"Mama mana?" tanya Riza pada adiknya itu, saat dirinya melintasi ruang tamu tanpa, tanpa duduk terlebih dahulu di sofa dan berniat untuk menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Nida menoleh sekilas, lalu melihat sang kakak yang baru pulang dengan menggunakan seragam sekolahnya, padahal hari sudah nyaris gelap. Pulang sekolah apa jam segini, padahal sekolah sudah bubar sejak pukul dua siang untuk jenjang sekolah menengah atas. Tapi Riza seolah tidak pernah pulang tepat waktu, justru jam segini tergolong masih sore, biasanya cowok itu bahkan pulang lebih malam lagi dari pada ini.
"Arisan." Jawab Nida singkat, enggan untuk memperjelas, karena satu kata itu sudah begitu jelas. Riza juga pasti tahu kebiasaan ibunya yang sulit untuk diganggu gugat itu, sebab katanya, semua itu demi kelangsungan kehidupannya juga, yang mana harus menjalin relasi dengan sesama kaum mereka.
Meski Nida sendiri muak mendengarnya, ia tidak pernah suka dengan aktivitas ibunya yang sibuk sendiri hingga berakhir menelantarkannya yang masih membutuhkan bimbingan orang tua, menjadi bertumbuh sendirian. Memikirkan hal tersebut hanya membuat mood Nida semakin buruk, lantaran penyumbang rasa kesal terbesar di hatinya adalah keluarganya sendiri. Berikutnya jelas masih banyak hal lain yang membuatnya lebih sering marah marah.
Meski sesungguhnya, Nida marah terhadap dunia, karena hidupnya yang terasa kesepian dan haus perhatian, tapi tidak ada yang memedulikannya.
"Bokap?" Riza bertanya lagi saat sampai di tangga, untuk memastikan papanya yang seharusnya sudah pulang bekerja. Namun, ia tidak menemukan kendaraan milik papa di garasi tadi. Sudah pasti orang tuanya itu juga tidak ada di rumah dan entah berada di mana.
"Dinas," jawabnya lagi dengan mata tak lepas dari layar televisi, padahal tidak ada yang benar benar ditontonnya, terbukti dengan layer televisi yang masih terus berganti saluran entah sampai kapan, Nida bahkan tidak memperhatikan sejenak tayangan apa yang ada di televisi tersebut dan langsung memindahkannya begitu saja.
"Ohh, gila perasaan gue punya orang tua gak pernah keliatan di rumah." Riza akhirnya menuruni tangga, lalu menghampiri Nida yang duduk di sofa itu dan mengikuti duduk juga dan bersandar. Ia akan duduk sejenak menemai adiknya yang terlihat sedang kesal – tepatnya selalu berwajah kesal dan siap memusuhi dunia – lantaran banyak hal yang dibencinya itu.
Nida tertawa sinis mendengar ucapan Riza, ia menoleh sebentar sambil melempar asal remote tv nya karena sudah kelelahan memindahkan saluran yang entah apa yang ingin ditontonnya. "Baru nyadar lo? Kemana aja kemaren? Gue nih yang menderita, nyokap pergi, bokap pergi, lo juga ikutan pergi, nginep ke rumah temen lah, kegiatan sekolah lah. Gue idup serasa sendirian tau gak sih?" ucapnya lagi yang sudah tidak menoleh ke arah Riza, menumpahkan segala keluh kesahnya selama ini pada kakaknya.
Tentang rasa kesalnya yang selalu merasa sendirian, padahal di dalam rumah ini memiliki anggota keluarga inti yang berjumlah empar orang. Namun, rasanya Nida selalu merasa kesepian karena ketiadaan mereka di sisinya, jangankan untuk mendengarkan cerita hari hari Nida, melihat mereka saat membuka mata atau pun hendak menutup mata pun jarang. Entah seberapa banyak kesibukan orang dewasa hingga mengabaikan pertumbuhannya yang mulai beranjak remaja, dan harus dilanda perasaan kesepian seperti ini, yang tentu saja terasa menyesakkan.
= = = = = T O B E C O N T I N U E D = = = = =