Thella mengirimkan balasan pesan tersebut, lalu menaruh kembali ponselnya ke samping laptop. Thella pun kembali fokus mengetikan tugasnya lagi selagi menunggu balasan pesan dari Riza. Sebentar, apa barusan yang Thella katakan? Menunggu balasan pesan dari Riza? Thella nyaris menyemburkan tawanya sendiri, setelah ia menolak dikirimi pesan masuk dari Dirgan yang merupakan kekasihnya sendiri, kini Thella justru malah tengah menunggu balasan pesan dari Riza yang merupakan sahabatnya sendiri. Thella tidak paham lagi dengan jalan pikirannya saat ini yang sungguh kacau dan tak dapat lagi membedakan mana pikiran dengan akal sehat, atau sebatas keinginan harapnya yang menuntut untuk di kabulkan.
Suara denting pertanda notifikasi masuk kembali terdengar, membuat Thella menyambar lagi ponselnya untuk melihat balasan pesan dari Riza. Cewek itu tersenyum sejenak saat membaca pesan masuk yang terasa menghangatkan hati ini. Lagi lagi Thella tersenyum, sudut bibir yang tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman manis yang mencapai matanya. Ekspresi yang tidak ia munculkan saat berkirim pesan dengan Dirgan beberap menit yang lalu, yang justru malah membuatnya jenuh dan ingin buru buru menyudahi aksi itu karena merasa bosan dan tak tahu lagi harus membalas apa pada pesan Dirgan itu.
Riza : Istirahat dulu aja Thel. Mau nyuruh bikin kopi, tapi nanti semaleman lo gak tidur
Riza : Tapi kalo gak selesai malam ini juga kan gak papa. Lanjut besok lagi aja
Riza : Eh, gue pesenin makanan atau minuman deh ya buat nemenin lo nugas. Jadi gak enak nih, itu aturan kan gue yang kerjain, jadi lo deh yang malah ngerjain semuanya gara gara gue ada keperluan basket itu