Tapi tidak apa apalah, setidaknya sudah berjuang kan, dari pada tidak mengerjakan dan usaha sama sekali. Ini jelas merupakan usaha mereka untuk menjadi siswa yang baik dan tidak membuat guru naik darah di jam pagi. Mereka hanya menjaga darah tinggi sang guru yang biasanya akan kesal jika melihat beberapa muridnya tidak mengerjakan tugas dengan sengaja, bisa bisa satu jam pelajaran dihabiskan hanya untuk ceramah tentang betapa sakit hatinya sang guru yang merasa tidak dihargai dan dikhianati. Sebab saat diberikan tugas para siswa sudah merasa setuju, tapi malah tidak dikerjakan. Siswa yang mengerjakan tugas pun bisa jadi kena sasaran, alhasil mereka yang sudah mengerjakan tugas dengan senang hati meminjamkan buku tugasnya pada para siswa yang belum menyelesaikan tugasnya seperti Riza dan Dirgan saat ini, yang mencatat tugasnya dengan terburu karena khawatir bel masuk yang akan berbunyi.
"Lo sama sekali belom ngerjain, Za?" tanya Dirgan, meski ia juga sama mensontek, tapi ia sudah mengerjakan separuh dari tugasnya di rumah. Hanya saja belum selesai seluruhnya. Sehingga sisanya itu ia harus melihat pada teman sekelasnya karena jika berpikir lagi akan memakan waktu lama, jika ada yang cepat, mengapa harus repot repot melalui jalan susah payah kan? Ia harus menghargai teman sekelasnya yang maha rajin dan bersedia untuk memberikan buku tugasnya pada mereka untuk di salin. Bukan kah hal tersebut suatu penghargaan untuk siswa tersebut karena telah memiliki jiwa yang baik hati dan tidak merasa iri dan dengki seperti beberapa siswa cerdas pada umumnya.
Riza menggeleng seraya menjawab pertanyaan Dirgan yang bertanya perihal tugasnya yang belum dikerjakan sama sekali, terlihat dari buku tugas Riza yang masih kosong dan menyalin dari baris pertama untuk tugas ini. "Buku gue ketinggalan di loker, terus koncinya ilang," jawab Riza enteng, sama sekali tidak merasakan beban saat kunci lokernya hilang dan ia ikhlaskan begitu saja tanpa mau repot repot mencarinya. Jika bisa ganti kunci, kenapa harus mencari dengan susah payah kan? Biarkan saja lokernya terkunci dalam beberapa hari, nanti ia bisa membeli kunci baru untuk dapat membuka lokernya.
"Kebiasaan banget sih, semua ilang ... ehh Thella mana sih? Kok belom dateng." Dirgan menatap bangku di depannya, tak menemukan Thella yang biasanya sudah datang. Bahkan biasanya Thella datang pagi pagi sekali, tentu saja lebih pagi dari Dirgan dan Riza yang kadang kadang kesiangan. Manajemen waktu Thella sangat baik sehingga ia jarang terlambat, jika Thella tau akan kesulitan bangun pagi, makai a akan tidur malam tidak begitu larut sehingga tidak bangun kesiangan.
Sebenarnya Thella layak menjadi panutan, hanya saja Dirgan dan Riza terlalu malas untuk mengikuti kebiasaan rajin itu. Mereka lebih suka menjalani hari harinya dengan santai dan tidak beraturan seperti ini, lebih nikmat dan leluasa. Meski beberapa kali membuat mereka terlibat dengan drama drama yang tidak perlu.
Teringat dengan pertanyaan Dirgan, Riza pun menghentikan menulisnya dan melongok ke kantongnya seraya mencari Thella. Cowok itu memberikan gestur merogoh saku celana dan bajunya hingga mengeluarkan benda benda yang bersarang di sana, lalu menunjukkan isi sakunya pada Dirgan agar melihatnya juga, bahwa seluruh sakunya saat itu kosong dan tidak menampakkan adanya tanda tanda Thella di sana.
= = = = = T B C = = = = =