Riza hanya tersenyum kecut. Namun, cowok itu buru buru bersikap normal, agar mereka berdua tidak curiga terhadap sikapnya yang malah mendadak bad mood. Maka dari itu, Riza kembali bersikap wajar, ia harus terlihat bahagia karena akhirnya rencana ini berhasil, serta Thella resmi menjadi kekasih Dirgan. Meski hatinya perih. Tapi ia berusaha untuk tetap tersenyum lebar seraya turut berbahagia atas jadiannya mereka berdua.
"Makasih nya ke Thella doang, kan gue yang ngebantuin lo buat nembak Thella." Kata Riza seraya meledek Dirgan yang belum mengucapkan apa pun terhadapnya. ia hanya merasa butuh mencairkan suasana, agar dirinya tidak terlihat mellow karena kejadian ini. Riza yang gemas menutupi segala sesuatu dengan candaan.
"Hehe, sama lo juga pastinya dong. Makasih banget ya, Za. Gue jadi bisa mewujudkan impian Thella deh." Kata Dirgan sambil menepuk pundah Riza, untuk mengucapkan terima kasih terhadap cowok itu. Sembari tangan kanannya kini merangkul Thella yang berada di sebelahnya. Seolah menegaskan bahwa cewek itu kini miliknya. Entah sudah sejak kapan Dirgan mendambakan hal yang terjadi hari ini, menjadikan Thella sebagai kekasihnya, serta Riza yang turut berbahagia karena dua sahabatnya kini menjadi sepasang kekasih.
Sedang Thella, kini ikut tersenyum lebar ke arah Riza. Seolah menunjukan bahwa dirinya bahagia. Dia bahagia karena mengikuti keinginan Riza. Lihatlah, Thella bahagia, ini kan yang diinginkan Riza.
“Makasih banyak loh, Za. Gue gak nyangka lo masih inget itu dan ngasih tau Dirgan, jadi terwujud deh impian konyol gue yang ngasal itu.” Kata Thella seraya basa basi untuk mengucapkan terima kasih juga pada Riza, sebab hal ini tidak akan pernah terjadi jika bukan karena arahan Riza yang masih ingat setiap detailnya ucapan Thella saat itu yang hanya sebatas iseng belaka.
“Sama sama, Thel, Gan. Gue bahagian liat lo berdua seneng gini. Awas ya, jangan kebanyakan pacaran depan gue, nanti gue muntah liatnya.” Sahut Riza, sambil tetap tersenyum, seolah benar benar bahagia dengan status mereka berdua serta diiringi candaan untuk menyamarkan suasana hatinya. Thella terlihat tersenyum, berarti cewek itu bahagia bersama Dirgan. Terbukti Thella menerima Dirgan. Ia harus mulai terbiasa menghadapi kenyataan ini, kenyataan yang mana Riza sendiri yang membantu proses terjadinya.
Mulai besok, ia akan terus melihat Thella dan Dirgan saling berangkulan. Ia sampai berpikir apa besok tidak usah masuk sekolah ya, untuk mengistirahatkan mata sejenak dari asal yang membuat matanya perih itu.
'Lo bahagia ngeliat gue sama Dirgan Za, dan itu semua membuat gue yakin kalo perasaan gue selama ini cuma bertepuk sebelah tangan, gue bahagia liat lo tersenyum. Kalo itu emang mau lo gue bakal ngikutin semua permainan ini.' Batin Thella yang sudah pasrah dengan perasaannya yang harus ia tebas sampai ke akar, sebab dengan adanya hari ini, perasaannya untuk Riza harus musnah. Ia tidak bisa terus mencintai Riza yang terang terangan menginginkan Thella bersama Dirgan. Memaksa untuk mencintai Riza terus menerus, membuattnya malah mengkhianati Dirgan yang kini telah menjadi kekasihnya. Ia akan mencoba untuk mencintai Dirgan. Pasti tidak sulit bukan?
Dirgan itu ganteng, enak di pandang, banyak yang ingin jadi pacar Dirgan. Bukan kah Thella beruntung bahwa cowok itu kini menjadi kekasihnya? Dirgan juga baik banget, Thella sudah lumayan lama berteman dengannya sehingga sangat mengenal Dirgan, serta tahu betapa baiknya Dirgan padanya. Benar. Mencintai Dirgan tidak akan sulit. Ia akan mencobanya, bersamaan dengan membunuh perasaannya untuk Riza.
"Ehh gue pulang duluan yah, gatel semua gila badan gue.." Kata Riza sambil terus menggaruk tangan dan Kakinya yang kembali terasa gatal. Meski alasan sesungguhnya karena hatinya panas melihat kebersamaan mereka berdua, maka dari itu Riza memutuskan untuk segera pergi dari tempat ini, lalu ia akan meratapi perasaannya yang kandas itu seorang diri. Mungkin dengan menangis di pojokan kamar semalaman suntuk, atau berkendara dengan motor di malam hari agar angin malam menerbangkan isi kepalanya yang terasa membunuhnya perlahan itu. Bayangan demi bayangan tentang Dirgan dan Thella yang akan bersama terus, membuat perasaan Riza semakin sesak.
"Haha, kasian bgt lo Za, yaudah sono pulang aja duluan. Terus mandi kembang kalo perlu, siapa tau semutnya ada jin makanya gatel gak ilang ilang." Ucap Dirgan seraya meledek Riza, senyumnya hari ini begitu merekah karena rasa bahagianya yang membuncah. Bahkan rasanya Dirgan ingin tersenyum seharian ini, berbeda dengan dua orang yang ada di sana, yang sedang bergelut dengan perasaannya masing masing.
Riza tak menjawab omongan Dirgan. Ia hanya tersenyum pelan menanggapinya, lalu melambaikan tangannya seraya berpamitan dengan kedua temannya itu. Kemudian, Ia segera pergi meninggalkan Dirgan dan Thella di taman itu. Namun, baru juga beberapa langkah ia hendak meninggalkan area tersebut, tiba tiba Riza teringat sesuatu yang tertinggal. Akhirnya Riza kembali berputar dan menatap dua temannya itu lagi, untuk bertanya perihal benda yang tertinggal itu. Kunci motornya, ia sama sekali tidak ingat menaruhnya di mana, apa di bangku yang tadi di duduki bersama Thella? Atau terjatuh di semak semak?
"Liat kunci motor gue, gak?" tanya Riza sambil terus mencari kunci motornya di sekitar area taman tersebut. Matanya menelusuri setiap jengkal jalanan yang ada di taman itu, mencari cari siapa tahu kunci motornya terjatuh di sana. Ia juga sudah memeriksa seluruh saku yang ada di pakaiannya, tapi hasilnya nihil. Kunci motornya tidak ada di seluruh saku yang ada di pakaiannya itu. Ia membenci ingatannya yang payah dalam hal mengingat hal hal remeh seperti itu. Seharusnya ia sudah pergi dari sana dan mampu bernapas dengan tenang tanpa terus menyaksikan pemandangan memuakan di hadapannya ini.
Sial, pemandangan ini kan terjadi karena ulahnya juga. Andai saja Riza lebih memiliki keberanian dan maju lebih dulu, mungkin tidak akan seperti ini jadinya. Yah, perandai andaian memang selalu terjadi setelah segalanya sudah berantakan. Seperti saat ini.
"Nyari apa, Za?" tanya Thella, yang tadi tidak mendengar ucapan Riza dengan jelas. Cewek itu hanya melihat, kini Riza tampak sibuk menunduk, berusaha menajamkan penglihatannya untuk mencari sesuatu. Ia bahkan sampai kembali pada semak semak tempat persembunyian tadi yang dikatakan banyak semut, entah demi mencari benda apa pun yang disinyalir terjatuh di sana.
"konci motor gue.." jawab Riza tanpa melihat ke arah Thella, matanya masih fokus untuk mencari kunci motor s****n yang entah terdampar di mana itu. Riza bahkan berniat akan pulang naik taksi saja jika kunci itu tidak ketemu, dan akan menghubungi jasa derek agar motornya sampai ke rumahnya. Intinya, Riza ingin segera pergi dari sana. Ia ingin menghindari dua orang ini untuk saat ini.
"Ada-ada aja deh lo! nihh punya lo kan? ada di bangku ini!" Kata Dirgan sambil mengambil kunci motor yang ada di bangku tempat Riza dan Thella tadi duduk, lalu melemparkannya ke arah Riza, yang segera di tangkap dengan cekatan oleh cowok itu.
Riza tersenyum lega, ia berpikir sejenak perihal kunci motornya yang ternyata ada di bangku tadi. "Oh iya, mungkin tadu jatoh kali ya pas gue lagi duduk." Ucap Riza sambil menepuk jidatnya. Apa pun itu, setidaknya kunci motornya sudah ketemu, membuatnya bisa segera pergi dari tempat ini dan menikmati masa berkabungnya seorang diri, meratapi kesedihan yang entah kapan akan berujung, Riza bahkan tidak tahu bagaimana cara mengatasi kesedihan ini. Mungkin ia juga harus mencari pacar? Agar tidak terlihat menyedihkan sekali?
Kasihan juga pacarnya, kalo Riza masih mencintai Thella, hanya menjadi pelampiasan. Apa Riza pindah sekolah saja?
Sebelum pikirannya semakin ngaco, Riza pun langsung pergi lagi. Tapi sama sperti tadi, Riza balik lagi. Seolah ingin menunjukan dirinya yang baik baik saja, agar mereka berdua tidak curiga sama sekali. Riza akan bersikap seperti biasa, yang gemar bercanda dan melontarkan kalimat kalimat yang mengundang tawa.
"Apa lagi yang ilang." Tanya Thella yang melihat gelagat Riza itu, segera menebak bahwa ada barang cowok itu yang hilang atau pun ketinggalan sehingga harus bolak balik. Bisa sekali Thella menutupi perasaannya yang tengah hancur berkeping keping dengan bersikap sesantai ini di hadapan Riza dan Dirgan. Jika ada casting untuk menjadi aktris, sepertinya kapan kapan Thella harus mengikutinya, bukan kah aktingnya luar biasa untuk terlihat baik baik saja ketika perasaannya sedang jauh dari kata baik baik saja?
"Bukan apa-apa, cuma mau ngingetin besok PJ nya jangan lupa." Kata Riza sambil nyengir, meminta jatah yang menjadi haknya karena telah turut andil dalam proses jadiannya dua temannya itu. Untuk memperlihatkan bahwa dirinya sungguh terlihat bahagia, dengan bersamanya kedua sahabatnya itu. Hal yang lumrah bukan, meminta pajak jadian, di kalangan remaja SMA saat dua orang baru jadian.
"Sip! Lo mau all you can eat paling mahal juga ayok, Za! Atau mau gue traktir salep aja buat ngobatin gatel gatel lo itu?” ledek Dirgan menyadari tangan Riza yang sudah mulai bentol bentol akibat digigit semut di semak semak tadi.
Thella yang mendengar hal itu tertawa renyah dengan candaan Dirgan, yang dibalas cibiran oleh Riza. “Saksi jadian lo berdua nih bentol.” Kata Riza seraya tertawa pelan, lalu benar benar segera pergi dari sana dengan senyuman yang tidak luntur.
Setelah berbalik dan benar benar melangkah pergi tanpa ada drama balik lagi, senyuman yang tadi merekah itu perlahan luntur. Berganti dengan wajah kusut yang sarat akan kesedihan. Akhirnya, Riza bisa melepaskan topengnya yang sejak tadi ia gunakan selama bersama Thella dan Dirgan.
Riza melangkah dengan gontai, untuk menuju tempat motornya di parkirkan. Angin sore ini rasanya mampu untuk merjernihkan pikirannya yang sedang kalut karena kejadian yang baru berlangsung itu. Thella resmi pacaran dengan Dirgan. Riza resmi mengubur perasaannya.
***