Bagaimana bisa Thella tak melebarkan senyumnya saat membaca rentetan pesan dari Dirgan yang begitu penuh perhatian terhadapnya. Thella benar benar menyukai setiap kata yang di tuliskan Riza pada pesan tersebut, meski ia mengatakan hanya sebatas gak enak karena tugas ini harusnya di kerjakan Riza, tapi malah di kerjakan oleh Thella. Tapi tetap saja perhatian perhatian kecil itu terasa nyata dan membuat dadanya menghangat. Riza bahkan mengkhawatirkan perihal konsumsi kopi untuk malam malam seperti ini karena khawatir Thella tidak tertidur. Cowok itu juga bahkan menawarkan diri untuk memesankan makanan dan minuman untuk menemani Thella mengerjakan tugasnya. Bukan kah hal tersebut terdengar manis dan membuat perasaan menjadi hangat? Riza dengan segala perlakuan yang menjerumus pada sebentuk perhatian manis yang kerap kali membuat perasaannya selalu berbunga bunga karena ulah cowok itu.
Thella : Duh, kok jadi enak yaa. Pesen yg banyak apa ya mumpung di bayarin
Thella tertawa geli sendiri sambil mengetikan pesan tersebut. Cewek itu buru buru mengetikan pesan lanjutan, seolah membalas pesan dari Riza merupakan hobinya yang sangat berharga sehingga tidak dapat di ganggu gugat. Padahal siapa tadi yang katanya malas untuk chat dan memilih berbohong untuk tidur, jelas saja thella beberapa menit lalu yang berbohong pada Dirgan, sang kekasih yang terus terusan menanyai kabarnya. Ternyata ia malah memilih untuk bertukar kabar dengan orang lain karena merasa lebih seru dan lebih membuat perasaannya membuncah sedemikian rupa.
Thella : Eh Za, bencanda. Gak usah di pesenin, gue gak mau makan malem malem ah nanti gendut hehe