- 25 -

1232 Kata
Riza turut mengambil potongan buah dengan lidi tusuk yang sudah diminta dua biji pada tukang rujak tadi, sehingga mereka bisa makan satu bungkus rujak berdua. Riza merasakan hatinya yang terasa ngilu, saat dirinya menikmati moment ini, tetapi di sisi lain ia teringat dengan sosok Dirgan yang sedang di jalan dan ingin menyatakan perasaannya pada Thella. Beberapa menit lagi, mungkin ia tidak bisa seperti ini lagi bersama Thella karena harus menjaga perasaan Dirgan. Dalam hati, Riza kembali merutuki tentang dirinya yang tidak berani menyatakan perasaannya pada Thella sehingga banyak pertimbangan ini dan itu hingga berakhir malah Dirgan yang akan menyatakan perasaannya duluan. Ponsel Riza bergetar, menandakan ada pesan masuk, cowok itu segera membuka pesan yang ia duga dari Dirgan. Dan benar saja, pesan itu dari Dirgan. Berisi pemberitahuan bahwa Dirgan sudah berada di dekat taman. Riza segera mengedarkan pandangannya berusaha mencari sosok Riza yang katanya berada di dekat taman. Lalu Riza menemukan Dirgan yang tengah berdiri di luar pager yang melingkari taman ini, sedang menunggu instruksi Riza lebih lanjut. Maka, Riza pun memutuskan untuk membalas pesan Dirgan terlebih dahulu agar cowok itu menunggu aba aba darinya untuk bertindak. Riza : Oke. Nanti dulu. Bentar. Gue bentar lagi cabut. Takut Thella curiga kalo langsung kabur. Tulis Riza pada pesan yang ia kirimkan ada Dirgan yang ada di sana juga, memperhatikan mereka berdua yang tengah makan rujak satu bungkus berdua. Setelah mengetikkan balasan tersebut, Riza kembali memasukan ponsel ke dalam sakunya untuk fokus sejenak pada Thella yang ada di hadapannya, tampak begitu menikmati rujak yang dimakannya. Wajah yang ekspresif, merangkum setiap ekspresi setiap kali cewek itu makan aneka buah dengan berbagai rasa, dari mulai yang manis, asam, sampai asin karena adanya garam yang dikasih oleh tukang buah dingin tadi. "Thel, kalo misalkan ada seseorang yang suka sama lo, apa lo bakalan suka juga sama dia." Tanya Riza selagi Thella mengunyah kedondong yang dicampur dengan garam dan sambal yang ada di bungkus tersebut. Riza berusaha untuk memancing topik ini terlebih dahulu, agar ia bisa menerka apa jawaban Thella nanti saat Dirgan menyatakan perasaannya. Thella yang mendengar pertanyaan tersebut seketika tak kuasa menahan senyumnya, mendengar Riza menyinggung topik yang sangat sensitif terkait perasaan sukanya. Seratus persen Thella menebak bahwa Riza sedang membicarakan dirinya sendiri kan? Tentu saja, siapa lagi kalo bukan Riza yang dibahas. Dan tentu saja itu karena Riza menyukai Thella. Tidak ada rumus lain selain itu. Membayangkannya saja membuat d**a Thella rasanya meletup letup bahagia. Riza mengingat segalanya, tentang impiannya yang ingin dinyatakan perasaan di tempat ini, mungkin nanti Riza juga akan bernyanyi laguku. Kalau pun tidak seperti itu, ia tetap akan menrimanya asalkan orang itu adalah Riza. Setelah menelan kedondong yang tadi dikunyahnya, akhirnya Thella menjawab pertanyaan Riza. "Kalo orang itu baik dan beneran mencintai gue apa adanya serta mau ngertiin gue, why not?" Jawab Thella santai yang masih disertai senyumannya itu. Ia benar benar tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum seharian ini, bayangan bayangan manis yang berkeliaran di kepalanya membuat Thella membayangkan skenario yang lebih indah dari pada dongen fairy tale yang tidak mungkin nyata itu. Tapi Riza menyatakan perasannya jelas akan menjadi kenyataan jika merujuk pada segala hal belakangan ini, jika tidak untuk apa dirinya repot repot ke tempat ini dan hanya berdua pula. Riza dan segala sikap manisnya itu membuat d**a Thella terasa hangat setiap kali mendengar nama cowok itu. Riza mengangguk mendengar jawaban Thella. Yang penting baik ya, mencintai Thella apa adanya, sudah jelas Dirgan juga seperti itu. Apakah ini pertanda bahwa Thella akan menerima pernyataan cinta Dirgan yang akan dinyatakan hari ini? Jika iya, ingin rasanya Riza tidak perlu menyaksikannya karena dirinya benar benar tidak sanggup untuk melihat Thella bersama sahabatnya sendiri. Namun, sebisa mungkin Riza berusaha menata perasannya sendiri untuk tidak membuat pihak lain merasa bersalah karena perasaannya ini. Buru buru Riza mengontrol ekspresi dan emosinya di hadapan Thella agar cewek itu tidak menangkapnya. Lalu ia melirik lagi pada posisi Dirgan yang masih menunggu di luar taman, membuatnya harus buru buru menyelesaikan urusannya ini sehingga bisa tiba giliran Dirgan yang menuntaskan keperluannya sehingga dirinya bisa terbebas dari rencana s****n yang hanya membuat perasaannya semakin menyedihkan ini. "Ohh, oke, Thel. Semoga ketemu ya. By the way, gue mau ke toilet bentar ya, bentar aja deh. Lo tunggu sini ya." Ucap Riza sambil memberikan ekspresi seolah dirinya seperti orang yang butuh menuntaskan apa pun urusannya itu di toilet, ia beralasan setelah makan rujak yang mengandung buah buahan dan air, membuatnya tak kuasa menahan buang air kecil untuk saat ini. Riza sudah bangkit dari tempat duduknya untuk beranjak dari sana dan pergi ke toilet, meski tujuannya hanya ingin menjauh agar Dirgan bisa masuk ke tempat ini dan menyatakan perasaannya pada Thella. Mewujudkan impian masa remaja Thella. "Yaudah sono." Kata Thella dengan tangan yang bergerak seperti orang mengusir Riza, sebagai gestur bahwa Thella mengizinkan Riza pergi terlebih dahulu untuk menuntaskan keperluannya itu yang pasti sangatlah genting. “Jangan ke mana mana, Thel. Nanti ilang.” Ledek Riza pada Thella, semata agar Thella tidak tiba tiba menghilang sebab Dirgan akan datang ke sini, nanti yang ada ia semakin bingung menyusun acara hari ini dan tidak selesai selesai. Thella hanya membalasnya dengan cibiran yang memonyongkan bibirnya, lalu kembali fokus untuk mengambil potongan aneka buah yang lainnya karena cewek itu begitu menikmati makanan yang tadi dibelinya itu. Riza tertawa pelan, lalu Riza pun berjalan pergi meninggalkan Thella. Setelah berbalik, ia melihat ke arah Dirgan, lalu dirinya memberikan kode kepada Dirgan agar mulai bersiap memasuki area taman dan melancarkan aksinya siang ini. Tugasnya menahan Thella sudah selesai, kali ini waktunya Dirgan yang merupakan pemilik acara hari ini unjuk gigi. Pernyataan Dirgan tidak akan ada campur tangan dari Riza lagi, ia hanya sampai sebatas memberikan informasi dan mengajak Thella sampai ke tempat ini, selebihnya kembali ia serahkan kepada Dirgan, karena Dirgan yang menginginkan untuk bersama Thella. Biarkan cowok itu melanjutkan usaha Riza yang suah separuh jalan. Sedangkan Dirgan yang sedang berdiri di luar taman segera menangkap sinyal dari Riza. Cowok itu segera menegak dan berusaha membaca gestur tubuh yang berusaha diberikan Riza. Riza tampak memainkan jarinya sambil menunjuk tempat yang agak jauh, jika di artikan dengan kata kata mungkin beginilah bahasanya. “Gue cabut ke sana, lo cepetan gerak, Thella udah sendirian. Buruan sini masuk, nanti keburu dia bosan.” Yah begitulah kira kira yang ditangkap oleh Dirgan dari luar taman tentang gerakan yang dihasilkan Riza. Dirgan pun berjalan menghampiri Thella dengan membawa gitar dan memakai topi layaknya seorang pengamen. Cowok itu menggosokkan ke dua tangannya dengan cemas, khawatir akan jawaban yang nantinya akan di berikan Thella. Ia sungguh gugup luar biasa, ia berharap setiap kata yang nanti akan di ucapkannya di hadapan Thella tidak akan berantakan. Ia sudah menyusun dengan rapi rencananya hari ini bersama Riza, kasihan Riza jika sampai rencana yang sudah tertata dengan baik hingga detik ini malah berantakan. Yang terpenting, ia sedang berdoa semoga Thella mau menerima pernyataan cintanya itu. Semoga saja. Langkah Dirgan setiap detiknya semakin mendekat, ia dapat melihat Thella yang masih asik makan rujak buah dingin di salah satu bangku taman. Tidak ada pengunjung lain selain cewek itu yang duduk sendirian, tapi sedikit pun Thella tidak merasa takut atau apa pun, padahal tempat ini tergolong banyak pohon pohon besar yang mana sering dikaitkan dengan hal hal gaib, tapi Thella tampak asik saja dan tidak takut akan hal apa pun sama sekali. Hal tersebut membuat Dirgan menarik sudut bibirnya ke atas, karena menyukai sikap Thella yang santai seperti ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN