Dirgan membenarkan letak topinya terlebih dahulu, untuk lebih menutupi area matanya. Tak lupa juga ia menggunakan masker untuk menutupi wajahnya agar tidak terlihat. Ia akan berperan seperti seorang pengamen antah berantah yang sekadar bernyanyi untuk Thella. Entah Thella akan segera menyadarinya atau tidak, jika berdasarkan arahan Riza, saat Thella mendengarkan suara musik laguku, ia pasti akan dengan cepat menyadari bahwa itu bukanlah pengamen melainkan seseorang yang mau menyatakan perasaan terhadapnya. Dirgan tak sabar menantikan ekspresi Thella yang terkejut saat melihat dirinya nanti. Ia menebak nebak, akan kah Thella sampai menutup mulutnya karena tak kuasa menahan rasa terkejutnya, atau Thella hanya akan tersenyum seraya sudah tahu dengan hal ini.
Tepat di depan Thella, Dirgan pun menghentikan langkahnya. Thella yang semula fokus dengan aktivitas makannya seketika menoleh, saat menyadari ada orang lain yang berdiri di depan bangkunya, Thella pun mengangkat kepalanya. Dilihatnya seorang cowok menggunakan topi dan masker wajah yang menutupi wajahnya, sehingga Thella tidak dapat melihat jelas seperti apa wajah sosok di hadapannya itu. Namun, ia melihat orang itu membawa gitar, ia pikir mungkin hanya pengamen yang bermain di taman ini, rupanya meski tempat sepi begini tetap ada juga pengamen yang berkunjung. Lumayan sih untuk menemani Thella yang sedang menanti Riza dari toilet. Sebenarnya Riza ngapain si di toilet, masih belum juga datang. Padahal makan rujak Cuma dikit.
Dirgan mulai memetik gitarnya untuk mengambil nada. Lantunan musik dari laguku milik ungu mulai terdengar. Hal tersebtut kontan membuat mata Thella terlihat membesar dan memfokuskan pandangannya pada sosok cowok bertopi di hadapannya itu. Ekspresi Thella tampak terkejut dan menahan raut bahagianya, karena menyadari apa maksud dari lagu yang dinyanyikan itu, yang mana ada dalam daftar keinginannya apabila ada yang menyatakan cinta terhadapnya. Thella masih tidak bergerak dan sibuk menahan raut ekspresinya, selagi Dirgan terus memetik senar gitarnya yang kemudian menyanyikan lagu tersebut.
“Mungkinkah kau tahu,
rasa cinta yang kini membara,
dan masih tersimpan dalam lubuk jiwa,
ingin kunyatakan lewat kata yang mesra untukmu,
namun ku tak kuasa
untuk melakukannya.
mungkin hanya lewat lagu ini,
akan kunyatakan rasa
cintaku padamu rinduku padamu
tak bertepi.
Mungkin hanya sebuah lagu ini,
yang selalu akan kunyanyikan sebagai tanda betapa aku inginkan kamu.”
Betapa tekejutnya Thella saat menyadari ada sosok laki-laki seperti pengamen dan menyanyikan lagu kesukaannya itu. Thella hanya tersenyum melihatnya, ia mengira orang itu adalah Riza, karna yang tahu tentang keinginannya di masa SMP itu hanyalah Riza. Terlebih serangkaian hal yang dilakukannya seharian ini, semuanya merujuk pada sosok Riza yang terang terangan seolah ingin menyatakan perasaannya. Ia sampai terkekeh sendiri melihat pakaian yang dikenakan Riza sudah berganti, rupanya Riza ke toilet tadi karena ingin mengganti pakaian agar tidak dikenali seperti ini.
"Thella, gue suka sama lo. Entah sejak kapan, tapi yang gue tau sampai saat ini, gue cinta sama lo. Udah cukup kayaknya ngulur waktu sekian lama, gue rasa ini saat yang tepat buat bilang, lo mau gak jadi pacar gue, Thel?" Ucap Dirgan lembut namun masih menunduk. Akhirnya ia ungkapkan kalimat pernyataan itu, diiringi dengan permintaan untuk meminta Thella menjadi kekasihnya setelah sekian lama. Masih dengan terus menunduk, Dirgan tampak harap harap cemas menantikan jawaban Thella yang sama sekali tidak mampu ia prediksi. Namun, dalam jeda yang berisi keheningan itu, ia terus melantunkan harap dan doa di dalam hati, agar Thella mau menerimanya.
Mata Thella berkaca kaca, ia masih menutup mulutnya saking tidak menyangka. Ia benar benar tidak menyangka Riza akan mewujudkan semua ini, padahal dulu ia sama sekali tidak sengaja mengatakan hal itu pada Riza, tanpa berharap sama sekali suatu hari nanti Riza akan mewujudkannya. Tapi hari ini, segalanya terasa nyata. Riza benar benar ada di hadapannya, melakukan semua keinginannya hanya untuk menyatakan perasaan pada Thella. Ia benar benar tidak sanggup lagi menahan segala macam ekspresi yang ingin keluar, bahkan ia nyaris menangis karena sangat terharu, tentang penantiannya yang akhirnya berujung.
"Ya ampun gue gak nyangka lo masih inget itu, taman ini, lagu ini, astagaa..." Kalimat Thella terpotong saat Dirgan membuka topi nya itu. Mata Thella seketika membesar, saat melihat sosok yang berdiri di hadapannya ternyata bukan Riza, melainkan Dirgan, sahabatnya yang lain. Yang seumur hidup tidak pernah Thella sangka bahwa cowok itu ternyata menyukainya. Bukan Riza. Yang menyatakan perasaan terhadapnya barusan itu Dirgan.
Thella nyaris terhuyung saking terkejutnya, kata katanya tidak terselesaikan sama sekali, ia masih dilanda rasa terkejut dan berusaha memahami situasi ini. Lalu, semua ini apa? Mengapa ada laguku? Taman ini? Dan Riza yang juga terlibat. Mata Thella seketika menyusuri area sekitar, tampak tidak fokus hingga mengabaikan ucapan Dirgan yang menanti jawabannya itu.
"Jadi lo mau jadi cewek gue Thela?" Tanya Dirgan penuh harap, berusaha untuk mengembalikan Thella pada situasi ini. Ditanyakannya lagi permintaan itu, masih dengan perasaan takut jika sampai Thella menolaknya. Ia seolah takut menghadapi kenyataan, untuk bisa menata hati dan merasa canggung jika pernyataan ini berakhir dengan penolakan.
Ia terus menatap Thella, menantikan jawaban cewek itu, selagi Thella tampak kebingungan dengan memperhatikan sekitarnya. Cewek itu masih berusaha mencerna kejadian ini pelan pelan. Lalu ia menatap Dirgan yang kini masih berdiri di hadapannya, menatapnya dengan penuh harap, tatapan yang baru pertama kali Thella sadari bahwa ternyata cowok itu memiliki perasaan terhadapnya, entah sejak kapan. Dirgan masih terus menatapnya dengan lembut, sambil tersenyum penuh keteduhan, seolah tidak mendesak Thella untuk menerimanya.
"Gan ... gue ... gak tau ... kok lo ... semua ini ... maksudnya?" Tanya Thella bingung, ia bahkan tak mampu menata kalimatnya dengan benar, hingga yang terdengar hanya seperti setiap kata yang terputus dan sama sekali tidak membentuk sebuah kalimat. Thella benar benar tidak tahu harus menanggapi seperti apa situasi ini. Ia tidak menyangka atau mengantisipasi sama sekali. Di saat yang bersamaaan, separuh harapnya hancur berkeping keping, karena mengira bahwa yang akan menyatakan perasaannya adalah Riza. Sosok cowok yang saat ini disukainya, serta selalu memperlakukannya dengan baik. Bahkan sikap Riza sampai siang tadi, masih membuat d**a Thella menghangat, menerima setiap perlakuan Riza yang baik terhadapnya.
Suara krasak krusuk tiba tiba terdengar tak jauh dari tempat Dirgan dan Thella berdiri, keduanya sontak menoleh, saat melihat semak semak yang ada di taman itu bergerak gerak. Hingga tak lama, sesosok manusia meloncat keluar dari sana. Dengan tangan yang menggaruk garukkan bagian kulitnya, serta wajah keruh yang tampak kesal karena kulitnya dijadikan mangsa hewan hewan kecil yang ada di sana.
"Ahhh, shitt gatel banget disitu." Teriak Riza sambil terus menggaruk kulitnya yang digigit semut. Riza sudah tidak peduli lagi tentang persembunyiannya, semut s****n itu membuatnya gatal gatal dan rasanya ingin menggaruk seluruh kulitnya karena tidak kuasa menahan gatalnya. Padahal niatnya, Riza hanya akan bersembunyi di sana lalu pergi tanpa permisi, agar Dirgan dan Thella tidak perlu berinteraksi dengannya setelah mereka jadian.
Namun, Riza turut penasaran dengan jawaban Thella. Maka dari itu ia menunggu Thella menjawab, yang malah membuatnya dijadikan makan siang semut merah. Pulang dari sini, Riza harus menyiram minyak kayu putih ke kulitnya agar terasa lebih baik, alias tidak terlalu gatal. Sebab saat ini rasanya gatal luar biasa, yang digaruknya hingga menyusul rasa perih karena garukannya terlalu kencang. Benar. Perih sekali. Ia bahkan ragu, mana yang lebih perih antara kulitnya yang digaruk atau menyaksikan Thella berhadapan dengan Dirgan seperti saat ini, setelah Dirgan menyatakan perasaannya, selagi cowok itu menantikan jawaban Thella.
"Riza lo kok disitu?" Tanya Thella yang makin bingung, cewek itu melihat ke arah Riza dan Dirgan secara bergantian, berusaha mencerna situasi macam apa ini, yang hingga melibatkan Riza dan Dirgan dan menaruhnya pada ujung tombak. Riza tidak menyukainya. Riza tidak menyatakan perasaan terhadapnya. Riza ada di sini, tapi tujuannya jelas bukan untuk menyatakan perasaannya.
Lalu di hadapannya ada Dirgan, yang tidak di sangka, justru malah menyatakan perasaan terhadapnya. tanpa aba aba, tanpa pemberitahuan, seolah tidak sedang merencanakan apa apa. Namun, nyatanya sosok yang berada di balik seluruh kejadian hari ini adalah demi lancarnya pernyataan cinta yang dilakukan oleh Dirgan pada Thella. Rupanya, harapnya salah. Harapnya selesai. Hanya sebatas harap yang masih menjadi angan, tapi tidak akan tercapai.
Riza tidak menjawab, ia masih diam di tempatnya, sambil sesekali menggaruk bagian tangannya yang masih gatal. Dilihatnya Thella yang masih terkejut, serta Dirgan yang masih harap harap cemas lantaran Thella juga belum menjawab pernyataannya. Riza bahkan tidak tahu harus menajwab apa. Alhasil, cowok itu hanya nyengir ke arah Thella sambil menggaruk bagian tengkuknya. Senyum yang jika diperhatikan dengan seksama, merupakan senyum getir karena ketidak mampuan mengungkapkan perasaannya pada Thella. Hingga yang dapat dilakukannya hanya sekadar membantu Dirgan untuk menyatakan perasaannya, sedang dirinya hanya menonton dari balik layar, dengan perasaan yang sedih tapi berusaha disembunyikan sebaik mungkin.
Tidak mendapatkan jawaban dari Riza, akhirnya Thella menoleh pada Dirgan yang masih berdiri di hadapannya. Cowok itu juga tampak tersenyum lembut kepadanya, senyum yang membuat Thella kini merasa merinding karena tidak nyaman, bahwa Dirgan ternyata menyukainya.
Ditatap seperti itu, akhirnya Dirgan pun menjawab, "Riza yang ngebantuin gue buat nembak lo Thel. Dia yang ngasih tau gue tentang tempat ini, dan laguku tadi. Konsep hari ini semuanya Riza yang urus deh, Riza yang ngajak lo ke sini juga termasuk dalam rencana.” Kata Dirgan menjelaskan kronologis yang tengah berlangsung itu, dari awal hingga akhir, tentang bantuan dan turut andil Dirgan dalam suksesi pernyataan cinta ini. Sebab memang yang terjadi memang begitu.
Lalu, Dirgan kembali teringat bahwa Thella belum menjawabnya. Maka, sebelum pernyataannya malah dilupakan begitu saja, Dirgan segera mengembalikan situasi. “Jadi, gimana, Thel? lo mau gak jadi pacar gue?" Tanya Dirgan untuk yang kedua kalinya. Dengan sebelah tangan yang meremat dengan keras karena berharap cemas akan jawaban Thella yang belum diketahuinya itu.
Dilihatnya Thella masih terdiam, kini sembari menunduk. Cewek itu sepertinya tengah berpikir sebagai jawaban atas pernyataannya. Thella tampak sedang menimbang sesuatu, tapi Dirgan tidak tahu apa itu. Mungkin Thella hanya masih shock saja, tidak menyangka bahwa Dirgan akan menyatakan perasaannya hari ini, sebab dari awal kan yang Thella ketahui mereka sahabatan. Thella pasti sedang berusaha mencerna terlebih dahulu.
Menyadari hal itu, Dirgan pun segera berinisiatif. “Kalo lo gak mau jawab sekarang juga gak papa, Thel. Pikir pikir aja dulu. Pasti lo kaget kan.” Kata Dirgan lagi, berusaha untuk bijak dalam menghadapi situasi ini, karena ia sendiri pun tidak enak melihat ekspresi Thella yang masih tampak kebingungan.
Mendengar ucapan Dirgan, Thella kembali mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah Dirgan. Tampak cowok itu sesungguhnya tidak sabar menantikan jawabannya, dan tengah cemas menerima jawaban apa pun itu. Dirgan hanya berusaha untuk membuat Thella merasa nyaman, maka ia menyarankan hal tadi.
Lalu, Thella kembali teringat akan pertanyaan Riza tadi. Rupanya pertanyaan Riza itu untuk Dirgan. Tadi Thella jawab apa? Asalkan baik. Benar. Dirgan sangat baik terhadapnya, serta mau menerima dirinya selama ini. Lalu, tidak ada alasan kan untuk Thella menolak Dirgan? Terlebih, ia menoleh pada Riza yang tampak tak acuh menyikapi suasana ini, sebab dirinya sudah banyak terlibat dan mempersiapkan segala sesuatunya. Singkat kata, Riza menginginkan Thella bersama Dirgan.
Mungkin ini akhirnya. Riza memang tidak pernah menyukainya, Thella saja yang terlalu kegeeran hingga salah menilai sikap Riza dan mengira bahwa Riza menyukainya. Thella hanya salah paham. Thella hanya salah sangka. Hari ini, segalanya menjadi jelas. Riza hanya mau membantu Dirgan untuk menyatakan perasaannya, bukan karena Riza yang menyukainya. Jadi, Riza sama sekali tidak ada perasaan terhadapnya, sebab jika ada, mana mungkin Riza tega menyakiti dirinya sendiri. Terbukti sikap cowok itu saat ini tampak santai saja, tidak merasa patah hati atau gimana. Jadi, Riza memang menginginkannya bersama yang lain bukan?
“Eh, enggak gitu, Gan. Sekarang aja gue jawabnya.” Kata Thella yang akhirnya sudah memutuskan untuk jawabannya pada Dirgan. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, termasuk dengan terlibatnya Riza dalam acara ini, akhirnya Thella memutuskan untuk menjawab. “I..ii...iyaa gue mau.." Ucap Thella terbata-bata, cewek itu segera menarik sudut bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman yang ia tujukan pada Dirgan. Ia akan menjadi pacar Dirgan, ia sudah memutuskannya, sebab ini kan yang diinginkan Riza. Thella akan menurutinya, sebab sudah tidak ada lagi harapan untuknya bersama Riza jika Riza malah menginginkan dirinya bersama Dirgan.
Jawaban Thella, sontak membuat Riza menoleh ke arah cewek itu. Matanya seketika membesar, seluruh harap yang beberapa detik lalu masih ia gantungkan, berharap Thella menolak Dirgan agar setidaknya posisinya menjadi lebih baik. Namun, detik itu juga harapnya seketika kandas. Thella menerima Dirgan, yang artinya Thella juga menyukai Dirgan. Dua sahabatnya kini sudah menjadi pasangan, seumur hidup Riza akan tetap dikenal sebagai mak comblang mereka berdua hingga akhirnya bersama. Ya, hanya sebatas itu, sebagai perantara agar mereka menjadi sebuah pasangan. Tidak akan pernah lebih, sebab yang dilakukan Riza hanya terus berdiam diri.
"Jadi, sekarang lo pacar gue gitu? ya ampun Thella makasih yah.." seketika Dirgan memeluk tubuh Thella yang berdiri di depannya itu, ditariknya tubuh kecil itu ke dalam pelukannya, sebagai tanda bahwa gadis ini telah menjadi kekasihnya. Dirgan benar benar bahagia saat mendengar jawaban Thella, yang seketika mengikis segala rasa cemas yang sejak tadi bersarang di benaknya.