. Ada perasaan berbunga bunga meski hanya sekadar membaca nama itu, bahkan sebelum ia membuka isi pesan yang dikirimkan Riza kepadanya itu. Thella membenci perasaannya yang harus menyakiti orang lain. Thella tidak boleh begini pada Riza, sementara dirinya malah menjalin hubungan dengan Dirgan. Jika sampai Dirgan mengetahui isi hati yang sesungguhnya, pasti cowok itu akan merasa terkhianati sekali. From: Riza (081xxxxxxx) Thel, nanti gue ke rumah lo ya jam 7 malem bareng Dirgan. Sekalian kita mau latihan nyanyi lagi biar penampilannya bagus. Thella tersenyum tipis saat membaca chat Riza yang begitu informatif untuk memberitahukan padanya bahwa cowok itu nanti malam akan berkunjung ke rumahnya. Thella buru buru melenyapkan senyumannya saat berpikir bahwa hal tersebut salah, ia membenci refleksnya yang kelewatan jika berkaitan dengan Riza. Thella bahkan merinding mengapa intusisinya bergerak sampai segininya. Tak ingin terlarut menikmati perasaan yang berbunga bunga seperti ada kupu kupu yang menggelitik di perutnya, Thella pun buru buru mengetikkan balasan untuk pesan Riza tadi yang mengatakan akan ke rumahnya bersama Dirga. Benar, bersama Dirgan yang statusnya adalah kekasihnya. Seharusnya Thella tidak perlu heboh begini hanya karena Riza padahal yang menjadi kekasihnya adalah Dirgan. To: Riza (081 xxxxxx) oke Za. Jangan lupa ya, sekalian bawa laptop buat gue ngerjain tugas dari Bu Elis. Oiya, jangan lupa bawa makanan juga yaa, kalian kan hobi makan tuh. Thella mengklik tombol send untuk pesan tersebut, setelah memastikan bahwa pesan itu terkirim baru lah Thella menaruh asal ponselnya pada meja yang berada di dekat tempat tidurnya. Lalu cewek itu melanjutkan aktivitasnya untuk mengganti seragam sekolahnya dengan baju santai seperti niat awalnya tadi. Dibukanya lemari yang terbuat dari bahan kayu tersebut, yang pintunya tampak sudah nyaris copot karena sudah berusia lama sekali dan belum di ganti dengan yang baru. Lalu Thella mengambil dengan pelan pelan sebuah kaos yang tersusun rapi dalam tumpukan pakaian di lemarinya dengan sebuah celana panjang yang berbahan lebih santai untuk ia gunakan di dalam rumah. Setelah selesai berganti baju Thella pun segera beranjak untuk keluar kamar, untuk membereskan pekerjaan rumah seperti cuci piring, cuci baju, atau pun merapikan ruang tamu rumahnya. Rutinitasnya setiap kali pulang sekolah memang membenahi rumahnya, karena di rumah itu hanya dirinya anak cewek yang tergolong sehat. Tidak mungkin Firda melakukan semua pekerjaan ini di saat berdiri saja kaki nya lebih sering bergetar hingga nyaris tak mampu menopang tubuhnya sendiri. Apa lagi jika Firda melakukan semua pekerjaan yang menguras tenaga ini, Thella tidak dapat membayangkan betapa adiknya itu pasti akan kelelahan dan kambuh lebih parah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN