- 44 -

2480 Kata
Cewek itu sudah terbiasa melakukan segala macam pekerjaan rumah dengan suka cita tanpa merasa kelelahan. Thella tampak menikmatinya, mengerjakan aktivitasnya sambil sesekali bersenandung kecil menikmati setiap detiknya yang ia gunakan untuk melakukan pekerjaan rumah. Meski terkadang ia mengeluh karena cucian yang banyak, hanya saja berupa keluhan sesaat dan tidak terlarut. Thella tetap mengerjakan pekerjaannya sampai selesai agar bisa melakukan hal hal lainnya. Setiap harinya memang seperti itu, ia baru akan melakukan aktivitas lain setelah kegiatan pokoknya itu selesai. Thella sudah terbiasa mengatur waktunya agar bisa melakukan berbagai aktivitas. Di dalam kamar mandi, selagi menggilas cuciannya yang berada dalam bak bak yang ada di sampingnya, sesekali pikirannya berputar. Bahkan dalam keadaan mengerjakan pekeraan rumah saja Thella masih sempat sempatnya memikirkan tentang Riza. Moment pulang sekolah tadi, ketika Riza dengan sabar menunggunya mengerjakan tugas dan bahkan turut membantunya juga, Thella terus teringat bagaimana segala sikap Riza terhadapnya sampai detik ini. Riza yang perhatian, Riza yang selalu menemani dirinya, Riza yang kerap kali bisa membuatnya tertawa. Bagaimana mungkin Thella tidak terjatuh pada sosok itu jika setiap harinya ia di hadapkan dengan cowok itu? Bagaimana mungkin Thella dapat mengelak perasaan itu ketika setiap sikap Riza justru kerap kali meluluhkan perasaannya lagi dan lagi. Dirgan. Baik, satu nama itu kembali menyadarkan Thella pada akal sehatnya. Ia memiliki Dirgan, sahabatnya di SMA yang ternyata menyukainya juga dan kini telah menjadi kekasihnya karena bantuan Riza. Thella tidak bisa terus terusan menjadi pengkhianat hati seperti ini. Tersenyum manis di hadapan Dirgan, padahal hatinya tak berpihak dengan lelaki itu sama sekali. Rasanya Thella merasa bahwa dirinya semakin menyeramkan mengingat sikapnya saat ini, membuat dua nama terikat dalam pikirannya, tapi hanya memberikan satu nama untuk di ukir pada hatinya. Nama yang jelas jelas tidak memihak padanya dan hanya menganggapnya tak lebih dari sahabat. Terlalu banyak memikirkan hal tersebut, membuat tangan Thella bekerja lebih lambat dari seharusnya. Menyadari hal itu Thella buru buru mengenyahkan segala macam pikiran yang ada di kepalanya, lalu bergegas untuk mempercepat gerakannya. Masih banyak pekerjaan yang menantinya setelah ini. Cucian piring saja belum ia pegang, belum lagi nanti jemur pakaian, bereskan ruang tengah karena akan ada teman temannya yang datang berkunjung. Thella tidak boleh kebanyakan melamun hal yang tidak penting sebab waktunya yang terbatas dalam melakukan semua ini. Bisa bisanya ia malah berkelana dengan perasaannya yang membingungkan itu. *** Hari sudah mulai gelap ketika Thella merapikan baru saja selesai dengan semua pekerjaan rumahnya. Cewek itu kini tampak sedang membaringkan tubuhnya di ruang tamu. Sebuah ruangan berukuran dua kali dua meter di rumah kontrakannya yang tergolong hanya beberapa petak. Ukuran yang tidak luas tapi bagi Thella hal ini sudah cukup, apa lagi saat melihat teman temannya juga nyaman bermain di sini meski rumah mereka dapat di pastikan jauh lebih bagus dari ini. Mereka semua tampak tidak keberatan atau merasa risih dengan keadaan tempat tinggal Thella yang tidak sebagus rumah mereka. Sebab meski kecil, rumah Thella tampak rapih dan bersih karena cewek itu yang rajin membersihkan sehingga terlihat lebih terawat. Firda masih di kamarnya dan memilih untuk menghabiskan waktu dengan membaca novel yang cewek itu pinjam dari perpustakaan sekolahnya. Keadaan Firda tampak lebih baik ketimbang saat ia pulang sekolah tadi yang masih terlihat pucat dan berkeringat dingin. Kini Firda sudah mampu untuk keluar dari kamarnya juga tadi untuk makan sore. Hanya tinggal masih sedikit lemas dan membutuhkan lebih banyak waktu untuk beristirahat. Maka Thella tidak mengijinkan Firda untuk banyak gerak dan dibiarkannya saja menghabiskan waktu di dalam kamarnya bersama novel yang kerap kali ia pinjam dari perpustakaan sekolah yang untungnya memiliki koleksi novel yang cukup baik. Thella menonton tayangan televisi dari tv tabung berukuran 14 inch yang ada di rumahnya, dengan ukuran kecil itu memang layar tak menangkap gambar dengan jelas. Tapi Thella masih tetap bisa menikmatinya serta channel nya pun masih lengkap. Dan lagi sinyal penyiaran di rumahnya cukup baik sehingga tidak renyek saat Thella menontonnya. Ia mensyukuri segala macam nikmat yang ada, yang masih bisa dirasakannya kini meski banyak hal yang juga membuatnya merasa menderita. Tetapi semuanya terasa imbang dan pas, dengan dikelilingi banyaknya orang orang baik di sekelilingnya Thella sudah merasa senang, puas, dan bersyukur atas segala macam yang di dapatkannya. Thella melirik jam dinding yang ada di ruang tamu rumahnya. Riza mengatakan malam ini dirinya dan Dirgan akan bermain ke rumahnya untuk latihan nyanyi. Dilihatnya waktu sudah menunjukan nyaris pukul tujuh malam, tapi mereka berdua belum juga datang. Memang malam versi mereka adalah setelah waktu magrib, sebab jika terlalu malam nanti pulangnya akan lebih malam. Mereka tidak menyukai pulang terlalu malam karena akan terasa lebih melelahkan, yang mana keesokan harinya harus berangkat ke sekolah pagi pagi sekali, yang mana membuat mereka juga harus bangun pagi, sehingga jatah istirahat mereka hanya menjadi beberapa jam saja. Untuk itu lah mereka menghindari main hingga larut malam demi bisa beristirahat lebih lama. Tepat pukul 7 malam suara motor yang familier di telinga Thella mulai terdengar dan menghentikan mesinnya tepat di depan rumah Thella. Cewek itu pun buru buru duduk dari berbaringnya karena tidak enak dengan teman temannya yang notebandnya adalah seorang lelaki juga. Untuk itu Thella lebih memilih duduk saja dan tidak mau banyak bertingkah untuk menghindari masalah. Hingga beberapa saat kemudian pintu nya yang semula ia biarkan setengah tertutup tiba tiba terbuka begitu saja hanya dengan sebatas ketukan kecil seraya sopan santun. Thella dapat melihat Riza yang datang dengan membawa sebuah gitar miliknya yang kerap kali digunakan saat mereka latihan menyanyi seperti ini. Cowok itu pun mengucapakan salam yang segera disahut oleh Thella, lalu berjalan memasuki ruang tamu rumah Thella. Riza segera mengambil tempat duduk tak jauh dari Thella duduk, lalu membuka tas, jaket, serta barang bawaannya yang lain di rumah Thella. Begitu juga dengan gitarnya yang ia letakkan asal di sampingnya. Cowok itu kini tampak sedang merapikan barang barangnya sejenak sebelum mengobrol lebih lanjut dengan Thella membahas apa pun. Lalu Riza berusaha merenggangkan otot otot di tubuhnya dengan menggerakkan kedua tangan menyerupai orang baru bangun tidur, cowok itu melakukannya berkali kali hingga setelah selesan baru lah tataapn Riza mengarah pada Thella yang duduk di sana. "Dirgan mana?" tanya Thella yang baru menyadari bahwa kedatangan Riza hanya seorang diri, tidak bersama Dirgan sesuai dengan tadi yang cowok itu ucapakan dalam pesannya bahwa mereka berdua akan ke rumahnya malam ini. Ternyata hanya ada Riza yang datang dengan segala peralatan yang dibawanya yang banyak dan repot sekali. Thella sampai tidak habis pikir melihat Riza, cowok itu terlihat seperti ingin pindaahn, padahal Riza kan cowok, masa iya gak ribet bawa barang barang sebanyak itu. Dan yaa masalahnya kan tidak berguna berguna amat, jadi ngapain di bawa gitu loh. Tapi namanya juga Riza yang kelewat kreatif, jadi biarkan lah dia bereskspresi dan berinisiatif sesuka hari. "Masih di jalan, tadi kata dia sih gitu." jawab Riza singkat yang memang tidak mengetahui keberadaan Dirgan yang tadi katanya baru berangkat dari rumahnya, saat Riza sudah ada di jalan. Berarti memang saat ini Dirgan masih dalam perjalanan menuju ke sini, mereka memang tidak berangkat bareng karena memang memiliki kendaraan masing masing serta letak rumah mereka yang juga berlainan. Alhasil memang seperti ini biasanya, memutuskan untuk bertemu langsung saja di tempat tujuan dengan menggunakan kendaraan masing masing, bukan kah hal tersebut menjadi lebih efektif dan efisien serta tidak buang buang waktu untuk menunggu teman yang terkadang menjadi k*****t saat ajang tunggu tungguan tiada berakhir. "Coba yuk kita nyanyi-nyanyi dulu." ajak Thella, Riza hanya mengangguk dan langsung mengambil sebuah gitar dan memetiknya secara perlahan hingga membentuk sebuah nada lagu yang sangat indah. Thella pun mulai mengambil nafas kemudian bernyanyi dengan suara yang sangat merdu. “Uh... oh-uh-ho... Waktu bergulir lambat merantai langkah perjalanan kita. Berjuta cerita terukir dalam. Menjadi sebuah dilema. Mengertikah engkau? Perasaanku 'tak terhapuskan.” Suara Thella membuka nyanyian tersebut, menyanyikan sepenggal lirik dari salah satu lagu yang mereka sepakati. Suara lembut Thella bercampur dengan nada penuh penghayatan dalam menyanyikan lagu tersebut membuat alunan nada yang berpadu dengan permainan gitar Riza itu terdengar semakin indah. Mata Thella sesekali terpejam demi menghayati lagu tersebut, hingga terbersit perasaan betapa lirik lagu ini sangat menggambarkan perasaan hatinya untuk Riza. Thella seketika menjadi lebih perasa dari sebelumnya saat menyadari hal tersebut, terlebih saat melihat Riza yang duduk berhadapan dengannya sambil memainkan senar gitar dan sesekali melirik ke arahnya. Bait yang dinyanyikan Thella selesai, lagu yang memang dinyanyikan oleh dua orang antara cewek dan cowok itu kemudian disambut oleh Riza untuk melanjutkan lirik tersebut. Masih dengan memainkan gitar yang ada di tangannya, sambil melirik Thella sesekali karena menikmati ekspresi cewek itu yang penuh penghayatan, Riza kini menunggu nada untuk suaranya bisa masuk ke lagu tersebut sambil tangannya terus bergerak memetik senar gitar sebagai musik pengiring yang mengiringi nyanyian mereka. “Malam menangis, tetes embun membasahi mata hatiku, oh. Mencoba bertahan, Di atas puing-puing cinta yang telah rapuh. Apa yang 'ku genggam 'tak mudah untuk aku lepaskan.” Sambut suara Riza yang turut melanjutkan lirik dari lagu tersebut dan tak kalah menghayati, cowok itu juga baru menyadari betapa lirik lagu ini sangat menggambarkan perasaan miliknya untuk Thella. Betapa seberusaha apa pun kerelaan hatinya, untuk membiarkan Thella bersama Dirgan, nyatanya Riza masih tidak mampu untuk seikhlas itu, yang bisa dilakukan Riza belakangan ini hanya menghindar terus menerus. Ia bahkan tidak sanggup berlama lama menonton kemesaraan Thella dan Dirgan saking tidak relanya, ia tidak rela melepas Thella bersama orang lain. Sebab yang Riza inginkan adalah Thella bersamanya, ada di sampingnya lebih dari sekadar sahabat. Hanya saja, sekat yang tersemat di antara mereka memang sulit untuk di dobrak karena ketidak berdayaan Riza dalam mengungkapkan perasaannya itu. Riza hanya terus mengulur waktu selagi mereka masih bersama, tanpa melakukan apa apa. Riza terlalu berfokus sebab yang terpenting Thella ada bersamanya, hingga status Thella kini malah dimiliki oleh orang lain yang mana justru malah sahabatnya sendiri. Setelah selesai mengisi liriknya, Riza mendengus pelan. Sampai kapan kegundahan hatinya ini akan berakhir dan tidak sibuk meratapi keputusannya, dengan menonton hubungan Thella dan Dirgan yang saat ini tengah berlangsung dan entah sampai kapan. Astaga, betapa jahat pikiran Riza karena meyakini bahwa hubungan tersebut akan berakhir. Lalu, jika berakhir pun, apakah Riza sudah memiliki keberanian untuk maju? Entah lah, mungkin Riza akan memikirkan hal itu jika Thella dan Dirgan sudah putus. “Aku terlanjur cinta kepadamu. Dan telah 'ku berikan seluruh hatiku. Tapi mengapa baru kini kau pertanyakan cintaku? Aku pun 'tak mengerti yang terjadi. Apa salah dan kurangku padamu? Kini terlambat sudah untuk dipersalahkan. Karena sekali cinta, aku tetap cinta.” Sepenggal reff dinyanyikan keduanya. Suara Thella dan Riza kini mengisi ruangan yang tidak terlalu besar ini, bercampur menjadi satu dalam menyanyikan inti dari lagu tersebut. Perpaduan yang membuat nyanyian itu semakin terdengar indah, karena penghayatan dari kedua insan yang begitu merasakan keterikatan dengan setiap bait yang mereka nyanyikan, diserta dukungan dari musik lagu ini yang juga sendu dan melow. Betapa mereka berdua yang sudah terlanjur mencintai meski satu sama lain tidak mengetahui dan menutup diri untuk menunjukan perasaan tersebut. Keduanya sungguh merasa betapa lagu ini mewakili perasaan hati mereka. Musik kembali terdengar, petikan gitar Riza kembali mengisi suasana di ruangan ini. Riza atau pun Thella sama sama terdiam, menunggu musik sampai pada bagian mereka akan bernyanyi lagi. Dalam suasana tersebut lah keduanya saling menatap satu sama lain, dengan tangan Riza yang terus begerak memetik senar gitar yang kuncinya sudah ia hafal di luar kepala sehingga tidak perlu untuk memastikan lagi. Mendadak suasana sekitar seolah sunyi, yang terasa hanya kehadiran mereka berdua yang berusaha menelusuri pandangan satu sama lain. Mencari jawaban atas perasaan mereka masing masing, apakah di mata tersebut ada sosok dirinya yang tersimpan dalam hati? Apakah jika ada, statusnya sebagai yang teristimewa sebagai pemilik hati, atau hanya sekadar sahabat yang mengisi hari hari? “Uh, mencoba bertahan. Di atas puing-puing cinta yang telah rapuh. Apa yang 'ku genggam 'tak mudah untuk aku lepaskan, oh.” Suara Riza yang kembali menyanyikan lagu tersebut saat nadanya telah masuk, tak menyurutkan tatapan keduanya yang seolah masih menghipnotis. Kini, segala aktivitas seolah tetap bisa dilakukan meski mereka berdua masih terus berpandangan satu sama lain demi mencari jawaban yang tak kunjung ditemukan. Persoalan hati ini mungkin terlihat mudah, tapi nyatanya ini terlalu sulit untuk dipecahkan. Mereka berdua yang sudah bersama sekian lama, juga memendam rasa dalam kurun waktu yang juga sangat lama, nyatanya masih sama sama tersesat di labirin tak berujung. Thella menginginkan Riza, begitu juga Riza yang ingin bersama Thella. Hanya saja segalanya menjadi rumit karena hubungan persahabatan mereka yang sudah terjalin lama dan masing masing dari mereka seolah tidak tega untuk merubahnya. Entah bagaimana kelak nanti kisah mereka akan menemukan titik temu antara satu sama lain hingga bisa bersama, atau justru malah tidak akan pernah bisa bersama. Bahkan dalam tatapan di antara keduanya ini, mereka masih sibuk menerka nerka perasaan satu sama lain, sekurang jelaskah perasaan itu bagi mereka, hingga tak mampu terpancar dari sorot mata? Riza mengambil napasnya sejenak untuk bernyanyi reff nya lagi yang berulang, energinya kini seolah terkuras. Hingga akhirnya mereka kembali meyanyi bersama. “Aku terlanjur cinta kepadamu. Dan telah 'ku berikan seluruh hatiku. Tapi mengapa baru kini kau pertanyakan? Kau pertanyakan cintaku, oh. Kini terlambat sudah untuk dipersalahkan. Karena sekali cinta. Karena sekali cinta, aku tetap cinta.” Penutup lagu itu akhirnya dinyanyikan oleh keduanya, dengan suara yang sudah meninggi dan penuh penghayatan dalam menyanyikan lagu tersebut, sebab keduanya benar benar bisa merasakan setiap lirik yang mereka nyanyikan begitu dekat oleh perasaan mereka. Permainan musik dari gitar di padu dengan suara Thella dan Riza terasa menakjubkan, terlebih juga karena emosi yang ada di suara tersebut sehingga menghasilkan harmoni yang dapat dinikmati dengan indah. Lagu yang mereka nyanyikan bersama itu terasa luar biasa sebab menyimpan senyawa berupa perasaan masing masing yang masih belum terungkapkan padahal betapa mereka sudah terlanjur cinta. "Perfect! cocok banget deh kalian berdua kalo duet." tiba-tiba Dirgan muncul dari balik pintu dan mengagetkan Riza dan Thella. Mereka berdua seketika buyar dalam momen yang tadi masih mengukung keduanya, bergantikan dengan perasaan serba salah dan kebingungan dengan kedatangan Dirgan yang kini langsung duduk di antara keduanya, memecahkan suasana di antara Riza dan Thella yang sebelumnya serasa hanya milik berdua akibat momen saling tatap mereka yang membuat dunia seolah hening. Keduanya langsung salah tingkah dan bergerak tak tentu arah, seolah baru saja tertangkap basah seperti maling di bank sentra negara. Riza yang buru buru meletakan gitar yang tadi dimainkannya, Thella yang segera memalingkan wajahnya agar tidak lagi menghadap ke arah Riza. Mereka berusaha terlihat santai di hadapan Dirgan, meski sesungguhnya jantung mereka serasa akan meledak. Dirgan yang sudah duduk di sana, menselonjorkan kakinya untuk bersantai. Cowok itu tampak tidak menaruh curiga sama sekali dan tetap bersikap sewajarnya, ia terlalu fokus dengan musik dan suara yang berpadu membentuk lagu tadi, hingga terhipnotis dan mematung di pintu rumah Thella seolah menonton sebuah pertunjukan musik. Betapa Dirgan terpana akan aksi tadi, hingga membuatnya berdecak kagum dan bertepuk tangan saking hebohnya. Thella dan Riza memang luar biasa dalam membawakan lagu tadi, seolah mereka sangat menjiwai dan merasakan makna dari lagu tersebut, hingga yang dihasilkan pun tidak main main dan bagus luar biasa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN